Ahad, 3 Februari 2013

SEJARAH IMAM MAHADI

Syariat sejatinya telah gamblang menjelaskan definisi dan menyuguhkan gambaran akan sosok Al-Imam Al-Mahdi. Namun bersemainya penyimpangan tak pelak menjadikan gambaran Al-Imam Al-Mahdi itu menjadi kabur.
Beriman akan Munculnya
Telah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mengimani segala yang diberitakan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana ini menjadi konsekuensi persaksian kita: “Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar melainkan Allah dan agar mereka beriman kepada apa yang kubawa. Bila mereka melakukan itu maka mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haknya. Adapun perhitungannya diserahkan kepada Allah.” (Shahih, HR. Muslim, Kitabul Iman Bab Al-Amru bi Qitalin Nas Hatta.)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tegaskan:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)
Ini menunjukkan wajibnya beriman dengan segala yang diberitakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berita yang terkait dengan apa yang telah lalu atau yang akan datang. Termasuk di antaranya adalah akan munculnya Al-Imam Al-Mahdi.
Berita akan munculnya sosok penegak sunnah nan adil itu telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Bahkan tak sedikit dari para ulama yang menyatakan bahwa haditsnya mencapai derajat mutawatir secara makna, sehingga tiada lagi celah bagi siapapun untuk mengingkarinya. Di antara ulama yang menyatakan kemutawatiran hadits-haditsnya adalah Abul Hasan Muhammad bin Husain As-Sijzi (wafat 363 H), Muhammad Al-Barzanji (wafat 1103 H), As-Safarini, As-Sakhawi, Asy-Syaukani, Shiddiq Hasan Khan, Al-Kattani, dan lain-lain rahimahumullah.
Dan para ulama yang menyebutkan keshahihan hadits tentang Al-Mahdi sangat banyak, dari kalangan ulama terdahulu maupun belakangan. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu telah menyebutkan sebagian nama mereka, di antaranya 16 ulama yang saya sebutkan sebagiannya: Abu Dawud, Al-Qurthubi, Ibnu Taimiyyah, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim, dan Ibnu Hajar rahimahumullah.
Sehingga ini menjadi salah satu akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. As-Safarini mengatakan: “Telah banyak riwayat yang menyebutkan akan munculnya Al-Mahdi sehingga mencapai derajat mutawatir secara makna. Dan itu telah tersebar di kalangan Ahlus Sunnah sehingga teranggap sebagai aqidah mereka….” –beliau menyebut hadits, atsar serta nama para sahabat yang meriwayatkannya, lalu beliau berkata– “Dan telah diriwayatkan dari para sahabat yang disebutkan dan selain mereka dengan riwayat yang banyak, juga dari para tabi’in setelah mereka, yang dengan semua itu memberi faedah ilmu yang pasti. Maka mengimani munculnya Mahdi adalah wajib sebagaimana telah ditetapkan oleh para ulama dan tertulis dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Lawami’ul Anwar Al-Bahiyyah, 2/84)
Beberapa Hadits tentang Al-Imam Al-Mahdi
1. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ – قَالَ زَائِدَةُ فِي حَدِيْثِهِ – لَطَوَّلَ اللهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيْهِ رَجُلاً مِنِّي – أَوْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي – يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِي، يَمْلَأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا
“Bila tidak tersisa dari dunia kecuali satu hari –Za`idah (salah seorang rawi) mengatakan dalam haditsnya– tentu Allah akan panjangkan hari tersebut, sehingga Allah utus padanya seorang lelaki dariku –atau dari keluargaku–. Namanya sesuai dengan namaku, dan nama ayahnya seperti nama ayahku. Ia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kedzaliman dan keculasan.” (Hasan Shahih, HR. Abu Dawud, Shahih Sunan no. 4282; sanadnya jayyid menurut Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam Al-Manarul Munif; At-Tirmidzi no. 2230, 2231; Ibnu Hibban no. 6824, 6825)
2. Dari ‘Ali (bin Abi Thalib) radhiyallahu ‘anhudari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan:
لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدَّهْرِ إِلاَّ يَوْمٌ لَبَعَثَ اللهُ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَمْلَؤُهَا عَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا
“Bila tidak tersisa dari masa ini kecuali satu hari, tentu Allah akan munculkan seorang lelaki dari ahli baitku (keluargaku) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kecurangan.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 4283 Kitab Al-Mahdi dan ini adalah lafadznya, Ibnu Majah no. 4085, Kitabul Fitan Bab Khurujul Mahdi)
3. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِي مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ
“Al-Mahdi dari keluargaku dari putra Fathimah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan ini lafadznya, Shahih Sunan no. 4284, Ibnu Majah no. 4086, dan Al-Hakim no. 8735, 8736)
4. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
الْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى اْلأَنْفِ، يَمْلَأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِيْنَ
“Al-Mahdi dariku, dahinya lebar, hidungnya mancung, memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kedzaliman, berkuasa selama 7 tahun.” (Hasan, HR. Abu Dawud no. 4285 dan ini lafadznya, Ibnu Majah no. 4083, At-Tirmidzi, Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a Fil Mahdi no. 2232, Ibnu Hibban no. 6823, 6826 dan Al-Hakim no. 8733, 8734, 8737)
5. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟
“Bagaimana dengan kalian jika turun kepada kalian putra Maryam, sementara imam kalian dari kalian?” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitab Ahaditsul Anbiya` Bab Nuzul ‘Isa ibni Maryam, no. 3449; Muslim dalam Kitabul Iman Bab Fi Nuzul Ibni Maryam, 2/369, 390)
6. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا، فَيَقُوْلُ: لاَ، إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ
“Masih tetap sekelompok dari umatku berperang di atas kebenaran. Mereka unggul sampai hari kiamat, lalu turun ‘Isa putra Maryam. Maka pemimpin mereka mengatakan: ‘Kemari, jadilah imam kami.’ Ia menjawab: ‘Tidak, sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Allah untuk umat ini’.” (Shahih, HR. Muslim dalam Kitabul Iman Bab La Tazal Tha`ifah min Ummati, 2/370, no. 393)
Hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ini menunjukkan dua hal:
Pertama: Ketika turunnya ‘Isa bin Maryam dari langit, yang memegang kepemimpinan muslimin ketika itu adalah seorang dari mereka.
Kedua: Keberadaan pemimpin mereka untuk shalat, lalu ia mengimami muslimin, serta permintaannya kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam saat turunnya untuk mengimami mereka. Ini semua menunjukkan keshalihan pemimpin tersebut dan bahwa ia berada di atas petunjuk.
Dan (dalam hadits) itu walaupun tidak ada penegasan dengan lafadz Al-Mahdi, tetapi menunjukkan sifat orang yang shalih yang mengimami muslimin di waktu itu. Dan terdapat hadits-hadits dalam kitab-kitab Sunan maupun Musnad serta lainnya, yang menerangkan bahwa hadits-hadits yang ada dalam dua kitab shahih itu menunjukkan bahwa orang shalih tersebut bernama Muhammad bin Abdullah dari keturunan Al-Hasan bin ‘Ali, yang disebut dengan Al-Mahdi. Dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sebagiannya menerangkan sebagian yang lain. Di antara hadits yang menunjukkan hal itu adalah hadits yang diriwayatktan oleh Al-Harits ibnu Abi Usamah dalam Musnad-nya dengan sanadnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمُ الْمَهْدِيُّ: تَعَالَ، صَلِّ بِنَا. فَيَقُوْلُ: لاَ، إِنَّ بَعْضَهُمْ أَمِيْرُ بَعْضٍ، تَكْرِمَةُ اللهِ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ
“Isa putra Maryam turun, lalu pemimpin mereka Al-Mahdi mengatakan: ‘Imamilah kami’. Ia menjawab: ‘Sesungguhnya sebagian mereka pemimpin bagi sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Allah untuk umat ini’.”
Hadits ini dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitabnya Al-Manarul Munif: “Sanadnya bagus.” (Abdul Muhsin Al-‘Abbad, ‘Aqidatu Ahlil Atsar. Lihat pula Ash-Shahihah, no. 2236)

Nama Al-Imam Al-Mahdi dan Nasabnya


Nama beliau adalah Muhammad atau Ahmad bin Abdullah. Seperti dalam hadits yang lalu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan: “Namanya sesuai dengan namaku, dan nama ayahnya sesuai dengan nama ayahku.”
Dia dari keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana disebutkan dalam riwayat: “Dari ahli baitku.” (HR. Abu Dawud, no. 4282 dan 4283). Dalam riwayat lain: “Dari keluarga terdekatku (‘itrah-ku).” (HR. Abu Dawud, no. 4284). Dalam riwayat lain: “Dariku.” (HR. Abu Dawud no. 4285) dari jalur perkawinan ‘Ali bin Abu Thalib dan Fathimah bintu Rasulillah. Sebagaimana dalam hadits yang lalu dikatakan: “Seseorang dari keluargaku” dan “dari anak keturunan Fathimah.” (HR. Abu Dawud no. 4284)
Oleh karenanya, Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Dia adalah Muhammad bin Abdillah Al-‘Alawi (keturunan Ali) Al-Fathimi (keturunan Fathimah) Al-Hasani (keturunan Al-Hasan). Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaikinya dalam satu malam yakni memberinya taubat, taufik, memberinya pemahaman serta bimbingan padahal sebelumnya tidak seperti itu.” (An-Nihayah fil Malahim wal Fitan, 1/17, Program Maktabah Syamilah)

Sifat Fisiknya


Di antara sifat fisiknya adalah sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Dawud (no. 4285) dan yang lain:
أَجْلَى الْجَبْهَةِ Artinya, “Tersingkap rambutnya dari arah kepala bagian depan,” atau “Dahinya lebar.”
أَقْنَى اْلأَنْفِ “Hidungnya mancung, ujungnya tajam, bagian tengahnya agak naik.”
Al-Qari mengatakan: “Maksudnya, beliau tidak pesek, karena yang demikian adalah bentuk yang tidak disukai.”

Menebar Keadilan

Di antara sifat Al-Mahdi adalah bahwa ia menebar keadilan dan melenyapkan kedzaliman serta keculasan. Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezhaliman.” (HR. Abu Dawud no. 4282, 4283, 4285)
Sehingga disebutkan dalam hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:
يَكُوْنُ فِي أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ إِنْ قَصَرَ فَسَبْعٌ وَإِلاَّ فَتِسْعٌ فَتَنْعَمُ فِيْهِ أُمَّتِي نِعْمَةً لَمْ يَنْعَمُوا مِثْلَهَا قَطُّ تُؤْتَى أُكُلَهَا وَلاَ تَدَّخِرُ مِنْهُمْ شَيْئًا وَالْمَالُ يَوْمَئِذٍ كُدُوْسٌ فَيَقُوْمُ الرَّجُلُ فَيَقُوْلُ: يَا مَهْدِيُّ أَعْطِنِي. فَيَقُولُ: خُذْ
“Akan datang pada umatku Al-Mahdi bila masanya pendek maka tujuh tahun, kalau tidak maka 9 tahun. Maka umatku pada masa itu diberi kenikmatan dengan kenikmatan yang tidak pernah mereka rasakan yang semacam itu sama sekali. Mereka diberi rizki yang luas. Mereka tidak menyimpan sesuatu pun. Harta saat itu berlimpah sehingga seseorang bangkit dan mengatakan: ‘Wahai Mahdi, berilah aku.’ Diapun menjawab: ‘Ambillah’.” (Hasan, HR. Ibnu Majah no. 4083, Kitabul Fitan Bab Khurujul Mahdi, 4/412, dan Al-Hakim no. 8739. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menghasankannya)
Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan:
فَيَجِيْءُ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَيَقُوْلُ: يَا مَهْدِيُّ، أَعْطِنِي، أَعْطِنِي. قَالَ: فَيَحْثِي لَهُ فِي ثَوْبِهِ مَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَحْمِلَهُ
“Sehingga datang kepadanya seseorang seraya mengatakan: ‘Wahai Mahdi, berilah aku, berilah aku.’ Nabi mengatakan: “Maka Mahdi menuangkan untuknya di pakaiannya sampai ia tidak dapat membawanya.”
Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Di masanya, buah-buahan banyak. Tanam-tanaman lebat, harta benda melimpah. Penguasa benar-benar berkuasa, agama menjadi tegak, musuh menjadi hina, kebaikan terwujud di masanya terus-menerus.” (An-Nihayah Fil-Malahim 1/18, Program Maktabah Syamilah)
Dalam riwayat Al-Hakim, disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَخْرُجُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ يُسْقِيْهِ اللهُ الْغَيْثَ، وَتُخْرِجُ اْلأَرْضُ نَبَاتَهَا، وَيُعْطِي الْمَالَ صِحَاحًا، وَتَكْثُرُ الْمَاشِيَةُ وَتَعْظُمُ اْلأُمَّةُ، يَعِيْشُ سَبْعاً أَوْ ثَمَانِيًا – يَعْنِيْ حِجَجًا -
“Muncul di akhir umatku Al-Mahdi. Allah menyiramkan hujan, sehingga bumi mengeluarkan tanamannya. Ia membagi harta secara merata. Binatang ternak semakin banyak, umat pun menjadi besar. Ia hidup selama 7 atau 8 –yakni tahun–.” (HR. Al-Hakim, Kitabul Fitan wal Malahim no. 8737. Beliau mengatakannya sebagai hadits yang shahih sanadnya, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan Ibnu Khaldun. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: “Sanadnya shahih.” Lihat Ash-Shahihah, 4/40, hadits no. 1529)

Waktu Munculnya

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi disebutkan: “Ketahuilah, yang sudah dikenal di kalangan seluruh pemeluk Islam sepanjang masa bahwa di akhir zaman pasti muncul seorang dari ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang membela agama dan menebarkan keadilan, serta diikuti oleh muslimin. Ia juga menguasai kerajaan-kerajaan Islam. Ia dijuluki Al-Mahdi. Juga tentang keluarnya Dajjal serta tanda-tanda kiamat sesudahnya yang terdapat dalam kitab Shahih, muncul setelahnya. Dan bahwa kemunculan ‘Isa juga setelahnya, kemudian beliau membunuh Dajjal. Atau ‘Isa turun setelahnya lalu membantunya untuk membunuh Dajjal kemudian bermakmum kepada Mahdi dalam shalatnya.” (Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a fil Mahdi)
At-Tirmidzi rahimahullahu meriwayatkan dari Zir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمْلِكَ الْعَرَبَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي
“Dunia tidak akan lenyap hingga seorang dari keluargaku menguasai bangsa Arab. Namanya sesuai dengan namaku.” (HR. At-Tirmidzi no. 2230, Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a fil Mahdi, 4/438 dan beliau mengatakan: “Hasan shahih.” Demikian pula yang dikatakan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Dari sini, berarti munculnya Al-Imam Al-Mahdi adalah di akhir zaman sekaligus mengawali tanda-tanda besar akan datangnya kiamat. Namun sebagian ulama sempat ragu, apakah Mahdi ini sebagai awal tanda yang besar atau tanda yang lain. Sebagian ulama menyatakan dengan yakin bahwa Mahdi sebagai tanda pertama, lalu berturut-turut datang tanda yang lain. Di antara yang menyebutkan dengan tegas yang demikian adalah Muhammad Al-Barzanji rahimahullahu (wafat 1103 H). Beliau mengatakan dalam bukunya Al-’Isya`ah li Asyrath As-Sa’ah: “Bab Ketiga, tanda-tanda besar dan tanda-tanda yang dekat, yang setelahnya tibalah hari kiamat, dan itu juga banyak. Di antaranya Al-Mahdi, dan itu yang pertama.” (dinukil dari ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Atsar fil Mahdi Al-Muntazhar)
Adapun Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Munculnya, nanti di akhir zaman. Dan saya kira, keluarnya adalah sebelum turunnya ‘Isa bin Maryam, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang berkaitan dengan hal itu.”
Masa Kekuasaannya
Terdapat dalam Sunan At-Tirmidzi:
إِنَّ فِي أُمَّتِي الْمَهْدِيَّ يَخْرُجُ يَعِيْشُ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ تِسْعًا -زَيْدٌ الشَّاكُّ- قَالَ: قُلْنَا: وَمَا ذَاكَ؟ قَال: سِنِيْنَ.
“Sesungguhnya pada umatku ada Al-Mahdi. Ia muncul, hidup (berkuasa) 5 atau 7 atau 9.” –Zaid (salah seorang rawi/periwayat) ragu–. Abu Sa’id mengatakan: “Apa itu?” Beliau menjawab: “Tahun.”
يَكُوْنُ فِي أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ إِنْ قُصِرَ فَسَبْعٌ وَإِلاَّ فَتِسْعٌ
“Akan datang pada umatku Al-Mahdi, bila masanya pendek maka 7 tahun, kalau tidak maka 9 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4083)
Dengan perbedaan riwayat ini, maka Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Ini menunjukkan bahwa paling lama masa tinggal (kekuasaan)-nya adalah 9 tahun, dan sedikitnya 5 atau 7 tahun.” (An-Nihayah Fil Malahim wal Fitan, 1/18, Program Maktabah Syamilah)
Sementara Al-Mubarakfuri mengatakan: “Yakni, keraguan itu berasal dari Zaid. Sementara dari shahabat Abu Sa’id dalam riwayat Abu Dawud: ‘dan menguasai selama 7 tahun’ tanpa keraguan. Demikian pula dalam hadits Ummu Salamah dalam riwayat Abu Dawud dengan lafadz ‘maka dia tinggal selama 7 tahun’ tanpa keraguan. Maka riwayat yang tegas lebih dikedepankan daripada yang ragu.” (Tuhfatul Ahwadzi, 6/15, Program Maktabah Syamilah)

Asal Munculnya

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa munculnya dari arah timur atau Al-Masyriq. Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan:
“Munculnya Mahdi dari negeri-negeri timur bukan dari gua Samarra, seperti disangka oleh orang-orang bodoh dari kalangan Syi’ah.” (An-Nihayah Fil Malafim wal Fitan, 1/17, Program Maktabah Syamilah)
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan:
بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَقْبَلَ فِتْيَةٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَلَمَّا رَآهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْرَوْرَقَتْ عَيْنَاهُ وَتَغَيَّرَ لَوْنُهُ. قَالَ: فَقُلْتُ: مَا نَزَالُ نَرَى فِي وَجْهِكَ شَيْئًا نَكْرَهُهُ. فَقَالَ: إِنَّا أَهْلُ بَيْتٍ اخْتَارَ اللهُ لَنَا اْلآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا، وَإِنَّ أَهْلَ بَيْتِي سَيَلْقَوْنَ بَعْدِي بَلاَءً وَتَشْرِيْدًا وَتَطْرِيْدًا حَتَّى يَأْتِيَ قَوْمٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَعَهُمْ رَايَاتٌ سُوْدٌ فَيَسْأَلُوْنَ الْخَيْرَ فَلاَ يُعْطَوْنَهُ فَيُقَاتِلُوْنَ فَيُنْصَرُوْنَ فَيُعْطَوْنَ مَا سَأَلُوا فَلاَ يَقْبَلُوْنَهُ حَتَّى يَدْفَعُوْهَا إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا كَمَا مَلَئُوْهَا جَوْرًا، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلْيَأْتِهِمْ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ
“Tatkala kami berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok pemuda dari Bani Hasyim. Ketika Nabi melihat mereka, kedua mata beliau berlinang air mata dan berubahlah roman mukanya. Maka aku katakan: ‘Kami masih tetap melihat pada wajahmu sesuatu yang tidak kami sukai.’ Lalu beliau menjawab: ‘Kami ahlul bait. Allah telah pilihkan akhirat untuk kami daripada dunia. Dan sesungguhnya sepeninggalku, keluargaku akan menemui bencana-bencana dan pengusiran. Hingga datang sebuah kaum dari arah timur, bersama mereka ada bendera berwarna hitam1. Mereka meminta kebaikan namun mereka tidak diberi, lalu mereka memerangi dan mendapat pertolongan sehingga mereka diberi apa yang mereka minta, tetapi mereka tidak menerimanya. Hingga mereka menyerahkan kepemimpinan kepada seseorang dari keluargaku. Lalu ia memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana orang-orang memenuhinya dengan kezhaliman. Barangsiapa di antara kalian mendapatinya maka datangilah mereka, walaupun dengan merangkak di atas es’.” (HR. Ibnu Majah no. 4082, sanadnya hasan lighairihi menurut Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Adh-Dha’ifah, 1/197, pada pembahasan hadits no. 85)
As-Sindi mengatakan: “Yang nampak, kisah itu merupakan isyarat keadaan Al-Mahdi yang dijanjikan. Oleh karena itu, penulis (Ibnu Majah) menyebutkan hadits ini dalam bab ini (bab keluarnya Al-Mahdi).”
Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Dan orang-orang dari timur mendukung (Al-Mahdi), menolongnya dan menegakkan agamanya, serta mengokohkannya. Bendera mereka berwarna hitam, dan itu merupakan pakaian yang memiliki kewibawaan, karena bendera Rasulullah berwarna hitam yang dinamai Al-Iqab.” (An-Nihayah fil Malahim, 1/17, Program Maktabah Syamilah)
Beliau juga mengatakan: “Maksudnya, Al-Mahdi yang terpuji yang dijanjikan keluarnya di akhir zaman asal munculnya adalah dari arah timur, dan diba’iat di Ka’bah seperti yang disebutkan oleh nash hadits.” (idem, 1/17)
Tentang tempat bai’atnya telah diisyaratkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang dibai’at di antara rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim).” (HR. Ibnu Hibban no. 6827, Ahmad, dan Al-Hakim; dan beliau menshahihkannya)

Proses Munculnya Al-Imam Al-Mahdi


Munculnya Al-Imam Al-Mahdi bukan bak sulap batil, yang seolah muncul tanpa sebab dan tiba-tiba. Namun munculnya tentu mengikuti sunnatullah pada alam ini, yakni melalui proses yang menuju ke arah sana.
Menjelaskan hal itu, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: “…Nabi memberikan kabar gembira tentang akan datangnya seseorang dari keluarganya dan beliau menyebutkannya dengan sifat-sifat yang menonjol. Di antara yang sifat terpenting adalah bahwa beliau berhukum dengan Islam dan menebarkan keadilan di antara manusia.
Jadi, pada hakikatnya beliau termasuk para mujaddid yang Allah Subhanahu wa Ta’ala munculkan di penghujung tiap 100 tahun, sebagaimana telah shahih berita (tentang hal ini) dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini (keberadaan mujaddid di tiap satu abad) juga bukan berarti tidak perlu berupaya mencari ilmu dan mengamalkannya untuk memperbarui agama. Sehingga, akan keluarnya Al-Mahdi tidaklah berarti bermalas-malasan karenanya, serta tidak bersiap atau beramal untuk menegakkan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi. Bahkan sebaliknya (beramal) itulah yang benar, karena Al-Mahdi tidak mungkin upayanya lebih dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selama 23 tahun berbuat untuk mengokohkan pilar-pilar Islam dan menegakkan negaranya.
Maka kira-kira apa yang akan dilakukan Al-Mahdi seandainya ia muncul dan mendapati kaum muslimin dalam kondisi terpecah, berkelompok-kelompok dan ulama mereka (muncul) –kecuali sedikit dari mereka– (karena) orang-orang telah menjadikan mereka sebagai para pemimpin. Tentu (Al-Mahdi) tidak akan dapat menegakkan negara Islam kecuali setelah mempersatukan kalimat mereka dan menyatukan mereka dalam satu barisan serta dalam satu bendera.
Dan ini –tanpa diragukan– membutuhkan waktu yang panjang, Allah Maha Tahu tentangnya. Syariat serta akal, keduanya mengharuskan agar orang-orang yang ikhlas dari kalangan muslimin menjalankan kewajiban ini. Sehingga manakala Al-Mahdi keluar, tiada kebutuhan kecuali tinggal menggiring mereka kepada kemenangan. Kalaupun belum keluar, maka mereka pun telah melakukan kewajiban mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ
“Dan katakanlah: ‘Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalan kalian itu’.” (At-Taubah: 105) [Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 4/42-43]
Wallahu a’lam.
1 Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Bendera itu bukanlah yang dibawa Abu Muslim dari Khurasan yang kemudian menghancurkan dinasti Bani Umayyah pada tahun 132 H. Namun bendera hitam lain, yang datang mengiringi Al-Mahdi.” (An-Nihayah, 1/17)
Bukan pula pasukan Thaliban yang di Afghanistan, sebagaimana yang disebut dalam poster berjudul Huru-Hara Akhir Zaman karya Amin Muhammad Jamaludin yang laris itu. Selebaran itu sendiri sarat dengan berbagai ramalan dan takwil (baca: penyelewengan makna) hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tanda-tanda hari kiamat. Hendaknya kaum muslimin tidak lekas terkesima dengan takwil semacam itu. Sebagaimana pula hal ini tidak berarti mengingkari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peristiwa akhir zaman.

