Rabu, 1 Mei 2013

PERANAN GURU AGAMA BUDDHA DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN.

A.      Latar belakang
Pendidikan Agama Buddha adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhalak mulia, serta peningkatan potensi spiritual sesuai ajaran Buddha. Usaha itu menunjukan agama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewududkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermutu.
Pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, serta peningkatan potensi spiritual. Akhlak mulia mencangkup etika, budi pekerti dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spiritual mencangkup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan serta penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individu ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabat sebagai mahluk tuhan. Optimalisasi berbagai potensi berhubungan dengan pendidikan agama secara formal atau non formal. Pengaruh dari pendidikan agama formal berhubungan dengan mutu pendidikan. Pengaruh pendidikan non formal berhubungan dengan kualitas sarana, pembimbing keagamaan yang mendukung aplikasi ilmu yang didapat dari pendidikan formal. Hubungan pendidikan formal dan pendidikan non formal ini akan menunjukan peran penting antara mutu pendidikan terhadap aplikasi pendidikan yang baik dan berguna. Dari peran penting pendidikan formal ini menunjukan mutu pendidikan agama Buddha harus terus ditingkatkan. Peningkatan mutu pendidikan tentunya harus dimuali dari orang yang memiliki kopetensi dan paling tahu kondisi lapangan. Kondisi lapangan yang dimaksud adalah dunia pendidikan atau yang lebih spesifik lagi kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Orang yang paling dekat dengan KBM adalah guru agama Buddha. Guru sebagai orang terdekat dengan KBM berada di posisi terpenting dan paling ideal untuk melakukan evaluasi atau melakukan penelitian untuk kemajuan pendidikan. Dari posisi penting guru ini penulis tertarik untuk mengkaji seberapa besar guru agama Buddha dalam usahanya meningkatkan mutu pendidikan? Kajian ini tersaji dalam paper berjudul “Peranan Guru Pendidikan Agama Buddha Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan”.

B.       Pembahasan
1. Definisi Guru
a. Definisi Guru Secara Umum
Guru berasal dari bahasa Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah "berat" yang secara umum lebih diartikan seorang pengajar suatu ilmu (http://id.wikipedia.org/wiki/Guru). Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Pasal 1 ayat 1 UU Guru dan Dosen). Profesional diartikan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (Pasal 1 ayat 4). Dengan kata lain sebuah profesi rnemerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya. Pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk pekerjaan itu.
Berdasarkan uraian penjelasan tentang guru maka pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga Ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru secara maksimal. Dengan kata lain guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya. Guru bisa diartikan pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti itu menunjukan harus mempunyai kualifikasi formal. Guru dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Beberapa istilah yang juga menggambarkan peran guru, antara lain dosen, mentor, tentor, tutor.
b. Definisi Guru dalam Agama Buddaha
Pekerjaan guru adalah suatu profesi yang menuntut pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu. Karena itu ia harus memiliki kom­petensi yang cukup dan profesional. Kompetensi ini tidak berdiri sendiri, tetapi  terkait dengan tanggungjawab moral dan tanggungjawab sosial, yang dipraktikkan dalam kehidupan individu dan kehidupan sosial.
Dalam Tipitaka Buddha menjelaskan, seorang gu­ru adalah orang yang mendengar dan menyebabkan orang lain men­dengar, seorang yang belajar dan mengajar, seorang yang tahu dan memberi tahu dengan jelas, seorang yang cakap me­ngenali kecocokan dan ketidakcocokan, serta tidak menimbulkan per­tengkaran. Ia tidak bimbang di depan orang banyak, ceramahnya ti­­dak kehilangan arah, tanpa ada yang disembunyikan, tidak ragu-ragu berbicara, dan tidak menjadi bingung atau marah menghadapi  per­tanyaan (A. IV. 196). Dari penjelasan itu bisa dilihat bahwa seorang guru yang dimaksud Buddha harus memiliki kriteria tertentu. Kriteria yang dimaksud adalah seorang guru harus memiliki kopetensi dan profesionalitas seperti dalam kriteria seorang guru di zaman sekarang. Kriteria kopetensi dan profesionalitas dapat dilihat dari penjelasan, orang yang dapat menyebabkan orang lain mendengar, bisa mengajar, orang yang tahu dan memberi tahu dengan jelas. Kriteria guru profesional dapat dilihat dalam penjelasan oarang yang  mendengar, belajar, cakap mengenali kecocokan dan ketidak cocokan serta tidak menimbulkan pertengkaran. Analisa ini menunjukan Buddha juga menjelaskan pengertian seorang guru seperti kriteria guru secara umum, bedanya di zaman Buddha belum ada pendidikan formal. Menurut Buddha dalam Mańgala Sutta, Khuddakapāţha, Khuddaka Nikāya (Ňanamoli, 2005:146-147) bahwa “ample learning, and a craft, too, with a well-trained disciplining any speech that is well spoken: this is a supreme good omen”. Seseorang yang mempunyai banyak pengetahuan, keahlian, dan keterampilan serta terlatih baik dalam tata susila merupakan berkah utama. Agar guru patut dijadikan teladan bagi anggotanya, guru harus memiliki pengetahuan, keahlian, dan keterampilan serta terlatih dalam tata susila. Kemampuan guru seperti itu adalah kemampuan yang harus dimiliki seorang guru profesional.

C.      Definisi Pendidikan
1.      Definisi Pendidikan Secara Umum
Ada beberapa penjelasan mengenai definisi pendidikan. Arti pendidikan secara etimologis, pendidikan berasal dari kata paedagogie dari bahasa Yunani terdiri dari kata “pais” artinya anak, dan “again” diterjemahkan membimbing, jadi peadagogie yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 1 menyatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Berdasarkan beberapa definisi  pendidikan itu, pendidikan dapat di lihat dalam tujuh pemahaman, yaitu: (1) Memajukan tumbuhnya budi pekerti, pikiran, serta kedewasaan anak; (2) Proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan; (3) Pengarahan, bimbingan, latihan; (4) Usaha sadar untuk menciptakan keadaan tertentu; (5) Pembentukan kepribadian anak menuju arah kedewasaan; (6) Kegiatan yang berkesinambungan; (7) Merubah tingkah laku. Dari ketujuh pemahaman itu secara garis besar definisi pendidikan adalah usaha sadar untuk mencapai perubahan tertentu secara berkesinambungan dengan penyesuaian terhadap lingkungan.
2.      Definisi Pendidikan dalam Agama Buddha
Pendidikan berasal dari istilah latihan (sikkha), tersirat bahwa pendidikan merupakan proses belajar, latihan pelajaran, mempelajari, mengembangkan dan pencapaian penerangan. Pada isitilah ini termasuk juga disiplin moral (síla), konsentrasi (samadhi), dan pengetahuan atau kebijaksanaan (pañña) (A.I.231). Disiplin moral dilakukan terus-menerus dengan perhatian pendidikan sebagai sifat fungsional dari latihan, praktek, dan kemajuan setahap demi setahap (anupubbasikkha anupubbakiriyä anupubbapaëipadä).
Selama empat puluh lima tahun Sang Buddha membabarkan jalan pembebasan. Beliau dikenal sebagai guru para dewa dan manusia (sattha devamanussanam) dan pernbimbing manusia. Disiplin moral (síla), meditasi (samadhi), kebijaksanaan (pañña) yang dicapai berdasarkan realisasi keadaan sebenarnya dari kehidupan yang merupakan dasar dan jalan yang diajarkan Buddha. Hal ini menunjukan Buddha menganjurkan agar manusia belajar seumur hidup, meditasi dan mengendalikan pikiran (batin) yang semuanya adalah latihan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Masalah sentral dalam pandangan Buddha adalah penderitaan ma­nusia. Penderitaan bersumber pada keinginan rendah (tanha). Keinginan sendiri timbul tergantung pada faktor lain yang men­da­huluinya. Dalam merumuskan rangkaian sebab musabab yang saling bergantungan (paticcasa­muppada), Buddha menjelaskan kebodohan (avijja) sebagai yang lebih buruk dari se­mua noda. Para Bhikkhu, singkir­kan noda ini dan jadilah orang yang tak bernoda” (Dhp. 243). Buddha memandang bahwa kebodohan merupakan akar penyebab penderitaan dan menyebabkan pikiran yang tidak berkembang menjadi gangguan pencapaian kedamaian, maka seseorang harus menekankan dalam hidupnya untuk mengembangkan mental dan proses pendidikan agar tujuan mulianya tercapai.
Landasan Filosofi pendidikan dalam agama Buddha dapat dilihat dari rumusan em­­pat kebenaran mulia (cattari ariya saccani), yaitu mengidenti­fika­si adanya dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha dan jalan meng­akhiri du­kkha. Dari rumusan ini Buddha memberi petunjuk bagai­mana sebaik­nya mengatasi masalah secara sistematis. Mengatasi masalah secara sistematis menunjukan ada suatu nilai pendidikan yaitu dari mengidentifikasi adanya penderitaan, asal penderitaan, lenyapnya penderitaan dapat dihasilkan pengalaman mengatasi penderitaan. Pengalaman mengatasi penderitaan ini bisa diartikan sebagai ilmu atau pengalaman baru dari proses pembelajaran mengatasi penderitaan.
Kesunyataan mulia yang merupakan jalan yang dapat membimbing manusia pada lenyapnya penderitaan harus dilalui dari pembelajaran atau beberapa latihan (sikkha) pokok yang harus dicapai. Latihan pokok ini adalah jalan mulia berunsur delapan yang dikelompokan menjadi tiga. Pertama, sila: ucapan benar (Samma Vacca), perbuatan benar (Samma Kammanta), penghidupan benar (Samma Ajiva). Kedua, Samadhi: daya upaya benar (Samma Vayama), perhatian benar (Samma Sati), kosentrasi benar (Samma Samadhi). Ketiga, panna: pengertian benar (Samma Ditthi), pikiran benar (Samma Sankhapa). Secara sederhana latihan ini dapat dipahami sebagai menghindari menyakiti makhluk lain serta menolong mereka sebisa mungkin, dan menghindari perbuatan negatif, melakukan kebajikan, mengendalikan batin. Latihan dari penjelasan ini menunjukan terdapat nilai pendidikan dengan melakukan usaha-usaha yang dijelasakan dalam jalan mulia berunsur delapan untuk mencapai tujuan pendidikan dalam agama Buddha yaitu melenyapkan keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan (moha) agar terbebas dari penderitaan (nibbana).
Pendidikan dalam agama Buddha pada dasarnya bersifat terbuka dan tidak ada yang disembunyikan. Terbuka yang dimaksud seperti dalam penjelasan Dhamma atau ajaran Buddha mengundang untuk dibuktikan yang diistilahkan ehipasiko, artinya datang dan lihat (A. III 285 ). Penjelasan itu memberikan kesempatan yang seluas-luasnya pada pengkajian, pemahaman yang rasioanal, dan pengalaman empiris dari semua ajaran Buddha.
Dari pemaparan definisi pendidikan dalam agama Buddha itu, pada praktiknya orientasi pendidikan berada pada proses pendidikan. Proses pada dasarnya merupakan rangkaian sebab akibat, kemudian orang yang dapat melihat sebab akibat dari suatu fenomena akan menghasilkan suatu pemahaman dan pengalaman baru. Pemahaman dan pengalaman baru ini kemudian bisa disebut belajar. Belajar dalam agama Buddha dijelaskan seseorang yang melihat sebab akibat, berarti melihat Damma (M. I, 191 ).

D.      Tugas Guru
Tugas guru terdapat dalam, UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 39 Ayat 2 menyatakan bahwa tugas guru sebagai pendidik yang profesional adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik di perguruan tinggi. Penjelasan dari tugas guru ini menunjukan bahwa guru memiliki tanggungjawab dalam peningkatan mutu pendidikan.

E.       Meningkatkan Mutu Pendidikan
Tugas seorang guru dalam peningkatan mutu pendidikan sangat penting. Buddha dalam Nava sutta Kuddhaka Nikaya menjelaskan dengan mengikuti seorang guru yang rendah dan bodoh yang belum memahami makna Dhamma dan iri hati, akan mendekati kematian karena tanpa memahami Dhamma Ia akan slalu dalam keraguan. “Jika seorang pria turun ke sungai yang airnya meluap dan mengalir deras akan terbawa oleh arus, bagaimana dia bisa membantu orang lain?” Orang yang belum memahami Dhamma, tidak memperhatikan arti sebagaimana yang diuraikan oleh yang terpelajar, Ia akan menjadi dirinya sendiri yang tanpa pengetahuan dan selalu dalam keraguan, bagaimana dia bisa membuat orang lain mengerti? “Tetapi jika (orang di sungai) mengetahui metode dan terampil dan bijak, dengan naik ke sebuah perahu yang kuat dilengkapi dengan dayung dan kemudi, Ia dapat membantu banyak orang”. Ia yang berpengalaman dan memiliki pikiran yang terlatih baik, terpelajar dan diandalkan, mengetahui dengan jelas, Ia dapat membantu orang lain yang siap serta bersedia mendengarkan untuk menerima dan memahami Dhamma. Belajar dan berlatih daalam penjelsan itu menunjukan seorang guru harus terus berlatih dan belajar demi peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan diusahakan oleh seorang guru dengan selalu belajar.
Untuk meningkat mutu pendidikan khususnya  pendidikan dalam agama buddha seharunya seorang tenaga pengajar yang perofesional memiliki stertegi yang digunakan dalam pembelajaran. Strategi yang digunakan tentunya harus berdasar pada landasan pengetahuan yang luas dan ditunjang dengan ide-ide kreatif dan inovatif dalam penyusunan strategi pembelajaran. Dalam Ańguttara Nikāya (Hare, 2001:97-98) Buddha menjelaskan bahwa memiliki bāhusacca atau pengetahuan luas, kreatif, inovatif merupakan peta dalam bekerja dan mampu memahaminya secara jelas dan terang akan membawa kepada kebijakan yang mengkondisikan kesuksesan. Dengan memiliki kelebihan seseorang akan dipercaya karena dianggap mampu mengkondisikan tercapainya tujuan bersama dalam kelompok. Pengetahuan luas, kreatif, inofatif merupakan kunci dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan yang dalam dunia pendidikan bisa di kembangkan dalam strategi pendidikan. Strategi pendidikan dapat dikembangkan dengan beberapa cara, yaitu:
1.    Perencanaan
Suatu perencanaan mengandung tujuan, kebijaksanaan dan cara mencapai tujuan, kegiatan yang akan dilakukan secara sistematis dan didasarkan pada perhitungan. Dalam perencanaan Buddha mem­per­timbangkan situasi permasalahan dengan hambatan dan potensinya. Ia menghindari atau mem­ba­tasi ketidakpastian, dan sebaliknya memas­tikan prospek perkembangan pada masa yang akan datang. Dengan bahasa kita sekarang Ia memilih alternatif yang terbaik dan prioritas yang tepat se­hing­ga da­pat memanfaatkan sumber daya de­ngan efek­tif sekaligus efisien.      
Setiap orang memiliki perbedaan pendapat, masalah, kebutuhan atau keinginannya. Buddha tidak perbedaan itu dan biasa bertanya: “Apa pendapat­mu?” atau “Bagaimana pikiranmu?” Berbagai dialog yang tercatat dalam Tipitaka dimulai dengan pertanyaan itu. Buddha mempertim­bang­kan perbedaan setiap orang dengan merencanakan suatu pertolongan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan orang yang dididik dalam hal ini adalah Dhamma. Pernencanaan itu bisa diterapkan dalam bidang pendidikan secara umum. Suatu perenca­naan yang menyangkut kepentingan pihak lain memer­lukan ke­sa­maan pendapat dan kesamaan sisi pandang. Peserta didik harus tahu me­ngapa Ia ingin belajar atau diajar.
Agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik, harus ada persiapan. Kesiapan mengajar dan kesiapan belajar sama pentingnya. Bagaimana mempersiapkan seseorang untuk belajar, di­tun­jukkan oleh Buddha, misalnya dengan memberi makan orang yang lapar sebelum Ia me­nyampaikan khotbah-Nya (DhpA. 203).
Kondisi belajar selain berhubungan dengan keadaan fisik dan psi­kis seseorang, juga dipengaruhi lingkungan. Faktor-faktor lingkungan perlu dipertimbangkan untuk melakukan kegiatan pendidikan terten­tu. Lingkungan memiliki pengertian luas, apakah itu lingkungan so­sial, budaya, ekonomi, atau tempat terkait dengan situasi dan kon­disi. Seperti latihan meditasi menghendaki pe­milihan lingkungan yang se­suai menurut objeknya. Hutan misalnya, menja­di tempat pi­lih­an untuk mereka yang melatih diri dengan menyingkir dari kedu­niawian (Dhp. 99). Kondisi lingkungan ini menunjukan bahwa seorang guru juga harus mengatur, merencanakan atau menyesuaikan pelajaran dengan suasana tempat yang mendukung kegiatan pembalajaran.
2.    Strategi Pendekatan
Setiap orang memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Perbedaan ciri khas ini menunjukan perlunya pendekatan dalam pendidikan bera­gam yang memperhatikan potensi atau kapasitas, kebu­tuhan, sifat dan mi­nat peserta didik. Setiap orang diterima sebagaimana adanya dengan kelebihan dan kekurangan. Se­perti yang diumpamakan oleh Buddha, ber­­macam-macam pohon, besar, sedang atau kecil, mene­rima air hu­jan sesuai dengan kebu­tuhannya untuk tumbuh berkem­bang. Kasus Biku Cula Panthaka merupakan contoh bagaimana pende­katan individual memperhatikan keunikan seseorang yang memer­lukan keterampilan dalam cara mendidik. Biku yang tidak pandai meng­­hafal ini diajar oleh Buddha untuk duduk di bawah terik mata­hari, menggosok kain putih yang bersih, mengamatinya seraya meng­u­capkan kata-kata “bersih dari kekotoran”. Melihat proses kain itu menjadi kotor kena keringat tangannya, seketika ia sampai pada pe­mahaman induksi kausalitas dan ketidakkekalan (DhpA. 25). Ca­ra men­didikpun bermacam-macam agar peserta didik men­dapat manfaat yang sebesar-besarnya (Saddharmapundarika-sutra V).

Pendidikan diberikan secara sistematis dan bertahap. Ke­giatan dimulai dari sasaran-sasaran yang mudah dicapai, sehingga mendorong langkah-langkah berikutnya. Bhikkhu Moggallana pernah bertanya kepada Bud­­dha me­ngenai la­tihan yang bertahap, yang dibandingkannya de­ngan bagai­mana se­orang murid diajar menghitung satu-satu, dua-dua, tiga-tiga, hingga sepuluh lalu seratus. Buddha pun menjelaskan bagai­mana ajaran-Nya secara bertahap dan sistematis dapat dipelajari dan di­laksanakan, mulai dari peraturan, mengendalikan indera, hingga me­ngembangkan konsentrasi dan mencapai jhana (M. III. 1-2). Cara yang bertahap diumpamakan seperti memperlakukan anak yang hi­lang, setelah kem­bali, memer­lukan penyesuaian diri, selangkah demi selangkah diberi kesempatan untuk me­ningkatkan kedudukan atau tugas dan tanggung jawab­nya  (Saddharmapundarika-sutra IV).
Keterampilan memilih pendekatan menyangkut apa yang dina­makan upaya-kausalya. Secara harfiah kata upaya kausalya berarti “cara untuk mencapai hal yang harus dicapai”. Pengertian ini meliputi berbagai cara atau instrumen yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan, yaitu kebebasan. Istilah ini juga sering diartikan sebagai “ke­pandaian atau keterampilan untuk membuat yang lain mencapai tu­juan”. Keterampilan dalam cara ini dipandang merupakan salah satu bentuk kesem­purnaan dari sepuluh kesempurnaan (dasa-paramita) seorang Bodhisattwa yang penuh dengan cinta kasih (maitri) dan kasih sayang (karuna).
Belajar tidak hanya untuk mengetahui atau mengingat (pariyatti) tetapi juga untuk melaksanakan (patipatti) dan mencapai penembusan (pativedha). “Meskipun seseorang banyak membaca Kitab Suci, teta­pi tidak berbuat sesuai dengan Ajaran, orang yang lengah itu sama seperti gembala yang menghitung sapi milik orang lain, Ia tidak akan memperoleh manfaat kehidupan suci.” (Dhp. 19). Pengetahuan saja  tidak akan membuat orang terbebas dari penderitaan, tetapi Ia juga harus melaksa­nakannya (Sn. 789).
Mengacu pada pembicaraan Buddha dengan Kesi, strategi  pende­katan dalam pendidikan dapat dibedakan atas tiga pendekatan. Pertama, pendekatan halus/positif: menunjukkan apa yang baik dan ha­silnya yang menimbulkan kese­nangan atau keuntungan. Kedua, pendekatan keras/negatif: menunjukkan apa yang tidak baik dan hasilnya yang menimbulkan penderitaan atau kesusahan. Ketiga, gabungan pendekatan keras dan halus. Gagal dengan ketiga bentuk pendekatan itu, akhirnya seorang siswa yang tidak dipedulikan atau dimasabodokan sama saja artinya dengan dibunuh (A. II. 111). Tiga pendekatan ini menunjukan peserta didik tidak kehilangan kebebasan, tetapi mema­hami konsekuensi yang akan dihadapi atas pilihannya.
Pendekatan halus yang lain adalah persuasi, yang bersifat meng­ajak melalui argumentasi atau diskusi, de­ngan memberikan alasan dan prospek baik yang meyakin­kan. Misalnya dalam hal men­dorong umat berdana, mempertahankan kerukunan, menghormati orang tua. Cara persuasi diper­gu­nakan oleh Buddha ketika menuntun Ambattha untuk menyadari bahwa tidak benar martabat manusia ditentukan oleh kela­hiran atau kastanya (D. I. 92-100). Dalam kasus Biku Nanda yang bosan menjadi biku, sehingga Buddha memper­lihatkan lima ratus bidadari kepada­nya (DhpA. 13-14), agak­nya dapat ditemukan cara per­suasi sekaligus manipulasi. Dalam hal ini manipulasi yang dimak­sud bukan kecu­rangan atau dusta yang me­rugikan seseorang. Manipulasi yang dimaksud adalah strategi yang digunakan untuk menyadarkan orang lain.
Untuk menjinakkan dan melatih gajah liar yang baru lebih mudah dengan bantuan gajah lain yang sudah jinak dan terlatih. Gajah liar diikat pada gajah jinak yang membimbingnya keluar dari hutan. Ga­jah yang diikat itu mulai dilatih bagaimana seharusnya mengatur laku supaya diterima oleh ling­kung­annya yang baru (M. III. 132). Gajah yang dibesarkan di tengah rombongan sirkus tidak bisa berbeda dari gajah sirkus, kebiasaan itu ditularkan. Untuk men­ja­di pan­dai, Buddha menganjurkan agar bergaul dengan orang yang pandai. “Karena itu mendapatkan orang yang pandai, bijaksana, ter­pelajar, tekun, patuh dan mulia, hendaknya ia selalu mengikuti orang seperti itu bagai bulan mengikuti peredaran bintang” (Dhp. 208).
Dari penjelasan tentang strategi pendekatan dalam agama Buddha ini menunjukan strategi pendekatan berpengaruh dalam peningkatan mutu penidikan. Pengaruh itu seharusnya digunakan guru agama Buddha dalam KBM. Penggunaan strategi pendekatan itu tentunya harus diterapkan dengan tepat karena untuk meningkatkan minat belajar siswa selain menggunakan pendekatan guru sebaiknya juga menjadi fasilitator, bukan pendikte. Buddha se­ring me­nem­patkan diri sebagai fasilitator, seperti dalam kasus Kisa Gotami yang diminta mencari segenggam biji lada dari rumah orang yang tidak pernah kematian, untuk menghidupkan anaknya yang sudah mati (DhpA. 114).

3.      Metode Pembelajaran
Penerimaan materi pelajaran akan dipengaruhi metode pembelajaran. Penggunaan metode ceramah sebaiknya diberikan secara sistematis. Agar mudah diingat, penyampaian materi dapat diberi urutan nomor, dike­lompokkan menurut tema dan berdasar jumlah butir uraian seperti yang ditemukan dalam Kitab Suci Anguttara-Nikaya. Buddha sering mengulang khotbah-Nya yang penting pada berbagai kesem­patan. “Sering mengulang pelajaran membuahkan pengetahuan yang men­dalam” (A. V. 136). Selain narasi deskriptif dan analisis, Buddha ba­nyak menyampaikan ajaran dalam bentuk cerita dan syair. Peng­ung­kap­an konsep mungkin mengha­dapi keterbatasan kata-kata, kare­na itu yang dipentingkan adalah menangkap maknanya. Selain mema­kai sinonim, berbagai perum­pamaan, contoh-contoh, visualisasi atau pe­ragaan dipergunakan untuk membe­ri penjelasan Buddha juga meng­­izin­kan orang yang mempe­lajari ajaran-Nya untuk mengguna­kan ba­ha­sa masing-masing (Vin. II. 139). Di akhir pembahasan dibuat ke­sim­pulan yang singkat tetapi jelas. Teknik-teknik semacam ini me­mu­dahkan para umat untuk memahami dan menghafal apa yang telah diajarkan. Selain itu teori harus didukung oleh praktik atau latihan.           
Komunikasi yang baik akan membawa keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Untuk itu diperlukan tanya jawab dan dialog secara aktif. “Sering mendengarkan dan menanyakan membuahkan kebijak­sanaan” (A. V. 136). Diskusi dan debat merupakan cara yang efektif sepanjang tidak mengabaikan aspek manfaat. Buddha Gotama ahli dialog dan dialek­tika yang selalu membuat orang-orang tunduk di kala berdebat. Ia mesti mengatasi segala perbedaan dan pertentangan pandangan zaman-Nya. Yang menarik dari diri Buddha adalah per­paduan antara ke­pala yang dingin dan hati yang hangat. Buddha bebas dari perasaan sentimental di satu pihak dan di pihak lain ti­daklah bersikap masa bodoh.
Agar mem­peroleh pengertian yang benar di­per­lukan kesaksian orang lain dan pengamatan atau pere­nungan sendiri yang setepat-tepatnya secara bijaksana (M. I. 294). Si­kap subjektif seperti su­ka dan tidak suka (Sn. 781), kecenderungan karena keinginan yang mengikat, ke­bencian, kegelapan batin dan ketakutan (A. II. 18) merin­tangi sese­orang untuk memahami kebenaran apa adanya.
Buddha memberi kesempatan bagi mereka yang ingin mengemu­ka­kan opini. “Para Biku, Aku mengizinkan, bilamana terdapat empat atau lima orang yang menyanggah, bilamana terdapat dua atau tiga orang mengutarakan pendapat. Bila hanya seorang yang mengambil keputusan, tiadalah Aku berke­nan” (Vin I. 115). Semangat ini dapat ditemukan dalam berbagai metode diskusi, seperti seminar, simpo­sium, dan lokakarya. Tentu saja, kegiatan kelompok akan berhasil ji­ka semua peserta berperan secara aktif dan bermakna.
Setiap peserta didik memerlukan pengalaman belajar mandiri mau­­pun belajar dalam kelompok. Tugas perorangan sebagai latihan me­rupa­kan cara yang dapat dikem­bangkan sesuai dengan kebu­tuhan. Untuk memahami permasalahan dan memecahkan masalah, studi ka­sus dan studi lapangan tentu akan memberi pengalaman belajar yang efektif.
Pengetahuan manusia adalah segala sesuatu yang dijangkau oleh mata dan bentuk materi, telinga dan bunyi, hidung dan bau, lidah dan rasa, badan dan objek-objek sentuhan, pikiran dan objek-objek mental (S. IV. 15). Untuk mendapatkan persepsi lewat indera yang sebaik-baiknya, berbagai media audio visual atau multi media akan sangat menolong. Selain itu suasana lingkungan belajar juga memberi pe­nga­ruh yang cukup besar.
Dalam Tipitaka juga ada beberapa penjelasan lain berkaitan dengan strategi pendidikan. Pertama, untuk mengajar Buddha memberi petunjuk kepada Ananda agar memenuhi lima hal, yaitu: mengajar secara bertahap, mengajar de­ngan alasan atau berdasar sebab yang mendahului sehingga dime­nger­­ti, mengajar terdorong karena cinta kasih, mengajar tidak bertu­juan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, mengajar tanpa meru­gikan diri sendiri ataupun orang lain (A. III. 184). Strategi yang pertama ini dapat dimasukan dalam strategi perencanaan. Kedua, sekalipun menguasai berbagai mukjizat Buddha tidak menyaran­kan penggunaan cara-cara magis dan supernatural untuk mengajar. Buddha menggunakan kekuatan ajaran sebagai keajaiban mengajar (anusa­sani-patihariya), yang menunjukkan alasan atau sebab untuk diper­tim­­bangkan, sehingga orang mau melatih diri dan menyingkir­kan apa yang buruk (D. I. 214). Strategi kedua ini bisa dimasukan dalam strategi pendekatan. Ketiga, Buddha mengajarkan Dharma dengan pengetahuan tinggi yang da­pat dipahami (abhinnaya-dhammadesana), bukan penge­ta­huan yang ti­dak dapat dipahami, memperlihatkan kebenaran supaya orang lain ikut memiliki pengetahuan dan berpandangan benar. Ia  menga­jarkan Dhar­ma dengan hu­bungan sebab akibat (sanidana-dhamma­desana), bukan tanpa hu­bung­an sebab akibat. Ia mengajarkan Dharma yang me­­nak­jubkan dan praktis meyakinkan (sappatihariya-dhammadesa­na). Karena alasan yang baik, kenapa Ia mengingatkan, karena alasan yang baik kenapa Ia memberi petunjuk (A. I. 276). Strategi ketiga ini bisa dimasukan dalam metode pembelajaran. Dari beberapa penjelasan mengenai strategi pendidikan ini menujukan, bahwa Buddha telah mengajarkan metode-metode pembelajaran yang sangat berguna dalam peningkatan mutu pendidikan. Ajara-ajaran ini hendaknya di pahami dan diterapkan oleh seorng guru pendidikan agama Buddha untuk bisa disinergikan dengan strategi pendidikan yang didapat dari pendidikan formal moderen.

F.       Kesimpulan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Pengajaran adalah tugas bagi guru sebagai pembimbing, pendidik, fasilitator, dan pembaharu dalam kegiatan pendidikan ketarap yang lebih kedepan. Tugas mengajar seorang guru harus dibekali kopetensi yang didapat dari pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal adalah dari bangku sekolah dan pendidikan non formal bisa didapat dari pengalaman dan ilmu agama dalam hal ini dikhususkan agama Buddha. Bekal ilmu itu menunjukan bahwa guru agama Buddha memiliki tanggungjawab dan kopetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Hal itu seperti penjelasan Sang buddha yang tidak meng­hendaki pendi­dikan yang menghasilkan seba­risan orang buta yang saling me­nuntun (M. II. 170). Seorang guru sebaiknya memiliki lima kualitas, sebagaimana se­orang biku senior, yaitu: Ia adalah orang yang me­nguasai analisis lo­gika; menguasai analisis hubungan sebab akibat; menguasai analisis tata bahasa; menguasai analisis segala sesuatu yang dapat dikenali; apa yang harus dilakukan oleh para pengikut, menjalani kehidupan suci, besar atau kecil, cakap dan aktif, berusaha meneliti persoalan; siap melakukan dan membuatnya terlaksana (A. III. 113). Tanggungjawab dan kopetensi inilah yang menjadi alasan bagi seorang guru pendidikan agama Buddha untuk memajukan mutu pendidikan berdasrkan ajaran Buddha dan ilmu yang didapat dari pendidikan formal.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin