Khamis, 30 Oktober 2014

THE PRIVATE MAN.

THE PRIVATE MAN
                A rare glimpse into the Sultan's personal life was recounted by Datuk James F. Augustine in his book "Bygone Kedah" :
               Although he was a recluse in the evening of his life, Sultan Abdul Hamid Halim Shah (1882-1943) knew what was going on and never lost an iota of his dignity.
              He was first and foremost a man of prayer. Anyone who happened to pass by the Istana Kampung Bahru of a morning would see him stroll in the vicinity of the Istana or ride in his ricsha which was drawn by a Malay attendant. He sometimes walked ahead of the ricsha with the puller and the vehicle behind him. All the while he fingered his prayer beads ("tasbeh") in prayer.
               His Private Secretary for many years, the late Encik Mohammed Zain Ariffin, an oxenian, at times spoke of how the Sultan dressed for dinner. It was prepared by a Chinese cook named Ah Phum. The Sultan ate sparingly and in solitary state. At billiards he excelled and played almost daily in his private billiard room.
                Except when he went to the mosque for Friday prayers or for a drive in his Victoria which in course of time gave way to his canary coloured Rolls Royce, he seldom appeared in public.
               On Hari Raya it was customary for members of the ruling house and Senior Government Officers to pay their respects to him at the Istana Kampung Bahru. Visitors were ushered up to the drawing room upstairs where they sat in rows facing the chair prepared for the Sultan. Cigars were handed out and perfume sprinkled on handkerchiefs while the assembly waited for the Sultan.
               When he entered the room everybody stood up and bowed. Hardly a word were spoken on such occasions. After a short time the Sultan would rise and retire. In the evening of his birthday a garden party was usually held in the grounds of the Istana. The Sultan would grace the function with his presence and stroll about with yellow umbrella held over him.
                 This insignia of royalty gave rise to an incident when the Kedah Gymkhana Club held its first meet in Alor Star. Sultan Iskandar of Perak was strolling on the lawn with his royal umbrella borne over him when Sultan Abdul Hamid unexpectedly appeared. He had come down from the royal box to walk about and his umbrella-bearer held his umbrella over him. Sultan Iskandar promptly ordered his umbrella-bearer to fold up his umbrella. It was a striking example of courtesy and protocol.



Wedding celebration (1903)
An extravagant wedding celebration over a 3 months period for Tunku Sulung and four other children
of the Sultan cost the state government dearly
and resulted in the application of a loan
from Siam.

 

Rabu, 29 Oktober 2014

AKIBAT REMAJA MELAKUKAN HUBUNGAN SEKS SEBELUM NIKAH.

1. Beberapa penyakit yang siap mendatangi seperti, herpes, HIV Aids, Raja singa, dan penyakit lainnya. Anda lihat beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan bukan?

2. Hamil di luar pernikahan akan menimbulkan permasalahan baru, apabila anda masih kuliah atau sekolah tentu saja orang tua anda akan sangat kesal kepada anda. Dan anda pun takut untuk jujur kepada orang tua anda dan pasangan anda, akhirnya anda memutuskan untuk melakukan dosa baru yaitu aborsi.

3. Apabila anda menikah di usia muda, permasalahan yang belum siap anda hadapi akan datang, seperti masalah keungan, masalah kebiasaan, masalah anak.

4. Nama baik keluarga akan tercoreng oleh sikap anda. Keluarga anda akan menghadapi masalah yang anda buat apabila anda mendapatkan efek buruk dari seks bebas ini.

5. Apabila anda hamil dan pasangan anda tidak mau bertanggung jawab, apa yang akan anda lakukan?. Akan banyak pikiran buruk yang akan mengganggu anda. Seperti ingin bunuh diri, berpikir tidak rasional yang mengakibatkan gangguan mental atau gila.

Akibat Melakukan Seks Sebelum Menikah
Akibat Melakukan Seks Sebelum Menikah :: Perilaku seks yang di anggap melanggar norma bukanlah barang baru. Di beberapa kota metropolitan beberapa remaja sudah mulai “esek-esek”, walaupun kebanyakan secara sembunyi-sembunyi. Memang kegiatan seks yang dianggap lepas kontrol masih sering dirasakan sebagai ancaman. Karena itu seks bebas dijadikan bahan pembicaraan lagi oleh beberapa pakar. ( Akibat Melakukan Seks Sebelum Menikah 12/12 )

Namun, selama ini, apa yang dimaksud dengan seks bebas itu jarang dibicarakan rinci. Apakah seks diluar nikah sama dengan seks bebas. Apakah segala bentuk penyelewengan seks menurut norma bisa dikatakan seks bebas?

Apakah bila seseorang melakukan hubungan seks satu kali belum menikah bisa disebut, melakukan seks bebas?

Apakah perempuan yang berperut buncit di pesta pernikahannya hanya karena berhubungan seks dengan satu orang saja bisa dikatakan telah berseks bebas, dan disamakan dengan pria yang telah dari ranjang satu keranjang lainnya dengan beberapa wanita?

Selama ini, yang disebut seks terkontrol, berdasarkan agama dan peradaban, adalah seks dengan satu orang sesudah menikah. Seks di luar nikah sering dikaitkan dengan seks bebas dengan tindakan yang tak beradab, memang manusia punya kontrol, punya asa dan budaya.

Oleh karena itu manusia menganggap dirinya tidak berbudaya, birahi seks pun jadi sesuatu yang rasional, dilandaskan hukum dan kontrol. Tetapi walaupun binatang bisa kawin tanpa nikah, bentuk dan praktik mereka tidak lepas dari suatu kontrol. Kalau hukum dan kontrol dianggap sebagai buah kebudayaan dan menandakan masyarakat yang tidak primitif, binatang pun mempunyai satu hukum. Dan hukum rimba adalah satu hukum yang beradab. Karena bila hukum rimba tidak dipatuhi, rantai makanan akan morat-marit. Ekologi akan hancur.

Walau tidak mengenal nikah binatang juga mempunyai aturan kawin. Mereka tidak akan kawin sembarangan. Mereka melakukannya pada musim-musim tertentu dan juga punya aturan serta upacara yang cukup rumit dalam berhubungan seks. Sepasang merak, misalnya, harus mencari selama beberapa lama sebelum kawin.

Akibat Melakukan Seks Sebelum Menikah :: Jadi, tidak saja birahi seks, tetapi kontrol dan hukum adalah bagian dari naluri juga. Karena itulah, seperti berlanjutnya kontrol dan hukum dalam hidup manusia, naluritas seks juga seharusnya diberi perhatian. Namun yang ditekankan dalam kehidupan manusia sekarang adalah kontrol dan hukum akan birahi seks. Seakan-akan kontrol dan hukum adalah irasional. Jadinya, kontrol dan hukum itu dapat menguasai dan melebihi birahi seks. Akibatnya adalah peraturan seks yang serba kaku dan melibatkan kutukan moral bagi para pelanggarnya.

Serba Kolot

Bahaya seks bebas memang bisa menakutkan. Dan bahaya seks bebas sering kali dibahas dan disebut-sebut. Tetapi, pengutukan akan segala, bentuk seks bebas dan pelarangan kolot akan seks juga menimbulkan resiko lain yang akan dibahas. Karena seks adalah kebutuhan naluri manusia, kontrol yang yang ketat akan seks malah akan menimbulkan pencuri. Seperti juga orang yang kurang makan akan mencuri dan orang yang kurang uang akan mencuri. Dari curi-mencuri ini, yang dirugikan terutama dari pihak wanita.

Perempuan bisa dideteksi keperawananya dengan mudah. Mereka mempunyai selaput dara. Karenanya bayak kisah lelaki yang mengeluh karen istrinya sudah tak berselaput dara pada malam pertama. Lalu lelaki? Mereka hanya bisa jadi pencuri yang baik. Lari tanpa jejak dan tanpa resiko. Dan bisa pura-pura jadi manusia yang ‘beradab’ lagi setelah mencuri. ( Akibat Melakukan Seks Sebelum Menikah 12/12 )

Perempuan juga bisa hamil. Sebab itu, yang dijadikan contoh seks bebas oleh salah satu pakar adalah perut buncit waktu menikah. Yang dijadikan perhatian adalah si perempuan., Tetapi, bukankah dalam perut buncit ini si lelaki juga ikut menanam modal?

Akibatnya adalah tersedianya dua definisi yang kontras untuk perempuan: wanita suci dan perek. Wanita suci adalah perempuan yang tidak kawin sebelum menikah, dan setia sampai mati pada suami. Perempuan yang sudah “gituan” sebelum nikah tidak bisa disebut suci lagi, walaupun dia mungkin berbuat seperti itu cuma dengan satu orang seumur hidupnya. Karena definisi yang membedakan wanita hanya pada dua ekstrem, perempuan yang mau “begituan” sebelum menikah terkadang disamaratakan. Perek, Binal. Bisa diajak main.

Akibat Melakukan Seks Sebelum Menikah :: Padahal, perempuan yang telah berhubungan seks diluar nikah dengan beberapa orang, bisa menjadi istri yang mencintai dan setia pada suaminya. Perempuan yang sudah berhubungan seks dengan beberapa pria bukan langsung bisa disebut perek. Bisa jadi, si perempuan berhubungan seks dengan pria-pria ini berdasarkan cinta. Dan perek atau pelacur pun bukan otomatis jadi perempuan bebas pakai.

Perempuan yang tidak perawan jadi mudah mengutuk dirinya sendiri. Perempuan korban perkosaan akan lebih menderita batin seumur hidupnya karena kehilangan “mahkota” meraka. Dan karena curi mencuri ini, aborsi gelap terjadi di mana-mana. Karena aborsi tidak dilegalkan, namun perempuan hamil sebelum menikah jarang mendapatkan dukungan moral.

Birahi seks adalah keindahan. Seperti keindahan menyanyi dan membaca puisi. Bagaimana pun juga manusia tidak dapat lepas dari naluri kebinatangannya. Karena itu, seorang perawan di Saman pun berkata bagaimana dia ingin menjadi unggas yang “kawin begitu mengenal birahi”. ( Akibat Melakukan Seks Sebelum Menikah 12/12 )

KERAJAAN MALAYSIA PERLU DI BERI LESEN MEMANDU SEUMUR HIDUP SEPERTIMANA RAKYAT THAILAND.

Saya sebagai rakyat malaysia memberi cadangan saya kepada kerajaan malaysia agar menerima cadangan daripada suara rakyat satu malaysia dengan memberi lesen memandu seumur hidup sepertimana negara jiran iaitu thailand.Apa yang saya lihat lesen memandu negara thailand di beri seumur hidup kepada semua warganegara thailand,Sepatutnya negara kita perlu mengikuti cara salah satu contoh tauladan negara jiran bagaimana cara sistem pemerintahan negara gajah putih memberi lesen memandu seumur hidup kepada semua rakyat thailand.Saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan thai memberi cadangan saya kepada kerajaan malaysia supaya lesen memandu di beri seumur hidup kepada semua rakyat satu malaysia,Bagi saya roadtax motor,kereta dan lori di bayar seperti biasa kecuali lesen sahaja di beri seumur hidup kepada semua rakyat satu malaysia.

Selasa, 28 Oktober 2014

KIAMAT AKAN SAMPAI PADA 2016 DAN KALENDAR ISLAM 1438.

Wahai manusia sekalian aku telah di perintahkan oleh cucuku iaitu hamba allah sama taraf rasul,wali,nabi dan keramat.Walaupun aku di beri hidayah dan wahyu kepada cucuku ini adalah menyedarkan kepada umat-umat islam yang masih ingkar dan masih tidak mengikuti perintah allah swt.Ingatlah kamu semua akhir zaman akan keluar bermacam-macam seperti kepala dua,suara binatang akan keluar di permukaan bumi apa bila binatang keluar dan boleh bercakap maka dengan itu tanda-tanda kiamat semakin hampir begitulah juga matahari akan naik sebelah barat.Kita sebagai umat islam perlu sedar kiamat semakin hampir dan kita perlu mendekatkan dengan masjid dan surau.Walaupun saya sebagai cucu kepada allah swt saya ingin memberi satu gambaran yang lebih jelas sekiranya berlakunya kiamat pada bulan ramadan akan dengar suara yang begitu ramai dan manusia melarikan diri pada masa tu manusia tidak boleh menerima taubat itu kerana sudah terlambat apa yang saya mimpi allah telah beritahu kepada saya bahawasanya kiamat akan berlaku pada 2016 dunia akan menjadi gelap akan mengeluarkan asap dari gunung berapi dan tahi bintang akan turun ke bumi.Apabila tahi bintang turun ke bumi yang bersaiz besar jatuh ke bumi makna seluruh negeri dan daerah akan hancur.Wahai manusia sekalian sedarlah kiamat semakin hampir dengan kita semua sedarlah wahai manusia yang di ciptakan oleh tokwan saya iaitu allah swt.

UMAT ISLAM DI AKHIR ZAMAN SEPERTI BUIH.



Sebuah hadis diriwayatkan daripada Thauban ra, bahawa Rasulullah SAW bersabda, "Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama."

Maka para sahabat r.a. pun bertanya, "Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat? "

Sabda Baginda SAW: "Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak bererti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut."

Sahabat bertanya lagi, "Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?"

Jawab Rasulullah SAW, "Kerana ada dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al - Wahn."

Sahabat bertanya lagi, "Apakah itu al-Wahn?"

Rasulullah SAW bersabda: "Cintakan dunia dan takut akan kematian."

Suatu keadaan yang nyata di hadapan kita sekarang, bahawa jumlah umat Islam sudah cukup ramai. Di dunia ini, satu setengah bilion lebih penduduk bumi adalah Muslim. Tetapi kita saksikan bahawa jumlah yang ramai ini belum tentu membawa umat ini keluar dari kesulitan. Inilah rupanya yang diungkapkan Rasulullah dalam hadis di atas. Patutlah kiranya kita semua, umat Islam melihat ke dalam, seberapa jauh kiranya kita sudah dijangkiti penyakit al - Wahn tersebut, penyakit cinta dunia dan takut akan kematian.

Tentunya ini tidak terlepas dari kesalahan pandangan umumnya masyarakat Muslim terhadap kehidupan dunia. Kenapa umat islam cintakan pada dunia dan takut mati? Ini kerana mansia memandang bahawa dunia ini adalah tempatnya segala kesenangan dan kematian adalah pemutus kesenangan tersebut.

REMAJA SEKOLAH BERCINTA DI KATAKAN FENOMA CINTA

1- Persoalan Tentang Cinta


Cinta merupakan satu anugerah yang suci, murni dan mulia. Namun kebanyakan manusia telah menodai kesucian cinta dengan meletakkan cinta itu pada landasan dosa dan maksiat. Perkara tentang cinta banyak dinukilkan dalam novel-novel, lagu-lagu, syair-syair dan telah banyak dipersembahkan dalam bentuk drama-drama dan filem. Namun apakah sebenarnya cinta? :


“Apakah cinta? Adakah cinta hanya perasaan kasih dan sayang antara lelaki dan perempuan sahaja atau cinta merupakan perkataan rekaan yang dicipta melalui perasaan sahaja? Mengikut Kamus Dewan cinta adalah perasaan kasih sayang terhadap seseorang. Sebenarnya cinta boleh ditafsirkan dengan seribu istilah mengikut si pencipta dan suasana. Namun pada asasnya cinta membawa maksud bekerja bersama-sama, ketawa bersama-sama, membangun bersama-sama, samada kejayaan kecil atau besar” (Robiah Kulop Hamzah, Remaja dan Cinta, 1993).


Keasyikan bercinta menyebabkan beberapa persoalan timbul dalam jiwa golongan yang bercinta:


“Adakah cinta seorang lelaki sama dengan cinta seorang wanita? Apakah yang perlu dilakukan untuk memperkatakan cinta? Dari manakah datangnya kekuatan cinta yang begitu dahsyat? Apakah saya benar-benar dicintai? Apakah dia tidak mengkhianati cintanya? Adakah dia sungguh-sungguh mencintai saya? Bagaimanakah sebenarnya cinta yang agung? Benarkah orang tidak boleh hidup tanpa cinta? Mengapa saya menjadi mangsa cinta?” (Robiah Kulop Hamzah, Remaja dan Cinta, 1993).


Jika kita perhatikan dalam sejarah penciptaan Adam dan Hawa dan bagaimana zaman-zaman yang telah berlalu pasti ada cerita cinta agung yang sentiasa diriwayatkan dan berterusan lalu mencanang keajaiban cinta, sehinggakan terciptalah dan lahirlah pelbagai falsafah cinta, tafrifan dan istilah-istilah cinta yang hebat-hebat serta unik dari pelbagai bangsa, budaya, lapisan masyarakat, peringkat umur, sehingga setiap insan yang mendengar perkataan "Cinta" ini merasa teruja untuk menikmati keindahan cinta. Sebagai contohnya cerita cinta agung Laila dan Majnun yang melahirkan pemikiran falsafah "Cinta tidak mengenal rupa" begitu juga kisah romantis Romeo dan Juliet yang menyebarkan pemikiran "Cinta tidak mengenal darjat" dan banyak lagi. Barangkali jika kita senaraikan kalimah-kalimah cinta yang menukilkan istilah-istilah cinta sahaja pun, tentu akan menghasilkan satu karya yang melibatkan berjilid-jilid pembukuan. Itu tidak termasuk cerita-cerita dan riwayat-riwayat cinta, belum juga termasuk, karya-karya syair, puisi, seloka, pantun, sayembara dan gurindam-gurindam cinta. Begitulah hebat dan dahsyat penangan cinta dalam kehidupan umat manusia sejak penciptaan cinta pertama Adam dan Hawa.



2- Mengapa Pelajar Sekolah Ingin Bercinta Dan Bolehkah Mereka Bercinta ?


Seperti yang kita sedia maklum, sebenarnya fenomena bercinta di kalangan pelajar sebenar telah lama wujud dan tidak dapat dibendung. Ini kerana ia merupakan naluri semulajadi setiap remaja, iaitu perasaan ingin menyayangi dan rasa ingin disayangi dengan berlainan jantina.


Persoalan pertamanya, mengapa pelajar sekolah ingin bercinta? Pertama sekali penulis ingin membawa pembaca sekalian terobos balik sejarah silam atau masa lalu kita, kita sebagai orang dewasa pernah melalui waktu-waktu dan alam remaja, apakah perasaan dan emosi kita ketika itu? Bukankah sama sahaja dengan apa yang sedang dialami dan dirasai oleh remaja zaman sekarang? Kita terlalu ingin merasai betapa kebahagiaan perasaan dicintai dan perasaan ingin mencintai dengan yang berlawanan jantina. Jangan kita lupa bagaimana keghairahan kita pada waktu itu untuk mendapat kepuasan cinta. Begitu jugalah apa yang sedang dialami pelajar sekolah zaman sekarang, kerana dorongan perkembangan fisiologi dan perkembangan unsur seksual dan emosi dalam diri remaja pada peringkat selepas akil baligh mendorong jiwa semulajadi mereka untuk bercinta.


Persoalannya, bolehkah pelajar bercinta? Kebiasaan yang kita dengar daripada jawapan masyarakat, remaja yang menjalinkan cinta dalam alam persekolahan telah menjalinkan hubungan "Cinta terlarang". Apakah benar ia patut disebut sedemikian rupa sedangkan kita pernah melalui zaman seusia denga mereka dan pernah merasai perasaan dan emosi sedemikan? Bagi menjawab persoalan ini, mari kita lihat jawapan dari seorang tokoh apabila diajukan soalan ini oleh seorang pelajar:

“Menjalin satu perhubungan cinta bukan satu gurauan. Jika anda merasa diri anda sudah matang dan bersedia ke arah itu ia bukan satu masalah. Bagaimanapun, cuba jalinkan hubungan cinta itu sekiranya adik sudah benar-benar yakin serta mampu menghadapi pasang surut dalam dunia percintaan. Melibatkan diri dalam percintaan ketika di bangku sekolah mungkin boleh menjejaskan pelajaran anda. Oleh itu anda jangan mudah terpengaruh dengan keadaan keliling. Dalam menjalin satu perhubungan lakukan mana yang diredhai asalkan tidak membawa masalah kepada anda.” (Puan Amina Hj Noor, Persoalan Remaja Masa Kini, 1998).


Bagi penulis, inilah jawapan dan pandangan yang tepat. Kita perlu sedar kita hanya mampu melarang pelajar dari terjebak dengan cinta, namun kita tidak mampu membendungnya kerana ia merupakan fenomena semulajadi dalam kejadian manusia. Jika kita melarang sekalipun, pelajar tetap akan bercinta secara berahsia, ini akan merumitkan lagi keadaan, kerana jika berlaku apa-apa yang tidak diingini seperti terlanjur berzina, adalah kerana kita tidak tahu dan tidak kenal dengan siapa mereka bercinta sehingga banyak kes-kes yang buang bayi tidak dikenali siapa ayahnya yang tidak bertanggungjawab itu. Oleh sebab itu, bukan jalan terbaik untuk kita melarang pelajar daripada bercinta, tapi kita perlu mengawal dan mebimbing remaja bagaimana bercinta secara sihat, iaitu bercinta dengan kawalan batas syariat agama serta adab-adab bangsa, agar tidak menjunamkan remaja ke lembah salah laku seks, dosa dan maksiat.


Pelajar sekolah bercinta kerana ingin merasai indahnya kebahagiaan perasaan berkasih-sayang

3- Keruntuhan Moral Pelajar Akibat Bercinta


Kebanyakan pelajar yang bercinta terjebak dalam salah laku seks. Ini berlaku kerana keghairahan yang memuncak pada usia remaja. Maka berlakulah bermacam-macam keruntuhan moral dan salah laku seks yang berlaku di kalangan pelajar. Menurut kebanyakan pelajar bercinta adalah menjadi hak individu dan mereka perlukan kebebasan untuk bercinta. Namun sebenarnya mereka bukan bercinta dengan erti kata bercinta mengikut landasan Syariat, tetapi mereka bercinta mengikut landasan hawa nafsu dan syaitan iblis, demi kepuasan, sehingga berlakulah pelbagai keruntuhan akhlak dan moral. Sebagai contohnya menularnya gejala bohsia di kalangan pelajar-pelajar sekolah:


“Mulanya kebebasan secara kecilan, semakin hari semakin besar, kononnya mahu bertemu dengan kawan-kawan sekolah, hal ini mendapat restu pula dari kedua orang tuanya, tetapi sebaliknya bukanlah bertemu dengan kawan-kawan sekolah seperti yang diperkatakan pada orang tuanya, tetapi bertemu dengan kawan lelakinya, mereka ke hulu ke hilir dengan bermotosikal atau sebagainya, mereka pergi ke mana sahaja sesuka hati mereka. Di kalangan gadis bohsia, dara tidak menjadi persoalan lagi pada mereka, apa yang mereka mahu ialah keseronokan kehidupan yang bebas, mereka ini mahukan kepuasan seks”. (Robert Hamly, Bohsia: Punca dan Penyelesaiannya, 1995)


Apa yang sudah terjadi kepada pelajar sekolah kita? Menjadi bohsia dan bohjan? Menjadi perempuan murahan dan tidak bermaruah? Menjadi lelaki rosak perosak?

Ini baru menceritakan tentang masalah kewujudan fenomena bohsia hasil dari kesan bercinta di kalangan remaja sekolah, belum lagi kita pergi kepada keruntuhan moral lain seperti kes buang bayi. Bayi terbuang kini menjadi lambakan di tengah-tengah kehidupan moden dan bertamadun. Apakah bencana yang menimpa umat ini? Seolah-olah ia telah menjadi satu "trend" atau budaya dan kebiasaan masyarakat moden. Atau apakah bencana ini satu elemen dari pra dan pasca kemodenan? Salah siapa? Salah pelajar, guru, masyarakat, ibubapa atau pentadbiran negara?



Realiti ini adalah kesalahan kita semua !!!


Antara punca utama pelajar ingin bercinta ialah kerana hasil dari pemodenan, ibubapa yang dihimpit kesibukan, porak peranda dan berpecah belah, menyebabkan pelajar mencari pasangan untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang :


"Di peringkat sekolah menengah, ramai daripada pelajar-pelajar sudah pandai bermain cinta dan mempunyai teman istimewa buat penghibur hati yang duka lara." (Ann Wan Seng, Kerenah Remaja Hari Ini, 1994)



Anak-anak terbuang dari pelajar sekolah dari bangsa kita, agama kita !!!


"Di kalangan remaja belasan tahun mereka dikuasai oleh emosi lebih daripada pertimbangan akal fikiran yang rasional. Oleh yang demikian tidaklah hairan seandainya remaja di bangku sekolah lagi telah berani mengadakan pertemuan di tempat-tempat yang agak sulit. Bukan setakat itu, kebebasan dalam pergaulan mereka kadang-kadang menimbulkan perkara-perkara yang tidak baik berlaku seperti hamil di luar nikah, dirogol, bersekedudukan dan terlibat dalam kegiatan maksiat dan diperangkap oleh sindiket-sindiket untuk dijadikan gadis penghibur. Setiap hari sering terdapat berita di akhbar-akhbar berita berhubung gadis diperkosa, menggugurkan anak dan mengadakan perlakuan sumbang secara terang-terangan." (Ann Wan Seng, Kerenah Remaja Hari Ini, 1994)


Lambakan bayi terbuang, hasil "Cinta Terlarang" atau hasil "Cinta Terlepas Pandang" ? Bagaimana pelajar sekolah yang masih muda dan mentah melakukan hal ini? Di mana ibubapa, sekolah dan masyarakat ?







4- Mengapa Bercinta Mengakibatkan Pelajar Melakukan Salah Laku Seks ?



Cinta hawa nafsu, cinta untuk kepuasan syahwat di kalangan pelajar sekolah, gejala atau BENCANA !!!


Kebiasaan di kalangan pelajar yang terjebak dalam percintaan di alam persekolahan sememangnya terlibat dengan aktiviti-aktiviti salah laku seks. Fenomena ini berlaku kerana perhubungan cinta yang mereka jalinkan di dorong oleh perkembangan fisiologi yang mula aktif, agresif dan sensitif di samping peralihan peringkat psikologi pelajar itu sendiri. Pada peringkat remaja sememangnya satu peringkat kebangkitan minat seks mula tumbuh dan bercambah dalam diri remaja:


“Dalam masa remaja adalakalanya muncul rasa ketegangan seksual dan kebangkitan nafsu yang semuanya terbenam dalam latar belakang hidup sehinggalah akil baligh. Di kalangan remaja lelaki dan perempuan masih ramai yang masih tidak mengetahui bagaimana hendak berhadapan dengan desakan ini. Kebangkitan tekanan seksual ini merupakan salah satu sifat asas dalam pembesaran. Lazimnya terjalin secara semulajadi dan kemudiannya akan memasuki proses kea rah menjadi seorang jejaka dan gadis. Tanpa disedari muncul satu tenaga baru dalam perasaan diri setiap diri remaja. Remaja lelaki mula menyedari bahawa remaja perempuan adalah menggoda dan menarik hati mereka. Begitu juga bagi pihak remaja perempuan mula menyedari bahawa remaja lelaki adalah berbeza dan diperlukan dalam kehidupan mereka.” (Khadijah Haidi Khalid, Meneroka Alam Remaja, 1994).


Tekanan dan desakan kebangkitan seksual yang meluap-luap di zaman remaja inilah yang mendorong pelajar yang bercinta bertindak di luar kawalan iaitu dengan melakukan aktiviti seksual. Lebih-lebih lagi kedua-dua pihak pelajar lelaki dan perempuan ini tidak berupaya untuk membendung proses perbuatan terkutuk itu kerana ingin melempiaskan nafsu seksual yang tersekat di jiwa, lantas telah memerosokkan kedua pelajar ini ke lembah aktiviti salah laku seksual.


Masalah ini menjadi semakin kronik apabila wujud pula rangsangan-rangsangan luar yang menaikkan syahwat dan keghairahan pelajar-pelajar yang sedang bercinta. Lebih-lebih lagi dalam era dunia ICT dunia tanpa sempadan serta kebebasan media massa, telah menjadikan fenomena salah laku seks di kalangan pelajar bercinta ini menjadi semakin parah:


"Pengaruh media massa adalah besar dalam mempengaruhi pola tingkah laku anak muda. Kecenderungan remaja kepada seks pada lazimnya dikaitkan dengan peranan media massa yang selalu menonjolkan cerita-cerita yang berunsur seks yang ghairah. Penonjolan unsur-unsur lucah dalam media massa dan elektronik memberikan kesan yang besar di dalam pembelajaran seks kepada remaja yang sedang membesar. Sebagai anak muda yang baru akil baligh dorongan dan kecenderungan tentang kehendak nafsu seks yang bergelora dalam diri mereka sentiasa sahaja membara." (Ann Wan Seng, Kerenah Remaja Hari Ini, 1994)


Bencana salah laku seks di kalangan pelajar yang bercinta ini menjadi semakin dahsyat dengan wujudnya saluran-saluran rangsangan seksual dalam pelbagai bentuk samada dari segi bahan atau tempat-tempat panas dengan aktiviti-aktivit seksual :


"Akibatnya remaja berusaha mencari saluran yang tersendiri untuk memenuhi tuntutan naluri itu samada melalui pembacaan, video lucah, berkunjung ke tempat pelacuran dan mendengar cerita-cerita orang-orang dewasa. Kesemua saluran ini digunakan disebabkan remaja mempunyai keinginan untuk mengenal tuntutan nafsu seks dan kehidupan berkelamin yang dapat dipelajarinya daripada media massa dan kehidupan seharian." (Ann Wan Seng, Kerenah Remaja Hari Ini, 1994)


Penulis tertanya-tanya, mengapa fenomena bercinta di kalangan remaja majoritinya cinta yang membinasakan diri remaja, mengapa tiada kawalan media dan kawalan budaya persekitaran? Mengapa tidak terkawal penjualan bahan-bahan lucah? Bahkan kebanyakan mereka diberi lesen sah untuk menjual bahan-bahan lucah dan merosakkan seperti arak? Mengapa pusat-pusat hiburan, pusat-pusat maksiat, pusat-pusat perjudian dan pelacuran tidak terkawal bahkan ia aktif secara terbuka di tengah-tengah masyarakat? Di mana pihak berkuasa yang bertanggungjawab? Mengapa mereka membiarkan masyarakat dan remaja sekolah terjebak dan rosak? Apa agenda mereka? Membangunkan negara? Lalu di mana tanggungjawab sensitiviti mereka dalam beragama? Mungkinkah mereka ini golongan yang terlalu dayus untuk menegakkan kebenaran?


5- Apa peranan dan tanggungjawab pihak ibubapa, sekolah dan masyarakat ?


Bila mana berlaku sesuatu bencana, pasti ada pihak yang akan dipersalahkan dan diminta dipertanggungjawabkan atas malapetaka yang terjadi. Dalam masalah cinta di kalangan remaja yang menjurus ke arah bencana moral ini, siapa atau pihak mana yang perlu kita persalahkan? Siapa atau pihak mana yang perlu menjawab dan bertanggungjawab atas bencana yang berlaku? "Cinta" itu kah bencana atau sikap pihak-pihak tertentu yang sebenarnya menjadi pencetus bencana ini ? Pihak yang ditudingkan jari ke arah mereka, apa yang tindakan yang perlu mereka laksanakan bagi menangani bencana ini ? Seperti yang kita sedia maklum, kebiasaannya dan lazimnya, jika berlaku bencana moral di kalangan pelajar, ada 4 pihak yang pasti menjadi tumpuan segala kesalahan disandarkan kepada mereka. Pertama ibubapa, kedua pihak sekolah ketiga masyarakat dan keempat, kepimpinan negara. Sememangnya tidak dinafikan, keempat-empat pihak tersebut menjadi pencetus dan penyumbang kepada bencana dan malapetaka moral yang sedang meledak di negara kita ini. Sebagai golongan yang berhati perut, keempat-empat golongan ini perlu tahu apa tanggungjawab serta peranan mereka dalam menangani kebejatan moral yang maha dahsyat ini.


Sekarang kita muhasabah semula diri kita berkaitan bencana yang sedang berlaku ini, bukankah sikap kita yang berdiam diri dan mementingkan diri sebenarnya antara sebab dan punca berlakunya bencana ini? Bukankah kita semua bersalah kerana tidak bersatu hati mencegah dan membanteras bencana ini?



5.1 Peranan Ibubapa


Golongan ibubapa memang sangat patut dipersalahkan, kerana kita semua sedar, didikan pertama dari ibubapa sangat mempengaruhi gaya perlakuan anak-anak, maka merupakan satu kesalahan besar kepada para ibubapa menyalahkan pihak lain jika anak mereka rosak, kerana mereka perlu sedar "Jangan salahkan pasaran jika kilang menghasilkan produk yang tidak berkualiti".


Menurut Khadijah Haidi Khalid (Meneroka Alam Remaja, 1994) salah satu peranan penting bagi ibubapa ialah kemahiran mendengar dan komunikasi dengan anak-anak. Di mana beliau menyatakan, kepentingan corak komunikasi ibubapa dengan anak-anak, amat mempengaruhi gaya perlakuan anak-anak. Ibubapa perlulah setia mendengar sedia membantu menyelesaikan masalah dan kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak, buka jalan dan ruang kepada anak-anak untuk meluahkan rasa, bahkan ibu bapa perlu berkongsi masalah dengan anak-anak dengan nada ingin tahu, cuba menghormati dan memahami situasi anak-anak. Ibubapa juga perlu mengawal dan menapis ego dan emosi dari dilempiaskan ke arah anak-anak jika apa yang diluahkan tidak bersesuai dengan pandangan dan pendirian ibubapa sendiri. (Khadijah Haidi Khalid, Meneroka Alam Remaja, 1994)


Seterusnya, perkara paling asas bahkan paling utama yang sering diabaikan oleh golongan ibubapa ialah penerapan dan pemantauan pendidikan agama dalam diri anak-anak. Sekadar memberi input atau fakta-fakta agama tidak memadai untuk mengawal tingkah laku anak-anak. Perkara yang lebih utama dari sekadar memberi input dan fakta-fakta agama ialah anak-anak perlukan penghayatan agama melalui contoh-contoh tauladan serta penerapan nilai agama dalam diri mereka. Kerana dibimbangi anak-anak hanya akan beramal kerana ia menjadi suatu adat kemudian apabila berlaku sesuatu yang tidak sesuai dengan jiwanya, lalu kemudiannya perlakuan anak itu berubah 180 darjah:


"Pernah seorang pelajar mengalami kegoncangan yang hangat setelah putus hubungan dengan seorang sahabat wanitanya. Perubahan berlaku, di mana yangdulunya dia aktif solat, rajin ke masjid, usrah yasinan dan mendengar ceramah-ceramah agama, akhirnya dia buat mogok solat, seperti kecewa kepada Tuhan. Ia menjadi orang yang berputus asa, kononnya kabur masa depan kerana teman wanitanya diambil orang." (Drs. Zulpan Nasution, Menangani Masalah Remaja Muslim, 1996)


Nah, betapa terbukti, sekadar memberi info agama tanpa penerapan serta penghayatan tidak cukup konkrit sebagai perisai diri buat para pelajar. Justeru itu, ibubapa perlu mendepani masalah ini dengan penuh hikmah dan bijaksana.



5.2 Peranan Sekolah


Seperti yang kita sedia maklum, sekolah bukan sekadar berperanan sebagai institusi pendidikan, bahkan ia juga berfungsi sebagai sebuah institusi sosial yang sangat mempengaruhi moral pelajar. Dalam menangani masalah bercinta di kalangan pelajar, pendidikan Islam dan pendidikan moral tidak mencukupi, pelajar perlu juga mendapat dan pendidikan seks yang terbuka supaya para pelajar tahu batas-batas dan risiko-risiko dalam bercinta, agar mereka lebih berhati-hati dan berwaspada agar tidak terlanjur dengan aktiviti-aktiviti salah laku seks, dosa dan maksiat-maksiat lain:


"Proses pembesaran tanpa diiringi dengan pengetahuan seks telah menyebabkan para remaja mencari saluran-saluran lain untuk mendapatkan sedikit pengetahuan tentang seks. Amat malang sekali sudahlah ibubapa tidak mahu melayan pertanyaan anak-anak, di sekolah pula guru-guru melarang pelajar-pelajarnya membicarakan tentang seks." (Ann Wan Seng, Kerenah Pelajar Hari Ini, 1994)


Sememangnya kita tidak dapat menafikan perbincangan dan pendedahan seks boleh mengakibat seseorang pelajar itu terjebak ke arah perbuatan salah laku seks lembah dosa dan maksiat. Namun kita perlu sedar seks juga mempunyai pengertian positif, kerana seks telah wujud dalam jiwa manusia sejak dilahirkan lagi. Pendidikan seks yang ingin diterapkan di sekolah-sekolah bukanlah untuk mengajar para pelajar bagaimana cara untuk melakukan seks, tetapi sebaliknya bertujuan mengawal perilaku seks pelajar dengan menyampaikan mesej tentang bahayanya perlakuan seks bebas dan liar tanpa sebarang ikatan perkahwinan.


Pendidikan seks yang ingin diterapkan di sekolah-sekolah pasti ada pengimbangnya, seperti penerapan nilai dalam Pendidikan Islam dan Pendidikan Moral. Bahkan dalam pendidikan seks itu sendiri menerapkan batas-batas kesusilaan dan etika agama:

"Sekiranya pendidikan seks dapat disampaikan dengan cara yang ilmiah dan betul, masalah kelucahan dan kekotoran seks tidak timbul. Sebenarnya pelajar-pelajar telah didedahkan dengan pendidikan seks, yakni melalui mata pelajaran Sains dan Biologi.......Pendekatan memperkenalkan pendidikan seks harus mengambil kira beberapa factor seperti psikologi, biologi, dan perkembangan remaja. Faktor-faktor ini sekiranya digabungkan dengan ilmu pengetahuan yang ilmiah dan pengajaran agama tentu dapat memberikan kita satu alternatif kea rah menyelesaikan desakan nafsu seks anak-anak muda yang membara." (Ann Wan Seng, Kerenah Pelajar Hari Ini, 1994)



5.3 Peranan Masyarakat


Satu penyakit kronik dalam sosial masyarakat kita ialah, sikap "Individualistik". Penyakit ini berpunca dari sikap masyarakat yang menganggap tidak mengapa jika berlaku sesuatu perkara buruk ke atas orang lain, yang penting asalkan dirinya sendiri hidup tenang.

Masyarakat perlu berubah, bukan sahaja berani untuk menegur, bahkan bersedia untuk menerima teguran. Jika pelajar ingin bercinta, masyarakat perlu bimbing fitrah mereka agar tidak menjadi fitnah. Masyarakat boleh membantu pelajar dengan memperbanyakkan aktiviti kemasyarakatan yang melibatkan pelajar-pelajar, agar pelajar-pelajar yang bercinta ini berada di bawah pemantauan pihak ibubapa dan masyarakat. Masyarakat yang dimaksudkan termasuklah badan-badan bukan kerajaan, badan-badan korporat, organisasi-organisasi dan persatuan.

Suasana, budaya, kepercayaan dan gaya hidup masyarakat turut mempengaruhi gelora jiwa para pelajar yang bercinta. Sekiranya sesebuah masyarakat itu tinggi kekuatan ruhaninya, para remaja yang bercinta pasti tahu batas-batas dan adab-adab bercinta, agar tidak terlanjur dan tidak terhumban ke lembah dosa dan maksiat. Tetapi sekiranya masyarakat jahil dengan ilmu agama, maka pastinya remaja yang bercinta itu akan terlibat dengan aktiviti salah-laku seks. Masyarakat sebagai satu medium penyampai dan institusi besar yang membimbing dan membentuk remaja. Sekiranya pelajar-pelajar yang bercinta ini terjebak dengan aktiviti-aktiviti salah laku seks, bermakna masyarakat di sekelilingnya memang seperti itu. Kerana budaya masyarakatlah yang mempengaruhi perilaku pelajar. Pelajar-pelajar sekolah pula meniru dan belajar perlakuan masyarakat berdasarkan pemerhatian mereka secara berperingkat. Oleh yang demikian, peranan setiap individu dalam masyarakat ialah menyuburkan amalan hidup berpegang teguh dengan ajaran, hukum hakam agama serta adab-adab dan nilai-nilai baik yang wujud dalam budaya dan adat.


6- Kesimpulan/Penutup.

Berdasarkan perbincangan-perbincangan di atas, kita perlu sedar, bukan cinta itu yang membinasakan para pelajar, bahkan jika cinta dalam diri pelajar itu kita bimbing dengan agama, ia menjadi satu jihad buat kita. Tetapi apabila pelajar bercinta, kemudian kita lepas tangan dan tidak membimbing mereka dengan jalan agama, bermakna kita dengan tangan kita sendiri yang telah merosakkan cinta para pelajar. Apa-apa kerosakan akhlak dan moral yang berlaku pada para pelajar kita, kita janganlah cepat melatah dan menuding jari kepada pihak-pihak tertentu, tapi cerminlah diri kita sendiri terlebih dahulu, apa sumbangan dan tindakan yang telah kita laksanakan untuk menyelamatkan remaja kita. Adakah serius dan bersungguh-sungguh kita memperjuangkan isu ini. Semoga pa yang dibincangkan di dalam hasil kerja ini mampu membuka mata hati kita, dan semoga kita dapat mengambil iktibar dan pengajaran.

















KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin