Agama Buddha lahir di negara India, lebih tepatnya lagi di wilayah Nepal
sekarang, sebagai reaksi terhadap agama Brahmanisme. Sejarah agama
Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya Siddharta
Gautama. Dengan ini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih
dianut di dunia. Agama Buddha berkembang dengan unsur kebudayaan India,
ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah,
Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya, agama ini
praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia dan telah menjadi
agama mayoritas di beberapa negara Asia seperti Thailand, Singapura,
Kamboja, Myanmar, Taiwan, dsb. Pencetusnya ialah Siddhartha Gautama yang
dikenal sebagai Gautama Buddha oleh pengikut-pengikutnya. Ajaran Buddha
sampai ke negara Tiongkok pada tahun 399 Masehi, dibawa oleh seorang
bhiksu bernama Fa Hsien. Masyarakat Tiongkok mendapat pengaruhnya dari
Tibet disesuaikan dengan tuntutan dan nilai lokal.
Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai rujukan utama
karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran sang hyang Buddha Gautama.
Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya
dalam 3 buku yaitu Sutta Piṭaka (kotbah-kotbah Sang Buddha), Vinaya
Piṭaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma Piṭaka
(ajaran hukum metafisika dan psikologi).
Daftar isi
1 Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme
2 Moral dalam Buddhisme
3 Aliran Buddha
3.1 Buddha Mahayana
3.2 Buddha Theravada
3.2.1 Gramatika
3.2.2 Sejarah
3.2.3 Kitab suci Buddhisme
4 Ajaran Buddhisme
4.1 Empat Kebenaran Mulia
4.2 Jalan Utama Berunsur Delapan
5 Hari Raya
5.1 Waisak
5.2 Kathina
5.3 Asadha
5.4 Magha Puja
6 Penyebaran di Asia dan Indonesia
6.1 Penyebaran di India dan Asia Tengah
6.2 Penyebaran di Asia Timur
6.3 Penyebaran di Asia Tenggara
6.4 Penyebaran di Nusantara
6.4.1 Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha
7 Lihat pula
8 Pranala luar
9 Rujukan
Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme
Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama
Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta
diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali
ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.
“ Ketahuilah para bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan,
Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para
Bhikkhu, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma,
Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat
bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab
yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang
Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan
untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari
sebab yang lalu. ”
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Buddha yang terdapat dalam Sutta
Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa
dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah
Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang
Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak".
Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku
(anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat
digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang
tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata)
dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara
bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini, kita dapat melihat
bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep
Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang
Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha
yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan
konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha
yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama
dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam
kitab suci Tripitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda
dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang
tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan
konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang
alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam
semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai
kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana satu
makhluk tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk
mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya.
Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah
kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu,
dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai
pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas
sebenar-benarnya.
Moral dalam Buddhisme
Sebagai mana agama Islam dan Kristen ajaran Buddha juga menjunjung
tinggi nilai-nilai kemoralan. Nilai-nilai kemoralan yang diharuskan
untuk umat awam umat Buddha biasanya dikenal dengan Pancasila. Kelima
nilai-nilai kemoralan untuk umat awam adalah:
Panatipata Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Adinnadana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Kamesu Micchacara Veramani Sikhapadam
Musavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Surameraya Majjapamadatthana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Yang artinya:
Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil
barang yang tidak diberikan.
Aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perbuatan
asusila
Aku bertekad akan melatih diri menghidari melakukan perkataan dusta
Aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan atau minuman yang
dapat menyebabkan lemahnya kesadaran
Selain nilai-nilai moral di atas, agama Buddha juga amat menjunjung
tinggi karma sebagai sesuatu yang berpegang pada prinsip sebab akibat.
Kamma (bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau
aksi. Jadi ada aksi atau karma baik dan ada pula aksi atau karma buruk.
Saat ini, istilah karma sudah terasa umum digunakan, namun cenderung
diartikan secara keliru sebagai hukuman turunan/hukuman berat dan lain
sebagainya. Guru Buddha dalam Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya 6.63
menjelaskan secara jelas arti dari kamma:
”Para bhikkhu, cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma.
Setelah berkehendak, orang melakukan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan
atau pikiran.”
Jadi, kamma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik
maupun buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci)
dan pikiran (mano), yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).
Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu hukum
alam yang berkerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu
makhluk berkehendak, melakukan kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan
menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari
kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.
Aliran Buddha
Ada beberapa aliran dalam agama Buddha:
1. Buddha Theravada
2. Buddha Mahayana: Zen
3. Buddha Vajrayana
Buddha Mahayana
Sutra Teratai merupakan rujukan sampingan penganut Buddha aliran
Mahayana. Tokoh Kwan Im yang bermaksud "maha mendengar" atau nama
Sansekertanya "Avalokiteśvara" merupakan tokoh Mahayana dan dipercayai
telah menitis beberapa kali dalam alam manusia untuk memimpin umat
manusia ke jalan kebenaran. Dia diberikan sifat-sifat keibuan seperti
penyayang dan lemah lembut. Menurut sejarahnya Avalokitesvara adalah
seorang lelaki murid Buddha, akan tetapi setelah pengaruh Buddha masuk
ke Tiongkok, profil ini perlahan-lahan berubah menjadi sosok feminin dan
dihubungkan dengan legenda yang ada di Tiongkok sebagai seorang dewi.
Penyembahan kepada Amitabha Buddha (Amitayus) merupakan salah satu
aliran utama Buddha Mahayana. Sorga Barat merupakan tempat tujuan umat
Buddha aliran Sukhavati selepas mereka meninggal dunia dengan berkat
kebaktian mereka terhadap Buddha Amitabha dimana mereka tidak perlu lagi
mengalami proses reinkarnasi dan dari sana menolong semua makhluk hidup
yang masih menderita di bumi.
Mereka mempercayai mereka akan lahir semula di Sorga Barat untuk
menunggu saat Buddha Amitabha memberikan khotbah Dhamma dan Buddha
Amitabha akan memimpin mereka ke tahap mencapai 'Buddhi' (tahap
kesempurnaan dimana kejahilan, kebencian dan ketamakan tidak ada lagi).
Ia merupakan pemahaman Buddha yang paling disukai oleh orang Tionghoa.
Seorang Buddha bukannya dewa atau makhluk suci yang memberikan
kesejahteraan. Semua Buddha adalah pemimpin segala kehidupan ke arah
mencapai kebebasan daripada kesengsaraan. Hasil amalan ajaran Buddha
inilah yang akan membawa kesejahteraan kepada pengamalnya.
Menurut Buddha Gautama , kenikmatan Kesadaran Nirwana yang dicapainya di
bawah pohon Bodhi, tersedia kepada semua makhluk apabila mereka
dilahirkan sebagai manusia. Menekankan konsep ini, aliran Buddha
Mahayana khususnya merujuk kepada banyak Buddha dan juga bodhisattva
(makhluk yang tekad "committed" pada Kesadaran tetapi menangguhkan
Nirvana mereka agar dapat membantu orang lain pada jalan itu). Dalam
Tipitaka suci - intipati teks suci Buddha - tidak terbilang Buddha yang
lalu dan hidup mereka telah disebut "spoken of", termasuk Buddha yang
akan datang, Buddha Maitreya .
Buddha Theravada
Aliran Theravada adalah aliran yang memiliki sekolah Buddha tertua yang
tinggal sampai saat ini, dan untuk berapa abad mendominasi Sri Langka
dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari Tiongkok bagian barat daya,
Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia dan Thailand) dan juga
sebagian Vietnam. Selain itu populer pula di Singapura dan Australia.
Gramatika
Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu
thera dan vada. Thera berarti sesepuh khususnya sesepuh terdahulu , dan
vada berarti perkataan atau ajaran. Jadi Theravada berarti Ajaran Para
Sesepuh.
Istilah Theravada muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam
Dipavamsa, catatan awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 Masehi. Istilah
ini juga tercatat dalam Mahavamsa, sebuah catatan sejarah penting yang
berasal dari abad ke-5 Di yakini Theravada merupakan wujud lain dari
salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa
Sanskerta: Ajaran Para Sesepuh) , sebuah aliran agama Buddha awal yang
terbentuk pada Sidang Agung Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga merupakan
wujud dari aliran Vibhajjavada yang berarti Ajaran Analisis (Doctrine of
Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason).
Sejarah
Sejarah Theravada tidak lepas dari sejarah Buddha Gautama sebagai
pendiri agama Buddha. Setelah Sang Buddha parinibbana (543 SM), tiga
bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sangha (Sangha Samaya).
Diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei), berlangsung
selama 2 bulan Dipimpin oleh Y.A. Maha Kassapa dan dihadiri oleh 500
orang Bhikkhu yang semuanya Arahat. Sidang diadakan di Goa Satapani di
kota Rajagaha. Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu. Tujuan
Sidang adalah menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang
yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan.
Mengulang Dhamma dan Vinaya agar Ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat,
melebihi ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A.
Ananda mengulang Dhamma.
Sidang Agung Sangha ke-2, pada tahun 443 SM , dimana awal Buddhisme
mulai terbagi menjadi 2. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan
beberapa peraturan minor dalam Vinaya, di sisi lain kelompok yang
mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin perubahan Vinaya
memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan cikal
bakal Mahayana. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut
Sthaviravada.
Sidang Agung Sangha ke-3 (313 SM), Sidang ini hanya diikuti oleh
kelompok Sthaviravada. Sidang ini memutuskan untuk tidak mengubah
Vinaya, dan Moggaliputta Tissa sebagai pimpinan sidang menyelesaikan
buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari aliran lain.
Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini di
tulis dan disahkan oleh sidang. Kemudian Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka)
membawa Tipitaka ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang
dan menyebarkan Buddha Dhamma di sana. Di sana ajaran ini dikenal
sebagai Theravada.
Kitab suci Buddhisme
Kitab Suci yang dipergunakan dalam agama Buddha Theravada adalah Kitab
Suci Tripitaka yang dikenal sebagai Kanon Pali (Pali Canon). Kitab suci
Agama Buddha yang paling tua, yang diketahui hingga sekarang, tertulis
dalam Bahasa Pali, yang terbagi dalam tiga kelompok besar (yang disebut
sebagai "pitaka" atau "keranjang") yaitu: Vinaya Pitaka, Sutta Piṭaka,
dan Abhidhamma Pitaka. Karena terdiri dari tiga kelompok tersebut, maka
Kitab Suci Agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pali).
Ajaran Buddhisme
Empat Kebenaran Mulia
Ajaran dasar Buddhisme dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia, yang meliputi:
Dukkha Ariya Sacca (Kebenaran Arya tentang Dukkha),
Dukha ialah penderitaan. Dukha menjelaskan bahwa ada lima pelekatan
kepada dunia yang merupakan penderitaan. Kelima hal itu adalah
kelahiran, umur tua, sakit, mati, disatukan dengan yang tidak dikasihi,
dan tidak mencapai yang diinginkan.
Dukkha Samudaya Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha),
Samudaya ialah sebab. Setiap penderitaan pasti memiliki sebab,
contohnya: yang menyebabkan orang dilahirkan kembali adalah adanya
keinginan kepada hidup.
Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha),
Nirodha ialah pemadaman. Pemadaman kesengsaraan dapat dilakukan dengan
menghapus keinginan secara sempurna sehingga tidak ada lagi tempat untuk
keinginan tersebut.
Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha).
Marga ialah jalan kelepasan. Jalan kelepasan merupakan cara-cara yang
harus ditempuh kalau kita ingin lepas dari kesengsaraan. Delapan jalan
kebenaran akan dibahas lebih mendalam pada pokok pembahasan yang
selanjutnya.
Inti ajaran Buddha menjelaskan bahwa hidup adalah untuk menderita. Jika
di dunia ini tidak ada penderitaan, maka Buddha pun tidak akan menjelma
di dunia. Semua hal yang terjadi pada manusia merupakan wujud dari
penderitaan itu sendiri. Saat hidup, sakit, dipisahkan dari yang
dikasihi dan lain-lain, merupakan wujud penderitaan seperti yang sudah
dijelaskan diatas. Bahkan kesenangan yang dialami manusia, dianggap
sebagai sumber penderitaan karena tidak ada kesenangan yang kekal di
dunia ini. Kesenangan atau kegirangan bergantung kepada ikatannya dengan
sumber kesenangannya itu, padahal sumber kesenangan tadi berada di luar
diri manusia. Sumber itu tidak mungkin dipengang atau diraba oleh
manusia, karena tidak ada sesuatu yang tetap berada. Semua penderitaan
disebabkan karena kehausan. Untuk menerangkan hal ini diajarkanlah yang
disebut pratitya samutpada, artinya pokok permulaan yang bergantungan.
Setiap kejadian pasti memiliki keterkaitan dengan pokok permulaan yang
sebelumnya. Ada 12 pokok permulaan yang menjadi fokus pratitya
samutpada.
Jalan Utama Berunsur Delapan
Agar terlepas dari penderitaan mereka mereka harus melalui Jalan Utama Berunsur Delapan Sradha atau iman, yaitu:
1. Percaya yang benar (Samma ditthi).
Sraddha atau iman yang terdiri dari “percaya yang benar” ini memberikan
pendahuluan yang terdiri dari: Percaya dan menyerahkan diri kepada
Buddha sebagai guru yang berwenang mengajarkan kebenaran, percaya
menyerahkan diri kepada dharma atau ajaran buddha, sebagai yang
membawanya kepada kelepasan, dan percaya setelah menyerahkan diri kepada
jemaat sebagai jalan yang dilaluinya. Sila yaitu usaha untuk mencapai
moral yang tinggi.
2. Maksud yang benar (Samma sankappa), merupakan hasil “percaya yang
benar” yakin bahwa jalan petunjuka budha adalah jalan yang benar
3. Kata-kata yang benar (Samma vaca), maksudnya orang harus menjauhkan
diri dari kebohongan dan membicarakan kejahatan orang lain, mengucapkan
kata-kata yang kasar, serta melakukan percakapan yang tidak senonoh.
4. Perbuatan yang benar (Samma kammanta), maksudnya bahwa dalam segala perbuatan orang tak boleh mencari keuntungan sendiri.
5. Hidup yang benar (Samma ajiva), maksudnya secara lahir dan batin orang harus murni atau bebas dari penipuan diri
6. Usaha yang benar (Samma vayama), maksudnya seperti pengawasan hawa nafsu agar jangan sampai terjadi tabiat-tabiat yang jahat.
7. Ingatan yang benar (Samma sati), maksudnya pengawasan akal, rencana atau emosi yang merusak kesehatan moral
8. Semadi yang benar (Samma samadhi)
Semadi itu sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu persiapan atau upcara
semadi dan semadinya sendiri. Persiapan atau upacara semadi ini
maksudnya kita harus merenungi kehidupan dalam agamannya seperti 7 jalan
kebenaran yang dibahas tadi dengan empat bhawana,yaitu: metta
(persahabatan yang universal), karuna (belas kasih yang universal),
mudita (kesenangan dalam keuntungan dan akan segala sesuatu), dan
upakkha (tidak tergerak oleh apa saja yang menguntungkan diri sendiri,
teman, musuh dan sebagainya. Sesudah merenungkan hal-hal tersebut
barulah masuk kedalam semadi yang sebenarnya dalam 4 tingkatan yaitu:
mengerti lahir dan batinnya, mendapatkan damai batiniahnya,
menghilangkan kegirangannya sehingga menjadi orang yang tenang, sampai
akhirnya sukha dan dukha lenyap dari semuanya, dan rasa hatinya
disudikan. Dengan demikianlah orang sampai pada kelepasan dari
penderitaan.
Secara umum sama dengan aliran agama Buddha lainnya, Theravada
mengajarkan mengenai pembebasan akan dukkha (penderitaan) yang ditempuh
dengan menjalankan sila (kemoralan), samadhi (konsentrasi) dan panna
(kebijaksanaan).
Agama Buddha Theravada hanya mengakui Buddha Gautama sebagai Buddha
sejarah yang hidup pada masa sekarang. Meskipun demikian Theravada
mengakui pernah ada dan akan muncul Buddha-Buddha lainnya.
Dalam Theravada terdapat 2 jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai
Pencerahan Sempurna yaitu Jalan Arahat (Arahatship) dan Jalan Kebuddhaan
(Buddhahood).
Penyebaran di Asia dan Indonesia
Agama Buddha mulai berkembang di India, yaitu tempat dimana Buddha
Gautama mengajarkan ajarannya. Setelah wafatnya Buddha Gautama, ajaran
tersebut tidak lenyap begitu saja, melainkan disebarkan oleh para pemuka
agama sehingga bertahan sampai sekarang di berbagai belahan dunia,
khususnya di Asia.
Penyebaran di India dan Asia Tengah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di India dan Asia Tengah
Dimulai dari India, tempat dimana Buddha Gautama lahir dan wafat. 100
tahun setelah Buddha mencapai Nirwana, ajaran Buddha Gautama mulai
memudar sehingga para biksu disana memutuskan untuk mulai
melestarikannya agar tetap hidup. Hal pertama yang dilakukan adalah
dengan membuat Dharma atau pengajaran. Di India jugalah tempat dimana
mulai terbentuknya aliran Mahayana dan Theravada akibat perselisihan
antara kelompok biarawan dan para kaum tua.Theravada umumnya mengajarkan
bahwa tujuan tertinggi adalah menjadi arahat, sedangkan Mahayana
mengajarkan bahwa tujuan yang paling berharga adalah dengan mencapai
Kebuddhaan. Selain melalui kaum biarawan,agama Buddha juga disebarkan
oleh raja-raja besar di India seperti Raja Ashoka. Ia mengajarkan kepada
rakyatnya untuk tidak berpikiran jahat seperti serakah dan mudah marah.
Ia menanamkan nilai-nilai moral, seperti menghargai kebenaran, cinta
kasih dan amal. Ashoka juga mengirim misionaris Buddha keberbagai negara
tetangga, termasuk ke Sri Lanka dimana mereka diterima baik sehingga
Sri Lanka menjadi basis agama Buddha.
Penyebaran di Asia Timur
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di Asia Timur
Selama abad 3 SM, Raja Asoka mengirimkan misionaris ke barat laut India
yaitu Pakistan dan Afganistan. Misi ini mencapai sukses besar karena
kawasan ini segera menjadi pusat pembelajaran agama Buddha yang memiliki
banyak biksu terkemuka dan sarjana. Ketika para pedagang Asia Tengah
datang ke wilayah ini untuk berdagang, mereka belajar tentang Buddhisme
dan menerimanya sebagai agama mereka. Dengan dukungan dari pedagang,
biara gua banyak didirikan di sepanjang rute perdagangan di seluruh Asia
Tengah. Pada abad 2 SM, beberapa kota Asia Tengah seperti Khotan, telah
menjadi pusat penting bagi Buddhisme. Melalui Jalan Sutera inilah,
pertama kalinya orang Tiongkok (sekarang Cina) mengenal agama Buddha
dari orang-orang di Asia Tengah yang sudah beragama Buddha. Bentuk awal
penyebaran agama Buddha di Cina adalah dengan adanya penerjemah yang
bertugas menerjemahkan teks penting mengenai ajaran Buddha dari bahasa
India ke bahasa Cina kala itu. Selain itu, juga lahirnya berbagai karya
seni dan pahat dimana patung-patung Buddha dibuat. Bentuk perkembangan
lainnya adalah dengan dibangunnya sekolah ajaran Buddha di Tiongkok yang
mencakup seni, patung, arsitektur dan filsafat waktu itu. Ada pula
biarawan Tiongkok yang pergi ke Semenanjung Korea untuk memperkenalkan
agama Buddha kepada kerajaan-kerajaan yang ada di Korea pada waktu itu.
Sehingga pada abad ke-6 dan abad ke-7, agama Buddha telah berkembang di
bawah kerajaan tersebut. Selain di Korea, Buddhisme juga berkembang di
kepulauan Jepang.
Penyebaran di Asia Tenggara
Pada awal era masehi, orang-orang di berbagai belahan Asia Tenggara
datang untuk mengetahui ajaran Buddha sebagai hasil dari meningkatnya
hubungan dengan para pedagang India yang datang ke wilayah tersebut
untuk berdagang. Pedagang ini tidak hanya berdagang di Asia Tenggara,
tetapi juga membawa agama mereka dan budaya dengan mereka. Di bawah
pengaruh mereka, orang-orang setempat mulai mengenal agama Buddha, tapi
tetap mempertahankan keyakinan lama dan adat istiadat mereka. Sejak
masuk di semenanjung Indocina (sekarang bagian Asia Tenggara), Buddhisme
mulai masuk di Birma, Siam (sekarang Thailand), Vietnam, semenanjung
Malaya (sekarang Malaysia Barat) dan kepulauan nusantara (sekarang
Indonesia).
Penyebaran di Nusantara
Pada akhir abad ke-5, seorang biksu Buddha dari India mendarat di sebuah
kerajaan di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Tengah sekarang. Pada akhir
abad ke-7, I Tsing, seorang peziarah Buddha dari Tiongkok, berkunjung ke
Pulau Sumatera (kala itu disebut Swarnabhumi), yang kala itu merupakan
bagian dari kerajaan Sriwijaya. Ia menemukan bahwa Buddhisme diterima
secara luas oleh rakyat, dan ibukota Sriwijaya (sekarang Palembang),
merupakan pusat penting untuk pembelajaran Buddhisme (kala itu Buddha
Vajrayana). I Tsing belajar di Sriwijaya selama beberapa waktu sebelum
melanjutkan perjalanannya ke India.
Pada pertengahan abad ke-8, Jawa Tengah berada di bawah kekuasaan
raja-raja Dinasti Syailendra yang merupakan penganut Buddhisme. Mereka
membangun berbagai monumen Buddha di Jawa, yang paling terkenal yaitu
Candi Borobudur. Monumen ini selesai di bagian awal abad ke-9.
Di pertengahan abad ke-9, Sriwijaya berada di puncak kejayaan dalam
kekayaan dan kekuasaan. Pada saat itu, kerajaan Sriwijaya telah
menguasai Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan Semenanjung Malaya.
Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha
Pada akhir abad ke-13 seiring berkembang pesatnya pengaruh Islam dari
Timur Tengah, kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri di Sumatera, dan
agama Islam segera menyebar ke Jawa dan Semenanjung Malaya lewat
penaklukan dan penyebaran sistematis oleh sekelompok ulama yang dikenal
dengan sebutan Wali Sanga. Akibatnya Buddhisme mengalami penurunan
popularitas dan pada akhir abad ke-15 Islam adalah agama yang dominan di
nusantara dan Semenanjung Malaya. Buddhisme diperkenalkan kembali ke
nusantara hanya pada abad ke-19, dengan kedatangan pedagang dan
orang-orang Tiongkok, Srilanka dan imigran Buddhis lainnya.