HISTORY NORODOM SIHANOUK KINGDOM CAMBODIA

Behind the image of an eccentric monarch who moved with the political tides, former king Norodom Sihanouk, who has died aged 89, never stopped trying to preserve the unity of war-ravaged Cambodia. -- PHOTO: AP

PHNOM PENH (AFP) - Behind the image of an eccentric monarch who moved with the political tides, former king Norodom Sihanouk, who has died aged 89, never stopped trying to preserve the unity of war-ravaged Cambodia.
Twice exiled and twice returned to the throne during a life almost as tempestuous as his country's history, Sihanouk abruptly abdicated in 2004, as old age and poor health took their toll on the colourful monarch.
But it was far from the first time the royal's unpredictability caught observers off guard, after he repeatedly backed different regimes, including the murderous Khmer Rouge.
"Sihanouk is Cambodia," his official biographer, Julio Jeldres, once said of the former king.
He had been plagued by poor health in the final years of his life, including cancer and diabetes, and frequently spent long spells being treated in China, where he died early on Monday.
A self-described "naughty boy" with a taste for life's pleasures and an artistic flair, Prince Sihanouk embraced the intrigue that swirled around his kingdom with the gusto of a character from one of the dozens of films he made.
The playboy-monarch married six times and fathered 14 children. Aside from his cinematic creations he wrote poetry and composed songs.
But he was far from frivolous, emerging as a shrewd survivor who caught friend and foe alike off guard with charm and political wit.
A boy of just 18 when placed on the throne in 1941 by French colonial authorities, Sihanouk quickly defied his patron's expectations for a pliant king.
Twelve years later he gained Cambodia's independence and shortly after quit the throne in favour of his father, Prince Norodom Suramarit, to pursue a career in politics.
He served as premier half a dozen times, repeatedly leaving the post with a characteristic flash of angry theatre over perceived slights, until finally becoming "head of state" following the death of his father in 1960.
In the decade that followed, he presided over a period of rare stability, helping to forge a modern nation.
His frequent public appearances - Prince Sihanouk seemed to relish working alongside rural villagers on various public works projects - formed in the minds of his people an unbreakable bond between the man and the country he reigned over.
Toppled in a US-backed coup by one of his own generals, Lon Nol, in 1970, the prince, who was in exile in Beijing, then made what was likely his most controversial decision.
He aligned himself with communist guerillas who later emerged as the Khmer Rouge, the movement that was later to cast Cambodia into a frenzy of killing and devastation.
The guerillas used Prince Sihanouk as a figurehead, drawing on his popularity for support during their ferocious five-year war against Lon Nol.
When they took the capital, Phnom Penh in 1975, the Khmer Rouge promptly emptied the city, exiling millions to vast collective farms and setting the country on the path to destruction in their drive to create an agrarian utopia.
Prince Sihanouk returned from China and temporarily remained head of state but was forced by the Khmer Rouge to resign a year later and kept under house arrest in the royal palace with his family.
He was unable to stop the bloodletting that left up to two million people, including five of his children, dead by the time Vietnamese troops and Khmer Rouge defectors ousted the regime in 1979.
Prince Sihanouk survived because China, a key backer of the Khmer Rouge, wanted him alive and he fled to Beijing after the regime crumbled, living in villas there and in Pyongyang, North Korea - another ally of the monarch's - for the next 13 years.
Always by his side was his sixth wife Monique, an Italian-Cambodian he married in 1952.
The ever-mercurial Prince Sihanouk condemned the Khmer Rouge, but during the 1980s he served as a figurehead leader of a resistance coalition that included remnants of the regime.
He pushed relentlessly for peace, though, opening negotiations with Prime Minister Hun Sen's government after Vietnamese troops withdrew from Cambodia in 1989.
Prince Sihanouk's strength of will is largely credited with making the 1991 UN-sponsored peace accords possible, paving the way for Cambodia's first democratic elections two years later.
It was also in 1993 that Prince Sihanouk re-ascended the throne after almost four decades.
Despite his later abdication, he remained the moral anchor for Cambodians and often used his personal website to comment on political matters.
SIHANOUK - IN HIS OWN WORDS
“I am Sihanouk and all Cambodians are my children.”
“The Khmer Rouge do not like me at all, and I know that. Ooh, la, la ... It is clear to me. When they no longer need me, they will spit me out like a cherry pit.”
"The humble people of Cambodia are the most wonderful in the world. Their great
misfortune is that they always have terrible leaders who make them  suffer. I am not sure that I was much better myself, but perhaps I was the least bad.”

 “I never thought of film-making as a simple amusement or artistic activity. I wanted, and still want, to show my country, its past and contemporary history, its culture, its people,
and express my feelings regarding certain facets  of our nation’s life. The star of my films is never an actor. It is always Cambodia.”

"Lengthy longevity bears on me like an unbearable weight." 
SIHANOUK - LIFE AND TIMES
Here are the major events that shaped Cambodia during Sihanouk’s life.
  
    Oct 31 1922:  Prince Norodom Sihanouk is born.
  
    Apr 25 1941: Colonial power France installs Sihanouk on the throne,
mistakenly believing he will be easily managed.
  
    Nov 9 1953:  France grants Cambodia independence, a victory for Sihanouk.

   Mar 2 1955:  Sihanouk abdicates to pursue a career in politics and his
father Norodom Suramarit is named king. Sihanouk becomes prime minister several
times over the  years.

  Apr 3  1960: Sihanouk is elected as head of state after the death of his
father.
  
   Mar 18 1970: Sihanouk is deposed in a US-backed coup by General Lon Nol,
who establishes a republic. Exiled in China, Sihanouk aligns himself with the
Khmer Rouge and urges Cambodians to join in their guerrilla war against the new
regime.
  
   Apr 17 1975: The Khmer Rouge, led by Pol Pot, march into Phnom Penh,
beginning a reign of terror that would leave up to two million people dead from
starvation, overwork or execution.

 Sep 9 1975: Sihanouk returns as head of state but resigns a few months
later and is placed under “palace arrest” by the hardline communist regime.
  
   Jan 6 1979: Sihanouk is evacuated to Beijing on the eve of the invasion
by Vietnamese forces that oust the Khmer Rouge. Civil war begins, pitting the Khmer Rouge, nationalists and royalists against each other.
  
  June  22 1982:  From exile, Sihanouk becomes president of the anti-Vietnamese
coalition government of Democratic Kampuchea, which includes his newly
created FUNCINPEC party and the Khmer Rouge.
  
  Jan  14 1985: Hun Sen, a former Khmer Rouge cadre who defected, is
appointed as prime minister of Cambodia’s Vietnam-installed government.

  Sep 27 1989: Vietnamese troops withdraw under international pressure.
  
  Oct 23  1991: Paris peace agreement is signed, giving the UN authority to
supervise a ceasefire and democratic elections.

  Nov 14 1991: Sihanouk makes a triumphant return to Cambodia after nearly
13 years in exile.

  May 23 1993: UN-sponsored elections are held and the royalist FUNCINPEC party
receives 47 percent of the vote, ahead of Hun Sen’s Cambodian People’s Party
(CPP).

  Sep 24 1993: Sihanouk returns to the throne under a new constitution
transforming the country into a constitutional monarchy, which allows for the
king to reign but not rule. His son Norodom Ranariddh is elected as first prime minister and Hun Sen is named second prime minister, under UN pressure. The following month Sihanouk makes first of many trips to Beijing for medical treatment after being diagnosed with B-cell lymphoma, a cancer affecting blood cells crucial to the immune system.
  
 July7 1994: The Khmer Rouge are outlawed.
  
Jul 5-6 1997: Hun Sen ousts Ranariddh in a widely condemned move that leads
to deadly factional street fighting.

  Apr 15 1998: Khmer Rouge leader Pol Pot dies.
  
  Aug 10 2001: Sihanouk promulgates a law creating a UN-backed tribunal to
bring Khmer Rouge leaders to justice.
  
  Oct 7 2004: In a surprise announcement, Sihanouk abdicates, citing poor
health and a wish to ensure a stable transition to a new monarch.

  Oct 14 2004: Sihanouk’s 51-year-old son Norodom Sihamoni, a former dancer
and Cambodia’s representative to UNESCO, is named the new king.

  May 2005:: Sihanouk writes on his website that the cancer that began in his
prostate has recurred in his stomach.

  Jun 22 2009: Sihanouk says on his website that he has been successfully
treated for a third bout of cancer In October, he he says he has lived too long and wishes to die.

  Oct 20  2011: During a ceremony to mark the 20th anniversary of his return
from exile, Sihanouk vows not to leave Cambodia again despite his health
problems.

  Jan 19   2012: Sihanouk heads back to Beijing for medical treatment.
  Oct 15 2012: Sihanouk dies in Beijing.

Jumaat, 18 Januari 2013

ISTERI TIDAK SESUAI KHAWIN

Dalam al-Quran, ada digambarkan empat jenis watak wanita yang bergelar isteri dan juga 6 jenis wanita yang sebolehnya dilarang untuk dikahwini.

4 watak & 6 jenis isteri tidak sesuai berkahwin dalam Al quran

Semoga boleh menjadi panduan buat sesiapa yang mencari jodoh, yang bakal mendirikan rumahtangga mahupun yang sudah berkahwin.

Berikut adalah 4 jenis watak isteri yang digambarkan dalam Al-Quran: 

Pertama, jenis ideal isteri Musa.

Walaupun al-Quran tidak menyebut namanya, namun isteri Musa ini dikenali sebagai Safura anak perempuan Syuaib. Safura digambarkan seorang gadis murni. Dia tertarik dengan Musa. Cintanya kepada calon suami, tidak hanya demi kebahagiaan keluarga, iaitu membantu ayahnya. Al-Quran menggambarkan cinta mulia dan halus Safura melalui ayat 26 surah al-Qashash yang bermaksud:
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata “Ya bapaku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), kerana sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercayai”

Dan sesungguhnya perkahwinan yang ideal ialah perempuan yang mulia serta setia berpasangan dengan suami yang kuat lagi amanah. Inilah pasangan romantis sebenar.

Kedua, jenis isteri Abu Lahab

Iaitu perempuan jahat berganding dengan suami terkutuk. Dalam surah al-Lahab ayat 3 dan 4 yang bermaksud:
“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar”

Isteri Abu Lahab bernama Ummu Jamil tidak disebut dalam al-Quran. Abu Lahab memiliki akhlak buruk dan dikatakan pernah mencuri emas yang terdapat di Kaabah kerana tamak dan rakusnya.

Isterinya pula seorang penyombong dan memiliki perasaan hasad dengki yang kuat. Jadi, tugasnya ialah pembantu setia kejahatan suaminya.

Kalau Abu Lahab merupakan penentang utama terhadap nabi s.a.w, maka isterinya adalah pendorong utama yang turut aktif di dalam kegiatan jenayah suaminya.

Jadi jika suami diumpamakan terbakar dalam kejahatan nafsu, isteri pula pembawa kayu api – iaitu pengobar kejahatan suami. Maknanya isteri aktif dalam kegiatan jahat suami.

Ketiga, isteri baik dalam genggaman suami yang jahat.

Watak ini menyebut isteri Firaun sebagai contohnya. Walaupun Firaun melalui al-Quran merupakan seorang Raja Besar yang dikutuk Allah, namun isterinya disanjung tinggi dalam al-Quran.

Isteri Firaun yang kononnya bernama Asiah ini juga tidak diberikan nama oleh al-Quran. Ia disebut sebagai “imraatu Firaun” atau perempuan Firaun sahaja.

Walaupun Asiah ditakdirkan berpasangan sebagai suami isteri dengan Firaun, namun tindakan akhlaknya sangat bertentangan dengan suaminya yang zalim itu.

Asiah menyelamatkan Musa, sebaliknya Firaun ingin menghapuskan Musa. Dia berkenan dan beriman dengan ajaran Islam yang dibawa Musa. Semua manusia dilingkungannya menyembah Firaun sebagai Tuhan, tetapi dia diam-diam menyembah Allah.

Keempat ialah watak perempuan Nuh dan Lut.

Isteri dua orang nabi a.s ini dinyatakan Allah melalui al_Quran surah at-Tahriim ayat 10 yang bermaksud:
“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang salih di antara hamba-hamba Kami;lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun, dari (seksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya);”masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”

Isteri Lut kononnya bernama Wa’ilah, tetapi isteri Nuh tidak diketahui namanya. Namun kedua perempuan ini juga tidak disebut dalam al-Quran siapakah nama mereka.

Keduanya adalah isteri kepada dua lelaki pilihan Allah, namun mereka disifatkan oleh Allah sebagai pengkhianat dan menjadi ahli neraka.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Jangan engkau kahwini wanita yang enam iaitu:
  • yang Ananah
  • yang Mananah
  • dan yang Hananah
  • dan jangan engkau kahwini yang Hadaqah
  • yang Baraqah
  • yang Syadaqah

Wanita Ananah: banyak mengeluh dan mengadu dan tiap saat memperalatkan sakit atau buat-buat sakit.

Wanita Mananah: suka membangkit-bangkit terhadap suami. Wanita ini sering menyatakan, “Aku membuat itu keranamu”.

Wanita Hananah: menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain, yang dikahwininya sebelum ini atau kepada anaknya dari suami yang lain.

Wanita Hadaqah: melemparkan pandangan dan matanya pada tiap sesuatu, lalu menyatakan keinginannya untuk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya.

Wanita Baraqah: ada 2 makna, pertama yang sepanjang hari mengilatkan dan menghias mukanya, kedua dia marah ketika makan dan tidak mahu makan kecuali sendirian dan diasingkannya bahagianya.

Wanita Syadaqah: banyak cakap tidak menentu lagi bising.

Rabu, 16 Januari 2013

SEJARAH SIAM DI UTARA

Sejarah realiti peperangan di medan perang Tanah Merah Daerah Pendang, Kedah Darul Aman, Malaysia pada tahun 1876 Masihi di antara tentera Raja Buddha Thailand Rama V Chakri Sukho Thai Chulalongkorn dengan tentera Raja Islam Melayu Siam Malacca Benua Siam Kedah Nai Long Sultan Jaafar Muadzam Shah.

Kesan-kesan bukti sejarah realiti nama tempat-tempat berbahasa Melayu Siam Malacca Benua Siam Kedah.

Dinamakan Tanah Merah Pendang Kedah pada tahun 1876M. Tanah Merah Pendang Kedah - tanah menjadi merah di tempat tersebut oleh kerana banyaknya darah manusia mangsa peperangan tersebut tumpah ke bumi 'Tanah Merah Pendang Kedah'. Pendang dalam bahasa Siam bermakna 'bunyi senapang'.

Dalam peperangan tersebut, Raja Melayu Siam Malacca Benua Siam Kedah dibantu oleh tentera Islam Majapahit Indonesia maka tempat penempatan tentera Majapahit tersebut digelar Kampung Majapahit Tanjong Radin daerah Pendang Kedah. Tentera Islam Patani ditempatkan di Kampung Patani Guar Kepayang Tanah Merah daerah Pendang Kedah. Tentera Islam Melayu Siam Malacca Benua Siam Kedah ditempatkan di Pelabuhan Tok Pija Nai Long Sultan Jaafar Muadzam Shah di Padang Besar Kweng We Tobiar Mukim Tobiar daerah Pendang Kedah.

Di sini terdapat sebuah tongkang purba telah ditemui oleh ahli Persatuan Sejarah Malaysia Cawangan Negeri Kedah Darul Aman, Malaysia. Tempat tersebut digelar dengan bahasa Melayu pelat Siam sebagai 'Alor Berala' bermaksud Alor Berhala Buddha Thailand. Dan tidak jauh dari kawasan tersebut digelar dalam bahasa Siam 'Bang Ba Rak' bermaksud 'Kuala Gila Mencantas' dalam bahasa Melayu.

Pada zaman ini tahun 1876M, Perdana Menteri Melayu Siam Malacca Benua Siam Kedah ialah Sultan Muhammad I Kelantan Nik Diah @ Paduka Seri Sultan Ngah Haji Muhammad Diah yang bersemayam di Kampung Alor Pak Ngah, Mukim Tajar, Kota Star, Kedah atau beliau dikenali sebagai Keramat Tok Bai @ Tak Bai. Permaisurinya bernama Dato' Nai Mariam binti Syeikh Abdul Latif ulamak Nusantara, putera kepada Paduka Seri Sultan Iskandar Riau Johor @ Koya Fai mangsa Musuh Bisik 1821M yang mana makam al-marhum berada di dalam Kota Mengkuang, Wang Tepus, Kubang Pasu Kedah.

Pada tahun 1876M tentera Raja Buddha Thailand telah membunuh Raja Melayu Siam Malacca Benua Siam Kedah di Gurun, Kedah Darul Aman, Malaysia. Maka negeri Kedah dijajah oleh tentera Raja Buddha Thailand selama 5 tahun kemudian mereka mewujudkan negeri Kedah Darul Aman dan Sultan Abdul Hamid Halim Shah dilantik menjadi Sultan Kedah darul Aman yang pertama di tahun 1881M.

Hubungan persaudaraan di antara Sultan Abdul Hamid Halim Shah dengan Sultan Muhammad I Kelantan ialah Sultan Abdul Hamid Halim Shah berketurunan Paduka Seri Sultan Abdullah Mukaram Pulau Pinang dan Sulatan Muhammad I Kelantan berketurunan Tengku Long Putra Sultan Legeh, yang bersemayam di Kampung Raja Legeh, Ayer Lanas, Kelantan. Manakala Paduka Seri Sultan Abdullah Mukaram pula bersemayam di Istana Bukit Gelugur, Pulau Pinang semasa menjadi Raja Daerah Pulau Pinang Siam Malacca Benua Siam Kedah. Pada tahun 1786M Paduka Seri Sultan Abdullah Mukaram 'belot' dengan menyerahkan daerah Pulau Pinang Siam Malacca Benua Siam Kedah kepada penjajah Inggeris. Manakala Paduka Seri Dato' Raja Long Putra kekanda Abdullah Mukaram menjadi Raja Legeh Siam Malacca Benua Siam Kedah dibunuh pada tahun Musuh Bisik 1821M di Kepala Bendang, Mukim Tualang, Kedah oleh tentera Raja Buddha Thailand Rama V Chakri Sukho Thai.

Pada tahun 1881M pihak penjajah Thailand mewujudkan negeri Kedah Darul Aman dan Chulalongkorn melantik menantunya yang berkahwin dengan Mak Enchik manjalara Raja Perempuan Thai Negeri Kedah darul Aman iaitulah Sultan Abdul Hamid Halim Shah. Sultan Abdul Hamid Halim Shah dipaksa oleh penjajah Thailand supaya menceraikan dam membunuh isterinya yang bernama Nai Sofea @ Syarifah Sofea yang merupakan anak saudara Maharaja Islam Melayu Sultan Jaafar Muadzam Shah, Sultan Melayu Siam Malacca Benua Siam Kedah. Dan puteranya ialah Tunku Badlishah, tetapi Che Wan Muhamad Arsyad menyerahkan kepada Sultan Muhammad I Kelantan Nik Diah, akhirnya Wan Muhamad Arsyad lari ke India. Wan Muhmad Arsyad ditangkap di India dan dibawa pulang ke negeri Kedah serta di paksa menulis sejarah Negeri Kedah darul Aman secara imaginasi dan metos. Sejarah Imaginasi Negeri Kedah Darul Aman dihasilkan oleh Wan Muhamad Arsyad secara paksa untuk mengelak dirinya dibunuh oleh penjajah Buddha Thailand.

Apabila Raja Kubang Pasu Nai Sim @ Nai Hashim Ibni al-marhum Nai Cau Doi dibuang ke Kulim Kedah pada zaman Sultan Abdul Hamid Halim Shah maka Syarifah Sofea lari berlindung di Kulim Kedah bersama keluarga Nai Sim dan berkahwin di sana. Manakala puteranya Tunku Badlishah dipelihara oleh nenek saudaranya Dato' Nai Mariam isteri kepada Sultan Muhammad I Kelantan di Kampung Alor Pak Ngah Mukim Tajar, Kota Star Kedah. Pada zaman Kedah Darul Aman di tahun 1881M Raja Kubang Pasu masih wujud di bawah pemerintahan Paduka Seri Sultan Nai Sim Ibni al-marhum Nai Cau Doi yang bersemayam di istana Paduka Seri Sultan Dato' Paduka Maharaja di Kampung Pulau Maharaja, Tunjang Kubang Pasu, Kedah Darul Aman. Nai Sim ialah Raja Kubang Pasu Kedah dan beliau ialah cicit kepada Sultan Syarif Yang Dipertuan Yang Maha Mulia.

Nai Sim ialah adik pupu kepada Maharaja Melayu Siam Malacca Benua Siam Kedah Nai Long Sultan Jaafar Muadzam Shah waris mutlak Syarif Yang Dipertuan Yang Maha Mulia Siam Malacca Benua Siam Kedah. Di dalam buku Cempaka Sari muka surat 140 dan 148 sejarah Negeri Perak Darul Ridzuan, Malaysia ada mencatitkan Sultan Jaafar melantik Che Ngah Ibrahim menjadi menteri di Larut, Perak dan Putera Raja dari Kedah Raja Alang pula dilantik menjadi Bendahara oleh Sultan Mudzaffar Shah Ibni Pho Chan Koya Long Raja Siam Kemboja tahun 1758M. Raja Alang @ Sultan Syed Alang Alauddin Dato' Ku Raja Chenak @ Raja Siam Songkla ada di catitkan di muka surat 43 buku Undang-Undang Kedah yang diselenggara oleh Dewan Bahasa dan Pustaka 2005.

Putera Raja dari Kedah Raja Alang @ Syed Alang Alauddin Panglima Bukit Gantang @ Dato' Ku Chenak @ Raja Chenak ialah ayahnda Nai Long Sultan Jaafar Muadzam Shah. Kubang Pasu pada zaman Maharaja Melayu Siam Malacca Benua Siam Kedah Sultan Jaafar Muadzam Shah ialah cicit kepada Maharaja Melayu Siam Dinasti Ayuthia ke-33 Boromoraja V Ekataat Syarif Yang Dipertuan @ Raja Ligor tahun 1767M yang diusir oleh tentera Burma dari Ayuthia Siam Malacca Benua Siam Kedah. Paduka Seri Sultan Nai Sim Raja Siam Kubang Pasu dilantik oleh Sultan Jaafar Muadzam Shah pada tahun 1862M dengan Che Ngah Ibrahim menjadi menteri di Larut, Perak. Paduka Seri Sultan negeri Kubang Pasu ini dibuang atau dilucutkan jawatan Raja Kubang Pasu oleh Sultan Abdul Hamid Halim Shah pada tahun 1881M apabila penjajah Thailand mewujudkan Negeri Kedah Darul Aman dicantumkan dengan negeri Kubang Pasu Siam Malacca Benua Siam Kedah.

Menarik perhatian keturunan Raja Kubang Pasu "Dato' Paduka Maharaja" Koya Abu Kasim @ Nai Cau Doi @ Megat Manja masih ada hingga sekarang seperti YB Dato' Johari Baharum Timbalan Menteri Pertanian Malaysia, Dato' Dr. Afifuddin Haji Omar pekan Napoh dan lain-lain menjadi bukti. Dengan wujudnya Negeri Kedah Darul Aman pada tahun 1881M dan Raja Melayu Siam negeri Kubang Pasu dibuang jawatan oleh penjajah Thailand serta dibuang daerah ke Kulim, Kedah Darul Aman Malaysia. Kewujudan Kedah di tahun 1881M bersamaan pembinaan Wat Buddha di Negeri Kedah Darul Aman bergelar Wat Buddha Bakar Bata Kanchut, Alor Setar Kedah Darul Aman Malaysia. Wat Buddha ini berada di belakang Muzium Negeri Kedah sekarang.

Apabila Raja Muda Kedah meninggal dunia iaitu Tunku Sulong @ Tunku Aziz diganti oleh Tunku Badlishah, dari sinilah bermulanya keturunan Syarif Shah Raja Ligor mendapat tempat dalam urusan Negeri Kedah Darul Aman. Nai Long Mahmud Ibni Nai Long Haji Yasin cucunda kepada Sultan Jaafar Muadzam Shah pula dilantik menjadi penghulu di mukim Tajar daerah Kota Star Kedah. Baginda adalah abang pupu kepada DYMM Sultan Badlishah sebelah bondanya Syarifah Sofea. Pada tahun 1909M pihak penjajah Thailand menyerahkan Semenanjung Malacca Benua Siam Kedah (Malaya) kepada penjajah Inggeris. Pada tahun 1941M, Tunku Badlishah dan Nai Long Mahmud Penghulu mukim Tajar Kota Star telah membawa masuk tentera Jepun melalui Bukit Kayu Hitam untuk mengusir penjajah Inggeris dari Malaya, usaha tersebut berjaya menyebabkan Sultan Abdul Hamid Halim Shah kehilangan kuasa dan magkat digantikan oleh Tunku Badlishah menjadi Sultan Kedah Darul Aman Malaysia.

Bukti kenyataan ahli sejarah Inggeris James low dari buku Sejarah Kedah Sepintas Lalu, catitan Raja Penjajah Thailand Rama V Chakri Sukho Thai Chulalongkorn mengarahkan tenteranya menghapus dan membakar habis-habisan kesan bukti sejarah Raja Melayu Siam Dinasti Ayuthia Boromoraja V ke-33 Syarif Yang Dipertuan Yang Maha Mulia Malacca Benua Siam Kedah :-

1. Termasuk Istana Raja Melayu Siam Islam ke-33 Kota Mengkuang mukim Wang Tepus Kubang Pasu Kedah.

2. Istana Raja Muhammad Hatta Raja Siam Pertama Perlis @ Istana Raja Melayu Siam Syburi Sultan Kaifa Tabim Sheikh Ali di Bukit Raja, Utan Aji, Perlis.

3. Istana Raja Melayu Siam Dinasti Ayuthia Rama Tibodi II Sultan Rijaluddin di Kota Naga dan Kota Siputih daerah Kubang Pasu Kedah.

4. Istana Kota Serjana Alor Ganu Kota Star Kedah Darul Aman Raja Melayu Siam ayahnda Maharaja Siam Dinasti Ayuthia Rama Tibodi I Ananda Pagan Ibni Sultan Muhammad Yang Adil, baginda mereka cipta wang syiling emas, sekarang ada buktinya disimpan oleh Muzium Kedah.

5. Istana Dato' Paduka Maharaja tempat bersemayam Raja Melayu Siam Kubang Pasu, Nai Sim Ibni al-marhum Nai Cau Doi di Kampung Pulau Maharaja Tunjang Kedah.

6. Istana Raja Melayu Siam Kedah di Pelabuhan Kota Kuala Kedah.

7. Istana Sultan Sheikh Abdul Kadir Ibni Husin Shah Alirah di Kota Raja Pekan Langgar Kedah.

8. Istana Raja Melayu Siam Islam Husin Shah Alirah di Kota Pagar Ayer mukim Limbong Kota Star Kedah.

9. Istana Sultan Saidina Ali Ibnu Sultan Saidina Jamalulalam Badrul Munir di Bukit Choras, Pendang Kedah. Perigi Raja masih wujud di kampung tersebut.

10. Istana Maharaja Melayu Siam Islam Phodiset @ Sultan Saidina Jamalulalam Badrul Munir di Kampung Kota Pinang Tunggal, Kulim Kedah.

11. Istana Merong Maha Wangsa @ Sultan Muzaffar Shah I (700 Masihi) di Kampung Sungai Mas Kuala Muda, Kedah.

12. Candi-candi kubu tentera Islam Raja Iskandar Zulkarnain di Lembah Bujang, Kuala Muda, Kedah.

13. Istana Majlis Iskandar Zulkarnain di Pulau Tiga, Sungai Merbok Kuala Muda, Kedah dan gok arang Raja Melayu Siam Nai Long Sultan Jaafar Muadzam Shah di Pulau Tiga, Kedah. Catatan bukti di muka surat 49 buku Undang-undang Kedah Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur 2005.

14. Pusat pembuatan senjata api Raja Melayu Siam Nai Long Sultan Jaafar Muadzam Shah atau tempat melebur besi di Merbok, Kedah.

15. Istana Maharaja Melayu Siam Kedah Bukit Meriam, Merbok Kedah.

16. Istana Raja di Bendang Raja, Kubur Panjang daerah Pendang Kedah ialah istana Sultan Muzaffar Shah III Raja Melayu Islam Siam Koya Long @ Pho Chan Raja Kemboja tahun 1788M.

17. Istana Raja Legeh Tunku Long Taha Ibni Tunku Long Putra di Kampung Raja Kota Burha Che Long, mukim Padang Kerbau Pendang, Kedah.

18. Istana Raja Melayu Siam Patani, Raja Idris Jammu Patani di kampung Kota Oo Pelantek, Sik Kedah.

19. Kota Istana Raja Melayu Siam Patani Raja Idris Jammu Patani di Kota Ruman, Sik Kedah.

20. Kota Istana Bukit, Nai Long Sultan Jaafar Muadzam Shah di Jeniang Kedah.

21. Istana Raja Melayu Siam Kemboja Pho Chan @ Koya Long Sultan Muzaffar Shah III di Kampung Dusun Raja, Padang Terap Kedah.

22. Istana Raja Melayu Siam Songkla, Nai Long Sultan Alang Alauddin di kampung Nai Lang, Durian Burung sebelah Thailand.

23. Istana Raja Melayu Siam Dinasti Ayuthia ke-31 Sultan Syed Maharaja Boromokot Muhiyuddin Mansor Shah Ibni Sultan Mahmud Shah Siam Malacca di Padang Mat Sirat, Pulau Langkawi Kedah.

24. Istana Sultan Yaccob Putra Jalij @ Maharaja Jalil Raja Melayu Siam Dinasti Ayuthia @ Khrun Waran Wangsa, Kedah Langkasuka tahun 1548M di Yan Kedah.

25. Istana Tanjung Puteri Kuala Ketil Kedah, perigi Tunku Puteri Dayang masih ada lagi di tempat tersebut.

SEJARAH SALASILAH RAJA-RAJA THAI

Dinasti Phraruang (1238-1368)

1 Pho Khun Si Intharathit พ่อขุนศรีอินทราทิตย์ 1238 1257
2 Pho Khun Ban Mueang พ่อขุนบานเมือง 1257 1278
3 Pho Khun Ramkhamhaeng, Yang Agung พ่อขุนรามคำแหงมหาราช 1278 1298

Pu Saisongkhram (ปู่ไสยสงคราม), bertahta sementara setelah kematian Ramkhamheang untuk menggantikan Loethai yang sedang berada di Tiongkok 1298 1298
4 Phaya Lerthai พญาเลอไท 1298 1347

Phaya Nguanamthom พญางั่วนำถม 1347 1347
5 Phaya Luethai (Thammaracha I) พระมหาธรรมราชาที่ 1 (พญาลือไท) 1347 1368
Dibawah dominasi Kerajaan Ayutthaya

Thammaracha II พระมหาธรรมราชาที่ 2 1368 1399

Phaya Sai Luthai (Thammaracha III) พระมหาธรรมราชาที่ 3 (ไสยลือไท) 1399 1419

Borommapan (Thammaracha IV) พระมหาธรรมราชาที่ 4 (บรมปาล) 1419 1438

Kerajaan Ayutthaya (1350-1767)

Dinasti Uthong (1350-1370)

1 Pangeran U Thong (Ramathibodi I) สมเด็จพระรามาธิบดีที่ 1 1350 1369
2 Ramesuan สมเด็จพระราเมศวร (turun tahta) 1369 1370

Dinasti Suphannaphum (1370-1388)

1 Pha Ngua (Borommaracha Thirat I) สมเด็จพระบรมราชาธิราชที่ 1 (ขุนหลวงพะงั่ว) 1370 1388
2 Thong Lan พระเจ้าทองลัน 1388 1388

Dinasti Uthong (restorasi, 1388-1409)

3 Ramesuan สมเด็จพระราเมศวร (bertahta kedua kalinya) 1388 1395
4 Ramracha Thirat สมเด็จพระรามราชาธิราช 1395 1409

Dinasti Suphannaphum (restorasi, 1409-1569)

3 Intha Racha (Nakharinthara Thirat) สมเด็จพระอินทราชา (นครินทราธิราช) 1409 1424
4 Sam Phraya (Borommaracha Thirat II) สมเด็จพระบรมราชาธิราชที่ 2 (เจ้าสามพระยา) 1424 1448
5 Boromma Trailokanat สมเด็จพระบรมไตรโลกนาถ 1448 1488
6 Borommaracha Thirat III สมเด็จพระบรมราชาธิราชที่ 3 1488 1491
7 Chettha Thirat (Ramathibodi II) สมเด็จพระรามาธิบดีที่ 2 (พระเชษฐาธิราช) 1491 1529
8 Nor Phutthangkun (Borommaracha Thirat IV) สมเด็จพระบรมราชาธิราชที่ 4 (หน่อพุทธางกูร) 1529 1533
9 Ratsadathiratcha Kuman พระรัษฎาธิราชกุมาร raja bocah 1533 1534
10 Chaiya Racha Thirat สมเด็จพระไชยราชาธิราช 1534 1546
11 Kaeo Fa (Yot Fa) พระแก้วฟ้า (พระยอดฟ้า) (raja bocah, bertahta dengan wali Ratu Si Sudachan) 1546 1548
12 Vạravoṇśādhirāj ขุนวรวงศาธิราช 1548 1548
13 Phra Maha Chakkraphat สมเด็จพระมหาจักรพรรดิ dan Ratu Suriyothai สมเด็จพระศรีสุริโยทัย 1548 1568
14 Mahinthara Thirat สมเด็จพระมหินทราธิราช 1568 1569

Dinasti Sukhothai (1569-1629)

1 Maha Thammaracha Thirat (Sanphet I) สมเด็จพระมหาธรรมราชาธิราช (สมเด็จพระเจ้าสรรเพชญ์ที่ 1) 1569 1590
2 Naresuan, yang Agung (Sanphet II) สมเด็จพระนเรศวรมหาราช (สมเด็จพระเจ้าสรรเพชญ์ที่ 2) 1590 1605
3 Eka Thotsarot (Sanphet III) สมเด็จพระเอกาทศรถ (สมเด็จพระเจ้าสรรเพชญ์ที่ 3) 1605 1610
4 Si Saowaphak (Sanphet IV) พระศรีเสาวภาคย์ (สมเด็จพระเจ้าสรรเพชญ์ที่ 4) 1610 1611
5 Drongdharm (Intha Racha) สมเด็จพระเจ้าทรงธรรม (พระอินทราชา) 1611 1628
6 Chejthathraj สมเด็จพระเชษฐาธิราช 1628 1629
7 Artitthayawongs สมเด็จพระอาทิตยวงศ์ 1629 1629

Dinasti Prasat Thong (1630-1688)

1 Prasat Thong (Sanphet V) สมเด็จพระเจ้าปราสาททอง (สมเด็จพระเจ้าสรรเพชญ์ที่ 5) 1630 1655
2 Chao Fa Chai (Sanphet VI) สมเด็จเจ้าฟ้าไชย (สมเด็จพระเจ้าสรรเพชญ์ที่ 6) 1655 1655
3 Si Suthammaracha (Sanphet VII) สมเด็จพระศรีสุธรรมราชา (สมเด็จพระเจ้าสรรเพชญ์ที่ 7) 1655 1655
4 Narai, yang Agung สมเด็จพระนารายณ์มหาราช 1656 1688

Dinasti Ban Phlu Luang (1688-1767)

1 Phet Racha สมเด็จพระเพทราชา 1688 1703
2 Luang Sorasak atau Phrachao Sua ('Sang Raja Harimau') (Sanphet VIII) สมเด็จพระเจ้าสรรเพชญ์ที่ 8 (หลวงสรศักดิ์ - พระเจ้าเสือ) 1703 1709
3 Tai Sa (Sanphet IX) สมเด็จพระเจ้าสรรเพชญ์ที่ 9 (พระเจ้าท้ายสระ) 1709 1733
4 Boromma Kot (Borommaracha Thirat III) สมเด็จพระเจ้าอยู่หัวบรมโกศ (สมเด็จพระบรมราชาธิราชที่ 3) 1733 1758
5 Uthumphon (Borommaracha Thirat IV) สมเด็จพระเจ้าอุทุมพร 1758 1758
6 Suriyamarin atau Ekkathat (Borommaracha Thirat V) สมเด็จพระเจ้าอยู่หัวพระที่นั่งสุริยามรินทร์ (พระเจ้าเอกทัศ) 1758 1767

Kerajaan Thonburi (1769-1782)

1 Taksin, yang Agung สมเด็จพระเจ้าตากสินมหาราช 1769 1782

Kerajaan Thai modern (1782-sekarang)

Dinasti Chakri (1782-sekarang)

1 Buddha Yodfa Chulalok yang Agung (Rama I) พระบาทสมเด็จพระพุทธยอดฟ้าจุฬาโลกมหาราช 6 April 1782 7 September 1809
2 Buddha Loetla Nabhalai (Rama II) พระบาทสมเด็จพระพุทธเลิศหล้านภาลัย 7 September 1809 21 Juli 1824
3 Nangklao (Rama III) พระบาทสมเด็จพระนั่งเกล้าเจ้าอยู่หัว 21 Juli 1824 2 April 1851
4 Mongkut (Rama IV) พระบาทสมเด็จพระจอมเกล้าเจ้าอยู่หัว 3 April 1851 1 Oktober 1868
5 Chulalongkorn yang Agung (Rama V) พระบาทสมเด็จพระจุลจอมเกล้าเจ้าอยู่หัว "พระปิยมหาราช" 2 Oktober 1868 23 Oktober 1910
6 Vajiravudh (Rama VI) พระบาทสมเด็จพระมงกุฎเกล้าเจ้าอยู่หัว 23 Oktober 1910 26 November 1925
7 Prajadhipok (Rama VII) พระบาทสมเด็จพระปกเกล้าเจ้าอยู่หัว 26 November 1925 2 Maret 1935
8 Ananda Mahidol (Rama VIII) พระบาทสมเด็จพระเจ้าอยู่หัวอานันทมหิดล 2 Maret 1935 9 Juni 1946
9 Bhumibol Adulyadej the Great (Rama IX) พระบาทสมเด็จพระเจ้าอยู่หัวภูมิพลอดุลยเดชมหาราช 9 Juni 1946 sekarang

SEJARAH SUKTHOTHAI

Kerajaan Sukhothai (Bahasa Thailand: อาณาจักรสุโขทัย) adalah salah satu kerajaan tertua di Thailand yang berpusat di sekitar kota Sukhothai, berdiri sejak tahun 1238 sampai 1438. Bekas ibukota Kerajaan Sukhothai lama berada sekitar 12 km dari kota Sukhothai modern, yaitu di Tambon Muang Kao. Saat ini yang tertinggal di kota lama hanyalah puing-puing kota dan Taman Bersejarah Sukhothai.

Sejarah

Kota Sukhothai sebelumnya merupakan bagian dari Kerajaan Khmer sampai dengan tahun 1238, yaitu pada saat dua pemimpin bangsa Thai, Pho Khun Pha Muang dan Pho Khun Bang Klang Hao, menyatakan kedaulatannya dan mendirikan kerajaan untuk bangsa Thai. Pho Khun Bang Klang Hao kemudian menjadi raja pertama Sukhothai, dan menamakan dirinya Pho Khun Si Indrathit (atau Intradit). Kejadian ini secara tradisi dianggap merupakan awal berdirinya negara Thai modern, meskipun terdapat beberapa kerajaan Thai yang tidak begitu terkenal, seperti Lanna, Phayao dan Chiang Saen, yang juga didirikan sekitar waktu yang sama.
Sukhothai berkembang dengan cara membentuk aliansi dengan kerajaan-kerajaan Thai lainnya, dimana kerajaan-kerajaan tersebut memeluk agama Buddha Theravada sebagai agama negara dengan bantuan dari para biksu dari Sri Lanka. Pemerintahan Intradit dilanjutkan oleh anaknya Pho Khun Ban Muang, yang pada tahun 1278 diikuti oleh saudaranya Pho Khun Ramkhamhaeng. Di bawah pemerintahannya, yang juga disebut dengan nama Raja Ramkhamhaeng Agung, Sukhothai menikmati masa keemasan sebagai puncak kemakmurannya. Ramkhamhaeng dianggap sebagai pencipta alfabet Thai (secara tradisional diperkirakan tahun 1283, dengan bukti kontroversial berupa batu Ramkhamhaeng, yaitu suatu batu berinskirpsi yang dianggap merupakan bukti tulisan Thai tertua).
Pada puncaknya, Sukhothai diperkirakan terbentang meliputi Martaban (sekarang di Myanmar) sampai Luang Prabang (sekarang Laos), serta ke arah selatan di Semenanjung Malaysia sampai sejauh Nakhon Si Thammarat (Tambralinga). Dengan demikian pengaruhnya lebih luas daripada Thailand modern, meskipun tingkat kekuasaan yang diterapkan terhadap wilayah-wilayah tersebut berbeda-beda.
Setelah kematian Ramkhamhaeng, Sukhothai melemah dan berbagai kerajaan bawahannya mulai melepaskan diri. Sementara itu Kerajaan Ayutthaya yang merupakan saingannya semakin meningkat kekuasaannya. Pada akhirnya Raja Thammaracha II dari Sukhothai tahun 1378 terpaksa menyerahkan kekuasaannya, dan Sukhothai menjadi negara bawahan Ayutthaya. Sekitar tahun 1430, Raja Thammaracha IV memindahkan ibukota Sukhothai ke Phitsanulok, dan setelah kematiannya tahun 1438, status Sukhothai berubah hanya menjadi sekedar provinsi dari Ayutthaya.

















KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin