Ahad, 17 Ogos 2014

PANDUAN JIHAD

PANDUAN FIKIH JIHAD FII SABIILILLAH

Jika berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah menjadi pelindung agama Islam agar tetap berada di atas prinsip-prinsipnya yang baku dan melindunginya dari orang-orang Islam sendiri yang mencoba mempermainkan ajarannya, maka jihad menjadi penjaga Islam dan pemeluknya dari serangan orang-orang yang memerangi serta menentangnya. Hal ini terkumpul pada satu ayat yang tercantum dalam surat Al-Hadid:


Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan Rasul-Rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”[1]


Ibnu Taimiyah berkata: “Agama ini tidak akan tegak melainkan dengan Al-Qur’an, keadilan dan besi; Qur’an sebagai petunjuk dan besi sebagai pembelanya”.[2]

Beliau mengulang perkataan ini beberapa kali di beberapa tempat yang sudah saya sebutkan sebelumnya.[3]

Di sini, akan saya sebutkan, Insya Allah, panduan-panduan prinsip yang menjadi titik tolak dilaksanakannya jihad, berikut tujuan puncak serta urgensinya dalam menjamin keberlangsungan agama ini.

Sebagian panduan ini --- khususnya lima panduan pertama --- merupakan bagian dari aqidah seorang muslim kaitannya dengan ketentuan dan takdir Allah SWT. Kelima prinsip ini harus diperhatikan betul oleh seorang muslim agar ia mengerti dasar permusuhan dia dengan orang-orang kafir serta tujuan jihad dan perang yang ia lakukan. Kelima prinsip ini bisa juga kita istilahkan sebagai “Akidah Jihad kaum muslimin”.

Pasukan manapun, kafir sekalipun, pasti memiliki keyakinan perang, atas dasar keyakinan itulah ia perangi orang lain.[4] Dari sini, perangkat support moral termasuk perangkat terpenting pada pasukan manapun meskipun namanya berbeda-beda. Perangkat inilah yang berperan menanamkan keyakinan dalam jiwa prajurit. Hatta pada pasukan ateis sekuler, mereka juga membuat keyakinan sendiri sebagai landasan yang bersumber dari bisikan-bisikan syetan,

Artinya: “Tidaklah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma’siat dengan sungguh-sungguh?”[5]


Misalnya keyakinan bahwa etnis mereka lebih baik dari etnis lain, mereka ingin menyebarluaskan keyakinan dan kebudayaan mereka kepada manusia. Ada juga doktrin membela tanah air dan bangsa, dan masih banyak kepentingan lain yang mendorong tentara untuk berperang.

Semua keyakinan ini, baik yang diyakini pasukan mukmin maupun kafir, semuanya bermuara kepada satu hal yaitu: menganggap dirinya berada di atas kebenaran sedangkan musuhnya berada di atas kebatilan sehingga ia harus diperangi.
Perhatikan kata-kata ‘Umar bin Khothob ra. kepada Nabi SAW pada saat perjanjian Hudaibiyyah, ‘Umar mengatakan: “Bukankah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada di atas kebatilan?” Beliau menjawab: “Benar” [6]

Perhatikan pula keyakinan yang dipegang orang-orang kafir bahwa mereka berada di atas kebenaran, Allah SWT berfirman:

Artinya: “Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama”. [7]


Adapun kita orang Islam, keyakinan kita tentang landasan jihad dapat diringkas sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah --- Jalla Sya’nuhu --- telah ciptakan semua makhluk dan memerintahkan mereka semua untuk beribadah kepada-Nya, ini adalah perintah syar’i melalui lisan para Rasul-Nya.

Selanjutnya, di antara mereka ada yang beriman serta ada yang kafir, dan memang beginilah yang dikehendaki Allah SWT; Allah menginginkan makhluk-Nya terbagi menjadi dua kelompok, ada yang beriman dan adapula yang kafir.

Kemudian Allah SWT menjadikan salah satu kelompok berkuasa atas kelompok lain. Allah SWT berfirman:
...
Artinya: “Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat”.[8]

Maka, Allah SWT menjadikan orang-orang kafir berkuasa atas orang-orang beriman berdasarkan takdir-Nya, mereka siksa dan perangi orang-orang beriman. Tapi secara syar’i, Allah SWT memerintahkan orang beriman untuk menguasai orang-orang kafir dengan menyeru mereka kepada petunjuk (Islam), berikutnya siapa yang membangkang harus diperangi sehingga kalimat Allah SWT tinggi dan agama ini semuanya menjadi milik Allah, sampai agama ini semuanya menjadi milik Allah, sampai tidak ada lagi yang diibadahi di muka bumi ini selain Allah SWT saja, tidak ada lagi sekutu bagi-Nya.

Jadi, perseteruan antara mukmin dan kafir pada dasarnya adalah realisasi dari kalimat Laa ilaaha illallaah sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Artinya: “Aku diperintah memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan Muhammad Rasulullah”.[9]

Beliau juga bersabda,
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَي السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang sampai Allah sajalah yang diibadahi, satu-satunya dan tiada sekutu bagi-Nya”.[10]

Jadi, jihad adalah sarana untuk merealisasikan tauhid.
Inilah yang dikehendaki Allah SWT, Dzat yang Maha Melindungi, Allah menghendaki dunia ini menjadi negeri ujian bagi hamba-hamba-Nya untuk memberikan balasan kepada mereka pada hari kiamat sesuai amalan-amalan yang telah mereka kerjakan.

Allah SWT berfirman:
... ...
Artinya: “Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain”.[11]

Allah SWT juga berfirman:
...
“…serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk jannah dan segolongan masuk naar. Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong”.[12]

Baik yang kafir maupun yang mukmin, semuanya adalah makhluk dan hamba Allah, baik secara sukarela maupun terpaksa. Ubun-ubun mereka ada di tangan-Nya, keputusan-Nya adil atas mereka, kita beriman terhadap qodho dan qodar Allah, yakin terhadap hikmah-Nya, tunduk terhadap perintah syar’i-Nya, Allah SWT Maha Suci lagi Maha Tinggi, tidak ditanya tentang perbuatan-Nya dan merekalah yang akan ditanya…

Pemaparan di atas akan kita terangkan secara lebih rinci pada beberapa bagian berikut ini:


PANDUAN JIHAD Fi Sabilillah PERTAMA


Alloh berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku..”
(QS. Adz-Dzaariyaat:56)


Ibadah adalah melaksanakan syariat Allah SWT yang disampaikan melalui lisan para Rasul-Nya --- ‘Alaihimus Salam ---; tidak ada satu umatpun dari makhluk Allah melainkan telah diutus seorang Rasul kepada mereka. Allah SWT berfirman:


...
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thoghut itu”.[13]

Juga berfirman:
...
Artinya: “Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.”[14]

Agar hujjah Allah SWT tegak terhadap makhluk-Nya sejak penciptaan Adam AS hingga datangnya hari kiamat,

Allah SWT berfirman:
...
Artinya: “(Mereka Kami utus) selaku Rasul-Rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu.”[15]

Seorang Rasul diutus pada umat di mana ia hidup bersama mereka, sepeninggalnya nanti para pengikutnyalah yang menyampaikan risalah.

Allah SWT berfirman:
...
Artinya: “Dan tidak adalah Robbmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka.”[16]

Setelah seorang rasul meninggal, para pengikutnya mengemban amanah untuk menyampaikan risalah sehingga hujjah Allah SWT tetap tegak terhadap semua makhluk-Nya sebagaimana sabda rasul kita Muhammad SAW. Beliau bersabda:
لِيُبَلِّغَ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ
Artinya: “Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”


Beliau juga bersabda:

بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Artinya: “Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat.”

Beliau juga bersabda:
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
Artinya: “Ulama adalah pewaris para nabi.”

Beliau juga bersabda:
لاَ تَزَالُ طَائِْفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ قَائِمَةً بِأَمْرِ اللهِ
Artinya: “Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang melaksanakan perintah Allah.”

Semua hadits ini adalah shahih.

Perintah kepada hamba adalah bersifat syar’i, artinya Allah SWT mensyariatkannya melalui lisan para rasul-Nya, tetapi tidak selalunya semua makhluk menyambut perintah ini. Allah SWT ciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya serta memerintahkan hal itu melalui lisan para Rasul-Nya, kemudian para makhluk itu ada yang mau beribadah kepada Allah SWT dan ada juga yang tidak.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin