Isnin, 27 Mei 2013

RUMAH TANGGA YANG BAHAGIA

Akhir-akhir ini, trend menunjukkan bahwa pernikahan lebih sering berujung di pengadilan agama. Artinya, tidak sedikit yang berencana cerai dengan pasangannya. Pengajuan proses perceraian menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak ingin mempertahankan pernikahannya. Berbagai kasus perceraian ini umumnya disebabkan oleh banyk faktor, misalnya masalah financial, pihak ketiga, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya. Tentunya, setiap pasangan yang ingin berpisah mempunyai alasan yang berbeda.
Tak bisa dipungkiri, dalam kehidupan rumah tangga pasti menghadapi cobaan. Sesungguhnya, cobaan yang dilalui merupakan pemanis bumbu kehidupan rumah tangga. Manakala setiap pasangan yang menikah dapat melalui cobaan dalam rumah tangganya, maka pintu kebahagiaan akan terbuka lebar bagi mereka. Tidak hanya pintu kebahagiaan dalam rumah tangga, tetapi juga pintu surga akan terbuka lebar bagi mereka yang dapat mempertahankan pernikahannya. Oleh karena itu, suami dan istri harus sama-sama siap menghadapi berbagai cobaan yang akan menerjang.
Meski begitu, membina rumah tangga bahagia diperlukan guna menyikapi berbagai cobaan yang datang dan retaknya kapal keluarga. Pastinya, dalam mengarungi lautan rumah tangga, menghadapi terjangan ombak tidaklah mudah. Sehingga, setiap pasangan yang menikah harus bahu membahu membawa kapal rumah tangganya menghindari badai dalam keluarganya. Oleh karena itu dalam membina rumah tangga diperlukan peran suami dan istri. Sehingga membina rumah tangga tidak hanya bergantung pada suami saja, tetapi juga peran istri juga sangat dibutuhkan dalam mempertahankan pernikahan.
Membina rumah tangga bahagia merupakan upaya dalam membawa rumah tangga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan waromah. Hal ini dalam artian membangun rumah tangga menuju keluarga bahagia. Setiap pasangan yang terikat tali pernikahan diwajibkan untuk selalu membina rumah tangganya menjauhi  jurang perceraian. Dan, upaya yang dilakukan setiap pasangan tersebut tentunya tidak sama dalam membina rumah tangga bahagia.
Umumnya, tidak sedikit cara yang dapat dilakukan guna membina. Diantaranya membina kerukunan secara utuh. Suami dan istri harus sama-sama membina kerukunan dalam rumah tangganya. Hal ini saya ibaratkan menjadi kedua tangan kita dan tidak menjadi kedua telinga. Pertama, maksud dari kedua tangan adalah setiap pasangan harus sama-sama saling memikul rumah tangga. Sehingga pasangan tersebut diharapkan pada posisi saling melengkapi. Manakala tangan kanan memberi maka tangan kiri menerima. Begitu pula sebaliknya. Disatu sisi, hal ini berbeda dengan kedua telinga. Artinya, meskipun kedua telinga saling berdekatan tetapi mereka tidak bisa saling melengkapi dan tidak bisa bertemu menjadi kesatuan yang kuat. Ibarat ini dapat dikatakan bahwa kedua telinga mencerminkan sikap saling iri dan tidak saling mengisi. Sebagai contoh, manakala seorang perempuan memakai anting-anting disalah satu telinganya, maka telinga satunya akan nampak tidak indah karena telinga yang tidak terdapat anting-antingnya akan iri membutuhkan anting-anting juga yang sama dengan telinga yang terdapat anting-antingnya. Sehingga,  dalam hal ini kedua telinga memerlukan sepasang anting-anting agar sama indahnya.
Berikutnya, suami dan istri harus berani mengakui kesalahannya tatkala diantara mereka ada yang berbuat kesalahan. Pada dasarnya, setiap manusia memang tidak akan luput dari kesalahan. Hal ini dalam artian suami istri harus saling mengisi kelemahan masing-masing. Manakala suami melakukan kesalahan maka istri harus memaafkan. Begitu pula sebaliknya, manakala istri melakukan kesalahan maka suami juga harus bisa memaafkan.
Lain dari pada itu, suami istri harus memenuhi kewajibannya masing-masing. Mereka harus bertanggung jawab atas kewajibannya. Keduanya tidak boleh meninggalkan apa yang menjadi kewajibannya. Manakala setiap pasangan memenuhi kewajibannya maka rumah tangga akan menjadi bahagia. sebagai contoh, seorang bapak harus memenuhi kewajibannya dalam sandang pangan dan papan, dst. Begitu pula istri juga harus memenuhi kewajibannya bertutur kata yang baik dengan suami, memasak dan sebagainya. Apabila dalam rumah tangga, seorang istri  bertutur kata baik maka hati suami akan merasa nyaman. Pasalnya diantara suami istri akan saling menghargai dengan selalu bertutur kata yang baik.
Dalam pada itu, membina rumah tangga merupakan kewajiban bagi setiap pasangan yang terikat tali pernikahan. Dan setiap pasangan tersebut sangat tidak dianjurkan memutus tali pernikahan dengan suatu perceraian. Pasalnya, ALLAH SWT sangat membenci perceraian. Oleh karena itu, suami istri harus sama-sama membina rumah tangganya menjadi bahagia. Kebahagiaan tidak bergantung pada salah satu pihak saja, namun kebahagiaan merupakan tanggung jawab suami dan istri. Kebahagiaan rumah tangga akan dapat diperoleh tatkala suami dan istri menjaga keluarganya dengan cinta sejati. Dalam bahasa jawa dapat dikatakan sebagai katresnanan sejati. Namun, yang lebih utama adalah suami dan istri saling mencintai mengharap ridho dan lindungan ALLAH SWT guna membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan waromah. Bagaimana anda menyikapinya?

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin