Selasa, 4 September 2012

SEJARAH AGAMA HINDU


Sebelum membicarakan agama Hindu (Brahma) ini, lebih dulu kita perlu membicarakan bangsa yang mula-mula menganut dan membawanya.

1.Kepercayaan kepada Tuhan dalam agama Hindu (Brahma)
2.Kitab-kitab suci agama Hindu
3.Ibadat (Pemujaan)
4.Empat kasta (Catur Warna)
5.Peminkiran tentang bahagia (timbulnya berbagai aliran)
6.Wedanta, Ssamkhya dan Yoga
7.Nyanyian Yoga dalam bertapa
8.Waisnawara dan Caiwa
9.Kitab Purana
10.Cakta (kesaktian) dan kitab Tantra
11.Binatang yang dihormati dan berbagai upacara
12.Pengaruh Hindu/Brahma kepada penganut agama lain ( dibahas berikutnya).
Suatu suku bangsa pengembara yang terkenal dengan nama Arya, ke luar dari tempat mereka yang terakhir di Asia Tengah , meneruskan perjalanan dan pengembaraan; sebahagian menuju Eropa di zaman Purba, sebagian memasuki dataran tinggi Iran dan sebahagian lagi menju Punjab daerah India.

Ketika mereka sampai di lembah-lembah sungai Shindhu, mereka bertemu dengan penduduk asli daerah itu, yaitu bangsa Dravida.

Bangsa arya memasuki daerah Punjab bukanlah dengan tenang dan aman, tetapi dengan peperangan dan kekerasan. Bangsa Dravida bertahan sekuat-kuatnya, tetapi akhirnya mereka dikalahkan oleh bangsa pendatang itu; Penduduk yang telah ditaklukkan itu meraka namai “Dasyu” (artinya budak). Dari kasta-kasta Dasyu itulah diambilkan nama buat kasta Syudra. Peristiwa ini terjadi lebih kurang 20 abad sebelum masehi.

Setelah bangsa Arya yang pertama beroleh kemenangan di India, maka datanglah menyusul berturut-turut kabilah-kabilah bangsa Arya dari Asia tengah menuju daerah Punjab atau lembah sungai Shindu. Sehingga daerah Punjab tiak lagi mencukupi untuk kediaman meraka, apalagi mereka kurang pula biasa dalam hal mengolah tanah untuk menghidupan. Mereka mulai menyebar mencari daerah yang lain memasuki lembah sungai Gangga dan Yanmu (daerah dua sungai).

Di daerah Punjab mereka masih dapat mempertahankan kemurnian darah mereka, belum bercamput dengan penduduk asli, begitu juga dalam adat istiadat dan kebudayaan mereka tetapi di daerah Gangga dan Yanmu mereka terpaksa bergaul dengan penduduk asli, apalagi kedatangan mereka ke sana bukahlah dengan peperangan tetapi dengan jalan damai.

Dari percampuran bangsa Arya dengan bangsa yang mereka dapati di India, tibullah suatu bentuk bangsa yang baru yang dikenal dengan sebutan “Hindu” dibangsakan kepada daerah yang mula-mula mereka dapati di India yaitu lembah Sungai Shindu, dan agama yang mereka anutpun dibangsakan pula kepada nama Hindu itu.


Kepercayaan kepada Tuhan dalam agama Hindu (Brahman):
Tuhan dalam agama Hindu disebut Brahma. Kalimat Brahma dalam bahasa Hindu lama (Sanskerta) yaitu nama bagi Tuhan yang wujud dengan sendirinya, Maha Esa dan Maha Kuasa yang bersifat azali, tidak berawal dan tidak berakhir, yang menciptakan dan menjadi asal dari sekalian alam; Ia tidak dapat diraba dengan pancaindra tetapi hanya dapat diketahui dengan akal.

Brahman itu Tuhan yang tunggal dalam agam Hindu. Tetapi beberapa abad di belakang, penganut agama Hindu telah merobah kepercayaan bertuhan atu itu (monotheisme), kepada trimurti atau bertuhan tiga.
Trimurti itu terdiri dari: Brahma, Wisnu dan Syiwa.
Ahli-ahli penyelidik sejarah agama-agama banyak yang berpendapat, bahwa kemungkinan benar agama Hindu ini asalnya Samawy, agama langit yang berasal dari pengajaran Tuhan Pencipta Semesta Alam, melihat ajarannya yang asli kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi dalam perjalanan hidupnya yang sudah lama, ibarat sebuah sungai yang mengalir dari lereng gunung, sudah banyak dimasuki oleh berbagai sampah dan kotoran, sehingga dari agama Tahuhid telah berobah menjadi agama musryrik.

Apabila diperhatikan dalam kitab Weda, kitab suci agama Hindu, disitu tidak ada disebutkan Tuhan yang berbilang, hanya menyatakan ketuhanan Brahma semata-mata. Nama Wisynu dan Syiwa sifat Maha kuasa dan memusnahkan.

Para pendeta di belakang telah mengkhayalkan dalam pikiran mereka, untuk menempatkan kedua sifat Tuhan itu sebagai Tuhan yang kedua dan ketiga.

Maka di berbagai kuil-kuil penganut agama Hindu terdapat patung yang menggambarkan Trimurti itu; Patung Brahma yang mempunyai empat muka dan empat tangan; tangan pertama memegang Weda, tangan yang kedua memegang sendok, tangan yang ketiga memegang tasbih dan tangan yang keempat memegang bejana berisi air, sedangkan di sampingnya terdapat patung Tuhan yang kedua dan ketiga, yaitu Wisynu dan Syiwa.

Kitab-kitab suci agama Hindu

Kitab-kitab yang dipandang suci dalam agama Hindu ada beberapa buah. Di antaranya adalah :
1. Kitab Weda
2. Brahmana
3. Upanisyad
4. Purana
5. Tantra dan lain-lainnya.
Kitab Weda ialah kitab suci asli dalam agama Hindu yaitu kitab yang dijunjung tinggi oleh bangsa Arya, kepada kitab itulah meraka mendasarkan agama dan pandangan hidup mereka. Akan tetapi Weda yang mreka anut ketika mula-mula sampai di India baru terkenal dengan sebutan Trayi Widya (tiga Weda), yang terdiri dari ; Rigweda, Samaweda dan Yajurweda).

Weda artinya pengetahuan yang amat tinggi.
Weda yang dikenal dalam perkembangannya, kemudian terdiri dari empat himpunan kitab (samhita) yaitu;
1. Rigweda, berisi 1028/sukta atau sya’ir pujian terhadap dewa-dewa.
2. Samaweda, sebagian besar berisi sya’ir-sya’ir Rigweda, tetapi seluruhnya
memakai tanda-tanda nada untuk dapat dilagukan dan dinyanyikan.
3. Yajurweda, berisi do’a-do’a untuk mengantar saji-saji yang dipersembahkan
kepada dewa-dewa dengan diiringi pengajian Rigweda dan nyanyian Samaweda.
4. Atharwaweda, berisi mantra-mantra dan jampi-jampi untuk sihir dan ilmu ghaib,
untuk mengusir penyakit, pengikat cinta, menghancurkan musuh dan sebagainya.

Weda yang empat itu disebut “Catur Weda” yaitu empat weda.
Kitab Weda tertulis dalam bahasa Sanskerta yang tinggi, karena bahasa itu sekarang telah menjadi bahasa yang mati, maka tidaklah semua orang yang beragama Hindu dapat memahami kitab suci tersebut. Oleh sebab itu pendeta-pendeta Hindu berusaha menyalinkan sebahagian isi kitab suci itu agar dapat dibaca oleh umum.

Tentang riwayat timbulnya kitab “Weda” ini tidaklah dapat diketahui dengan pasti . Adakah pada mulanya kitab ini dibawa oleh seorang Nabi yang menerima wahyu daripada Tuhan, tidaklah ada keterangan. Siapa yang mula-mula mengajarkannya, siapakah yang menulisnya juga tak dapat diketahui.

Hanya melihat tambahan-tambahannya di belakang, menunjukkan pertumbuhannya sebagai hasil renungan dan filsafat dalam perkembangan hidup Arya Hindu di India.

Seperti telah disebutkan diatas, bahwa orang Arya sendiri pada mulanya hanya menganut tiga macam Weda yaitu ; Rigweda, Samaweda dan Yajurweda. Tetapi bangsa Dravida yang mreka dapati juga mempunyai suatu kepercayaan, pandangan hidup dan keyakinan terhadap yang ghaib. Maka sebagai hasil perpaduan hidup dan peradaban antara bangsa Arya dan penduduk Doab, lahirlah kitab weda yang keempat yang bernama Atharwaweda.

Oleh karena isinya amat berbeda dan dipandang jauh lebih rendah dari ketiga weda lainnya maka Atharwaweda tidak diakui oleh sebagian pendeta Brahma.

Tetapi tambahan-tambahan yang timbul di belakang ini membawa suatu pengertian bagi kita, bahwa weda yang ketiga dan keduapun sebenarnya timbul kemudian daripada yang pertama; dengan jelas dapat diketahui, bahwa pada mulanya weda itu hanya sebuah saja, yaitu Rigweda, kemudian disusul oleh Samaweda dan Yajurweda. Apalagi ini Samaweda dan Yajurweda sebagiannya adalah sebagai ulangan dari isi Rigweda.

Dalam Rigweda itupun terbayang juga bahwa di antara isinya terdapat catatan kisah kedatangan bangsa Arya ke lembah sungai Sindhu, disamping isinya yang berisi pujaan kepada Dewa.
Dalam pengertian yang umum pada masa kemudiannya, dimasukkan juga sebagai kitab suci weda kitab-kitab yang timbul berturut-turut di belakang, seperti; Brahmana, Upanisyad dan Purana.

Ibadat (Pemujaan)
Ibadat dalam Agama Hindu tidaklah terbatas oleh masa dan waktu, tetapi pada setiap ketika dan keadaan harus beribadat.

Ibadat dan pemujaan tidaklah hanya dihadapkan kepada Mahadewa Brahma, Wisynu dan Syiwa tetapi lebih dahulu langsung kepada tenaga dan daya alam yang dianggap sebagai dewa, yang langsung mempengaruhi kehidupan manusia. Tenaga dan kekuatan alam inilah yang sebenarnya dipuja. Nama dari masing-masing dewa itu adalah daya alam itu sendiri. Di antara dewa-dewa itu ialah :
1. Surya (Dewa Matahari)
2. Agni (Dewa Api Suci)
3. Wayu (Dewa Angin)
4. Candra (Dewa Bulan)
5. Waruna (Dewa Alam/Angkasa/Laut)
6. Marut (Dewa Badai/Topan)
7. Paryania (Dewa Hujan)
8. Acwin (Dewa Kembar atau Dewa Kesehatan)
9. Usa (Dewa Fajar)
10. Indra (Dewa Perang)
11. Wertra (Dewa Jahat)
Di antara semua Dewa-dewa itu yang terutama sekali dan paling banyak mendapat puji-pujian ialah Dewa Indra dan Agni. Dewa Indra dipandang juga sebagai Dewa Rahmat yang membawa kebahagiaan. Dewa Indra juga mendapat nama julukan dengan sebutan “Puramdara” yaitu Dewa penggempur benteng. Hal ini mengingatkan mereka ketika bangsa Arya mula-mula datang ke lembah Sindhu dengan peperangan, bertemu dengan bangsa Dravida yang bertahan dalam sembilan puluh benteng, akhirnya bangsa Dravida dapat dikalahkan. Bagi bangsa Arya kemenangan ini sebagai pertolongan dari Dewa Indra.

Dewa Indra adalah Dewa yang terus-menerus berperang menggempur Dewa Wertra, yaitu Dewa jahat yang selalu menahan air hujan dalam gumpalan-gumpalan awan. Dewa pertolongan Indra memaksa Wertra akhirnya hujan turun ke bumi.

Dalam memuja Dewa Indra, biasa dipersembahkan saji yang berisi “soma” yaitu semacam minuman dari getah tumbuh-tumbuhan candu yang bisa memabukkan. Maksud saji ini agar Dewa Indra terus berperang dalam keadaan mabok dan tak perduli, sehingga Wetra dapat, dikalahkannya.

Dewa kedua yang dianggap mulia dan lebih banyak dapat pujaan ialah Dewa Api (Agni), karena agni sebagai sahabat bagi manusia dalam hidupnya. Di dalam setiap rumah sudah tentu dibutuhkan api untuk memasak, untuk penerangan dan pemanas. Pada setiap upacara pemujaan, api tidak boleh ketinggalan, api menjadi syarat utama.

Pada waktu upacara pemujaan Dewa yang disembah di mohon agar turun, duduk diatas selembar tikar kuca (tikar rumput) yang dibentangkan, lalu barang-barang sajian dimasukkan ke dalam api, sebagai khayalan bahwa sajian ini masukkan ke dalam mulut Dewa.

Selain kepada Dewa Indra dan Agni ada juga dilakukan pemujaan, menurut kebutuhan masing-masing yang memuja. Dan bagi tiap-tiap keluarga dan rumah tangga, kepala keluarga lah yang berkewajiban melakukan saji dalam pemujaan menurut apa yang dibutuhkan oleh keluarganya.

Hanya pada ketika memuji dan memuja suatu Dewa dalam memohon kebutuhan dan hajat, si pemuja hendaklah meletakkan suatu kepercayaan dalam hatinya, bahwa tidak ada suatu dewa yang lain selain dewa yang disembahnya itu. Sekedar kita memuja ia bersifat tauhid, tetapi sebenarnya ia masih tetap musyrik.

Tentang hal saji ini tuntunan pokoknya diuraikan di dalam kitab “Brahmana” suatu kitab suci agama Hindu yang disusun sesudah keempat samhita weda itu. Didalam melakukan saji orang-orang kasta Brahmana mempunyai kedudukan yang penting. Karena menurut agama Brahmana, tergantungnya keselamatan manusia di dunia, terletak pada cara pemujaan dan melakukan sajian; dan tidalah yang dapat melakukan saji itu dengan cara setepat-tepatnya dan sebenarnya selain dari kaum Brahmana. Demikian tingginya kedudukan kaum Brahmana.

Bahkan keadaan dewa-dewa itupun tergantung kepada kaum Brahmana. Karena saji yang mereka berikan maka dewa-dewa itu dapat hidup dan berbuat sesuatu. Dengan anggapan yang demikian, Brahmana sebenarnyapun sudah dianggap dewa, dewa yang menguasai saji, saji yang menguasai segala keadaan.


Empat Kasta (Catur Warna).
Seperti telah diterangkan diatas, bahwa Tuhan yang asli dalam agama Hindu ialah Brahma. Menurut kepercayaan mereka Brahma telah menjadikan “Manu” yaitu manusia laki-laki pertama dan “shatarupa” wanita pertama. Dari mereka lahirlah manusia yang selanjutnya. Tetapi walaupun semua manusia ini berasal dari manu tetapi keadaan mereka tidaklah sama. Pada mulanya manusia yang terlahir dari manu ada empat macam manusia:
1. Yang keluar dari kepala Manu itulah manusia yang paling terbaik dan tersuci di tanah Hindu
yaitu kaum pendeta yang dinamai Brahmana.
2. Yang keluar dari tangan Manu adalah manusia terbaik yang lain, yang terdiri dari raja-raja
dan panglima-panglima dinamai Ksatria.
3. Yang keluar dari paha Manu adalah kaum pekerja, kasata ini dinamai Wisya.
4. Yang keluar dari kaki Manu adalah manusia yang termasuk tingkat rendah, yang dinamai
Shudra.

Dari empat kasta itu lahirlah berbagai-bagai kasta yang baru, sehingga akhirnya di India terdapat ribuan golongan kasta.
Di antara kasta yang dianggap paling rendah itu ialah kasta Paria. Adapun kasta keempat yang bernama Shudra dan lain-lainnya itu, timbul dalam perkembangan di lembah Shindhu dan Doab, diadreskan kepada bangsa yang telah ditaklukkan itu, bukan dibawa dalam perkembangan Arya yang asli.
Kasta rendah itu mereka anggap tidak saja hina-dina dalam pandangan, juga dinggap najis. Sehingga orang-orang dari kasta tinggi tidak mau makan minum pada mangkok dan piring yang telah disentuh oleh orang-orang dari kasta rendah. Orang-orang dari kasta rendah yang hina-dina itu tidak boleh berdiri di depan pintu atau jendela, ketika orang-orang kasta tinggi berada didalam rumah, sebab bayangan dan hawa yang masuk bisa menjadi kotor oleh najisnya badan orang yang hina-dina itu.

Tujuan terakhir dari pelajaran hidup menurut tuntunan agama Hindu ialah menuju Nirwana, di mana nyawa kembali kepada Brahma, kepada kebahagiaan yang abadi. Untuk mencapai tujuan bahagia itu jalan yang amat mudah diberikan oleh Brahma kepada kasta tinggi terutama kepada kasta Brahmana.
Hal ini selalu menjadi pertanyaan bagi orang-orang yang berpikir, terutama bagi orang-orang mencari kebenaran, apakah Brahma menilai hambanya dari segi tingkat turunannya atau dari segi perbuatan amal dan akhlaknya.

Dibawah ini kita kutipkan sebuah gambaran Tanya jawab antara penanya dengan seorang pendeta:
‘?Apabila orang dari kasta rendah itu berkelakuan baik, beramal saleh, berilmu dan berani, adakah ia beroleh kesempatan dalam hidupnya sebagai yang diberikan kepada orang-orang dari kasta tinggi?” demikian pertanyaa orang itu’

“Tidak”-jawab pendeta- “Orang yang terlahir dari kasta rendah tidalah beroleh kesempatan menikmati seperti apa yang diberikan kepada kasta yang lebih tinggi.”

“Jika demikian tidaklah ada gunanya orang berkelakuan baik” Kata orang itu.
“Tentu saja amat berguna!”- kata para rahib.
“Jika orang berlaku baik dalam hidupnya, ia akan di berkahi dalam hidupnya yang akan datang.”

“Manakah hidup yang akan datang itu?” Tanya orang itu.
“Tiap makhluk mempunyai roh;roh itu datang dari Brahma. Brahma tidak pernah mati. Ia hidup selama-lamanya. Begitu juga roh dari sesuatu yang hidup juga tidak mati.” Jawab pendeta.

“Bagaimanakah keadaan roh itu bila seseorang telah mati ?” Tanya orang itu.
“Bila seseorang mati, rohnya keluar dari tubuhnya, lalu masuk ke dalam bayi yang baru dilahirkan. Jika ia seorang yang baik dalam hidupnya dia akan terlahir kelak ke dalam kasta yang lebih tinggi. Tapi jika ia berkelakuan jahat dalam hidupnya, curang dan kejam, maka ia nanti akan terlahir ke dalam golongan kasta yang lebih rendah.
“Bagaima pulakah jika orang itu selalu jahat mulai dari hidupnya yang pertama terus sampai ke dalam hidupnya yang lain ?” Tanya orang itu.
“Dia akan tetap lahir lagi berulang kali ke dalam kasta yang rendah, bahkan ia akan penyakitan dan menderita seumur hidupnya sebagai hukuman atas kelakuannya yang tidak baik, atau ia kan terlahir sebagai binatang yang bisu. Orang yang sangat jahat mungkin juga akan lahir sebagai gajah. Mungkin juga waktu ia menjadi gajah ia masih juga jahat, maka setelah matinya nanti lahir lagi menjadi anjing. Kalau di waktu ia menjadi anjing masih juga jahat, iakan turun dan turun lagi tingkat hidupnya sampai menjadi kutu anjing ataupun nyamuk.”

Adapun roh orang yang meninggal yang lahir kembali dengan badan baru dinamakan “ “Tumimbal lahir” dalam bahasa Arab disebut “Tanasukhul arwah” dalam bahasa inggris disebut “Reincarnation.”
Bagaimanakah roh orang yang baik dapat memasuki badan kasta yang lebih tinggi dan roh orang yang tidak baik masuk ke dalam badan orang dari kasta yang rendah atau binatang?” Tanya orang itu.
“Itulah hukum hidup” kata rahib, bahwa kebaikan harus dengan kebaikan, dan kejahatan dibalas dengan kejahatan. Hukum demikian dinamai “Karma,” yang berarti “Batas perbuatan-perbuatan atau balasan perbuatan.” Jika orang berbuat baik, orang itu akan dibalasi kebaikan dalam hidupnya yang akan datang, dan jika orang berbuat jahat dia akan celaka dalam hidupnya yang kemudian.” Jawab pendeta.

“Tapi bagaimana pulakah jika orang itu selalu baik, dalam hidupnya yang pertama terus kepada
yang lain?” Tanya orang itu.
“Dia akan dikuasai kebahagiaan, umpama orang dari kasta rendah berlaku baik dalam hidupnya
ia akan terlahir nanti dalam kasta yang lebih tinggi”
“Dan jika terus-menerus baik?” Tanya orang itu pula.
“Dia akan lahir lagi ke dalam kasta yang lebih tinggi.”
“Dan jika ia masih terus baik?”
“Dia akan terus-menerus meningkat hidupnya sehingga dia menjadi rahib atau Brahmana.
“Dan apakah yang akan dialami oleh pendeta yang terus menerus baik, dimakah ia akan terlahir
kelak?”
“Akhirnya ia tidak akan lahir lagi;predaran dari hidupnya sudah tammat!”
“Tetapi apakah yang akan terjadi dengan roh yang selalu baik itu?”
“Telah kami beritahukan” – kata pendeta itu – bahwa semua roh datang dari Brahma, bukan? Nah, bila roh itu menatakan peredaran hidupnya, dia akan kembali menjadi satu dengan Brahma. Itulah yang dinamakan N i. r w a n a. Itulah kebahagiaan terbesar yang diharapkan oleh setiap roh. Karena itulah masing-masing orang seharusnya menuntut hidup yang baik tidak berbuat jahat, agar pada akhirnya semuanya menjadi satu dengan Brahma dan memasuki Nirwana.” (How great religion began)

Pemikiran tentang bahagia (Timbulnya berbagai aliran).
Sebagaimana haluan setiap agama hendak membawa manusia kepada kebahagiaan, demikian pula agama Brahma Hindu juga mempunyai tujuan yang demikian. Berbeda dengan agama Samawi, yang isi dan ajaran dan haluannya telah ditentukan oleh Tuhan yang mewahyukannya, maka dalam agama Hindu, sebagai agama Thabi’i, yang dasar haluannya biasa mengalami perobahan dan pengolahan dari penganut-penganutnya yang terkemuka, apalagi dalam menentukan jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.

Kitab Weda sebagai kitab yang tertua dalam agama Brahma menuntun jalan kebahagiaan pada pemujaan-pemujaan dewa-dewa dan daya alam guna mendapatkan keberuntungan dan kebagaiaan. Apa yang diingini di alam ini ada dewanya hadapkan kepadanya pemujaan itu agar beroleh keberuntungan.
Dengan tuntunan Weda yang dianggap demikian tingginya, orang belum mendapatkan suatu pegangan yang memuaskan tentang hidup. Dalam keadaan yang demikan muncullah kasta Brahmana menonjolkan dirinya, dengan kitab Brahmanaya, memberikan kuasa mutlak kepada kasta ini, menggariskan haluan agama. Pada masa itu, antara saji kepada dewa-dewalah yang menjadi amal tertinggi, dimana Brahmana memegang peranan penting.

Dari jaman Weda sudah ada juga suatu garis pendoman hidup dalam menuju bahagia, yang disebut; “Triwarga” yaitu :
Dharma : membayarkan kewajiban-kewajiban agama dan masyarakat.
Artha : usaha untuk mengumpulkan harta.
Kama : usaha untuk mendapatkan kesengan dan kenikmatan hidup.
Setelah melalui beberapa zaman, rakyat mengikuti ajaran Weda dan Brahma semata-mata, timbullah rasa tidak puas; karena ada beberapa persoalan hidup yang belum mendapat jawaban dari pelajaran kedua kitab itu. Memang hidup ini memikat hati dan menggembirakan, tetapi dalam hidup ini manusia selalu dilingkari siksa dan bencana, dan akhir dari kehidupan hanya derita dan putus asa, kefanaan yang memusnahkan segala, sehingga segala apa yang telah diusahakan tak akan ada gunanya lagi.

Karena merenungkan hal demikian timbullah suatu cita-cita yang lebih luhur yang mereka namai : Moksa. Cita-cita berdasar kepada kepercayaan, bahwa hidup itu akan berlangsung berulang kali. Setelah mati manusia akan hidup kembali, dan dalam hidup yang baru itu keadaan manusia bergantung kepada sifat dan perbuatannya dalam hidupnya yang telah lalu. Keadaaan ini disebut Karma. Hukum Karma ini menimbulkan Samsara, yaitu Lingkaran yang merangkaikan, hidup, mati, lahir kembali, hidup lagi, mati lagi dan seterusnya. Maka cita-cita yang luhur ialah berusaha melepaskan diri dari hukum Karma, agar menjadi sempurna dan tidak dilahirkan lagi.

Pandangan hidup tentang tentang hal moksa ini timbul dari tengah-tengah kehidupan para wahaprastha (pertapa di hutan-hutan). Banyak diantara mereka yang telah amat jauh dan mendalam ilmu kebathinannya, lalu datanglah murid-murid yang berkerumun belajar kepada mereka. Karena ingin mengetahui seluk-beluk hidup dan haluan yang sebernarnya.

Dari kehidupan pertapa dengan murid-murid merekalah timbulnya suatu kitab yang baru dalam agama Hindu, yang dinamai “Upanishad”
Upanishad Artinya “Duduk di bawah sambil menghadap,” yakni si murid menghadapkan wajahnya kepada guru untuk mendengarkan dan menerima pelajaran dan pengajarannya. Pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh para pertapa kepada murid mereka di hutan-hutan yang sunyi itu, kebanyakannya bukanlah soal sehari-hari, tetapi hal-hal yang luar biasa, mendalam pelik dan rumit, dan ajaran-ajaran itu bersifat rahasia. Sebab itulah dalam kitab Upanishad yang menukilkan ajaran-ajaran dari pertapaan itu, setiap ajarannya dimulai dengan “Iti rahsyam.” (ini rahasia).

Intisari dan isi yang terpenting dari kitab Upanishad ialah : Atmawidya, yaitu pengetahuan tentang atman yakni jiwa. Sebenarnya uraian yang dikemukakannya merupakan suatu alam pikiran atau filsafat tentang yang ada. Dan memang kitab Upanishad ini selain merupakan kitab suci bagi orang Hindu, juga suatu buku pokok dalam alam pikiran dan filsafat Hindu. Pembahasan pertama yang terpenting diuraikan ialah tentang hal alam dan segala isinya, langit dan bumi. Berbagai makhluk, manusia, binatang yang berbagai jenis, pohon-pohonan dan tumbuh-tumbuhan yang bermacam ragam dan sebagainya. Baik manusia demikian pula makhluk lainnya, yang ditemui adanya di ala mini, dimulai dari tidak ada, sesudah itu ada dan akhirnya mati, dan lenyap.

Benda-benda yang lainpun demikian juga, yang tadinya kuat dan kukuh, menjadi usang, rusak, binasa, hancur dan akhirnya lenyap pula. Maka semua yang ada di ala mini hanya untuk sementara, hanya dalam batas tempat dan waktu tertentu saja. Bila keadaan tempat dan waktu sudah beralih dan berubah, menyampaikan benda kepada ketentuannya yang akhir, maka lenyaplah segala yang ada itu. Apabila semua yang ada ini sudah lenyap dan tidak ada, maka apakah lagi yang ada, apakah lagi yang tinggal?
Tidak ada !
Tidak ada inilah hakikat dari benda yang ada, inilah yang mutlak. Jadi jelaslah bahwa kenyataan dari semua yang ada ialah “tidak ada.”

Kalau semua yang kita anggap ada itu tidak ada, apakah yang sebenarnya ada?
Yang sebenarnya ada ialah yang kekal abadi, yang tidak dipengaruhi oleh batas keadaan, tempat dan waktu. Itulah yang ada. Dan yang ada itu disebut Brahma. Bagaimanakah hubungan Brahma dengan alam atau dengan semua yang ada, yang hakekatnya tidak ada itu?
Brahma dapat dimisalkan dengan nyala api, nyala yang memercikkan api, sinar dan cahaya ke mana-mana. Percikan api itu juga, sebagaimana nyala api. Percikan kembang api itu berasal dari api itu juga yang sudah terlepas dari asalnya atau pangkalnya dan tidak kembali lagi kepada apinya. Adanyapun sebentar saja, lain dari nyala api itu sendiri.

Demikian pulalah Brahma sebagai asal dan pangkal dari alam semesta ini. Ia memercikkan sinarnya ke mana-mana. Alam semesta ini laksana perckan sinar Brahma, yang terlepas dari apinya yang sesungguhnya yaitu Brahma, dan tidak kembali ke asalnya lagi. Dan adanyapun sebentar saja.

Brahma sebagai pankal dari sekalian alam memercikkan bahagian-bahagiannya ke sekitarnya. Percikan-percikan itu di sebut “Atman”. Atman mendapat bentuk dan tempat yaitu manusia, binatang dan sebagainya, yang keadaannyapun hanya sebentar saja.

Atman itu sendiri bersifat awidya, artinya tidak tahu, maka setelah ia terlepas dari Brahma, walaupun ia telah mempunyai bentuk yang tampak, ia tidak sadar akan asalnya, dan tidak mengetahui akan kesatuannya dengan Brahma, Jiwatman (masing-masing jiwa), telah terlepas dari Paramatman (antara yang maha tinggi) yaitu Brahma.

Jiwatman yang sudah terikat kepada bentuk sementara ini, yang diperlengkapi dengan pancaindra juga sifatnya, dirasakan oleh manusia sebagai penderitaaan. Dengan alat-alat panca indra yang sementara itu, manusia menggap bahwa segala yang ada dan yang tampak ini betul-betul sada, padahal semuanya itu adalah sementara belaka yang disebut maya.

Manusia berusaha untuk menembus tabir maya itu, tabir yang timbul dari perbuatan pancindra dengan karma, yaitu perbuatan dan akibatnya. Oleh karena karma maka manusia tersesat dalam lingkaran. Manusia menciptakan moksa, lepasa dari samsara dan bebas dari hokum karma. Ia berusaha dengan berbagai jala, menjauhkan segala kedunawian, meyakinkan bahwa dunia ini hanya maya, hanya sementara, bahwa dirinya juga maya, dan bahwa hakikatnya sendiri adalah Brahma, karena bersal dari Brahma.

Sadar akan persamaan dan kesatuan alam semesta ini, sama berasal dari Brahma, dinamakan Juana. Orang yang telah dapat mencapai Juana, lebur dirinya dalam Brahma. Maka berkatalah Guru kepada muridnya :

“Tatwam asi” Artinya :.. Itu (Brahma) adalah kau sendiri.” Dan masing-masing juga dapat mengatakan :
“Aham Brahmasmi!” artinya :,, Aku adalah Brahma!.

Wedanta, Samkhya dan Yoga.
Pembahasan mengenai Tuhan dan alam yang dibawa dalam Atmawidya, telah menimbulkan berbagai aliran pemikiran dan filsafat, yang masing-masingnya mengemukkan teori dan menunjukkan cara untuk mencapai moksa. Ada beberapa aliran yang timbul dalam hal ini, tetapi yang terkemuka adalah tiga yaitu :

1. Wedanta
2. Samkhya, dan
3. Yoga
Wedanta artinya kesinambungan pelajaran (keputusan kaji). Weda berarti ilmu; anta berarti akhir atau penutup. Maksudnya ialah kesimpulan terakhir dari isi kitab Upanishad. Isi pelajarannya menanamkan keyakinan serba tuggal dan serba tuhan. Yang ada hanyalah Brahma saja, segala yang terlihat, yang terdengar, segala rupa yang ada adalah Brahma sendiri. Wahdatulwujud, kesatuan Tuhan dengan alam.

Samkhya mengemukakan bahwa yang ada hakikatnya adalah dua saja, yang dinamai : Prakrti dan Purusa. Kedua-duanya kekal abadi dan menjadi pangkal dari segala yang ada. Segala yang hidup itu badan kasarnya berasal dari precikan Prakrti dan badan halusnya (Nyawanya) dari Purusa. Oleh karena Awidya (tidak tahu) timbullah persenyawaan dan perpaduan antara Prakrti dan Purusa, mendai suatu bentuk badan yang berbuat dan bergerak dan terikat oleh karma (putaran hidup dan mati, sebab dan akibat).

Maka manusia harus berusaha melenyapkan karma, agar kedua unsur abadi itu dapat suci kembali dan terpisah sebagai bermula buat selama-lamanya (moksa). Ajaran Samkhya mengingkari atau tidak mengajarkan ketuhanan Brahma sebagai dalam ajaran yang lain-lain, sebab itu alarian Samkhya ini dipandang sebagai atheisme, tidak bertuhan, walaupun ia juga mempercayai yang gaib dalam pelajarannya.

Yoga arinya perhubungan.Yoga suatu aliran yang mengemukakan ajaran-ajaran bagaimana cara dan jalan untuk menghubungkan manusia dengan yang ada atau hakikat guna menyampaikan manusia kepada “Moksa”.Pelajaran terpenting dalam Yoga ialah latihan-latihan untuk mengekang hawa nafsu dan berbagai keinginan jasmaniyah; hidup sederhana dan teratur mengurangi makan dan tidur, menjauhkan diri dari semua kebiasaan apa yang dianggap enak dan senang, mengurangi bicara dan sebagainya.

Latihan-latihan itu ada yang berupa sikasaan-siksaan berat terhadap diri, seperti berdiri terusmenerus diterik pada matahari, dalam hujan besar, menghadapi unggun api yang besar atau menghadapi tiupan angi malam yang sangat dingin. Ada pula yang berdiri berbulan-bulan dengan sebelah kaki, menggantukan diri dengan kaki ke atas, tidur atau duduk diatas bangku yang berpaku-paku menonjol dari bawah, dan bermacam penyiksaan badan lainnya. Selain itu ada pula latihan-latihan berat mengatur nafas. Latihan-latihan berat ini maksudnya untuk mengurangi dan menekan pengaruh maya (badan kasar), atau agar jiwa menjadi suci dalam menuju moksa.

Selain latihan-latihan penekanan kepada badan yang kasar (jasmaniah) ada lagi latihan yang penting bagi pikaran dan jiwa yang melalui tiga taraf :

1. Dharma, yaitu memusatkan pikiran dan perasaan kepada suatu benda, suatu yang dituju
(yantra).
2. Dhiana, yaitu hubungan jiwa yang tidak putus-putus dengan yang satu itu, yaitu dalam
pikiran.
3. Samadhi, setelah hubungan kuat dan tak putus-putus, lalu jiwa harus lebur menjadi satu
dengan yantra, atau tujuan, yang dimaksud di sini yaitu Brahma, artinya Tuhan.
Bila telah sampai pada taraf yang demikian manusia telah mencapai suatu taraf yang lebih tinggi; lepas dari kedudukannya sebagai manusia biasa.
Amalan penyiksaan badan ini, akhirnya terdapat juga dalam berbagai alarian Agama Hindu, yang pada mulanya sebagai hasil dorongan dari Wedanta, tetapi berbagai alarianpun telah mengikutinya pula, bahakan orang-orang penganut Samkhya yang dianggap atheistis itupun memakianya, yaitu dengan menempatkan Prakrti sebagai badan kasar dan Purusa sebagai jiwa. Demikian juga menganut-penganut agama Budha sebahagiannya, walaupun tantangan Budha Gautama yang mula-mula terhadap agama Hindu tidak menyetujui penyksaan diri dalam menuju nirwana (Moksa).

“Nyanyian Yoga dalam bertapa” 1) Bhagawad Gita
Dalam nyanyian dan syair yang diucapkan oleh seorang Yoga yang sedang melakukan ibadatnya, dapat kita lihat bagaiman tujuan ibadat dan keyakinan mereka tentang Brahma (Tuhan itu) yang merka yakini wujudnya bersatu dengan alam, perhatikanlah Syair Yoga di bawah ini :
“Hatinya itu dengan Brahma
Sinarnya ada pada semua benda
Yang tampak ini hanyalah Brahma semata
Setiap yang ada itu sama semua
Ketahuilah bahwa jiwa Atman
Bersemayam pada tiap-tiap pencipta
Dan pada semua yang diciptakan
Dan semua yang ada itu adalah Atman (Tuhan).

Keterangan :

Seorang Yogi memandang saya (Atman) ada pada tiap-tiap benda, dan sesungguhnya (Brahma-Atman) bersatu dengan benda.

Trimurti dan Icwara
Dalam pembahasan yang lalu telah diterangkan mengenai ketuhanan dalam agama Hindu, yang pada mulanya hanya mengakui satu Tuhan yang dinamai Brahma, yaitu yang telah menjadikan segala yang ada, dan menjadi asal dari sekalian yang ada, bersifat abadi dan azali, tidak berawal dan tidak berakhir.

Adanya atau wujudnya tidak dapat diraba dengan pancaindra dapat dicapai dengan pikiran yang bening bersih. Karena adanya yang demikian, pada taraf pertama orang menyebut Tuhannya itu dengan “SANG HIYANG TAYA”, Sang Hiyang Tuhan : Taya tidak ada (tidak dapat dilihat dan diraba), ghaib, tetapi pasti adanya. Kalimat Hiyang sampai sekarang dalam kalangan bangsa kita masih terpakai, seperti: Sembahyang (Sembah Hiyang), menyembah Tuhan.
Dalam memandang dan merunungi alam yang terjadi, pemikiran mereka tertuju kepada sifatnya “yang menjadikan” (Brahma). Dua keadaan yang selalu ada dalam keadaan alam yang terlah terjadi itu, yaitu sejatera dan binasa ; keduanya itu timbul dari dua sifat Brahma, yaitu Wisynu dan Syiwa, yang memelihara dan membinasakan. Tetapi agama Hindu yang banyak berdasarkan khyal, kedua sifat dari Tuhan Brahma itu di khayalkan labi wujudnya, terdiri di kanan dan kiri Brahma, dan akhirnya dipatungkan. Lalu dibullah kepercayaan baru, bahwa Tuhan itu tiga yang bersatu, disebut Trimurti, yang terdiri dari Brahma, Wisynu dan Syiwa.

Ketiga Tuhan itu memgang ICWARA, yakni kekuatan tertinggi, yaitu :
- Mencipta
- Memelihara dan melangsungkan
- Membinasakan
Ketiga macam kekuasaan tertinggi itu dipegang oleh Dewa tertentu; Mencipta dipegang oleh Brahma; memelihara oleh Wisynu dan membinasakan oleh Syiwa.
Diantara ketiga dewa tertinggi itu yang mendapat pujaan luar biasa banyaknya ialah Wisynu dan Syiwa. Hal ini karena manusia dalam menghadapi keadaan bukan lagi mengutamakan ingat kepada kejadian alam, tetapi kelangsungan hidup dan keselamatannya. Akhirnya dalam pemujaan Dewa yang menjadikan, yaitu Brahma, terdesak oleh Wisynu dan Syiwa.

Waisnawara dan Caiwa
Sebahagian penganut Hindu ada yang mengutamakan pemujaan kepada Wisynu sebahagiannya lagi lebih mengutamakan pemujaan kepada Syiwa.
Pemuja Wisynu dinamai Waisnawara
Pemuja Syiwa dinamai Caiwa
Masing-masing mereka tetap dengan keyakinan trimurtinya. Tetapi golongan Waisnawara ada yang beranggapan bahwa Wisynu adalah Syiwa dalam bentuknya sebagai Dewa pembinasa.

Begitu pula sebaliknya golongan Syiwa menganggap bahwa Syiwa itulah Wisynu dalam bentuknya sebagai Dewa pemelihara.

Dalam kenyataan yang umum, di antara Trimurti itu, Syiwa ditempatkan sebagai Mahadewa atau Mahacwara, disebut juga Dewa waktu atau Mahakala. Segala yang binasa, runtuh dan tumbang di dunia ini dibawa oleh putaran waktu dan masa demikian pula apa yang timbul dan terjadi. Maka tidak jarang pula dalam melakukan pujaan kepada Syiwa disertai permohonan akan kemurahannya dengan rasa takut dan khusyu akan kehebatan dan kekuasaanya.

Selain dipandang yang Mahakuasa yang ikut berwujud dalam perpaduan Icwara sebagai Mahadewa, Mahacwara Syiwa juga dipandang sebagai Mahaguru dan Mahayogi yang menjadi pembimbing sebagai Mahaguru dan Mahayogi yang menjadi pembimbing dan pemimpin para pertapa, atau sebagai Bairawa yang gagah perkasa yang merusak menghancurkan segala yang ada.
Adapun Wisynu dalam segala keadaannya tetap dianggap sebagai pelindung yang memelihara dan melangsungkan semesta alam. Ia dikhayalkan dan digambarkan setiap saat dengan berbagai rupa dan bentuk, yang setiap saat dalam memberantas dan menghalaukan bahaya yang mengancam dunia. Untuk melaksanakan perlindungannya ia turunkan ke dunia dengan rupa menjelma yang sesuai dengan bahaya yang dihadapi.

Penjelmaan (awatara) yang dikhayalkan itu banyak sekali, tetapi disimpulkan saja dalam sepuluh rupa. Sembilan diantaranya sudah terjadi. Penjelmaan-penjelmaan Wisynu itu ialah :

1. Marsya awatara, digambarkan sebagai ikan yang menolong manu (manusia pertama),
dihindarkannya dari air bah yang mengancam dunia.
2. Karma awatara, digambarkan sebagai kura-kura, berdiri di dasar laut menjadi alas Gunung
Mandara yang dipakai oleh para Dewa-dewa untuk mengacau laut.
3. Wraha awatara, menjadi babi hutan mengangkat dunia kembali ke tempatnya, ketika dunia
ditarik ke dalam kegelapan.
4. Marasimba awatara, menjadi singa manusia ketika ia turun hendak membunuh seorang
raksasa yang sangat bengis dan sakti yang bernama Hira-akasipu ayng selalu mengancam
manusia.
5. Wamaha awatara, seorang kerdil turun ke dunia menemui Ditha Bali yang zhalim
memerintah, Wisynu meminta tanah kepadanya seluas tiga langkah. Dari tanah yang tiga
langkah ini Wisynu dapat menguasai dunia, angkasa dan sorga. Wisynu naik menjadi dewa
matahari.
6. Pracurana awatara, menjadi pahlawan Rama yang membawa kampak. Ingat dalam cerita
Ramayana.
7. Rama awatara, yang memerangi Rawana dalam kisah Ramayana.
8. Krena awatara, menjelma menjadi Kresna yang membantu para Pandawa dalam menuntut
keadilan dari para Kurawa.
9. Budha awatara, menjelma menjadi Budha yang menyiarkan agama-agama palsu yang
melemahkan para Dewa.
10. Kalki awatara, Wisynu akan dating menunggang kuda putih dan pedang terhunus pada akhir
zaman ketika dunia terancam oleh kemusnahan, kejahatan dan kekejaman, Wisynu akan
mengembalikannya kepada keadilan dan kesejahteraan.

Kitab Purana
Kitab purana ialah kitab suci yang dijunjung tinggi oleh golongan Waisnawara dan Ciwa. Berisi cerita kuno yang dikumpulkan dari dongeng-dongeng yang hidup dalam kalangan rakyat.

Selain itu dalam Purana ada juga dijelaskan kedudukan Dewa Brahma, bahwa Dewa-dewa Brahma benar-benar Dewa pencipta yang menjadikan, dia juga yang menjadikan dirinya sendiri, Swayambehu atau terjadi sendiri, dan daripada dirinya sendiri pula seluruh ala mini dijadikannya.

Cakta (kesaktian) dan kitab Tantra
Pemikiran dan filsafat ketuhanan dalam sebahagian penganut Hindu pada pokoknya mengakui bahwa Dewa-dewa itu sebagai Tuhan yang bersifat kekal dan abadi, akan tetapi sesuatu yang bersifat kekal dan abadi, tidak berawal dan tak berakhir, tidak akam mungkin menjadikan sesuatu, tidak akan berbuat apa-apa.

Maka jika dianggap bukan mreka yang menjadikan ala mini, sipakah yang sebenarnya menjadikan. Yang menjadikan alam bukanlah diri mereka sendiri, tetapi tenaga gaib yang meliputi diri dewa itu. Tenaga gaib dinamai sakti. Sakti inilah yang berbuat dan menjadikan. Suatu dewa barulah dianggap lengkap kekuasaanya jika didampingi oleh sakti (kesaktiannya) itu. Sebagaimana keadaan manusia dapat melangsungkan turunan hidupnya jika terdiri dari suami istri, maka dalam menjadikan alam dan melangsungkan adanya, dewapun harus terdiri dari rangkapan, yaitu jika ia didampingi oleh isterinya.

Oleh karena itu dikhayalkanlah oleh mereka, bahwa dewa Brahma mempunyai isteri yang bernama Saraswati (Dewi kecantikan, dewa ilmu pengetahuan dan kesenian), Istri Wisynu bernana Laksmi atau Sri (Dewi kebahagian), Pratiwi isteri Syiwa bernama Uma atau Prawati, di mana sifat dan kekuatan masing-masing dewi itu diselaraskan dengan keadaan suami mereka; demikianpun isteri Syiwa yang bernama Uma (Pratiwi) itu dinamai juga Durga sebagai isteri Syiwa yang Maha Kuasa.

Di tengah-tengah aliran Catwa akhirnya timbullah suatu aliran yang mencari jalan yang sesingkat-singkatnya mencari moksa, yaitu mengalihkan pemujaan kepada Cakti Syiwa semata-mata, yaitu kepada Dewa Durga. Golongan ini dinamai Cakta. Kitab suci yang khusus dalam aliran Cakta ini ialah Tantra, atau dinamai juga agama. Dalam kitab Tantra ini dijelaskan hal-hal mengengai peninjauan, mantra-mantra, jampi-jampi sihir dan sebagainya. Latihan-latihan dalam cara yang lebih pendek meniadakan dirinya, lebur bersatu dengan Tuhan.

Terkadang-kadang hal-hal yang terlarang dalam agama Hindu lainnya, merupakan upara suci bagi mereka. Seperti lima macam yang terlarang, yaitu : daging, ikan, arak, persetubuhan (perzinaan) dan sihir. Golongan cakta atau penganut Tantra ini, biasa juga dinamai Tantrayana.

Binatang yang dihormati dan berbagai upacara.
Umummnya penganut Hindu/Brahma menggap suci binatang lembu dan mengharamkan memakannya; mereka beranggapan bahwa roh-roh suci menempati tubuh binatang itu. Karena itulah pada masa-masa yang lalu sering terjadi persengketaan antara penganut Hindu dan Islam di India yaitu pada waktu orang-orang Islam biasa melakukan qurban, di bulan Dzulhijjah.

Selain daripada lembu ada juga binatang lain yang mereka anggap suci, yaitu ular-ular besar, buaya dan beruk (monyet). Mereka juga mensucikan sungai Gangga. Mandi menyelam di sungai Gangga dapat mensucikan diri daripada dosa, sebab itu setipa tahun pada waktu yang tertentu berjuta-juta penganut Hindu/Brahma dari seluruh penjuru tanah India dating berkumpul ke tepi sungai Gangga di Benares, untuk melakukan mandi dan beribadat di sana.

Mayat orang beragama Hindu bukan dikubur, tetapi dibakar; kebiasaannya debunya ditaburkan ke dalam sungai Gangga.

Seorang perempuan yang kematian suami, menurut aturan Hindu, juga wajib dibakar bersama-sama dengan suaminya waluapun si isteri masih hidup; hal ini dilakukan – kata mereka sebagai bukti tanda dari cinta sehidup-semati. Adat yang seperti ini dinamai Shatee (sati). Akan tetapi hal ini tidak berlaku dalam keadaan sebaliknya yaiut jika si insteri yang meninggal lebih dahulu, suaminya tidak akan dibakar bersama dia. Jika ditanyakan kepada mereka, apa sebabnya suaminya tidak ikut dibakar bersama insterinya? Mereka menjawab : “Laki-laki dibutuhkan untuk membela keluarnya”,

Adat shatee yang kurang baiknya ini telah mulai dilarang oleh kerjaan-kerajaan Islam yang dahulu berkuasa di India, kemudian Pemerintah Inggris melanjutkan larangan itu sampai ke akhir masa pemerintahan Inggris di India. Mengenai upacara ibadat, walaupun di atas telah kita sebutkan juga sedikit, baik juga di sini ditambahkan hal-hal lainnya. Dalam upacara sembahyang dipakai api dengan asap menyan dan dupa setanggi yang mengepul dalam parupuyan; dipergunakan juga arca-arca sebagai pelambang dari dewa-dewa yang disembah itu.

Parupuyan (wadah api berisi menyan itu) diletakkan di depan arca, sedang yang melakukan upacara itu berjongkok dan berlutut di depan arca, dengan menyusun sepuluh jari, menyembah dan mengucapkan kata du’a, yang kebiasaannya diambil dari ayat-ayat Rigweda. Selain itu, dalam upacara yang agak tinggi, penyembahan harus disertai dengan sajian yang dipersembahkan kepada Dewa-dewa.

Pertapaan adalah suatu ibadah tertinggi. Tapa menyisihkan diri di hutan sunyi, sambil melakukan sembahyang dan puasa, selain merupakan ibadat, juga dipergunakan mencari hikmat dan kekuatan gaib.
Puasa dalam agama Hindu termasuk ibadat tinggi; selama berpuasa tidak makan dan tidak minum siang dan malam, lamanya terkadang sampai empatpuluh hari, yang selama itu hanya minum sedikit air. Melaparkan diri dalam masa yang lama itu, dalam rangka penyiksaan diri, mendekatkan jiwa (atman) ke alam Nirwana. Bahkan ada juga yang melakukan ibadat puasanya tidak makan dan minum terus menerus sampai mati; katanya itulah ibadat yang paling tinggi seperti yang masyhur dalam sejarah bahwa raja Sreyama dan permaisurinya Tresala (Ayahhanda dan ibunda Mahawira) meninggal dengan kematian suci yaitu dalam melakukan puasa terus-menerus.

Tentang ibadat haji dalam agam Hindu, seperti yang telah kita sebutkan diatas, yaitu berkumpul untuk mandi menghapus dosa di sungai Gangga di kota Benares.
Di dalam agama Hindu terdapat juga berbagai ucapan-ucapan jampe (Dzikir dan tasbih) seperti juga yang terdapat dalam agama-agama lain. Yaitu kalimat suci dan tinggi dalam memuji dewa-dewa. Dalam mengucapkan kata-kata itu biasa juga dihitung sampai seratus, dengan mempergunakan untaian aksamala.

Aksamala yang terpakai dalam agama Hindu itu, akhirnya telah dipakai pula oleh penganut-penganut agama lain, seperti sebahagian dari umat Islam, yang namanya sudah di robah dengan “untaian tasbih”.
Sebagaimana di pelajari sunnah yang asli dari Nabi Muhammad, untuk menghitung jumlahnya dalam dalam tasbih, kita hanya disuruh dengan jari kita, dan bukan dengan butiran kayu (aksamala). Dalam hal ini ummat Islam terpengaruh oleh penganut Hindu. Bagaimana untaian aksamala ini menjadi alat upacara ibadat yang penting dalam agama Hindu, kita lihat pada patung Brahma yang mempunyai empat tangan itu, sebuah tangannya memegang tasbih (aksamala).

HUKUM SEORANG SUAMI MENGATAKAN ISTERI PELACUR ADALAH BERDOSA

Mengatakan istri sebagai pelacur,maka ucapan itu adalah dosa besar yakni ada dua dosa besar.

Yang pertama pada Allah, maka hendaknya pelaku beristighfar dan bersungguh sungguh dalam usahanya menghindari hal serupa.

Yang kedua adalah dosa pada istrinya, ia mesti meminta maaf pada istrinya dan bersungguh sungguh untuk tak mengulanginya lagi,

Namun, saudariku itu adalah jika sekedar mengumpat. Berbeda dengan menuduh, kalau menuduh maka hukumnya berat, terkena hukum Qadzaf dan Li’an, yaitu adalah suami atau istri yang menuduh suaminya atau istrinya berzina tanpa 4 orang saksi yang (maaf) menyaksikan berpadunya dua alat kelamin (bukan pria dan wanita masuk kamar lalu tidur seranjang, itu tak cukup bukti, tapi 4 orang saksi yang melihat perzinahan dengan matanya) jikapun ada 4 saksi atau lebih yang melihat perbuatan zina itu, tapi diantara mereka tak ada 4 orang yang mau bersaksi, maka yang 3 saksi akan terkena hukum qadzaf, yaitu dicambuk 80x karena divonis menuduh zina tanpa cukup bukti.

Jika tak ada saksi, khusus untuk istri/suami yang menuduh suami/istrinya berzina dan yang dituduh tak terima/tidak mengaku, atau yang menuduh mempermasalahkan, maka keduanya dihadirkan di sidang pengadilan syariah, keduanya bersumpah 5X.

Suami bersumpah dengan Nama Allah bahwa ia betul bahwa istrinya berzina, ia ulangi lagi sumpahnya yang sama, demikian sampai 4X sumpah dengan nama Allah bahwa istrinya berzina, lalu ia bersumpah lagi yang kelima Dengan Nama Allah, agar laknat Allah turun padanya jika ia dusta. demikian 5x sumpah.

Lalu istrinya (tertuduh) jika tak merasa melakukan, atau menolak tuduhan itu, ia mesti bersumpah pula 4X Dengan Nama Allah bahwa ia tidak berzina dan tuduhan itu dusta, dan sumpah lagi yang kelima dengan Nama Allah agar Laknat Allah turun padanya jika ia berdusta. (QS Annur 6-10).

Jika keduanya sampai melakukan sumpah itu maka hakim menjatuhkan Talaq 3 (cerai) dan tak akan bisa kembali lagi sebagai suami istri selama lamanya.

Ini talaq yang paling berat, sebab talaq 1 tentunya bisa rujuk kembali, demikian talak 2, bisa rujuk dan kembali, namun talaq 3 maka cerai tanpa bisa kembali kecuali kalau istri sudah menikah dengan orang lain hingga bersetubuh dengan suaminya yang baru, lalu mungkin kalau sampai bercerai, maka baru bisa menikah kembali dengan suaminya yang pertama. Namun, talak yang disertai sumpah di atas itu, tak bisa kembali selama lamanya.

Mungkin ucapan suami itu hanya umpatan, bukan tuduhan. Jika tuduhan maka berat masalahnya, kita tak punya pengadilan syariah di negeri ini, maka menjadi dosa yang sangat besar dan berat menuduh tanpa bukti.

Jika bukan tuduhan namun umpatan, maka ia beristighfar pada Allah dan bersungguh sungguh berusaha tak mengulangi ucapannya, dan meminta maaaf dan ridho dari istrinya dan bersungguh sungguh berusaha tak mengulangi perbuatannya.



PELACURAN

Pekerja Seks Komersial (PSK) atau yang biasa dikenal dengan prostitusi(Pelacuran) bukanlah masalah baru akan tetapi merupakan masalah lama yangbaru diangkat. Di lihat dari perkembangan peradaban manusia, hampir semuaNegara memiliki permasalahan di bidang prostitusi. Belum ada sebuah Negarayang meniadakan praktek prostitusi selain hanya menertibkannya. Tidak jarangpraktek prostitusi ini ditentang oleh kaum agamawan termasuk masyarakatsendiri. Harus dilihat bahwa praktek prostitusi merupakan realitas sosial yangtidak dapat dipungkiri lagi. praktek prostitusi tersebut itu sendir bertentangandengan moral, susila dan agama yang setiap saat dapat merusak keutuhankeluarga.
Istilah pelacuran berasal dari bahasa latin pro-situere yang berartimembiarkan diri berbuat zinah, melakukan persundalan, pencabulan. Sedangkan prostitue dikenal pula dengan istilah wanita tuna susila (WTS). Pelacuran merupakan profesi yang sangat tua usianya dan sering dikatakan setua umur kehidupan itu sendiri. Pelacuran ini selalu ada pada semua negara berbudaya sejak zaman purba sampai sekarang dan senantiasa menjadi masalah sosial, menjadiobjek urusan hukum dan tradisi. Selanjutnya, dengan berkembangnya teknologi,industri dan kebudayaan manusia, turut berkembang pula praktek pelacurandalam berbagai bentuk dan tingkatannya.
Para pelacur atau WTS yang menjadikan pelacuran sebagai lapangan kerjatersebut dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu mereka yang melakukanprofesinya dengan sadar dan sukarela berdasarkan motivasi tertentu, atau merekayang melakukannya karena ditawan atau dijebak oleh germo.
Di tengah-tengan terjadinya reaksi terhadap praktek prostitusi ternyatatidak membuat kegiatan prostitusi berkurang tetapi justru cenderung bertambahkuantitasnya. Hal ini terjadi karena disamping factor akulturasi budaya ada jugafactor lain seperti ekonomi maupun karena kondisi tertentu seperti, pengaruhlingkungan dan lain sebagainya.
praktek prostitusi ini merupakan perbuatan yang merusak moraldan mental yang dapat menghancurkan pula keutuhan keluarga, namun dalamhukum positif sendiri tidak melarang pelaku praktek prostitusi tetapi hanyamelarang bagi siapa yang menyediakan tempat atau memudahkan terjadinya praktek prostitusi. Hal ini diatur dalam pasal 296 KUHP yang bunyinya adalahsebagai berikut : “ Barang siapa dengan sengaja menyebabkan ataumemudahkan perbuatan cabul oleh orang lain, dan menjadikannya sebagaipencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satutahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah”.
Di lihat dari ketentuan tersebut di atas, maka perlu adanya sebuah peraturan yang mengatur secara menyeluruh baik terhadap mucikari (germo)maupun pelaku praktek prostitusi itu sendiri karena ada sebagian prostitusi yangtidak melalui mucikari tetapi melakukan praktek prostitusi.
Pemerintah harus berperan secara maksimal sehingga diharapkan praktek prostitusi dapat berkurang melalui kegiatan pembinaan atas kerja samainterdepartemental. Masyarakat pun harus mengambil peran yang maksimal untuk mendukung peran pemerintah khususnya dalam upaya mengurangi praktek prostitusi. Aparat penegak hukum juga harus bertindak secara tegas dalammenjalankan aturan tentang larangan praktek prostitusi.
Pelacuran merupakan masalah yang tidak hanya melibatkan pelacurnyasaja, tetapi lebih dari itu yaitu merupakan suatu kegiatan yang melibatkan banyak orang seperti germo, para calo, serta konsumen-konsumen yang sebagian besar pelakunya merupakan laki-laki yang sering luput dari perhatian aparat penegak hukum.
Di Indonesia pemerintah tidak secara tegas melarang adanya praktek-praktek pelacuran. Ketidak tegasan sikap pemerintah ini dapat dilihat pada Pasal296, yang bunyinya adalah sebagai berikut : “ Barang siapa dengan sengajamenyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain, danmenjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidanapenjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah”.
Dan pasal 506 yang berbunyi “barangsiapa menarik keuntungan dariperbuatan cabul seorang wanita dan menjadikannya sebagai pelacur, diancamdengan pidana kurungan paling lama satu tahun” Kitab Undang-Undang HukumPidana (KUHP).
Yang dilarang dalam KUHP adalah mengeksploitir seksualitas orang lainbaik sebagai “pencaharian ataupun kebiasaan” (pasal 296 KUHP) atau ‘menarik keuntungan’ dari pelayanan seks (komersial) seorang perempuan dengan praktek germo (pasal 506 KUHP). Pasal-pasal tersebut dalam KUHP hanya melarangmereka yang membantu dan menyediakan pelayanan seks secara illegal, artinyalarangan hanya diberikan untuk mucikari atau germo, sedangkan pelacurnyasendiri sama sekali tidak ada pasal yang mengaturnya. Kegiatan seperti itupuntidak dikelompokkan sebagai tindakan kriminal.
Meskipun demikian hukum pidana tetap merupakan dasar dari peraturan-peraturan dalam industri seks di Indonesia. Karena larangan pemberikanpelayanan seksual khususnya terhadap praktek-praktek pelacuran tidak ada dalamhukum negara, maka peraturan dalam industri seks ini cenderung didasarkan padaperaturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah daerah, baik pada tingkatpropinsi, kabupaten dan kecamatan, dengan mempertimbangkan reaksi, aksi dantekanan berbagai organisasi masyarakat yang bersifat mendukung dan menentangpelacuran tersebut.

Faktor-faktor penyebab timbul dan berkembangnya prostitusi(pelacuran).

HAL itu banyak disebabkan Perkembangan teknologi merupakan tuntutan zaman, tuntutan kehidupanmanusia dalam memnuhi kebutuhannya. Dengan perkembangan teknologi pulamenjadikan kota (terutama di negara-negara sedang berkembang) dibangunsedemikian, sehingga terjadi perbedaan yang sangat mencolok bila dibandingkandengan kondisi di perdesaan. Semua itu merupakan magnit urbanisasi yang sangat kuat.
Urbanisasi (secara demografi, dalam arti perpindahan penduduk dari desake kota) mereka lakukan dengan maksud untuk mempertahankan hidup danmempercepat proses pengembangan kehidupan. Melalui media televisi, terlihatgebyarnya perkotaan, betapa mudahnya orang mendapatkan kemewahan diperkotaan (terutama kota-kota besar). Semua itu menjadikan kecemburuan bagiwaga perdesaan. Terjadilah perpindahan penduduk dari desa ke kota-kota besar,dengan satu tujuan yakni mencari pekerjaan demi uang.
Dari berbagai pengamatan dan penelitian terdahulu dapat diketahui bahwasebagai akibat urbanisasi yang tanpa diikuti urbanisasi secara sosial (perubahanpola pikir dan peri laku urbanisan) antara lain adanya beberapa dampak negatif dalam aspek fisik lingkungan, aspek ekonomi, maupun aspek sosial dan hukum,yang salah satunya adalah timbulnya prostitusi (pelacuran).
Dengan modal pengetahuan dan keterampilan yang seadanya, tanpamengetahui perbedaan yang sangat kontras antara perdesaan di kota-kota kecildengan perkotaan merupakan kendala utama dalam memperoleh pekerjaan yangdiimpikan sebelumnya. Keadaan terpaksa oleh kegagalan demi kegagalan untuk mendapatkan pekerjaan legal, keengganan untuk kembali ke desa, ditunjangdengan tipuan dan rayuan para lelaki hidung belang merupakan langkah awalmenuju dunia prostitusi.
Dengan menerapkan teori Swab, maka faktor-faktor yang menyebabkantimbul dan berkembangnya prostitusi antara lain.
  • Kondisi kependudukan, yang antara lain: jumlah penduduk yang besar dengan komposisi penduduk wanita lebih banyak dari pada penduduk laki-laki.
  • Perkembangan teknologi, yang antara lain: teknologi industri kosmetik termasuk operasi plastik, alat-alat dan/atau obat pencegah kehamilan;teknologi dalam telekomunikasi dan transportasi. Dalam hal ini yangjelas adalah penyalahgunaan terhadap produk-produk perkembanganteknologi di bidang industri
  • Lemahnya penerapan, dan ringannya sanksi hukum positif yangditerapkan terhadap pelanggaran hukum. Pelanggaran hukum tersebutdapat dilakukan oleh pelaku (subyek) prostitusi, mucikari, pengelolahotel/penginapan, dan lain-lain. Mahalnya biaya (resmi) pernikahan,sulitnuya prosedur perceraian juga merupakan faktor pengembanganpraktek prostitusi secara kuantitas
  • Kondisi lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungann alam(fisik) yang menunjang. Kurangnya kontrol di lingkungan permukimanoleh masyarakat sekitar, serta lingkungan alam seperti: jalur-jalur jalan,taman-taman kota, atau tempat-tempat lain yang sepi dan kekuranganfasilitas penerangan di malam hari, sangat menunjang untuk terjadinyapraktek prostitusi.

HUKUM BERSETUBUH BULAN PUASA

Dari Abu Hurairah, Beliau berkata : Tatkala kami duduk disisi Nabi tiba-tiba datang kepadanya seorang laki-laki, dan dia berkata “Wahai Rasulullah binasa aku”, maka Beliau bertanya “kenapa engkau ?”, orang itu menjawab “Aku telah menyetubuhi istriku, padahal aku berpuasa”, dalam sebuah riwayah “Aku menyetubuhi keluargaku di bulan Ramadhan”, maka Rasulullah bersabda “Apakah engkau mendapatkan seeorang budak yang engkau bisa membebaskannya ?”, maka orang ini menjawab “Tidak ada”, Rasulullah bersabda “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan secara berturut-turut?”, maka orang ini menjawab “Tidak”, Rasulullan bersabda “Apakah engkau mendapatkan pemberian makan kepada 60 orang miskin ?”, maka orang ini menjawab “Tidak”. Berkata Abu Hurairah “maka Nabi terdiam”, maka tatkala kami dalam keadaan yang demikian itu tiba-tiba didatangkan kepada Nabi dengan sebuah kantong (kantong yang terbuat dari pelepah kurma seukuran masuk didalamnya 15 sha’ dari sesuatu) yang padanya terdapat kurma. Kemudia Nabi bertanya “Mana orang yang bertanya tadi ?”, maka orang ini menjawab “Aku”, maka Nabi berkata “Ambillah ini lalu bersedekahlah dengannya”, orang ini berkata “Apakah atas orang yang lebih faqir daripadaku wahai Rasulullah ?, maka demi Allah tidak ada diantara dua kampungnya sebuah keluarga yang lebih faqir daripada keluargaku”, maka Nabi tertawa sampai terlihat gigi saingnya, kemudian Beliau bersabda “Berikanlah dia kepada keluargamu”
- Hukum seorang yang bersetubuh dengan sengaja disiang hari bulan Ramadhan. Pendapat yang kuat adalah bahwa puasanya batal dan wajib membayar kaffarah dan tidak ada qadha’ padanya.
- Kaffarah orang yang bersetubuh dengan sengaja di siang bulan Ramadhan adalah seperti yang terdapat didalam hadits, yaitu : yang pertama dia membebaskan budak, atau yang kedua berpuasa berturut-turut yang tidak terputus, atau yang ketiga memberi makan 60 orang miskin. Pendapat tentang apakah kaffarah tersebut bisa dipilih atau harus melalui urutannya (maksudnya, harus mulai dengan jenis kaffarah pertama, jika tidak mampu maka jenis kaffarh yang kedua, jika tetap tidak mampu maka jenis kaffarah yang ketiga) maka pendapat yang kuat adalah dia harus melalui urutannya, misalnya jika dia mampu membebaskan budak maka tidak sah kaffarahnya jika dia berpuasa dua bulan berturut-turut, begitu juga jika hanya mampu dengan puasa dua bulan berturut maka tidak sah kaffarahnya jika dia membayar kaffarah dengan memberi makan 60 orang miskin.
- Hukum seorang bersetubuh dengan istrinya disiang bulan Ramadhan tetapi tidak pada kemaluannya. Pendapat yang kuat adalah bahwa orang yang melakukannya walaupun keluar mani maka puasanya sah dan tidak batal. Apakah atas orang yang demikian ini membayar kaffarah ?, maka pendapat yang kuat bahwa tidak ada kaffarah atasnya akan tetapi nilai puasanya kurang karena dia tidak meninggalkan syahwatnya (seperti dalam hadits).
- Hukum bagi wanita yang disetubuhi, apakah baginya kaffarah. Pendapat yang kuat adalah tidak wajib membayar kaffarah

BENDERA MALAYSIA DI NAIKAN DI SELATAN THAILAND

Selatan Thailand "Masyarakat Melayu Patani" Kibarkan Bendera Malaysia

 Kepolisian di Thailand melaporkan, masyarakat Melayu di wilayah selatan Thailand membakar bendera Thailand dan mengibarkan bendera Malaysia. Peristiwa ini dilakukan di saat negeri jiran Malaysia merayakan hari kemerdekaan yang ke-55.

Pengibaran bendera Malaysia di Provinsi Yala, Thailand, dilakukan pada saat Malaysia membebaskan diri dari pendudukan Inggris. 


Meski demikian, Pemerintah Thailand masih bertanya-tanya, mengapa
masyarakat Melayu di wilayah selatan mengibarkan bendera Malaysia.

Pengamat pun mengatakan bahwa,
masyarakat Melayu di wilayah selatan
itu ingin memisahkan diri namun tidak ingin bergabung dengan Malaysia.

Bersamaan dengan itu, aparat kepolisian Thailand, Kolonel Narin Busaman, melaporkan, puluhan serangan bom terjadi di sejumlah provinsi Thailand.

Menurut polis, alat seperti bom ditemui di sekurang-kurangnya 102 tempat di Narathiwat Yala, dan Pattani. Kebanyakan alat itu adalah palsu, tetapi hampir 12 unit daripadanya meletup dan mencederakan enam pasukan tentera kerajaan Thailand.

Bendera tersebut dipasang di sepanjang jalan, tiang elektrik, pokok dan laluan pejalan kaki di wilayah Yala, Pattani, Narathiwat dan Songkhla.

Penyelidik kanan Pemantau Hak Asasi Manusia yang berpangkalan di New York, Sunai Phasuk mengakui bahwa motif pengibarkan bendera Malaysia masih misteri, yang  terakhir bendera Malaysia dikibarkan pada tahun 2009 ketika lawatan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razak ke selatan Thailand.

Operasi ini bersifat simbolik, katanya.

Wilayah selatan Thailand memang dikenal sebagai wilayah yang cukup rawan. Sejak 2004, Angkatan Darat Thailand telah menempatkan 60 ribu pasukannya di wilayah tersebut, untuk mengatasi perlawanan pemberontak. Sejak itu, seramai 5,206 terbunuh dan 9,137 lagi cedera dalam banyak siri serangan.

Thailand Selatan merupakan wilayah yang dihuni oleh banyak warga  Melayu Muslim. Bahasa yang digunakan warga di Thailand selatan juga berbeda dengan warga Thailand lainnya. Thailand mencaplok tiga provinsi di selatan yakni Narathiwat, Yala dan Pattani pada 1909.

baca lanjut:
,








BENDERA MALAYSIA DI NAIKAN DI SELATAN THAILAND

Bendera Malaysia dinaikkan di selatan Thai

SEKUMPULAN anggota polis memeriksa kawasan sekeliling sebuah hentian bas yang dipasang dengan bendera Malaysia di wilayah Narathiwat, semalam. - AFP


PATTANI, Thailand - Kumpulan pemberontak disyaki membakar beberapa helai bendera Thailand dan menaikkan bendera Malaysia di sini dalam satu operasi pengeboman terancang yang amat jarang berlaku di kawasan selatan negara ini semalam.
Menurut polis, alat seperti bom ditemui di sekurang-kurangnya 60 lokasi di Narathiwat dan Pattani, wilayah yang majoritinya terdiri daripada penganut Islam. Kebanyakan alat itu adalah palsu, tetapi hampir 12 unit daripadanya meletup dan mencederakan enam orang tentera.
Pegawai Operasi Keselamatan Dalaman Selatan, Pramote Prom-in memberitahu tindakan memasang bendera Malaysia dengan bahan letupan itu bertujuan menunjukkan penentangan terhadap kerajaan Thailand dan mencipta ketegangan dengan Malaysia.
Beliau meminta supaya kerajaan bertindak tegas sambil menyatakan serangan tersebut tidak memberi kesan terhadap hubungan di antara Bangkok dan Kuala Lumpur.
Masih tidak jelas kenapa bendera Malaysia dinaikkan oleh kumpulan pemberontak itu. Bendera tersebut dipasang di sepanjang jalan, tiang elektrik, pokok dan laluan pejalan kaki di wilayah Yala, Pattani, Narathiwat dan Songkhla.
Para penganalisis menyatakan militan mahukan sebuah negara yang merdeka, tetapi tidak pernah menunjukkan minat mahu menjadi sebahagian daripada Malaysia.
Penyelidik kanan Pemantau Hak Asasi Manusia yang berpangkalan di New York, Sunai Phasuk mengakui bahawa motif pemberontak menaikkan bendera Malaysia masih misteri.
Kumpulan pemisah dikatakan mula muncul sejak Januari 2004. Sejak itu, seramai 5,206 terbunuh dan 9,137 lagi cedera dalam banyak siri serangan. - Agensi

SEJARAH KERAJAAN PATANI

Patani merupakan sebuah negeri Melayu yang merdeka dan berdaulat. Majoriti penduduknya adalah Melayu, beragama Islam dan mengamalkan adat resam Melayu. Pada tahun 1785, Patani telah ditakluki oleh kerajaan Siam. Pada tahun 1902, pemerintahan beraja Melayu Patani telah dihapuskan oleh kerajaan Siam dan digantikan dengan sistem Thesaphiban. Tengku Abdullah Kadir Kamaruddin merupakan Raja Melayu Patani yang terakhir. Baginda telah dipenjarakan kerana menghalang usaha kerajaan Siam untuk menghapuskan sistem pemerintahan beraja Melayu-Islam.

Perjanjian Bangkok 1902 telah mengiktiraf Negeri-Negeri Melayu Utara sebagai naungan Siam. Penjajah British telah mengishtiharkan Negeri-Negeri Melayu Utara sebagai ‘The Siamese Malay State’.


Kerajaan Siam telah memperkenalkan beberapa polisi iaitu :

1. Divide and Rule also known as Divide and Conquer (pecah perintah).

Dasar ini adalah kombinasi strategi politik, ketenteraan dan ekonomi untuk mendapatkan kekuasaan yang padu ke atas mereka yang kurang berkuasa dan menghalang kumpulan itu untuk menjadi berkuasa kerana struktur sistem yang sukar untuk digugat.

2. Asimilasi.

Dasar ini menyebabkan kebudayaan asli masyarakat Melayu hilang dan mencetuskan perubahan sosio masyarakat Melayu Patani. Contohnya bahasa Melayu telah diharamkan penggunaannya dan usaha untuk mengamalkannya telah dilarang secara keras. Kesannya generasi muda secara puratanya tidak tahu lagi untuk bertutur bahasa Melayu.

3. Transmigrasi.

Kerajaan Siam telah membawa masuk orang Siam yang beragama Buddha untuk membuka perkampungan baru di Patani.

4. Rathaniyom.

Dasar ini telah menukar identiti daripada masyarakat berbangsa Melayu kepada Siam.

Perjanjian Bangkok 1909 telah termeterai. Kerajaan Melayu Pattani yang meliputi wilayah Yala dan Narathiwat di Thailand disahkan sebagai jajahan Siam. Padahal kerajaan Melayu Patani tidak diajak berunding dalam perjanjian itu.

SEJARAH PATTANI

Sejarah Patani telah melangkaui beratus-ratus tahun.Sebelum itu bumi ini juga di kenali sebagai langkasuka.Sejak dulu-dulu lagi negara Patani tidak henti-henti berperang dengan Siam.Raja-raja Patani dulu berbeza dengan pemimpin-peminpin moden.Mereka sendiri mengempalai peperangan. Ini termasuk raja perempuan yang terkenal yaitu Raja Hijau , Raja Biru,Raja Unggu dan Raja Kuning.
        Diantara mereka lah Patani dapat beberapa kali bertahan dari serangan Siam.Patani teramat mashur dan maju di masa pemerentahan Raja Hijau.Negara Patani tersohor keseluruh dunia.
        Dizaman moden Sultan Abdul Kadir adalah menjadi raja terakhir bagi negara Patani. Beliau berjuang bersungguh mempertahan dan cuba mengembalikan kedaulatan Patani tetapi gagal dan akhirnya beliau meninggal di Kelantan.Selepas itu Patani bangkit dengan cara pergerakan yang berlainan. Pada awal 40 han kebangkitan  di pimpin oleh Haji Sulong dan Tengku Mahmood Muhyidin.
        Di zaman itu pergerakan mereka berlindung disebalik tuntutan 7 perkara bagi dalam negeri.Dan Tuntutan untuk bersama Malaya diluar negara.
        Kedua-dua pemimpin ini telah di bunuh. Haji Sulong dibunuh dengan kejam  oleh Siam.Mayatnya dibuang ka-laut tanpa di ketahui mana kuburnya.Tengku Mahmud pula telah di racuni oleh Inggeris dan di tanam di Kelantan . Pembunuhan mereka berdua adalah konspirasi diantara Siam dan Inggeris.
        Selepas itu gerakan kemerdekaan digerak oleh anak-anak muda Yang di pimpin secara sulit oleh Pak Bung. Pemuda-pemuda saperti Haji Amin,Ustaz Karim, Haji Yusuf ,Haji Harun ,Tengku Jala telah bersama menubuh partai Barisan Revolusi Nasional pada tahun 1960. Kemudian Tengku Jala menubuh kan Partai Barisan Nasional Pembebasan Patani 1972(sekarang berubah kapada Barisan Islam Pembebasan Patani). Tengku Biro atau Kabir Abdul Rahman pula telah menubuh partai Patani United Liberation Organisation 1968.(Pertubuhan Pembebasan Patani Bersatu.)
         Mereka -mereka inilah yang menggerakkan perjuangan rakyat Patani sehingga sekarang disambut oleh generasi muda yang telah melakukan beberapa reformasi dari segi strateji dan taktik.Kesemua asas perjuangan yang di letak oleh bapa-bapa perjuangan bermatlamatkan kemerdekaan tanpa tolak ansur.Jika ada pemimpin baru yang cuba mengubah matlamat dan strateji perjuangan ini seolah-olah cuba mengkhianati aspirasi bapa-bapa kita dahulu.Kalau pejuang-pejuang dahulu tidak letih menunggu begitu lama, takkan lah golongan muda yang baru mengambil alih kepimpinan partai terus mahu berdamai dengan penjajah dan menerima segala cadangan yang di pelopori oleh kuasa barat dan Malaysia.
                                    
Ustaz Abdul Karim bin Haji Hassan       Haji Amin Tohmina bin Assyahid Hj Sulong                                        \
           Ustaz Abdul Karim dan Haji Amin Tohmina antara pengasas BRN. Apabila berlaku perpecahan dalam BRN mereka masing-masing telah memimpin BRN Ulama dan BRN Coordinate .Dari situ Ustaz Karim telah bergabung dengan beberapa tokoh lain menubuh sebuah partai bernama  Gerakan Hizbollah Patani. Parti ini tidak pernah di ishtihar kan di atas sebab-sebab tertentu. Beliau juga antara pemimpin yang menubuh satu badan Kerjasama parti-parti yang di namakan PRC (Patani Research and Coordinating Centre)bersama, almarhum Haji Amin,Baba Abdul Rahman Pomeng, dan beberapa orang tokoh yang masih hidup. Badan inilah yang menggerakkan kebangkitan masjid Kerisik pada tahun 1989-90 yang kononnya terkenal di pimpin oleh Bomoh Din.Bermula dari kebangkitan inilah rakyat Patani telah mula menonjolkan keberanian yang sejati.Pihak Wahdah juga pernah mengambil kesempatan menjuarai isu tersebut.
                     
       Sultan Abdul Kadir            Tengku Mahmud Muhyiddin
      
Tengku Biro atau Kabir Abdul Rahman juga dengan
 Gelaran Pokku oleh adik-adik dan pengikut.
      Tengku Jalal yang di kenali dengan Ayah Lal                                                                                                                                                                                                                                                           
               Assyahid Haji Sulong . Bapa perjuangan Patani Moden. Dibunuh dengan kejam  oleh penjajah Siam
              dan mayatnya dibuang di laut senggora.Sampai sekarang tidak di ketahui kubor.
                                         Perjuangan Patani akan menuntut bela di atas kesyahidan nya beliau, dan menjadi inspirasi besar.
Puteri berempat,Raja Hijau,Raja biru,Raja unggu dan Raja Kuning.
                                    
                            TuanLebih                RajaLegeh                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
    Patanikini keluaran ini diterbit khas untuk memperingati pejuang-pejuang dan pengasas perjuangan sekarang.Semoga golongan muda lebih mengenali dan memahami perjuangan Patani dari dahulu hingga sekarang.
12hb feb 2010
Alfatihah
Patanikini mengucapkan takziah dan mendoakan semoga dicucuri rahmat ke-atas Roh Saudara seperjuangan Haji Ramli sungai Padi yang kembali karahmatullah pada 10/2/10.Satu kehilangan yang besar pada perjuangan Patani.Semoga yang hidup meneruskan perjuangan tanpa luntur sedikit pun keyakinan kepada allah swt. Amin

03-03-2010
Alfatihah
Dengan sedihnya diumumkan  satu lagi tokoh besar perjuangan Patani,sdr Ahmad Shariff(lebih terkenal dengan nama Mat Bank) kembali ka rahmatullah pada jam kurang lebih 4.30 petang ini.Beliau dalam perjalanan untuk mengimami solat asar di masjid berhampiran rumahnya.Satu kemalangan jalanraya telah mengorbankan jiwa beliau. Beliau adalah antara tokoh besar yang banyak berjasa kapada perjuangan kebangkitan rakyat Patani.

SEJARAH ASEAN

Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mencatat sejarah baru dengan ditandatanganinya ASEAN Charter (Piagam ASEAN) dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-13 ASEAN di Singapura, Selasa (20/11). Piagam ASEAN tersebut diteken oleh 10 pemimpin negara anggota ASEAN, termasuk Myanmar. Kesepuluh kepala negara atau kepala pemerintahan ASEAN yang membubuhkan tanda tangan pada Piagam ASEAN itu adalah Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei Darussalam), PM Hun Sen (Kamboja), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Indonesia), PM Bouasone Bouphavanh (Laos), Abdullah Ahmad Badawi (Malaysia). Selanjutnya, PM Thein Sein (Myanmar), Gloria Maccapagal Arroyo (Filipina), PM Surayud Chulanont (Thailand), PM Nguyen Tan Dung (Vietnam), dan PM Lee Hsien Loong (Singapura).
Padahal sebelumnya sejumlah pihak mengkhawatirkan PM Myanmar tidak akan ikut menandatangani dokumen tersebut dikaitkan dengan kondisi politik yang memanas di dalam negeri negara itu.
Selain Piagam ASEAN, juga ditandatangani tiga deklarasi yaitu cetak biru ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Declaration on the 13th Session of the Conference on Climate Change (UNFCCC), dan Conference of Parties Serving as the Meeting of the Parties (CMP) to the Protocol Kyoto Protocol
Upacara penandatanganan disaksikan sejumlah menteri dari masing-masing negara dan liput sekitar 100 orang media cetak dan elektronik. Usai penandatanganan, para kepala negara melakukan acara bersulang (toast), yang disambut tepuk tangan para hadirin. Selanjutnya para kepala negara melakukan sesi foto bersama, dilanjutkan dengan foto bersama dengan para menteri luar negeri, dan anggota The Eminent Persons Group (EPG) and Members of High Level Taskforce (HTLF).
Tonggak Sejarah
Piagam ASEAN disebut tonggak sejarah baru karena baru dimiliki ASEAN setelah 40 tahun berdiri. Piagam ASEAN merupakan dokumen yang diharapkan akan mentransformasikan ASEAN dari sebuah asosiasi menjadi suatu organisasi regional yang memiliki leader personality, dan mekanisme dan struktur organisasi yang lebih jelas. Salah satu organ ASEAN yang akan dibentuk sesuai piagam ini adalah Badan HAM ASEAN
Piagam itu terdiri dari pembukaan, 13 bab, dan 55 pasal. Pasal-pasalnya menegaskan kembali prinsip-prinsip yang tertuang dalam seluruh perjanjian, deklarasi, dan kesepakatan ASEAN
Dalam penyusunan piagam itu, Indonesia telah menunjukkan kepemimpinannya dalam mendorong disepakatinya hal-hal penting seperti prinsip demokrasi, good governance, dan perlindungan HAM.
RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan permasalahan
1. Bagaimana sejarah berdirinya ASEAN ?
2. Tujuan dibentuknya Piagam Asean (Asean Chartered) ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH BERDIRINYA ASEAN
ASEAN adalah kepanjangan dari Association of South East Asia Nations. ASEAN disebut juga sebagai Perbara yang merupakan singkatan dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara. Gedung sekretarian ASEAN berada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Indonesia. ASEAN didirikan tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok. ASEAN diprakarsai oleh 5 menteri luar negeri dari wilayah Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura :
1. Perwakilan Indonesia : Adam Malik
2. Perwakilan Malaysia : Tun Abdul Razak
3. Perwakilan Thailand : Thanat Koman
4. Perwakilan Filipina : Narcisco Ramos
5. Perwakilan Singapura : S. Rajaratnam
Sedangkan terdapat negara-negara lain yang bergabung kemudian ke dalam ASEAN sehingga total menjadi 11 negara, yaitu :
1. Brunei Darussalam tangal 7 Januari 1984
2. Vietnam tangal 28 Juli 1995
3. Myanmar tangal 23 Juli 1997
4. Laos tangal 23 Juli 1997
5. Kamboja tangal 16 Desember 1998
Prinsip Utama ASEAN
Prinsip-prinsip utama ASEAN digariskan seperti berikut:
Menghormati kemerdekaan, kesamaan, integritas dan identitas nasional semua negara
Setiap negara memiliki hak untuk menyelesaikan permasalahan nasionalnya tanpa ada campur tangan dari luar
Penyelesaian perbedaan atau perdebatan antar negara dengan aman
Menolak penggunaan kekuatan dan kekerasan
Meningkatkan kerjasama yang efektif antara anggota
ASEAN dikukuhkan oleh lima negara pengasas; Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand di Bangkok Proses pembentukan ASEAN dibuat dalam sebuah penandatanganan perjanjian yang dikenal dengan nama Deklarasi Bangkok. Adapun yang bertanda tangan pada Deklarasi Bangkok tersebut adalah para menteri luar negeri saat itu, yaitu Bapak Adam Malik (Indonesia), Narciso R. Ramos (Filipina), Tun Abdul Razak (Malaysia), S. Rajaratnam (Singapura), dan Thanat Khoman (Thailand). Pada tanggal 8 Januari 1984, seminggu setelah mencapai kemerdekaannya, negara Brunei masuk menjadi anggota ASEAN. 11 tahun kemudian, tepatnya tanggal 28 Juli 1995. Laos dan Myanmar menjadi anggota dua tahun kemudianya, yaitu pada tanggal 23 Juli 1997. Walaupun Kamboja sudah menjadi anggota ASEAN bersama sama Myanmar dan Laos, Kamboja terpaksa menarik diri disebabkan masalah politik dalam negara tersebut. Namun, dua tahun kemudian Kamboja kembali masuk menjadi anggota ASEAN pada 30 April 1999.
LOGO ASEAN
Logo ASEAN membawa arti ASEAN yang stabil, aman, bersatu dan dinamik. Warna logo ada 4 yaitu biru, merah, putih dan kuning. Warna tersebut merupakan warna utama lambang negara-negara ASEAN. Warna biru melambangkan keamanan dan kestabilan. Merah bermaksud semangat dan dinamisme sedangkan putih menunjukkan ketulenan dan kuning melambangkan kemakmuran. Sepuluh tangkai padi melambangkan cita-cita pelopor pembentuk ASEAN di Asia Tenggara, yaitu bersatu dan bersahabat. Bulatan melambangkan kesatuan ASEAN.
B. TUJUAN DIBENTUKNYA PIAGAM ASEAN (ASEAN CHARTERED).
Tahun 2007 bisa dikatakan bersejarah bagi ASEAN. Kawasan ini memiliki tampilan baru. Ada harapan ASEAN akan terstruktur dan tersistematis.
Semua itu ditandai dengan ditandatanginya Piagam ASEAN (ASEAN Charter) sebagai kerangka konstitusi bersama ASEAN.
Keberadaan sebuah piagam agar bisa lebih mengikat negara-negara anggota sebenarnya sudah cukup lama dikumandangkan di kalangan pemikir ASEAN. Akan tetapi, baru pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN tahun 2003 di Bali, keinginan ASEAN untuk memiliki sebuah piagam bersama itu mulai dikonkretkan.
Ibarat sebuah perusahaan yang harus memiliki status hukum yang jelas, apakah itu perseroan terbatas (PT) atau perusahaan dagang (PD), ASEAN sebagai organisasi regional yang sudah berusia 40 tahun ini memang sudah seharusnya punya status hukum. Idealnya, dengan adanya status hukum itu, ASEAN lebih punya keleluasaan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, khususnya kalangan pebisnis. Dia (ASEAN) juga bisa memiliki aset, visi, dan misi, serta alat/perangkat untuk mewujudkan visi dan misinya tersebut.
Piagam ASEAN memang tidak otomatis akan mengubah banyak hal di ASEAN. Malah, piagam itu sesungguhnya makin mengekalkan banyak kebiasaan lama. Misalnya, pengambilan keputusan di ASEAN tetap dengan cara konsensus dan KTT ASEAN menjadi tempat tertinggi untuk pengambilan keputusan jika konsensus tidak tercapai atau jika sengketa di antara anggota terjadi.
Meski demikian, piagam tersebut hadir di saat yang pas, yaitu ketika kawasan Asia Tenggara ini terus berubah dan negara-negara ASEAN semakin memperluas cakupan kerja sama yang lebih kukuh ke Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, dan China), Asia Tengah (India), serta ke selatan (Australia dan Selandia Baru). Juga, KTT Asia Timur yang diselenggarakan beriringan dengan KTT ASEAN.
Tujuan dibentuknya Piagam Asean adalah sebagai berikut
1. Permudah kerja sama
Adanya Piagam ASEAN secara organisatoris akan membuat negara anggota ASEAN relatif akan lebih terikat kepada berbagai kesepakatan yang telah dibuat ASEAN. Secara teoretis, piagam itu akan semakin mempermudah kerja sama yang dibuat ASEAN dengan mitra-mitra dialognya.
Jika pada masa lalu mitra ASEAN terkadang mengeluh bahwa kesepakatan yang telah dibuat dengan ASEAN ternyata hanya dilaksanakan dan dipatuhi oleh beberapa negara anggota ASEAN, kini kekhawatiran itu bisa dikurangi.
Mekanisme kerja yang lebih jelas di ASEAN seperti tertuang dalam Piagam ASEAN itu juga akan mempermudah mitra-mitra atau calon-calon mitra yang ingin berurusan dengan ASEAN. Begitu pula bila di kemudian hari terjadi persengketaan, Piagam ASEAN telah membuat pengaturan umum untuk penyelesaian sengketa itu.
Lebih penting lagi secara politis, ASEAN kini menegaskan dirinya sebagai organisasi yang menghormati serta bertekad untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) dan nilai-nilai demokrasi. Piagam meminta ASEAN menghargai HAM.
Meski saat ini pelaksanaan kedua hal itu masih jauh dari ideal, setidaknya ASEAN sudah mengakui bahwa penghormatan atas HAM dan demokrasi sebagai nilai-nilai dasar, sama seperti umumnya negara maju. Dengan demikian, hambatan psikologis untuk bekerja sama dengan negara-negara ASEAN seperti sering terdengar selama ini dari beberapa negara maju, setidaknya sudah bisa dikurangi meski hambatan belum sepenuhnya bisa dihapuskan.
2. Tantangan internal
Keberhasilan ASEAN melahirkan sebuah piagam bersama tidak otomatis bermakna ASEAN yang semakin solid. Tantangan terbesar justru berada di lingkungan internal ASEAN sendiri, khususnya bagaimana agar benar-benar bisa mengimplementasikan piagam itu sehingga ASEAN menjadi kekuatan yang menyatu dan tidak terpecah belah.
Bagaimanapun, kehadiran Piagam ASEAN, yang di dalamnya mengharuskan para anggota mematuhi apa-apa yang sudah diputuskan bersama oleh ASEAN, akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi beberapa pihak. Mereka ini sebenarnya menaruh keberatan atas keputusan bersama itu. Meski demikian, Piagam ASEAN memang telah didesain sedemikian rupa sehingga tidak terlalu keras terhadap para anggotanya yang belum bisa menaati kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat.
Celah-celah untuk kompromi yang sering kali diistilahkan banyak kalangan sebagai cara ASEAN (the ASEAN way) masih banyak diakomodasi di dalam piagam tersebut. Di bidang ekonomi, misalnya, Piagam ASEAN menjamin hak negara-negara anggota untuk berpartisipasi secara fleksibel dalam pelaksanaan komitmen-komitmen ekonomi di ASEAN. Begitu pula dalam pelaksanaan prinsip-prinsip politik ASEAN, seperti khususnya demokrasi dan penghormatan dan jaminan atas hak-hak asasi manusia, asas yang fleksibel tetap dipertahankan.
Satu hal penting dalam Piagam ASEAN yang memang sudah selayaknya dilakukan adalah menjadikan organisasi ini sebagai organisasi yang berorientasi pada rakyat atau bukan organisasi birokrat semata. Dengan demikian, dibuka bahkan didorong kesempatan lebih besar kepada warga masyarakat ASEAN untuk berinteraksi satu sama lain dengan lebih intens.
Pergaulan rakyat ASEAN di kawasan regional dan internasional itu tentu akan berkontribusi positif kepada kerja sama ASEAN dengan mitra-mitranya di seluruh kawasan.
3. Langkah paling maju
Ada tiga rencana ASEAN yang dituliskan di piagam itu. Tiga hal itu adalah menginginkan lahirnya Komunitas Ekonomi ASEAN, Komunitas Keamanan ASEAN, dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN.
Jangan skeptis dulu dengan rencana pembentukan komunitas itu. Atau jangan melihat realitas sekarang jika ingin menilai prospek pembentukan tiga jenis komunitas itu. ASEAN bisa saja tidak terlihat berwibawa, melihat realitas sekarang, dengan mayoritas anggotanya punya masalah tersendiri yang tergolong berat. Beberapa di antaranya bahkan masih tergolong negara paria.
Sesungguhnya, rencana pembentukan komunitas itu merupakan refleksi dari tajamnya visi para pemikir ASEAN. Piagam itu disusun para pakar atau figur terkenal di ASEAN. Wakil dari Indonesia adalah mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas.
Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas terkesan jengkel dengan analisis pengamat yang relatif selalu skeptis melihat ASEAN. Mereka itu kadang genit, ya, demikian kalimat lucu dari Ali Alatas mengomentari piagam yang disambut dingin oleh pengamat.
4. Piagam merefleksikan pandangan jauh ke depan.
Bahkan, piagam secara tersirat akan membuat ASEAN malu jika tidak bisa memenuhinya di kemudian hari. Inilah sumbangsih para pemikir ASEAN. Ini merupakan bukti bahwa para pakar ASEAN tidak dungu, tetapi punya sudut pandang yang strategis menuju masa depan.
Hal ini diperkuat lagi dengan rencana pemerintah ASEAN, yang pada November lalu, di Singapura, sudah menandatangani deklarasi pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun 2015. Bahkan, pada tahun 2008 sudah ada langkah untuk mewujudkan komunitas ekonomi ini. Tujuan akhirnya adalah aliran barang, jasa, warga yang relatif lebih bebas di ASEAN.
Ini strategis mengingat contoh empiris, negara kaya di dunia menjadi makmur karena mobilitas itu. Para teknokrat ekonomi dan para figur terkenal ASEAN sudah memberi contoh soal penyusunan langkah ke depan.
Sekarang ini, eksekusinya ada di lingkungan pemerintah di ASEAN yang sarat problem, bahkan masih suka menyiksa rakyat.
Apakah junta Myanmar tahu piagam, atau lebih percaya piagam ketimbang paranormal? Ini hanya contoh kecil. Tetapi sudahlah, semoga waktu akan mengubah perangai dan perilaku sebagian pemerintahan di ASEAN, yang juga masih sering sekadar berkomitmen dan tidak bertindak nyata. Setidaknya mereka masih mau menorehkan sejarah baru dengan menandatangani Piagam ASEAN dan juga cetak biru Komunitas Ekonomi ASEAN 2015
5. Strategis
Piagam itu sendiri dinilai strategis karena akan menjadi landasan hukum yang menjamin integrasi politik, sosial, ekonomi, budaya, keamanan, demokratisasi, perlindungan hak asasi, dan pelestarian lingkungan.
Pembuatan piagam merupakan terobosan penting dalam sejarah ASEAN, yang selama 40 tahun lebih bersifat peguyuban. Dalam menghadapi tantangan 40 tahun kedua, ASEAN memang membutuhkan pijakan hukum yang lebih jelas dalam membangun blok politik dan ekonomi.

SEJARAH BENDERA MALAYSIA

Merdeka, Merdeka, Merdeka ! - Tepat jam 12.00 malam 30 Ogos 1957 bertempat di Padang Kelab Selangor Bendera Union Jack diturunkan dan Bendera Persekutuan Tanah Melayu dinaikkan dengan penuh kegemilangan, melambangkan kemerdekaan negara yang tercinta. Beribu-ribu rakyat dari pelbagai lapisan masyarakat dan bangsa serta pejuang-pejuang kemerdekaan menyaksikan peristiwa tersebut dengan penuh rasa bangga.

Sejarah penerimaan Bendera Persekutuan Tanah Melayu ialah melalui perjanjian dengan Majlis Raja-Raja di mana sebuah Jawatankuasa telah ditubuhkan dalam tahun 1949 untuk menimbang dan membuat perakuan berhubung dengan reka bentuk Bendera Persekutuan Tanah Melayu.
Satu pertandingan Peringkat Kebangsaan telah diadakan bagi memilih Bendera Persekutuan Tanah Melayu yang baru. Pertandingan ini diadakan oleh Majlis Perundangan Persekutuan dalam tahun 1949. Seramai 373 karyawan telah mengambil bahagian di mana tiga reka bentuk bendera dipilih ke peringkat akhir. Reka bentuk pertama ialah lambang keris bersilang di tengah-tengah dengan dikelilingi oleh 11 bintang pecah lima. Reka bentuk kedua hampir serupa dengan rekabentuk pertama kecuali 11 bintang pecah lima itu disusun dalam dua bulatan mengelilingi Keris Bersilang tersebut. Reka bentuk ketiga ialah 11 jalur biru-putih dengan Bulan Bintang berwarna kuning di bahagian tepi kiri.


Bendera Persekutuan Tanah Melayu Semasa Dikibarkan di Bangunan United Nation

Majlis Perundangan Persekutuan menjemput orang ramai memberikan pendapat kepada ketiga-tiga reka bentuk tersebut. Pendapat umum itu telah dikelolakan oleh akhbar The Malay Mail. Keputusan akhir yang disiarkan pad 28 November 1949 menunjukkan majoriti orang ramai memilih reka bentuk ketiga. Reka bentuk tersebut adalah ciptaan seorang Arkitek Kerajaan di Johor iaitu Encik Mohamad bin Hamzah.

Reka bentuk bendera tersebut dengan beberapa pindaan telah mendapat perkenan Mesyuarat Majlis Raja-Raja pada 22 dan 23 Februari 1950. Pada 19 April 1950 Majlis Perundangan Persekutuan telah meluluskan usul yang dibentangkan oleh Pemangku Ketua Setiausaha Negara seperti berikut:

"That in the opinion of this Council, the Flag of the Federation of Malaya should be as follows:-

Eleven horizontal stripes alternately red and white in colour, the uppermost stripe being red, having a blue quarter with a cresent and eleven-pointed star in yellow superimposed, the standard size of the flag to be six feet by three feet."


Reka bentuk bendera tersebut telah mendapat kelulusan King George VI pada 19 Mei 1950. Pertama kali Bendera Persekutuan Tanah Melayu dikibarkan ialah dalam majlis menaikkan bendera tersebut yang dianjurkan oleh Pesuruhjaya Tinggi British pada 26 Mei 1950 di perkarangan Istana Sultan Selangor dengan dihadiri oleh D.Y.M.M. Raja-Raja Melayu dan Pegawai-Pegawai King George VI.

Sejarah Bendera Malaysia
Bendera Malaysia adalah berasal dari Bendera Persekutuan Tanah Melayu. Duli-Duli Yang Maha Mulia Raja-Raja Melayu dan Tuan-Tuan Yang Terutama Gabenor-Gabenor dalam satu Persidangan Majlis Raja-Raja menjelang pembentukan Malaysia telah memperkenankan iaitu reka bentuk Bendera Malaysia hendaklah mengikut reka bentuk Bendera Persekutuan Tanah Melayu dengan pengubahsuaian pada bilangan jalur-jalur dan bintang pecah 14 bagi menunjukkan 14 buah negeri baru bagi Persekutuan Malaysia.

 Percantuman Sabah, Sarawak dan Singapura dengan Persekutuan Tanah Melayu telah melahirkan sebuah negara baru iaitu Malaysia. Bendera Malaysia telah dikibarkan dengan rasminya di seluruh negara untuk melambangkan lahirnya Melaysia pada 16 September, 1963.
Sungguhpun Singapura berpisah daripada Malaysia pada 9 Ogos 1965, namun jalur-jalur dan bintang pecah 14 terus dikekalkan hingga sekarang. Kini jalur-jalur dan bintang pecah 14 itu membawa maksud keanggotaan yang sama dalam Persekutuan 13 buah negeri dan Kerajaan Persekutuan.

















KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin