Jumaat, 3 Januari 2014

SEJARAH NEGARA THAILAND TIDAK PERNAH DI JAJAH OLEH KUASA ASING.

Faktor Intern
1. Adanya suksesi yang baik di Siam sehingga terdapat pemimpin yang mampu melindungi Siam dari imperialisme bangsa Barat.
Di Siam ada 3 (tiga) Raja yang mampu "mengakali" agar imperialisme Barat tidak serta merta mengambil alih Siam. Tiga raja itu adalah Raja Mongkut (Rama IV pada 1851-1868), Chulalongkorn (Rama V pada 1858-1910), dan Wachirawut (Rama VI pada 1910-1925). Tiga Raja tersebut pandai menempatkan diri di Asia Tenggara, mereka mampu menghadapi situasi-situasi sulit sesuai dengan perhitungan-perhitungan mereka yang matang. Dengan adanya kebijakan-kebijakan dari tiga Raja tersebut khususnya Raja Mongkut, Siam mampu menjadi suatu wilayah yang mandiri dan mampu menerima modernisasi.[1] Raja Mongkut adalah seorang yang luar biasa, ia mapu memadukan kemodernan dan ketradisionalan di Siam. Sehingga walaupun terdapat pembangunan infrastruktur yang modern tetapi tidak melupakan nilai-nilai tradisional.[2] Raja Mongkut merupakan Raja yang cakap, sehingga ia mampu menjalin hubungan dengan pihak-pihak asing, ia mampu belajar banyak dari orang-orang asing yang ia kenal. Raja Mongkut juga termasuk Raja yang bijaksana karena ia pernah hidup membiara selama 20 tahun. Selain Raja Mongkut, Rama V dan Rama VI juga mendapatkan pendidikan Barat yang baik, sehingga pandangan dan cara berfikir mereka tidak lagi kaku. Oleh karena itu mereka pandai dalam hal berdiplomasi.[3]
2. Siam mampu memanfaatkan persaingan dan ketegangan antara Indocina, Prancis, dan Kerajaan Inggris, serta berbagai kekuatan asing di Asia Tenggara.
Siam mampu membaca situasi untuk "mengakali" agar negerinya tidak terkena gerusan imperialisme Barat. Hal tersebut terkait dengan perjanjian-perjanjian yang dilakukan oleh Siam dengan negara-negara asing seperti: Perjanjian Burney (dengan Amerika Serikat pada tahun 1833), perjanjian dengan Inggris (perjanjian Bowring pada tahun 1855), Siam juga melakukan perjajian sejenis dengan Prancis dan Amerika Serikat (1856), Denmark (1858), Portugis (1859), Belanda (1860), dan Prusia (1862). Dengan perjanjian perjanjian yang dilakukan oleh Siam tersebut secara tidak langsung pihak-pihak asing di Siam merasa saling terusik sehingga mereka mempunyai konflik masing-masing di luar Siam.

3. Respon Siam terhadap Barat: Siam yang bisa menerima modernisasi dan sesuatu yang baru.
Siam mampu memanfaatkan adanya pengaruh Barat di negerinya, ia menggunakan hal-hal yang baik dari Barat dalam negerinya. Juga mampu menerima hal-hal yang modern untuk negerinya tanpa meninggalkan sifat tradisional mereka. Diadakannya pendidikan dengan sistem Barat. Raja Mongkut sendiri banyak menggunakan orang Barat dalam melaksankan modernisasi negerinya.
Faktor Ekstern
1. Oleh kekuatan Barat, Siam dijadikan wilayah Buffer State.
Sebab, pada waktu itu Inggris dan Perancis membutuhkan suatu wilayah yang netral dimana Siam terletak di tengah Bangladesh (yang diduduki oleh Inggris) dan Vietnam (yang diduduki oleh Perancis).
2. Adanya evolusi bertahap pada pemerintahan.
Sejak 1932, Thailand telah menjadi monarki konstitusional, dengan raja sebagai kepala negara dan bentuk pemerintahan parlemen.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin