Ahad, 20 Oktober 2013

KASIH SAYANG SEORANG ANAK KEPADA IBUNYA.



Saya sangat tersiksa dan hati saya tidak pernah tenang selama hidup ini. Berbagai cara saya coba untuk bisa tulus menyayangi ibu saya. Saya selalu teringat akan perlakuan ibu kandung saya sejak kecil bu,

Sejak berusia 3 bulan sampai saya tamat SD, saya diasuh oleh nenek dari pihak ibu. Pas mau SMP saya baru tinggal dengan ibu dan ayah tiri saya. Nenek pun tak tahu siapa ayah kandung saya, dan saya pun tak berani bertanya pada ibu.

Sejak saya tinggal bersama ibu itulah penderitaan lahir batin dimulai. Ibu saya selalu menyiksa saya, Bu. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi, kata-kata kasar ibu pada saat marah selalu menyebut saya anak haram, anak sial dan banyak lagi. Kalau isi kebun binatang sudah jadi santapan saya tiap hari. Penderitaan itu terus saya rasakan sampai kuliah. Sudah besarpun saya masih sering menerima pukulan ibu. Saya hanya bisa bersabar, karena saya ingin menyelesaikan studi saya. Ayah tiri saya cuek, Bu.

Suatu kali nenek pernah memergoki saya dalam keadaan babak belur, mata saya biru bengkak, rambut saya nyaris botak. Saya memang tidak pernah mengadu pada siapapun tentang perlakuan ibu. Saat itu kebetulan nenek datang dari kampung ingin menjenguk saya, karena nenek sangat sayang pada saya, maka nenek bermaksud mengambil saya kembali, tapi ibu murka bu. Bahkan nenek, kakek dan paman saya dilaporkan ke polisi. Ibu bisa bayangkan ibu saya berkelahi fisik dengan ortunya sendiri! Untungnya pihak kepolisian tidak memperpanjang masalah ini, karena dianjurkan berdamai saja. Ibu saya, menurut nenek saya dan memang saya rasakan sendiri, adalah anak satu-satunya dari 6 anak nenek yang paling nakal sejak kecil.

Sayapun diperlakukan bak PRT, Bu. Semua pekerjaan rumah saya yang mengerjakan.

Singkat kata, akhirnya setelah lulus kuliah, saya tidak ada jeda nganggur, begitu lulus, saya langsung kerja, alhamdulillah Allah mendengar do’a saya. Penghasilan saya terus meningkat bu, dan saya walau masih gadis sudah bisa beli rumah dan mobil. Sejak saya mandiri dan penghasilan saya bagus, kini ibu sangat baik sekali dan berubah 360 derajat. Nah, saat ini justru saya sangat dendam pada ibu saya. Di depan ibu, muka saya manis kadang juga sinis, tapi hati saya sebenarnya sangat benci.

Ayah tiri saya kini sudah pensiun, jadi ibu sering minta uang pada saya. Saya sih selalu ngasih, bu, tapi hati saya tidak ikhlas. Intinya saya benci dan sangat dendam pada ibu.

Tapi saya ingin sekali mencoba untuk bisa sayang dengan tulus dan ingin seperti teman-teman saya, bisa berpelukan dengan ibu, bisa curhat sama ibu. Hal itu belum pernah saya lakukan bu, hari raya saja saya hanya cium tangan saja, itupun hati saya masih saja tidak ikhlas.

Saya tahu menyimpan benci dan dendam adalah salah, tapi rasa itu tidak pernah bisa saya hilangkan. Ada dua kata yang selalu terngiang di telinga saya, yaitu saat ibu saya bilang bahwa saya anak haram dan anak sial.

Apakah saya termasuk anak durhaka, Bu? Saya ingin jadi anak yang berbakti pada ibu, tapi selalu tidak bisa. Saya harus bagaimana, Bu? Tolonglah saya.

WAssalamualaikum,

RN

Jawaban

Assalammu’alaikum wr. wb.

Saudari RN yang sholehah,

Perasaan sakit akibat perlakuan ibu yang demikian aniaya terhadap Anda pastilah tak mudah dihilangkan begitu saja. Karena di samping semua luka fisik yang pernah Anda rasakan maka yang paling sulit disembuhkan tentu adalah luka mental dan rasa trauma. Apa yang Anda rasakan kepada ibu adalah hal yang manusiawi, yaitu sulit merasakan cinta kepadanya.

Tentu saja perasaan cinta hanya dapat tumbuh melalui perlakuan yang juga disertai oleh cinta. Ibarat benih ia akan tumbuh sebagaimana perlakuan kita dalam merawatnya. Ketika ibu Anda tidak memperlakukan Anda dengan cinta maka Anda tak dapat disalahkan ketika perasaan tersebut terasa sulit ditumbuhkan.

Namun sebagaimana tumbuhan yang layu karena perlakuan yang buruk, tapi masih dapat di kembalikan keindahannya jika ada perbaikan dalam perawatannya. Memang tumbuhnya takkan seindah yang telah dirawat sejak awal, namun tetap masih ada yang dapat diperbaiki.

Mungkin begitu pula dengan perasaan anda, mungkin Anda tak bisa berharap untuk dapat mencintai ibu Anda sebagaimana teman-teman Anda yang dirawat dengan penuh kasih. Namun perlakuan baik Anda kepada ibu dan berusaha untuk tidak menyakitinya juga sudah merupakan sebuah usaha yang besar yang tentunya dinilai oleh Allah sebagai suatu bakti pada ibu anda.

Teruslah tumbuhkan kebaikan kepadanya, meski rasa sakit masih Anda rasakan. Dan berdo’alah kepada Allah agar mampu meluluhkan hati yang dingin, karena Allah yang memiliki hati tentu mampu merubah segalanya. Berhentilah untuk terus merasa bersalah, karena apa yang terjadi pada hidup Anda bukan sepenuhnya kesalahan anda. Tak banyak anak yang dianiaya yang mampu melawan rasa sakitnya untuk tetap berlaku baik kepada orang tua yang menganiayanya dan untuk ini saya angkat topi kepada Anda sebagai bentuk penghargaan atas usaha anda.

Yakini bahwa Anda seorang anak yang berharga dan Anda sudah membuktikannya dengan kehidupan yang Anda jalani saat ini. Ketika Anda membalas semua kekhilafan ibu dengan kebaikan maka hal tersebut menunjukkan betapa besar nilai Anda sesungguhnya sebagai seorang anak, mungkin lebih dari pada anak-anak lain yang dapat memberi kasih karena mereka juga dikasihi. Wallahu’alambishawab

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Sumber Menumbuhkan Rasa Sayang pada Ibu : http://assunnah.or.id

“Kisah Mengharukan Anak Yang Mencoret Mobil Ayahnya”

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin