Rabu, 6 Februari 2013

SEJARAH AGAMA BUDDHA DI NEGARA THAILAND

  1. A.  Pendahuluan ( Sejarah Agama Buddha )
Sejarah agama Buddha bermula dari riwayat kelahiran Sidharta Gautama. Beliau merupakan seorang putera raja Sudhodana dan ratu Dewi Mahamaya yang dilahrikan ke dunia ini tanpa mengetahui hal duniawi. Saat umur 29 tahun, pangeran sidharta telah keluar dari istana dan telah melihat empat peristiwa penting yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan pertapa suci. Untuk mencari jalan menghindari penderitaan, pangeran keluar dari istana dan meninggalkan segala-gala yang dimilikinya termasuklah anak, isteri, ibu dan bapak serta segala kemewahannya.
 Setelah mengembara selama 6 tahun dan bertapa selama 48 hari di bawah pohon Bodhi dan pada hari ke-49 pada malam purnama Wesak, pertapa gautama telah menyadari dan memahami bahwa penderitaan selalu ada di kehidupan manusia. Beliau mengajarkan tentang jalan mulia berunsur delapan yaitu ucapan benar, perbuatan benar, pencarian benar, usaha benar, perhatian benar, kosentrasi benar, pikiran benar, pandangan benar.
Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.
Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswanya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).
  1. B.  Isi ( Sejarah Perkembangan Agama Buddha di Thailand )
Perkembangan populasi penduduk di Thailand adalah 25.519.965.  Dari jumlah ini 94% adalah Buddha (sisanya kebanyakan Muslim dan Kristen). 90 % dari penduduknya adalah umat Buddha Theravada.  Sekolah agama Buddha Theravada lebih didasarkan murni pada ajaran-ajaran Siddartha Gotama (Buddha). Dalam sejarah panjang keberadaan Thailand tampaknya telah didominasi umat Buddha, setidaknya sejak mereka datang dengan ajaran agama Buddha.  Semua raja Thailand dalam sejarah tercatat Thailand saat ini telah menganut agama Buddha.  Konstitusi negara menetapkan bahwa Raja Thailand harus menjadi Buddhis dan penegak agama Buddha. Beberapa ahli mengatakan bahwa Buddhisme diperkenalkan ke Thailand selama pemerintahan Asoka, kaisar India yang mengutus misionaris Buddha ke berbagai penjuru dunia.
Bentuk pemerintahan Thailand saat ini menjadi monarki konstitusional, yang mewarisi tradisi Asia Tenggara yang kuat. Kerajaan Buddha yang mengikat legitimasi negara untuk perlindungan serta dukungan untuk lembaga-lembaga Buddhis.  Pemerintahan ini telah dipertahankan di era modern, dengan institusi Buddha dan pendeta manfaat khusus yang diberikan oleh pemerintah, serta menjadi sasaran sejumlah pengawasan pemerintah.  Selain kepemimpinan rohaniawan dari Sangha , departemen pemerintah yang mengawasi kuil Buddha dan biksu.  Keadaan hukum sekte Buddha dan gerakan reformasi telah menjadi isu pertentangan dalam beberapa kasus, terutama dalam kasus Santi Asoke , yang secara hukum dilarang dirinya menamakan sebuah denominasi Buddha, dan dalam hal pentahbisan perempuan biarawan mencoba untuk menghidupkan kembali Theravada bhikkhuni keturunan namun telah dituntut seolah-olah mencoba untuk meniru anggota ulama.
Buddhisme di Thailand Utara adalah Animisme sebuah keyakinan bahwa segala sesuatu, seperti pohon, batu dan sungai, memiliki jiwa yang hidup, roh rumah-rumah. Kristen baru-baru ini diperkenalkan oleh para misionaris, karena telah banyak mengubah suku-suku bukit. Suku bukit Kebanyakan orang animis, dengan mengkonversi beberapa agama Buddha dan Kristen. Banyak orang Yao, yang berasal dari Cina Selatan. Tao adalah orang yang mempraktekkan bentuk primitif dari Taoisme yang dikenal di Cina 600 tahun lalu.
Agama Buddha yang berkembang di Siam (sekarang disebut Thailand) sudah sejak awal abad pertama atau kedua Masehi. Hal ini diketahui berdasarkan hasil penggalian arkeologi di Phra Pathom (kira-kira 50 kilometer sebelah barat Bangkok) dan Pong Tuk (sebelah barat Phra Pathom) berupa rupaṁ Buddha serta lambang agama Buddha yaitu dhammacakka.
Dijumpai reruntuhan bangunan serta pahatan bagus yang oleh para ahli diduga berasal dari pengaruh jaman Gupta (India) serta diduga merupakan peninggalan dari Dvaravati. Dvaravati adalah suatu kerajaan yang makmur pada jaman Huang Tsang, yaitu bagian pertama abad ke-7 M.
Pada abad ke-8 atau 9, Thailand dan Laos secara politis merupakan bagian dari Kamboja serta dipengaruhi oleh keadaan kehidupan beragama dari kerajaan Kamboja, dimana agama Brahmana dan agama Buddha hidup berdampingan. Pada pertengahan abad ke-13, terjadi perubahan politik sehingga Thailand yang menguasai seluruh wilayah Thailand dan Laos serta mengakhiri supremasi politik Kamboja di wilayah tersebut. Di bawah penguasaan Thailand, agama Buddha Theravāda dan bahasa PāỊi kembali berjaya di Thailand dan Laos.
Raja Thailand, Sri Suryavamsa Rama Maha Dharmikarajadhiraja, bukan hanya sebagai seorang penguasa yang mendorong pengembangan agama Buddha, tetapi beliau juga adalah seorang bhikkhu yang aktif menyebarkan Dhamma ke seluruh negeri. Pada tahun 1361, Raja Thailand mengirim sejumlah bhikkhu dan ācariya ke Ceylon serta mengundang Mahasami Sangharaja dari Ceylon untuk berkunjung ke Thailand. Atas prakarsa dan kegiatan raja, maka agama Buddha dan bahasa PāỊi berkembang luas mencakup kerajaan-kerajaan kecil Hindu di wilayah Laos seperti Alavirastra, Khmerrastra, Suvarnagrama, Unmargasila, Yonakarastra, dan Haripunjaya. Sejak saat itu, agama Buddha mulai menyebar dan agama Hindu mulai memudar.
Meskipun Thailand mendapatkan pengaruh agama Buddha yang mendalam dari Cyelon, namun hal tersebut telah dibayar kembali oleh Thailand, dimana raja Thailand mengirimkan rupaṁ Buddha dari emas dan perak, salinan kitab-kitab suci agama Buddha serta sejumlah bhikkhu ke Ceylon. Dari peristiwa tersebut, dapat diartikan bahwa pada waktu itu Ceylon mengakui Thailand sebagai negeri yang memiliki agama Buddha dalam wujud yang murni.
Pada masa pemerintahan raja Rama I (1789) telah ditulis sebuah kitab tentang sejarah pembacaan kitab suci (History of Recitals) oleh seorang bhikkhu dari kerajaan, yaitu Somdej Phra vanarat (Bhadanta Vanaratana). Dalam kitab tersebut, Bhikkhu Bhadanta Vanaratana menyebutkan sembilan Saṅghayāna dalam agama Buddha (Theravāda). Sidang saṅgha tersebut diselenggarakan tiga kali di India ( tiga sidang yang pertama), empat kali di Ceylon (sidang yang ke-4, 5, 6, dan 7) serta dua kali di Thailand (sidang yang ke-8 dan 9).
Saṅghayāna ke-8 di Thailand berlangsung pada masa pemerintahan Raja Sridharmacakravarti Tilaka Rajadhiraja, penguasa Thailand bagian utara, diselenggarakan di Vihāra Mahābodhi Ārāma, Chiengmai, selama satu tahun penuh antara tahun 1457 dan tahun 1483, sedangkan Saṅghayāna ke-9 (menurut versi Thailand) berlangsung pada tahun 1788 setelah terjadi perang antara Thailand dengan negeri tetangganya. Dalam peperangan tersebut ibukota Ayuthia (Ayodhya) hancur terbakar, banyak kitab dan kitab suci Tipiṭaka telah menjadi abu. Raja Rama I dan saudaranya sangat prihatin atas keadaan saṅgha.
Setelah mendengar pendapat para bhikkhu, kemudian diselenggarakan Sidang Saṅgha (Saṅghayāna) yang dihadiri oleh 218 Thera dan 32 Ācariya dan selama satu tahun membacakan kembali kitab suci Tipiṭaka. Selama dan sesudah Sidang Saṅgha, dilakukan rehabilitasi bangunan vihāra dan pagoda, serta dibangun juga bangunan-bangunan baru.
Dari  temuan arkeologis dan bukti sejarah, Bahwa Buddhisme pertama adalah Thailand.  Ketika  negara itu dihuni oleh (paham rasional) orang yang dikenal sebagai Mon-Khmer Dvaravati dikenal sebagai Nakon Pathom, Sekitar 50 kilometer sebelah barat Bangkok.  Pagoda besar di Nakon Pathom adalah Phra Pathom Chedi (Prathama Cetiya).
Dalam bentuk bervariasi Ajaran Buddha, mencapai empat periode yang berbeda, yaitu:
  1. Buddhisme Theravada
  2. Buddhisme Mahayana
  3. Buddhisme Burma (Pagan)
  4. Buddhisme Ceylon (Lankavamsa)
Pada orde Buddha di Thailand terdapat dua sekte atau Nikaya yaitu: Mahanikaya, dan Nikaya Dhammayuttika. Mahanikaya adalah lebih tua dan sejauh ini satu lebih banyak, rasio jumlah biarawan dari dua sekte yaitu 35-1.  Nikaya Dhammayuttika didirikan pada tahun 1833 Masehi oleh Raja Mongkut, penguasa keempat dari Dinasti Chakri sekarang yang memerintah Thailand pada 1851-1868 Masehi. Setelah dirinya menghabiskan 27 tahun sebagai Bhikkhu, sang Raja fasih di dalam Dhamma, selain cabang pengetahuan, juga termasuk Pali, bahasa kanonik Buddhisme Theravada.
Terdapat tiga kekuatan besar telah mempengaruhi perkembangan agama Buddha di Thailand.  Pengaruh yang pertama adalah bahwa dari sekolah agama Buddha Theravada , diimpor dari Sri Lanka.  Walaupun ada variasi lokal dan regional yang signifikan, tetapi sekolah Theravada menyediakan sebagian besar tema utama dari Buddhisme Thailand.  Menurut tradisi Pali, adalah bahasa agama di Thailand.  Kitab Suci dicatat dalam Pali, baik menggunakan script Thailand modern atau yang lebih tua Khom dan skrip Tham.  Pali juga digunakan dalam liturgi agama, meskipun  banyak fakta bahwa orang Thailand mengerti sangat sedikit dari bahasa kuno. Tipitaka Pali adalah teks agama utama Thailand, meskipun teks lokal yang telah disusun untuk merangkum sejumlah besar ajaran ditemukan dalam Tipitaka.  Kode monastik ( Patimokkha ) diikuti oleh biarawan Thailand diambil dari-Theravada Pali telah memberikan titik kontroversi selama upaya terakhir untuk menghidupkan kembali bhikkhuni garis keturunan di Thailand.
Pengaruh besar kedua di Thailand Buddha adalah agama Hindu, keyakinan ini diterima dari Kamboja, khususnya selama periode Sukhothai. (Veda) Hindu memainkan peran yang kuat dalam institusi kerajaan Thailand awal, sama seperti yang terjadi di Kamboja, dan pengaruh yang dalam penciptaan hukum serta agama masyarakat Thailand.  Ritual merupakan praktek tertentu yang dipraktekkan di Thailand modern, baik oleh para rahib atau dengan spesialis ritual Hindu, baik secara eksplisit diidentifikasi sebagai awal atau mudah terlihat berasal dari praktek Hindu.  Sementara visibilitas Hindu dalam masyarakat Thailand telah berkurang secara substansial selama dinasti Chakri. Pengaruh  Hindu, terutama kuil untuk dewa Brahma, terus terlihat di sekitar lembaga Buddha dan upacara. Seorang Biksu Buddha doa malam di dalam bini biara yang terletak dekat kota Kantharalak, Thailand.
Sedangkan pengaruh yang lebih kecil dapat diamati berasal dari kontak dengan Mahayana Buddhisme.  Awal Buddhisme di Thailand diduga berasal dari tradisi Mahayana yang tidak diketahui.  Sementara Mahayana Buddhisme secara bertahap hilang cahayanya di Thailand, fitur tertentu dari Thailand. Seperti munculnya Buddhisme Bodhisattva Lokesvara dalam beberapa arsitektur religius Thailand, dan keyakinan bahwa raja Thailand adalah Bodhisattva yang mengungkapkan pengaruh konsep Mahayana.  Phra Sangkrachai, Wat Phra Chao Don, Yasothon, hanya Bodhisattva terkemuka di Thailand adalah agama Maitreya, sering digambarkan dalam bentuk Budai, dan sering bingung dengan Thai. Salah satu atau keduanya dapat ditemukan di mant kuil Buddha Thailand, dan pada jimat juga. Penduduk  Thailand mungkin berdoa untuk dilahirkan kembali selama masa Maitreya, atau jasa dari kegiatan ibadah itu untuk didedikasikan.
Bentuk pemerintahan Thailand saat ini menjadi monarki konstitusional, yang mewarisi tradisi Asia Tenggara yang kuat. Kerajaan Buddha yang mengikat legitimasi negara untuk perlindungan serta dukungan untuk lembaga-lembaga Buddhis.  Pemerintahan ini telah dipertahankan di era modern, dengan institusi Buddha dan pendeta manfaat khusus yang diberikan oleh pemerintah, serta menjadi sasaran sejumlah pengawasan pemerintah.  Selain kepemimpinan rohaniawan dari Sangha itu, departemen pemerintah yang mengawasi kuil Buddha dan biksu.  Keadaan hukum sekte Buddha dan gerakan reformasi telah menjadi isu pertentangan dalam beberapa kasus, terutama dalam kasus Santi Asoke , yang secara hukum dilarang dirinya menamakan sebuah denominasi Buddha, dan dalam hal pentahbisan perempuan biarawan mencoba untuk menghidupkan kembali Theravada bhikkhuni keturunan namun telah dituntut seolah-olah mencoba untuk meniru anggota ulama.
Ada tiga gerakan reformasi dithailand yaitu :
}  Thammayut Nikaya (Pali) ( Thai ) harfiah “Mereka mengikuti secara ketat dengan disiplin monastik, Buddha Theravada. Biarawan di thailand didirikan pada abad ke-19 oleh Raja Mongkut, anak dari Raja Rama II sebagai gerakan reformasi yang kemudian menjadi denominasi independen yang diakui oleh Sangha Thailand.
}   Dhammakaya didirikan di Thailand pada 1970-an.  Hal itu dikritik menjadi kultus kepribadian daripada gerakan Buddha, dan diteliti oleh pemerintah Thailand pada 1990-an tapi masih tumbuh dengan cepat dan tidak ada yang ditentukan tidak sah walaupun pandangan konsumeris mereka disukai oleh beberapa orang, sedangkan yang lain mungkin hanya melihat kekayaan materi sebagai berkat yang akan diterima dan dirayakan secara bebas.
}  Santi Asoke ( Thai) secara harfiah Damai Asoke didirikan oleh Phra Bodhirak setelah dia “mendeklarasikan kemerdekaan dari Dewan Gerejawi (Sangha) pada tahun 1975.
Posisi perempuan dithailand tidak seperti di Myanmar, Burma dan Sri Lanka, di thailand perempuan (bhikkhuni) keturunan tidak pernah ada.  Akibatnya, ada persepsi yang luas di kalangan orang Thai yang perempuan tidak dimaksudkan untuk memainkan peran aktif dalam kehidupan monastik, melainkan, mereka diharapkan untuk hidup sebagai umat awam, hidup berumah tangga dengan harapan lahir dalam peran yang berbeda dalam kehidupan mereka berikutnya.  Sehingga, banyak umat awam terutama perempuan berpartisipasi dalam kehidupan beragama baik sebagai peserta berperan di kolektif jasa pembuatan ritual, atau dengan melakukan pekerjaan rumah tangga di sekitar candi.  Ada sebagian perempuan memilih untuk menjadi Mae Ji, non-religius yang ditahbiskan spesialis permanen amati baik dalam delapan atau sepuluh aturan.  Mae Ji umumnya tidak menerima tingkat dukungan yang diberikan kepada para bhikkhu yang ditahbiskan, melainkan posisi mereka dalam masyarakat Thai adalah sebagai subyek dari beberapa diskusi.
Baru-baru ini, ada upaya untuk mencoba memperkenalkan bhikkhuni garis keturunan di Thailand sebagai langkah untuk memperbaiki posisi perempuan di Thailand. Tetapi tidak seperti upaya-upaya serupa di Sri Lanka, upaya tersebut sudah sangat kontroversial di Thailand. Perempuan mencoba untuk menahbiskan tetapi mereka telah dituduh mencoba untuk meniru bhikkhu (suatu pelanggaran sipil di Thailand), dan tindakan mereka telah dikecam oleh banyak anggota rohaniwan hirarki.  Kebanyakan penduduk keberatan untuk membangkitkan kembali peran perempuan monastik  yang bergantung pada fakta bahwa aturan monastik mengharuskan kedua lima bhikkhu ditahbiskan dan lima bhikkhuni ditahbiskan hadir untuk pentahbisan bhikkhuni baru.  Tanpa kuorum, ada kritikus yang mengatakan bahwa tidak ada penahbisan untuk bhikkhuni baru di Theravada.  Hirarki Thailand menolak untuk mengakui pentahbisan dalam tradisi Taiwan (garis keturunan yang ada saat ini hanya pentahbisan bhikkhuni) sebagai pentahbisan Theravada sah, dengan alasan perbedaan dalam ajaran filosofis, dan (lebih kritis) disiplin monastik.
  1. C.  Kesimpulan
Sejarah agama Buddha berasal dari Sidartha gautama seorang anak raja dan ratu yang penuh dengan kemewahan, namun Sidharta gautama rela meninggalkan kemewahan, istri maupun anaknya untuk mencari jalan menghakiri penderitaan semua makhluk. Ia bertapa selama enam tahun dan akhirnya mencapai penerangan sempurna, ia menjadi Buddha yaitu orang yang telah bebas dari penderitaan dan bebas dari hawa nafsu. Beliau mengajarkan dhmma yaitu ajaran kebenaran. Sehingga ajaran kebenaran yang disebut Dhmma menyebar diberbagai daerah dan diyakini oleh umat Buddha.
 Penyebaran agama Buddha dithailand dipelopori berkat  Raja Thailand, Sri Suryavamsa Rama Maha Dharmikarajadhiraja, ia yang mendorong pengembangan agama Buddha, walaupun ia seorang bhikkhu yang aktif menyebarkan Dhamma ke seluruh negeri. Atas prakarsa dan kegiatan raja, maka agama Buddha dan bahasa PāỊi berkembang. Semangat dan kegigihan rajalah sehingga agama Buddha dapat berkembang pesat dithailand.

Isnin, 4 Februari 2013

ISLAM AGAMA YANG MULIA

Untuk entri yang pertama ini ana memperkenalkan apa itu islam. Mudah-mudahan antum dapat memahami apa itu Islam...
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.
"Aku Bersaksi Tiada Tuhan Yang disembah Melainkan Allah dan Aku bersaksi Bahawa Nabi Muhammad Itu Pesuruh Allah"
Definisi Islam
Dari segi bahasa, Islam memiliki beberapa erti, diantara erti kata Islam adalah :
Damai. Berasal kata ( م ل سلا ) yang secara bahasa berarti damai. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah SWT QS. At-Taubah/ 08 : 61 : “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Menyerahkan diri. Berasal dari kata ( 9م9ل س9أ ) yang berarti menyerahkan diri. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman QS. Annisa/ 4 : 125 : “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

Bersih dan Suci. Mengenai makna ini, Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 26 : 89): “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Selamat dan Sejahtera. Mengenai makna ini, Allah berfirman dalam Al-Qur’an: (QS. 19 : 47) Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”

Sedangkan secara istilah, terdapat beberapa definis dari Al-Islam :
Islam ditinjau dari substansinya adalah sebuah agama yang diturunkan kepada umat manusia melalui perantaraan rasul-Nya (Muhammad SAW), untuk dijadikan pedoman hidup guna menggapai kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat. Islam ditinjau dari sisi aplikasinya adalah ketundukan seorang hamba kepada wahyu ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Nabi Muhammad SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum atau aturuan Allah SWT yang dapat membimbing umat manusia ke jalan yang lurus, menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.
Makna asli “Islam” adalah penerimaan sebuah pendapat atau sebuah kondisi yang sebelumnya tidak diterima. Dalam bahasa al-Qur’an, Islam bermakna kesediaan seseorang untuk menerima titah dan perintah dari Tuhan dan mengikutinya.
“Muslim” adalah kata yang diambil dari kata Islam. Kata ini digunakan pada seseorang yang telah menerima dan mengikuti titah dari Tuhan. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus, lagi berserah diri Musliman dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Qs. Ali Imran [3]:67)
Dua kata yang dimaksud, bagaimanapun, dua makna spesifik yang diperoleh setelah pengenalan risalah yang dibawah oleh Nabi Muhammad Saw. Risalah yang diwahyukan kepada Muhamamad disebut sebagai Islam, dan beriman kepada risalah yang dibawanya juga disebut Islam. Muslim, juga berarti orang yang mengikuti risalah Muhammad dan meyakini akan kebenarannya.
inilah maksud islam sebenar, dalam solat kita melafazkan kalimah syahadah ini menujukkan kita memperaku bahawa ALLAH itu Tuhan kita Nabi Muhammad itu Pesuruh Allah..Islam menciptakan kedamaian, mengamalkan kebersihan, membawa kepada kesejahteraan dan taat pada Pencipta Makhluk yang Agung...bila kita meneliti tidak sedikit pon membawa kepada keganasan, kehancuran dan sebagainya...mudah-mudahan Agama Islam yang dipegang tidak terpesong dan utuh sebagai pegangan kita sampai kiamat.
selepas ini ana akan menceritakan tentang sejarah Islam dan bagaimana islam tersebar dengan meluas..

MALAYSIA DI TERIMA MUSIBAH SEPERTI DI NEGARA INDONESIA

Saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan thai berdoa semoga malaysia di terima musibah seperti negara-negara lain.Saya juga berdoa setiap hari supaya negara malaysia di terima musibah seperti negara-negara lain.Saya bersyukur kepada Allah swt sekiranya di beri musibah di Malaysia.Bagi saya kerajaan malaysia adalah zalim serta tidak memberi peluang kepada rakyat malaysia menggunakan parabola seperti negara-negara lain.Pada pendapat saya cukup 5 tahun undi kerajaan malaysia iaitu BN apa yang kehendak rakyat tidak di tunaikan.Sepatutnya kerajaan malaysia memberi peluang kepada rakyat malaysia menggunakan parabola seperti negara -negara lain.Apa yang saya lihat sekarang lampu motor sentiasa di buka setiap hari apabila lmapu mati jawapannya saman sebenarnya kerajaan malaysia membela bangsa cina sahaja untuk kaya tidak memikir rakyat susah atau senang,lesen memandu sepatutnya menggunakan seperti kad pengenalan tidak menggunakan tarikh dan tempoh ini tidak menggunakan tempoh samalah juga dengan syarikat astro kerajaan mementingkan astro dan bela syarikat astro kaya gambar di ulang dan setiap bulan di bayar tapi rancangannya di ulang.Bagi pendapat saya kerajaan malaysia adalah salah satu cabang kedarah duit rakyat dan gila kuasa dan pangkat samalah dengan parti pembangkang hanya gila kuasa dan pangkat sanggup menggunakan isu kalimah allah di negara malaysia bagi menyesatkan umat islam nama di katakan parti islam semalaysia pada hal parti seperti ini menyesatkan umat islam itulah di katakan hak pembangkang terutamanya parti Pas,Pkr dan Dap sanggup membuat apa sahaja demi politik mereka.Ya Allah Tuhan Ku Engkau beri musibah di negara malaysia seperti negara-negara lain.Amin.Saya berdoa supaya Kuala Lumpur dan Putrajaya di terima musibah .Bagi saya undang-undang malaysia adalah undang-undang yang tidak masuk akal seperti contoh lampu motor sentiasa di buka,Lesen memandu tidak menggunakan seperti kad pengenalan kenapa IC kita tidak ada tempoh berbanding dengan lesen memandu adanya tarikh dan tahun,Saman kebanyakan polis makan dan cekik kedarah duit rakyat sebab itulah polis malaysia dapat cepat kaya dan naik pangkat kerana makan hasil duit haram dari rakyat.Bagi saya menteri-menteri adalah gila kuasa dan pangkat tidak memikir masa depan rakyat samalah dengan parabola kata unsur-unsur lucah tapi di sebalik tu internet,cd dan hand phone semua ada gambar-gambar yang di katakan lucah.Pada pendapat saya kerajaan malaysia hanya membela syarikat astro sahaja mendapat keuntungan.Bagi saya kerajaan malaysia adalah cukup tak guna samalah dengan pembangkang hanya memberi kata-kata yang manis kepada penyokong apa bila menang lupa kepada penyokong ,tapi di sebalik tu tidak mengambil peduli seperti contoh air  di selangor Tan Sri Khalid sebagai menteri besar selangor tidak mengambil berat kepada nasib penduduk dan penghuni flat di selangor.Anda lihatlah sendiri dengan mata anda sikap yang gila kuasa dan pangkat semata-mata untuk diri sendiri sahaja.Apabila sudah menang lupa kepada rakyat yang mengundi itulah janji manis dari pihak pembangkang yang suka bohong dan gila kuasa dan pangkat.Ingat orang yang gila kuasa dan pangkat akan di kenakan oleh Allah swt semasa di akhirat nanti tidak akan terlepas dari azab allah swt.Jangan kita Bangga diri kita pangkat dan kuasa apabila pencen nanti semua orang akan kutuk dan hina.Bagi saya malaysia di terima bala atau musibah seperti di negara indonesia segala harta benda dan orang awam mati kecuali masjid sahaja yang elok dan berdiri teguh dan baik.

MALAYSIA DI TERIMA MUSIBAH

Salam Sejahtera Kepada Semua  Pembaca Yang Saya Dihormati.
Kita Sekarang Boleh Dikatakan Sedang Berada Di Akhir Zaman, Ya La, Sebab Sekarang Macam-Macam Perkara Telah Berlaku & Sedang Berlaku & Akan Berlaku.
Selalu Kita Dengar Ada Banjir & Gempar & Sunami Sana Sini, Sampai-Sampai Negara Yang Boleh Dikatakan Kurang Air Selama Ini Tiba-Tiba Berlaku Banjir, Seperti Yang Telah Berlaku Di Pakistan Baru-Baru Ini.
Akhir-Akhir Ini Kita Selalu Dengar Sana Sini Dilanda Musibah, Kenapa?? Tetapi Yang Pelik Nya Ada Sebahgian Negara Hidup Dengan Aman, Seperti Malaysia.
Malaysia Boleh Dikatakan Negara Yang Aman, Tahu Tak Sebab Apa??
1-      Sebab Negara Malaysia Ramai Alim Ulama?
2-      Sebab Negara Malaysia Pemerintahan Orang Islam?
3-      Sebab Negara Malaysia Tak Banyak Dosa??
4-      Atau………………………………
5-      ……………………………….Lain-Lain.
Kalau Hanya Sebab-Sebab Ini Banyak Juga Negara Lain Ada, Seperti Indonesia Terlalu Ramai Ulama Berbanding Dengan Malaysia, Seperti Itu Juga Thailand.
Ada Satu Perkara Yang Penulis Ingin Kongsikan Bersama Pembaca Apa Yang Rakyat Malaysia Ada Tetapi Rakyat Negara Lain Tak Ada.
IAITU….Rakyat Malaysia Sangat Baik Hati & Banyak Bersedakah, Saya Tak Nafikan Memang Rakyat Kemboja Sekelipun Sangat Banyak Dapat Bantuan Dari Rakyat Malaysia.
Di Kemboja Kalau Kita Nampak Surau / Masjid Yang Kalau Kita Bertanya Dari Mana Dating Bantuan? 90% Jawapan Nya Ialah MALAYSIA.
Bukan Itu Saja, Banyak Lagi Bantuan-Bantuan Yang Lain, Termasuklah Ibadah Korban Pada Tiap-Tiap Tahun Raya Haji.
Saya Mengucapkan Terima Ksih Banyak-Banyak Kepada Rakyat Malaysia Yang Telah Banyak Membantu Rakyat Islam Di Kemboja.
MUNGKIN Sebab Inilah Malaysia Boleh Di Anggap Sebagai Negara Yang Aman Dari Musibah Tersebut Diatas. SABDA NABI Saw.( الصدقة تدفع البلاء ) Maksudnya, Sedakah Itu Dapat Menolak Bala/Musibah.
PERLU DI INGAT,
Kalau Kita Banyak Bersedakah Insya Allah Kita Akan Selamat, Tapi Bukan Selama-Lamanya, Musibah Diangkat Pada Bulan Itu / Tahun Itu saja, Tapi Bukan Selamanya.
OLEH ITU.. Jika Kita Ingin Selamat, Sekali-Kali Jangan Tinggalkan Amalan Yang Baik Ini Sampai Bila-Bila.Kalau Tidak Maka Tunggulah Musibah Pasti Akan Datang Dalam Masa Terdekat, Ini Bukan Nak Menakutkan.
KESIMPULAN…
KHAZANAH YANG ALLAH DI LANGIT HANYA DUA PERKARA ( AZAB ) DAN ( RAHMAT )
1-Keburukan kejahatan Itu Menarik Azab / Musibah Dari Allah, Bayangkan Berapakah Keburukan Di Negara Kita?
zina? anak luar nikah? bunuh? tak solat? tak zakat? banyak lagi sampai tak dapat nak bilang.
2-Kebaikan Pula Menolak Azab/ Musibah Dari Allah, Bayangkan Berapa Banyak Keebaikan Di Negara Kita?
JADI JIKA KEBURUKAN LEBIH BANYAK DARI KEBAIKAN MAKA TUNGGULAH ( AZAB ) PASTI AKAN DATANG.
JIKA KEBAIKAN LEBIH BANYAK DARI KEBURUKAN MAKA KITA AKAN SELAMAT.

Ahad, 3 Februari 2013

KERAJAAN MALAYSIA MELETAK GAMBAR POTRET RAJA MALAYSIA SEPERTI DI NEGARA THAILAND DAN CAMBODIA.



Satu perkara yang penulis amat kagumi dengan rakyat Thailand tidak kira Islam, Buddha, Hindu mahupun Kristian adalah ketaatan mereka terhadap Raja mereka.

Jika saudara-saudari pernah ke Bangkok, Thailand, penulis yakin bahawa anda pernah melihat wajah Raja Bhumibol Adulyadej ataupun Raja Rama IX. Tidak kira dimana jua pasti anda akan nampak wajah Raja Thailand, selalunya gambarnya ketika muda.

Bukan hanya di jalan raya, tetapi jika anda masuk kedalam bangunan-bangunan di Thailand penulis percaya mesti tergantungnya sebuah potret Raja Bhumibol. Bukan setakat di Thailand, malahan jika terdapat restoran Thailand yang pure di Malaysia pasti ada gambar Raja mereka.

Itu menunjukkan bertapa hormatnya mereka terhadap Raja mereka yang telah memerintah Thailand selama 64 tahun menjadikan beliau sebagai Raja yang paling lama memerintah ketika ini.

Jika di Malaysialah, perkara-perkara seperti ini mesti dipertikaikan pelbagai pihak. Institusi Raja di Malaysia bagai pelampung ditengah laut yang terus menerus dipukul ombak gelora.

Di Thailand jika ada sesiapa mengutuk ataupun mempersendakan Raja mereka, tidak akan terlepas tindakan undang kepada mereka yang melakukan perbuatan sebegitu. Pernah terjadi dimana seorang warga asing yang menetap di Thailand ditangkap kerana mempersendakan Raja Thailand.

Suatu perkara lagi yang penulis perasan tentang rakyat Thailand ini adalah tentang pemakaiannya. Pada hari Isnin setiap minggu, rakyat Thailand akan memakai baju kuning.

Mengapa mereka memakai baju kuning ?

Bapa penulis pernah bertanya kepada seorang pemilik restoran Arab di Bangkok mengapa ramai orang memakai pakaian bewarna kuning. Pemilik restoran itu menjelaskan bahawa Raja Thailand lahir pada hari Isnin, disebabkan itulah mereka memakai baju kuning setiap Isnin kerana warna kuning warna kemegahan Raja.

Dan jika tidak silap penulislah, hari Jumaat rakyat Thailand disarankan memakai baju bewarna biru kerana Ratu Thailand lahir pada hari Jumaat.

Sambutan besar-besaran hari keputeraan Raja Thailand akan diadakan setiap bulan Disember setiap tahun. Ini kerana Raja Bhumibol lahir pada 5 Disember 1927.

Perkara-perkara yang selalu penulis nampak adalah bendera bewarna kuning yang memaksudkan warna bagi institusi diRaja Thailand. Selalunya terdapat disekitar jalan raya, pejabat kerajaan ataupun sekolah di seluruh Thailand.

Bertapa taatnya mereka kepada Raja mereka hinggakan bendera-bendera kuning itu dipacak sendiri oleh rakyat Thailand tanpa perlu meminta upah walaupun mereka adalah bukanlah manusia yang senang.

Sambutan yang meriah tetapi diadakan walaupun Raja Thailand sedang gering. Rakyat tetap mendoakan Raja mereka sihat dan sambutan diadakan tetap hangat. Sambutan tahunan mereka terhadap Raja sama hebat seperti jubli emas pemerintahan 50 tahun Sultan Kedah.

Tetapi Jubli Emas pemerintahan 50 tahun Sultan Kedah pada 2008 dipenuhi dengan aktiviti-aktiviti yang dihadiri oleh Sultan Kedah. Tetapi dari segi poster yang ditampal sama hebat dengan sambutan hari lahir Raja Thailand.

Itu sesuatu yang amat-amat dikagumi penulis terhadap rakyat Thailand yang memang mesra dengan penulis dari dahulu lagi. Penulis tidak sedikit pun berasa terancam ketika berada di Thailand malahan penulis pernah keluar berseorangan di Bangkok ketika dahulu.

Kekayaan Raja Bhumibol Adulyadej yang telah dikeluarkan oleh majalah Forbes dimana Raja Thailand merupakan Raja terkaya didunia dengan aset bernilai US$ 30 billion bersamaan Rm 90 billion.

Walaupun memiliki kekayaan sehingga Rm 90 billion tetapi tiada pemertikaian oleh rakyat Thailand bukan seperti sesetengah pihak di Malaysia yang mempersendakan penglibatan anak perempuan Sultan Perak, Y.A.M Raja Dato' Seri Eleena Azlan Shah sebagai salah seorang ahli lembaga pengarah Gamuda Berhad.

Dekat Malaysia, Potret-potret Raja pun susah untuk dijumpai kecuali jika kita berada di kompleks-kompleks kerajaan. Itupun gambar Sultan dinegeri itu dan Perdana Menteri.

Penulis yakin jika saudara semua ke Thailand mesti punya saudara akan kenal Raja Thailand. Penulis pertama kali ke Thailand pun sudah nampak muka Raja Thailand di merata tempat membuatkan penulis bertanya kepada bapa penulis muka siapakah yang seri terpampang di jalanraya sekitar Bangkok.

Ini membuatkan penulis mengetahui siapakah manusia yang sering penulis lihat disana sekaligus mengenalkan penulis dengan Raja Thailand. Ini sesuatu perkara yang menarik dimana kerajaan Thailand berjaya memperkenalkan Raja mereka ke muka dunia.

Rasanya Malaysia patut mencontohi langkah Thailand yang meletak gambar Raja mereka dimerata tempat. Tetapi mesti anda tertanya, negara kita ada 9 sultan ataupun raja ataupun yang dipertuan besar jadi yang mana nak letak?

Senang sahaja, letak saja gambar-gambar Yang di-Pertuan Agong dan Sultan ataupun Raja ditempat tersebut. Contohnya di Sunway Pyramid dimana berada dalam jajahan Selangor, jadi letaklah gambar Sultan Selangor dan Yang di-Pertuan Agong ketika itu.

Ini bakal mengenalkan Sultan dan Raja kita kepada pelancong-pelancong asing yang datang ke Malaysia. Teringat penulis dimana seorang warga Libya bertanya kepada penulis yang manakah Yang di-Pertuan Agong Malaysia ketika Sambutan Maulidur Rasul tempoh hari.

Dan penulis harap sangat-sangat supaya kerajaan mengambil tindakan yang tegas kepada mana-mana individu yang tidak menghormati Sultan ataupun Raja disini. Kerana jika ia dibiarkan, tidak mustahil suatu hari nanti institusi Diraja akan terus dipersendakan.

Ingat orang kita memang dari dahulu lagi taat dan setia kepada Raja. Bahkan sebelum buat salah kita dah minta ampun dari Sultan dahulu. Jangan lepas ini dah buat salah baru minta ampun dari polis-polis.

MUSIBAH DAN BALA DI NEGARA MALAYSIA

Mengintai Musibah dan Bala Bencana Di Malaysia

Marilah Bersama Berdoa Semoga Orang Melayu Memartabatkan Islam Pada Daulah Tertingggi Dan Utama Daripada Melayu Itu Sendiri

Jika diperhatikan kesimpulan pengertian firman Tuhan daripada dalam Al Quran, hadis-hadis Nabi dan kupasan pemikiran alim ulamak terhadap bala bencana yang besar dan mega, adakah negara kita tercinta ini telah sempurna memiliki ciri-ciri atau penyebab bencana itu terhindar atau mendapat jaminan pemiliharan Tuhan terhadapnya? Atau adakah sudah selayaknya dan pada bila-bila masa sahaja bala bencana dan mala petaka itu akan ditimpakan?

Cubalah kita perhatikan kupasan maksud yang terangkum dan memberi pengertian mengenai bala bencana itu di mana diantara maksud firman Tuhan bahawa, Tuhan akan menggantikan kelompok sesebuah masyarakat atau kaum itu dengan mendatangkan bala bencana kerana mereka engkar dan menyombong diri. Tuhan juga terlebih dahulu akan menghantar atau mewujudkan terlebih dahulu orang atau kumpulan pendakwah yang datang untuk memberi peringatan dan menasihati agar bertaubat dan kembali kepada perintah Allah sebelum bencana dan malapetaka diturunkan.

Turunnya bencana dan malapetaka itu adalah tidak lain dan tidak bukan untuk menghapus atau melupuskan mahupun mempupuskan hamba-hamba yang derhaka yang melapaui batas takdir dan ketentuan Tuhan. Kita hanya melihat Kelantan sebagai sebuah entiti politik yang kecil serta kerdil dengan pemikiran yang dangkal. Tetapi apakah tidak mungkin itu adalah salah satu daripada petunjuk Allah sebagai amaran dan peringatan untuk kita yang mempunyai akal agar memikirkannya?

Mereka yang melampaui batas adalah yang mempersiakan hukum-hakam agama dan mempersendakannya. Mereka menyombong diri dan engkar kepada perintah dan mempersenda peringatan dan petunjuk Tuhan. Mereka mencipta peraturan dan undang-undang sendiri bagi memuaskan nafsu mereka mengikut kepentingan diri. Mereka memperlekeh para ulamak dan melantik ulamak jahat yang sanggup mengeluarkan fatwa ciptaan yang sesuai dengan nafsu mereka. Mereka menzalimi orang yang lemah dan orang yang tidak berdaya dari segi material, fizikal dan mental. Mereka menindas orang miskin. Perempuan-perempuan mereka pula hilang sifat malu dan suka memperagakan hiasan diri. Mereka adalah kaum yang mengutamakan dan berlebih-lebih dalam hiburan. Mereka menjadikan Yahudi dan Nasrani dan orang kafir yang bermusuh kepada Allah sebagai teman dan pemimpin mereka. Mereka melindungi pelaku kesalahan dan penjenayah kroni mereka. Mereka gemar membuat fitnah dan merampas hak orang lain.

Tuhan juga memberi amaran dengan sengaja mengurniakan rezki yang melimpah ruah kepada sesebuah negara atau masyarakat yang pemimpinnya zalim sehingga mereka bertambah zalim dan mensia-siakan dengan sengaja rezki yang dikurniakan itu. Mereka akan tidak bersyukur kepada Tuhan sehingga yakin rezki yang melimpah ruah itu adalah hasil dari kepintaran dan kebijaksanaan mereka. Mereka secara sedar atau tidak akan menafikan bahawa kesenangan dan kemewahan mereka adalah rahmat daripada Allah.

Tuhan juga menimpakan bala bencana dan mala petaka di tempat-tempat berhampiran dengan mereka sebagai amaran dan pengajaran agar mereka segera kembali ke pangkal jalan dan bertaubat ke hadirat Allah. Tetapi jika segala petunjuk yang telah Tuhan janji dan adakan masih tidak dirasakan, tidak nampak dan sengaja dipermain-mainkan maka akan sampailah waktunya bencana dan mala petaka itu dihadapi dan ditanggung oleh kaum atau sesuatu bangsa yang menyombong diri itu. Itulah janji Allah dan janji Allah tidak pernah mungkir.

Menilik kepada negara kita Malaysia yang tercinta ini, maka dapatkah kita menidakkan bukti-bukti dan petunjuk Tuhan itu? Bolehkah kita menafikan bahawa mala petaka dan bencana alam yang akan melupuskan tamaddun, tidak relevan dengan diri dan bangsa kita? Adakah kita benar-benar yakin bahawa negara kita adalah sebuah negara yang kaya dan makmur dan dirahmati Allah? Adakah kita berani mengatakan bahawa kita adalah diredhai Tuhan kerana mengikut segala perintah dan petunjukNya? Adakah kita yakin, kita tidak akan dikenakan bencana atau mala petaka kerana kita tidak zalim, kita adil, kita tidak mempersendakan agama dan kita tidak pernah berasa sombong.

Perhatikan pula adakah mala petaka dan bencana besar telah Tuhan datangkan kepada negara-negara jiran kita sebagai amaran kepada kita yang angkuh? Di sebelah barat kita, adakah bencana tsunami Aceh itu tidak relevan sama sekali dengan kita? Di selatan pula, siri-siri letusan gunung berapi di pulau Jawa yang mengorban ratusan ribu nyawa itu adakah hanya merupakan kebiasaan sahaja kerana negara itu berada dalam jaluran lingkaran gunung berapi yang aktif? Di sebelah timur pula, peristiwa pembunuhan beramai-ramai orang Islam oleh penganut Kristian di Ambon dan di pulau-pulau berdekatan adakah itu hanya merupakan masalah dalaman negara tetangga kita?. Begitu juga peristiwa pembunuhan penganut Islam di Selatan Thai dan Bangsa Moro Filipina. Jauh sedikit dengan negara kita, bencana kemarau dan banjir besar di India dan Cina, Bangaladesh, Australia dan tsunami serta kebocoran dan radioaktif bahan nuklear di Jepun itu adakah masih tiada kesan pengajarannya kepada kita?

Segala bencana itu kelihatannya kita merujuk kepada keyakinan terhadap dunia fizikal dan sains. Kita tidak lagi merujuk petunjuk agama seolah-olah agama kita serupakan dengan dunia atau alam mitos dan lagenda. Adakah kita malu untuk menjadikan petunjuk Al Quran dan hadis Nabi sebagai pegangan atau sebenarnya kita telah sombong dengan ilmu metafizik dan sains yang telah kita kuasai?

Perhatikan semula ciri-ciri petunjuk dan alamat daripada Al Quran dan hadis nabi serta kupasan ilmu daripada para ulamak. Jika anda mengerti, faham dan yakin maka bersedialah menghadapinya kerana janji Allah tidak pernah bohong. Allah telah menyatakan bahawa apabila bala bencana dan mala petaka ditimpakan kepada sesuatu tempat atau umat yang melampaui batas maka semua termasuk yang beriman juga akan berhadapan dan merasai kesengsaraannya. Hanya tahap penderitaan dan kesengsaraan itu saja yang berbeza di antara orang yang beriman dengan orang yang fasik, lalai, kafir dan orang yang zalim. Mereka merasai kesengsaraan dalam kadar yang ditentukan. Kepada yang munafik, kafir dan zalim tidaklah sama dengan orang-orang yang beriman.

Mengintai kepada keadaan negara kita yang tercinta ini maka jika telah selayaknya menerima hukuman Tuhan kerana segala ciri-ciri untuk dihukum dengan musibah telah pun ada maka rasanya apakah bencana yang tidak terduga ini akan melanda kita. Bayangkan kemungkinan ribuan malah ratusan ribu nyawa manusia akan mati tenggelam kerana banjir besar yang mungkin sahaja boleh berlaku di Kuala Lumpur atau seluruh negara. Atau kebakaran besar di kota metropolitan Kuala Lumpur dan runtuhnya bangunan-bangunan tinggi yang bergentil-gentil berdekatan di antara satu sama lain itu sehingga meragut puluhan ribu nyawa. Musibah lain yang tidak mustahil seperti pertumpahan darah dan korban nyawa yang ratusan ribu melayang akibat peperangan disebabkan pencerobohan tentera asing atau persengketaan sesama sendiri juga boleh berlaku. Belum lagi kemungkinan wabak penyakit yang mengakibatkan maut menyeluruh. Atau bencana ribut taupan yang meragut ratusan ribu nyawa. Semua kebarangkalian ini adalah tidak mustahil di sisi Tuhan apabila Dia berkehendak dan murka kerana kesombongan bangsa Melayu atau Malaysia yang telah melampaui batas.

Maka ketika itu, untuk memerhatikan maksud peringatan Tuhan bahawa nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan adalah sudah terlambat. Seharusnya malah semestinya ketika inilah kita memperbetulkan landasan hidup dengan nilai tamadun manusia dunia dengan mengikut petunjuk Tuhan iaitu kembali mengamalkan peradaban tamadun dan perundangan Islam yang Tuhan redhai sementara kita masih berkuasa sebelum sifat kesombongan terus menguasai diri dan sebelum bencana dan mala petaka itu ditumpukkan ke atas kepala kita.

SEJARAH IMAM MAHADI

Syariat sejatinya telah gamblang menjelaskan definisi dan menyuguhkan gambaran akan sosok Al-Imam Al-Mahdi. Namun bersemainya penyimpangan tak pelak menjadikan gambaran Al-Imam Al-Mahdi itu menjadi kabur.
Beriman akan Munculnya
Telah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mengimani segala yang diberitakan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana ini menjadi konsekuensi persaksian kita: “Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ
Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar melainkan Allah dan agar mereka beriman kepada apa yang kubawa. Bila mereka melakukan itu maka mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haknya. Adapun perhitungannya diserahkan kepada Allah.” (Shahih, HR. Muslim, Kitabul Iman Bab Al-Amru bi Qitalin Nas Hatta.)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tegaskan:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)
Ini menunjukkan wajibnya beriman dengan segala yang diberitakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berita yang terkait dengan apa yang telah lalu atau yang akan datang. Termasuk di antaranya adalah akan munculnya Al-Imam Al-Mahdi.
Berita akan munculnya sosok penegak sunnah nan adil itu telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Bahkan tak sedikit dari para ulama yang menyatakan bahwa haditsnya mencapai derajat mutawatir secara makna, sehingga tiada lagi celah bagi siapapun untuk mengingkarinya. Di antara ulama yang menyatakan kemutawatiran hadits-haditsnya adalah Abul Hasan Muhammad bin Husain As-Sijzi (wafat 363 H), Muhammad Al-Barzanji (wafat 1103 H), As-Safarini, As-Sakhawi, Asy-Syaukani, Shiddiq Hasan Khan, Al-Kattani, dan lain-lain rahimahumullah.
Dan para ulama yang menyebutkan keshahihan hadits tentang Al-Mahdi sangat banyak, dari kalangan ulama terdahulu maupun belakangan. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu telah menyebutkan sebagian nama mereka, di antaranya 16 ulama yang saya sebutkan sebagiannya: Abu Dawud, Al-Qurthubi, Ibnu Taimiyyah, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim, dan Ibnu Hajar rahimahumullah.
Sehingga ini menjadi salah satu akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. As-Safarini mengatakan: “Telah banyak riwayat yang menyebutkan akan munculnya Al-Mahdi sehingga mencapai derajat mutawatir secara makna. Dan itu telah tersebar di kalangan Ahlus Sunnah sehingga teranggap sebagai aqidah mereka….” –beliau menyebut hadits, atsar serta nama para sahabat yang meriwayatkannya, lalu beliau berkata– “Dan telah diriwayatkan dari para sahabat yang disebutkan dan selain mereka dengan riwayat yang banyak, juga dari para tabi’in setelah mereka, yang dengan semua itu memberi faedah ilmu yang pasti. Maka mengimani munculnya Mahdi adalah wajib sebagaimana telah ditetapkan oleh para ulama dan tertulis dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Lawami’ul Anwar Al-Bahiyyah, 2/84)
Beberapa Hadits tentang Al-Imam Al-Mahdi
1. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ – قَالَ زَائِدَةُ فِي حَدِيْثِهِ – لَطَوَّلَ اللهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيْهِ رَجُلاً مِنِّي – أَوْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي – يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِي، يَمْلَأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا
Bila tidak tersisa dari dunia kecuali satu hari –Za`idah (salah seorang rawi) mengatakan dalam haditsnya– tentu Allah akan panjangkan hari tersebut, sehingga Allah utus padanya seorang lelaki dariku –atau dari keluargaku–. Namanya sesuai dengan namaku, dan nama ayahnya seperti nama ayahku. Ia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kedzaliman dan keculasan.” (Hasan Shahih, HR. Abu Dawud, Shahih Sunan no. 4282; sanadnya jayyid menurut Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam Al-Manarul Munif; At-Tirmidzi no. 2230, 2231; Ibnu Hibban no. 6824, 6825)
2. Dari ‘Ali (bin Abi Thalib) radhiyallahu ‘anhudari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan:
لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدَّهْرِ إِلاَّ يَوْمٌ لَبَعَثَ اللهُ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَمْلَؤُهَا عَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا
Bila tidak tersisa dari masa ini kecuali satu hari, tentu Allah akan munculkan seorang lelaki dari ahli baitku (keluargaku) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kecurangan.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 4283 Kitab Al-Mahdi dan ini adalah lafadznya, Ibnu Majah no. 4085, Kitabul Fitan Bab Khurujul Mahdi)
3. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ
Al-Mahdi dari keluargaku dari putra Fathimah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan ini lafadznya, Shahih Sunan no. 4284, Ibnu Majah no. 4086, dan Al-Hakim no. 8735, 8736)
4. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
الْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى اْلأَنْفِ، يَمْلَأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِيْنَ
Al-Mahdi dariku, dahinya lebar, hidungnya mancung, memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kedzaliman, berkuasa selama 7 tahun.” (Hasan, HR. Abu Dawud no. 4285 dan ini lafadznya, Ibnu Majah no. 4083, At-Tirmidzi, Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a Fil Mahdi no. 2232, Ibnu Hibban no. 6823, 6826 dan Al-Hakim no. 8733, 8734, 8737)
5. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟
Bagaimana dengan kalian jika turun kepada kalian putra Maryam, sementara imam kalian dari kalian?” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitab Ahaditsul Anbiya` Bab Nuzul ‘Isa ibni Maryam, no. 3449; Muslim dalam Kitabul Iman Bab Fi Nuzul Ibni Maryam, 2/369, 390)
6. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا، فَيَقُوْلُ: لاَ، إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ
Masih tetap sekelompok dari umatku berperang di atas kebenaran. Mereka unggul sampai hari kiamat, lalu turun ‘Isa putra Maryam. Maka pemimpin mereka mengatakan: ‘Kemari, jadilah imam kami.’ Ia menjawab: ‘Tidak, sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Allah untuk umat ini’.” (Shahih, HR. Muslim dalam Kitabul Iman Bab La Tazal Tha`ifah min Ummati, 2/370, no. 393)
Hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ini menunjukkan dua hal:
Pertama: Ketika turunnya ‘Isa bin Maryam dari langit, yang memegang kepemimpinan muslimin ketika itu adalah seorang dari mereka.
Kedua: Keberadaan pemimpin mereka untuk shalat, lalu ia mengimami muslimin, serta permintaannya kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam saat turunnya untuk mengimami mereka. Ini semua menunjukkan keshalihan pemimpin tersebut dan bahwa ia berada di atas petunjuk.
Dan (dalam hadits) itu walaupun tidak ada penegasan dengan lafadz Al-Mahdi, tetapi menunjukkan sifat orang yang shalih yang mengimami muslimin di waktu itu. Dan terdapat hadits-hadits dalam kitab-kitab Sunan maupun Musnad serta lainnya, yang menerangkan bahwa hadits-hadits yang ada dalam dua kitab shahih itu menunjukkan bahwa orang shalih tersebut bernama Muhammad bin Abdullah dari keturunan Al-Hasan bin ‘Ali, yang disebut dengan Al-Mahdi. Dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sebagiannya menerangkan sebagian yang lain. Di antara hadits yang menunjukkan hal itu adalah hadits yang diriwayatktan oleh Al-Harits ibnu Abi Usamah dalam Musnad-nya dengan sanadnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمُ الْمَهْدِيُّ: تَعَالَ، صَلِّ بِنَا. فَيَقُوْلُ: لاَ، إِنَّ بَعْضَهُمْ أَمِيْرُ بَعْضٍ، تَكْرِمَةُ اللهِ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ
Isa putra Maryam turun, lalu pemimpin mereka Al-Mahdi mengatakan: ‘Imamilah kami’. Ia menjawab: ‘Sesungguhnya sebagian mereka pemimpin bagi sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Allah untuk umat ini’.”
Hadits ini dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitabnya Al-Manarul Munif: “Sanadnya bagus.” (Abdul Muhsin Al-‘Abbad, ‘Aqidatu Ahlil Atsar. Lihat pula Ash-Shahihah, no. 2236)

Nama Al-Imam Al-Mahdi dan Nasabnya


Nama beliau adalah Muhammad atau Ahmad bin Abdullah. Seperti dalam hadits yang lalu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan: “Namanya sesuai dengan namaku, dan nama ayahnya sesuai dengan nama ayahku.”
Dia dari keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana disebutkan dalam riwayat: “Dari ahli baitku.” (HR. Abu Dawud, no. 4282 dan 4283). Dalam riwayat lain: “Dari keluarga terdekatku (‘itrah-ku).” (HR. Abu Dawud, no. 4284). Dalam riwayat lain: “Dariku.” (HR. Abu Dawud no. 4285) dari jalur perkawinan ‘Ali bin Abu Thalib dan Fathimah bintu Rasulillah. Sebagaimana dalam hadits yang lalu dikatakan: “Seseorang dari keluargaku” dan “dari anak keturunan Fathimah.” (HR. Abu Dawud no. 4284)
Oleh karenanya, Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Dia adalah Muhammad bin Abdillah Al-‘Alawi (keturunan Ali) Al-Fathimi (keturunan Fathimah) Al-Hasani (keturunan Al-Hasan). Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaikinya dalam satu malam yakni memberinya taubat, taufik, memberinya pemahaman serta bimbingan padahal sebelumnya tidak seperti itu.” (An-Nihayah fil Malahim wal Fitan, 1/17, Program Maktabah Syamilah)

Sifat Fisiknya


Di antara sifat fisiknya adalah sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Dawud (no. 4285) dan yang lain:
أَجْلَى الْجَبْهَةِ Artinya, “Tersingkap rambutnya dari arah kepala bagian depan,” atau “Dahinya lebar.”
أَقْنَى اْلأَنْفِ “Hidungnya mancung, ujungnya tajam, bagian tengahnya agak naik.”
Al-Qari mengatakan: “Maksudnya, beliau tidak pesek, karena yang demikian adalah bentuk yang tidak disukai.”

Menebar Keadilan

Di antara sifat Al-Mahdi adalah bahwa ia menebar keadilan dan melenyapkan kedzaliman serta keculasan. Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezhaliman.” (HR. Abu Dawud no. 4282, 4283, 4285)
Sehingga disebutkan dalam hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:
يَكُوْنُ فِي أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ إِنْ قَصَرَ فَسَبْعٌ وَإِلاَّ فَتِسْعٌ فَتَنْعَمُ فِيْهِ أُمَّتِي نِعْمَةً لَمْ يَنْعَمُوا مِثْلَهَا قَطُّ تُؤْتَى أُكُلَهَا وَلاَ تَدَّخِرُ مِنْهُمْ شَيْئًا وَالْمَالُ يَوْمَئِذٍ كُدُوْسٌ فَيَقُوْمُ الرَّجُلُ فَيَقُوْلُ: يَا مَهْدِيُّ أَعْطِنِي. فَيَقُولُ: خُذْ
Akan datang pada umatku Al-Mahdi bila masanya pendek maka tujuh tahun, kalau tidak maka 9 tahun. Maka umatku pada masa itu diberi kenikmatan dengan kenikmatan yang tidak pernah mereka rasakan yang semacam itu sama sekali. Mereka diberi rizki yang luas. Mereka tidak menyimpan sesuatu pun. Harta saat itu berlimpah sehingga seseorang bangkit dan mengatakan: ‘Wahai Mahdi, berilah aku.’ Diapun menjawab: ‘Ambillah’.” (Hasan, HR. Ibnu Majah no. 4083, Kitabul Fitan Bab Khurujul Mahdi, 4/412, dan Al-Hakim no. 8739. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menghasankannya)
Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan:
فَيَجِيْءُ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَيَقُوْلُ: يَا مَهْدِيُّ، أَعْطِنِي، أَعْطِنِي. قَالَ: فَيَحْثِي لَهُ فِي ثَوْبِهِ مَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَحْمِلَهُ
Sehingga datang kepadanya seseorang seraya mengatakan: ‘Wahai Mahdi, berilah aku, berilah aku.’ Nabi mengatakan: “Maka Mahdi menuangkan untuknya di pakaiannya sampai ia tidak dapat membawanya.”
Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Di masanya, buah-buahan banyak. Tanam-tanaman lebat, harta benda melimpah. Penguasa benar-benar berkuasa, agama menjadi tegak, musuh menjadi hina, kebaikan terwujud di masanya terus-menerus.” (An-Nihayah Fil-Malahim 1/18, Program Maktabah Syamilah)
Dalam riwayat Al-Hakim, disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَخْرُجُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ يُسْقِيْهِ اللهُ الْغَيْثَ، وَتُخْرِجُ اْلأَرْضُ نَبَاتَهَا، وَيُعْطِي الْمَالَ صِحَاحًا، وَتَكْثُرُ الْمَاشِيَةُ وَتَعْظُمُ اْلأُمَّةُ، يَعِيْشُ سَبْعاً أَوْ ثَمَانِيًا – يَعْنِيْ حِجَجًا -
“Muncul di akhir umatku Al-Mahdi. Allah menyiramkan hujan, sehingga bumi mengeluarkan tanamannya. Ia membagi harta secara merata. Binatang ternak semakin banyak, umat pun menjadi besar. Ia hidup selama 7 atau 8 –yakni tahun–.” (HR. Al-Hakim, Kitabul Fitan wal Malahim no. 8737. Beliau mengatakannya sebagai hadits yang shahih sanadnya, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan Ibnu Khaldun. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: “Sanadnya shahih.” Lihat Ash-Shahihah, 4/40, hadits no. 1529)

Waktu Munculnya

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi disebutkan: “Ketahuilah, yang sudah dikenal di kalangan seluruh pemeluk Islam sepanjang masa bahwa di akhir zaman pasti muncul seorang dari ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang membela agama dan menebarkan keadilan, serta diikuti oleh muslimin. Ia juga menguasai kerajaan-kerajaan Islam. Ia dijuluki Al-Mahdi. Juga tentang keluarnya Dajjal serta tanda-tanda kiamat sesudahnya yang terdapat dalam kitab Shahih, muncul setelahnya. Dan bahwa kemunculan ‘Isa juga setelahnya, kemudian beliau membunuh Dajjal. Atau ‘Isa turun setelahnya lalu membantunya untuk membunuh Dajjal kemudian bermakmum kepada Mahdi dalam shalatnya.” (Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a fil Mahdi)
At-Tirmidzi rahimahullahu meriwayatkan dari Zir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمْلِكَ الْعَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي
Dunia tidak akan lenyap hingga seorang dari keluargaku menguasai bangsa Arab. Namanya sesuai dengan namaku.” (HR. At-Tirmidzi no. 2230, Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a fil Mahdi, 4/438 dan beliau mengatakan: “Hasan shahih.” Demikian pula yang dikatakan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Dari sini, berarti munculnya Al-Imam Al-Mahdi adalah di akhir zaman sekaligus mengawali tanda-tanda besar akan datangnya kiamat. Namun sebagian ulama sempat ragu, apakah Mahdi ini sebagai awal tanda yang besar atau tanda yang lain. Sebagian ulama menyatakan dengan yakin bahwa Mahdi sebagai tanda pertama, lalu berturut-turut datang tanda yang lain. Di antara yang menyebutkan dengan tegas yang demikian adalah Muhammad Al-Barzanji rahimahullahu (wafat 1103 H). Beliau mengatakan dalam bukunya Al-’Isya`ah li Asyrath As-Sa’ah: “Bab Ketiga, tanda-tanda besar dan tanda-tanda yang dekat, yang setelahnya tibalah hari kiamat, dan itu juga banyak. Di antaranya Al-Mahdi, dan itu yang pertama.” (dinukil dari ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Atsar fil Mahdi Al-Muntazhar)
Adapun Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Munculnya, nanti di akhir zaman. Dan saya kira, keluarnya adalah sebelum turunnya ‘Isa bin Maryam, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang berkaitan dengan hal itu.”
Masa Kekuasaannya
Terdapat dalam Sunan At-Tirmidzi:
إِنَّ فِي أُمَّتِي الْمَهْدِيَّ يَخْرُجُ يَعِيْشُ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا -زَيْدٌ الشَّاكُّ- قَالَ: قُلْنَا: وَمَا ذَاكَ؟ قَال: سِنِيْنَ.
“Sesungguhnya pada umatku ada Al-Mahdi. Ia muncul, hidup (berkuasa) 5 atau 7 atau 9.” –Zaid (salah seorang rawi/periwayat) ragu–. Abu Sa’id mengatakan: “Apa itu?” Beliau menjawab: “Tahun.”
يَكُوْنُ فِي أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ إِنْ قُصِرَ فَسَبْعٌ وَإِلاَّ فَتِسْعٌ
Akan datang pada umatku Al-Mahdi, bila masanya pendek maka 7 tahun, kalau tidak maka 9 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4083)
Dengan perbedaan riwayat ini, maka Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: Ini menunjukkan bahwa paling lama masa tinggal (kekuasaan)-nya adalah 9 tahun, dan sedikitnya 5 atau 7 tahun.” (An-Nihayah Fil Malahim wal Fitan, 1/18, Program Maktabah Syamilah)
Sementara Al-Mubarakfuri mengatakan: “Yakni, keraguan itu berasal dari Zaid. Sementara dari shahabat Abu Sa’id dalam riwayat Abu Dawud: ‘dan menguasai selama 7 tahun’ tanpa keraguan. Demikian pula dalam hadits Ummu Salamah dalam riwayat Abu Dawud dengan lafadz ‘maka dia tinggal selama 7 tahun’ tanpa keraguan. Maka riwayat yang tegas lebih dikedepankan daripada yang ragu.” (Tuhfatul Ahwadzi, 6/15, Program Maktabah Syamilah)

Asal Munculnya

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa munculnya dari arah timur atau Al-Masyriq. Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan:
Munculnya Mahdi dari negeri-negeri timur bukan dari gua Samarra, seperti disangka oleh orang-orang bodoh dari kalangan Syi’ah.” (An-Nihayah Fil Malafim wal Fitan, 1/17, Program Maktabah Syamilah)
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan:
بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَقْبَلَ فِتْيَةٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَلَمَّا رَآهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْرَوْرَقَتْ عَيْنَاهُ وَتَغَيَّرَ لَوْنُهُ. قَالَ: فَقُلْتُ: مَا نَزَالُ نَرَى فِي وَجْهِكَ شَيْئًا نَكْرَهُهُ. فَقَالَ: إِنَّا أَهْلُ بَيْتٍ اخْتَارَ اللهُ لَنَا اْلآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا، وَإِنَّ أَهْلَ بَيْتِي سَيَلْقَوْنَ بَعْدِي بَلاَءً وَتَشْرِيْدًا وَتَطْرِيْدًا حَتَّى يَأْتِيَ قَوْمٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَعَهُمْ رَايَاتٌ سُوْدٌ فَيَسْأَلُوْنَ الْخَيْرَ فَلاَ يُعْطَوْنَهُ فَيُقَاتِلُوْنَ فَيُنْصَرُوْنَ فَيُعْطَوْنَ مَا سَأَلُوا فَلاَ يَقْبَلُوْنَهُ حَتَّى يَدْفَعُوْهَا إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا كَمَا مَلَئُوْهَا جَوْرًا، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلْيَأْتِهِمْ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ
Tatkala kami berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok pemuda dari Bani Hasyim. Ketika Nabi melihat mereka, kedua mata beliau berlinang air mata dan berubahlah roman mukanya. Maka aku katakan: ‘Kami masih tetap melihat pada wajahmu sesuatu yang tidak kami sukai.’ Lalu beliau menjawab: ‘Kami ahlul bait. Allah telah pilihkan akhirat untuk kami daripada dunia. Dan sesungguhnya sepeninggalku, keluargaku akan menemui bencana-bencana dan pengusiran. Hingga datang sebuah kaum dari arah timur, bersama mereka ada bendera berwarna hitam1. Mereka meminta kebaikan namun mereka tidak diberi, lalu mereka memerangi dan mendapat pertolongan sehingga mereka diberi apa yang mereka minta, tetapi mereka tidak menerimanya. Hingga mereka menyerahkan kepemimpinan kepada seseorang dari keluargaku. Lalu ia memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana orang-orang memenuhinya dengan kezhaliman. Barangsiapa di antara kalian mendapatinya maka datangilah mereka, walaupun dengan merangkak di atas es’.” (HR. Ibnu Majah no. 4082, sanadnya hasan lighairihi menurut Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Adh-Dha’ifah, 1/197, pada pembahasan hadits no. 85)
As-Sindi mengatakan: “Yang nampak, kisah itu merupakan isyarat keadaan Al-Mahdi yang dijanjikan. Oleh karena itu, penulis (Ibnu Majah) menyebutkan hadits ini dalam bab ini (bab keluarnya Al-Mahdi).”
Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Dan orang-orang dari timur mendukung (Al-Mahdi), menolongnya dan menegakkan agamanya, serta mengokohkannya. Bendera mereka berwarna hitam, dan itu merupakan pakaian yang memiliki kewibawaan, karena bendera Rasulullah berwarna hitam yang dinamai Al-Iqab.” (An-Nihayah fil Malahim, 1/17, Program Maktabah Syamilah)
Beliau juga mengatakan: Maksudnya, Al-Mahdi yang terpuji yang dijanjikan keluarnya di akhir zaman asal munculnya adalah dari arah timur, dan diba’iat di Ka’bah seperti yang disebutkan oleh nash hadits.” (idem, 1/17)
Tentang tempat bai’atnya telah diisyaratkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang dibai’at di antara rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim).” (HR. Ibnu Hibban no. 6827, Ahmad, dan Al-Hakim; dan beliau menshahihkannya)

Proses Munculnya Al-Imam Al-Mahdi


Munculnya Al-Imam Al-Mahdi bukan bak sulap batil, yang seolah muncul tanpa sebab dan tiba-tiba. Namun munculnya tentu mengikuti sunnatullah pada alam ini, yakni melalui proses yang menuju ke arah sana.
Menjelaskan hal itu, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: “…Nabi memberikan kabar gembira tentang akan datangnya seseorang dari keluarganya dan beliau menyebutkannya dengan sifat-sifat yang menonjol. Di antara yang sifat terpenting adalah bahwa beliau berhukum dengan Islam dan menebarkan keadilan di antara manusia.
Jadi, pada hakikatnya beliau termasuk para mujaddid yang Allah Subhanahu wa Ta’ala munculkan di penghujung tiap 100 tahun, sebagaimana telah shahih berita (tentang hal ini) dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini (keberadaan mujaddid di tiap satu abad) juga bukan berarti tidak perlu berupaya mencari ilmu dan mengamalkannya untuk memperbarui agama. Sehingga, akan keluarnya Al-Mahdi tidaklah berarti bermalas-malasan karenanya, serta tidak bersiap atau beramal untuk menegakkan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi. Bahkan sebaliknya (beramal) itulah yang benar, karena Al-Mahdi tidak mungkin upayanya lebih dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selama 23 tahun berbuat untuk mengokohkan pilar-pilar Islam dan menegakkan negaranya.
Maka kira-kira apa yang akan dilakukan Al-Mahdi seandainya ia muncul dan mendapati kaum muslimin dalam kondisi terpecah, berkelompok-kelompok dan ulama mereka (muncul) –kecuali sedikit dari mereka– (karena) orang-orang telah menjadikan mereka sebagai para pemimpin. Tentu (Al-Mahdi) tidak akan dapat menegakkan negara Islam kecuali setelah mempersatukan kalimat mereka dan menyatukan mereka dalam satu barisan serta dalam satu bendera.
Dan ini –tanpa diragukan– membutuhkan waktu yang panjang, Allah Maha Tahu tentangnya. Syariat serta akal, keduanya mengharuskan agar orang-orang yang ikhlas dari kalangan muslimin menjalankan kewajiban ini. Sehingga manakala Al-Mahdi keluar, tiada kebutuhan kecuali tinggal menggiring mereka kepada kemenangan. Kalaupun belum keluar, maka mereka pun telah melakukan kewajiban mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ
Dan katakanlah: ‘Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalan kalian itu’.” (At-Taubah: 105) [Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 4/42-43]
Wallahu a’lam.
1 Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Bendera itu bukanlah yang dibawa Abu Muslim dari Khurasan yang kemudian menghancurkan dinasti Bani Umayyah pada tahun 132 H. Namun bendera hitam lain, yang datang mengiringi Al-Mahdi.” (An-Nihayah, 1/17)
Bukan pula pasukan Thaliban yang di Afghanistan, sebagaimana yang disebut dalam poster berjudul Huru-Hara Akhir Zaman karya Amin Muhammad Jamaludin yang laris itu. Selebaran itu sendiri sarat dengan berbagai ramalan dan takwil (baca: penyelewengan makna) hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tanda-tanda hari kiamat. Hendaknya kaum muslimin tidak lekas terkesima dengan takwil semacam itu. Sebagaimana pula hal ini tidak berarti mengingkari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peristiwa akhir zaman.

HISTORY NORODOM SIHANOUK KINGDOM CAMBODIA

Behind the image of an eccentric monarch who moved with the political tides, former king Norodom Sihanouk, who has died aged 89, never stopped trying to preserve the unity of war-ravaged Cambodia. -- PHOTO: AP

PHNOM PENH (AFP) - Behind the image of an eccentric monarch who moved with the political tides, former king Norodom Sihanouk, who has died aged 89, never stopped trying to preserve the unity of war-ravaged Cambodia.
Twice exiled and twice returned to the throne during a life almost as tempestuous as his country's history, Sihanouk abruptly abdicated in 2004, as old age and poor health took their toll on the colourful monarch.
But it was far from the first time the royal's unpredictability caught observers off guard, after he repeatedly backed different regimes, including the murderous Khmer Rouge.
"Sihanouk is Cambodia," his official biographer, Julio Jeldres, once said of the former king.
He had been plagued by poor health in the final years of his life, including cancer and diabetes, and frequently spent long spells being treated in China, where he died early on Monday.
A self-described "naughty boy" with a taste for life's pleasures and an artistic flair, Prince Sihanouk embraced the intrigue that swirled around his kingdom with the gusto of a character from one of the dozens of films he made.
The playboy-monarch married six times and fathered 14 children. Aside from his cinematic creations he wrote poetry and composed songs.
But he was far from frivolous, emerging as a shrewd survivor who caught friend and foe alike off guard with charm and political wit.
A boy of just 18 when placed on the throne in 1941 by French colonial authorities, Sihanouk quickly defied his patron's expectations for a pliant king.
Twelve years later he gained Cambodia's independence and shortly after quit the throne in favour of his father, Prince Norodom Suramarit, to pursue a career in politics.
He served as premier half a dozen times, repeatedly leaving the post with a characteristic flash of angry theatre over perceived slights, until finally becoming "head of state" following the death of his father in 1960.
In the decade that followed, he presided over a period of rare stability, helping to forge a modern nation.
His frequent public appearances - Prince Sihanouk seemed to relish working alongside rural villagers on various public works projects - formed in the minds of his people an unbreakable bond between the man and the country he reigned over.
Toppled in a US-backed coup by one of his own generals, Lon Nol, in 1970, the prince, who was in exile in Beijing, then made what was likely his most controversial decision.
He aligned himself with communist guerillas who later emerged as the Khmer Rouge, the movement that was later to cast Cambodia into a frenzy of killing and devastation.
The guerillas used Prince Sihanouk as a figurehead, drawing on his popularity for support during their ferocious five-year war against Lon Nol.
When they took the capital, Phnom Penh in 1975, the Khmer Rouge promptly emptied the city, exiling millions to vast collective farms and setting the country on the path to destruction in their drive to create an agrarian utopia.
Prince Sihanouk returned from China and temporarily remained head of state but was forced by the Khmer Rouge to resign a year later and kept under house arrest in the royal palace with his family.
He was unable to stop the bloodletting that left up to two million people, including five of his children, dead by the time Vietnamese troops and Khmer Rouge defectors ousted the regime in 1979.
Prince Sihanouk survived because China, a key backer of the Khmer Rouge, wanted him alive and he fled to Beijing after the regime crumbled, living in villas there and in Pyongyang, North Korea - another ally of the monarch's - for the next 13 years.
Always by his side was his sixth wife Monique, an Italian-Cambodian he married in 1952.
The ever-mercurial Prince Sihanouk condemned the Khmer Rouge, but during the 1980s he served as a figurehead leader of a resistance coalition that included remnants of the regime.
He pushed relentlessly for peace, though, opening negotiations with Prime Minister Hun Sen's government after Vietnamese troops withdrew from Cambodia in 1989.
Prince Sihanouk's strength of will is largely credited with making the 1991 UN-sponsored peace accords possible, paving the way for Cambodia's first democratic elections two years later.
It was also in 1993 that Prince Sihanouk re-ascended the throne after almost four decades.
Despite his later abdication, he remained the moral anchor for Cambodians and often used his personal website to comment on political matters.
SIHANOUK - IN HIS OWN WORDS
“I am Sihanouk and all Cambodians are my children.”
“The Khmer Rouge do not like me at all, and I know that. Ooh, la, la ... It is clear to me. When they no longer need me, they will spit me out like a cherry pit.”
"The humble people of Cambodia are the most wonderful in the world. Their great
misfortune is that they always have terrible leaders who make them  suffer. I am not sure that I was much better myself, but perhaps I was the least bad.”

 “I never thought of film-making as a simple amusement or artistic activity. I wanted, and still want, to show my country, its past and contemporary history, its culture, its people,
and express my feelings regarding certain facets  of our nation’s life. The star of my films is never an actor. It is always Cambodia.”

"Lengthy longevity bears on me like an unbearable weight." 
SIHANOUK - LIFE AND TIMES
Here are the major events that shaped Cambodia during Sihanouk’s life.
  
    Oct 31 1922:  Prince Norodom Sihanouk is born.
  
    Apr 25 1941: Colonial power France installs Sihanouk on the throne,
mistakenly believing he will be easily managed.
  
    Nov 9 1953:  France grants Cambodia independence, a victory for Sihanouk.

   Mar 2 1955:  Sihanouk abdicates to pursue a career in politics and his
father Norodom Suramarit is named king. Sihanouk becomes prime minister several
times over the  years.

  Apr 3  1960: Sihanouk is elected as head of state after the death of his
father.
  
   Mar 18 1970: Sihanouk is deposed in a US-backed coup by General Lon Nol,
who establishes a republic. Exiled in China, Sihanouk aligns himself with the
Khmer Rouge and urges Cambodians to join in their guerrilla war against the new
regime.
  
   Apr 17 1975: The Khmer Rouge, led by Pol Pot, march into Phnom Penh,
beginning a reign of terror that would leave up to two million people dead from
starvation, overwork or execution.

 Sep 9 1975: Sihanouk returns as head of state but resigns a few months
later and is placed under “palace arrest” by the hardline communist regime.
  
   Jan 6 1979: Sihanouk is evacuated to Beijing on the eve of the invasion
by Vietnamese forces that oust the Khmer Rouge. Civil war begins, pitting the Khmer Rouge, nationalists and royalists against each other.
  
  June  22 1982:  From exile, Sihanouk becomes president of the anti-Vietnamese
coalition government of Democratic Kampuchea, which includes his newly
created FUNCINPEC party and the Khmer Rouge.
  
  Jan  14 1985: Hun Sen, a former Khmer Rouge cadre who defected, is
appointed as prime minister of Cambodia’s Vietnam-installed government.

  Sep 27 1989: Vietnamese troops withdraw under international pressure.
  
  Oct 23  1991: Paris peace agreement is signed, giving the UN authority to
supervise a ceasefire and democratic elections.

  Nov 14 1991: Sihanouk makes a triumphant return to Cambodia after nearly
13 years in exile.

  May 23 1993: UN-sponsored elections are held and the royalist FUNCINPEC party
receives 47 percent of the vote, ahead of Hun Sen’s Cambodian People’s Party
(CPP).

  Sep 24 1993: Sihanouk returns to the throne under a new constitution
transforming the country into a constitutional monarchy, which allows for the
king to reign but not rule. His son Norodom Ranariddh is elected as first prime minister and Hun Sen is named second prime minister, under UN pressure. The following month Sihanouk makes first of many trips to Beijing for medical treatment after being diagnosed with B-cell lymphoma, a cancer affecting blood cells crucial to the immune system.
  
 July7 1994: The Khmer Rouge are outlawed.
  
Jul 5-6 1997: Hun Sen ousts Ranariddh in a widely condemned move that leads
to deadly factional street fighting.

  Apr 15 1998: Khmer Rouge leader Pol Pot dies.
  
  Aug 10 2001: Sihanouk promulgates a law creating a UN-backed tribunal to
bring Khmer Rouge leaders to justice.
  
  Oct 7 2004: In a surprise announcement, Sihanouk abdicates, citing poor
health and a wish to ensure a stable transition to a new monarch.

  Oct 14 2004: Sihanouk’s 51-year-old son Norodom Sihamoni, a former dancer
and Cambodia’s representative to UNESCO, is named the new king.

  May 2005:: Sihanouk writes on his website that the cancer that began in his
prostate has recurred in his stomach.

  Jun 22 2009: Sihanouk says on his website that he has been successfully
treated for a third bout of cancer In October, he he says he has lived too long and wishes to die.

  Oct 20  2011: During a ceremony to mark the 20th anniversary of his return
from exile, Sihanouk vows not to leave Cambodia again despite his health
problems.

  Jan 19   2012: Sihanouk heads back to Beijing for medical treatment.
  Oct 15 2012: Sihanouk dies in Beijing.

















KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin