Sabtu, 27 Julai 2013

MENGENAI KISAH SEJARAH AGAMA BUDDHA



Beberapa bulan yang lalu di mata kuliah agama di kampus saya, dosen saya memutarkan DVD film berjudul “The Life of Buddha”. Film yang dibuat BBC ini cukup bagus, karena terlihat bahwa BBC benar-benar melakukan penelitian, riset, dan survei mengenai kehidupan Buddha Gautama. Film ini menceritakan sejarah kehidupan Gautama, mulai dari kelahirannya hingga kehidupannya sebagai pendiri agama Buddha. Setelah menonton film tersebut, saya semakin tertarik untuk mempelajari agama Buddha. Saya berdiskusi dengan banyak orang Buddha, ikut diskusi di forum Buddha, dan juga membaca buku-buku dan artikel tentang Buddha. Berbagai pemikiran pun membanjir di kepala saya. Karena itu di artikel ini saya akan menceritakan secara singkat mengenai agama Buddha, dan juga tinjauan terhadap agama Buddha ini.

Kehidupan Gautama
Siddharta Gautama dilahirkan pada tahun 563 SM di India. Ia adalah seorang pangeran, anak dari Raja, sehingga ia adalah calon pewaris tahta kerajaan. Ayahnya sangat berharap ia akan menjadi pewaris tahta kerajaan yang hebat, sehingga ia berusaha membesarkan Gautama dengan sebaik mungkin. Siddharta hidup di tengah kemewahan. Ia mempunyai banyak pelayan. Selain itu, ia juga diberi pelajaran mengenai berbagai ilmu, dan Siddharta berhasil menguasainya dengan baik. Ia adalah seorang yang pandai.
Karena ada ramalan bahwa Siddharta akan menjadi Buddha, ayahnya berusaha menghindarkannya dari semua pemandangan tentang penderitaan. Ayahnya berusaha membuatnya hanya tahu kesenangan duniawi semata. Suatu hari Siddharta meminta izin untuk berjalan-jalan di luar istana. Saat itulah Siddharta melihat 4 pemandangan yang mengubahkan hidupnya.
Pertama, dia melihat di ladang. Ada banyak orang tua yang miskin, harus bekerja susah payah membajak ladang. Siddharta menyadari bahwa mereka sungguh menderita, sungguh kelelahan. Kedua, ia melihat orang yang sedang sakit. Kembali ia menyadari bahwa orang sakit ini sangatlah menderita. Dan ketiga, ia melihat orang yang sudah mati. Salah seorang pegawainya mengatakan padanya bahwa semua orang pada akhirnya juga akan mati. Di dalam ketiga pemandangan tersebut, pegawainya mengatakan padanya bahwa itu semua adalah hal yang biasa dan selalu terjadi di dunia ini. Dan keempat, Siddharta melihat seorang pertapa. Pegawainya mengatakan bahwa pertapa tersebut telah meninggalkan rumahnya untuk mencari jawaban akan realita dunia ini.
Selama 10 tahun, Gautama mengalami pergolakan di dalam batinnya. Pada akhirnya, di usia 29 tahun, ia meninggalkan istana. Ia telah bertekad mencari jawaban untuk melepaskan umat manusia dari “tua”, “sakit”, dan “mati”. Ia kemudian pergi berguru kepada beberapa pertapa terkenal.
Selama 6 tahun, ia bertapa menyiksa diri di hutan. Ia hanya memakan sebutir beras setiap harinya. Ia sangat menderita, sampai-sampai badannya hanya tinggal tulang. Gautama sadar bahwa bertapa seperti itu tidak akan membuatnya mencapai pencerahan sempurna. Pada akhirnya ia memutuskan untuk berhenti menyiksa diri lagi. Ia kemudian pergi dan duduk merenung di bawah pohon Bodgaya. Ia bersumpah tidak akan pergi sebelum mencapai pencerahan sempurna.
Kemudian Gautama mengalami serangan mara, setan penggoda yang dahsyat. Pertama, setan menembakkan panah api kepadanya, namun Gautama tetap tenang dan mengubah panah tersebut menjadi dedaunan kering. Kemudian, setan muncul menjadi beberapa gadis yang menggoda Gautama. Namun Gautama hanya memandanginya tanpa perasaan apapun sampai akhirnya gadis-gadis itu terisap ke dalam bumi. Perlu diketahui di sini bahwa menurut pernyataan Gautama sendiri, setan tersebut berasal dari dalam dirinya sendiri, yaitu tidak lain merupakan penjelmaan sifat setan di dalam dirinya. Jadi setan tersebut tidaklah sama dengan konsep Kristen dan Islam yang meyakini adanya iblis yang berada di luar tubuh kita dan selalu berusaha mengganggu kita.
Kemudian setelah mengalahkan mara tersebut, Gautama mencapai pencerahan sempurna. Ia telah mencapai nirwana (keterlepasan dari penderitaan), ia telah mengetahui segala sesuatu. Ia kemudian juga mengingat seluruh rangkaian kehidupannya di masa lampau, banyaknya reinkarnasi (atau lebih tepatnya rebirth) yang ia alami. Singkat cerita, Gautama kemudian menyebarkan ajarannya tersebut, dan kemudian lahirlah agama Buddha. Ketika usianya mencapai 80 tahun, tubuhnya mulai lemah. Ia mengalami beberapa penyakit yang disertai keluhan-keluhannya pada kesakitannya tersebut. Dan kemudian ia akhirnya meninggal.

Sekilas Ajaran Buddha
Pengajaran Buddha dapat diringkaskan ke dalam 4 proposisi utama yang memiliki tema sentral “penderitaan”, yaitu masalah (The Disease), penyebab (The Cause), penyembuhan/penghentian (The Cure) dan terakhir jalan keluar (The Medicine). Dalam artikel ini saya tidak akan menjelaskan keseluruhan ajaran tersebut, karena itu akan membutuhkan banyak buku untuk menyelesaikannya, dan saya juga belum cukup berpengetahuan untuk melakukan hal tersebut. Saya akan membahas saja beberapa aspek pengajaran Buddha dari sudut pandang Kristen.

Keindahan Agama Buddha
Pertama, orang-orang yang tidak beragama Buddha, tidak boleh memandang rendah atau menjelek-jelekkan agama Buddha, hanya karena memiliki iman yang berbeda. Perhatikan bahwa Agama Buddha adalah agama yang sungguh indah. Gautama adalah orang yang sungguh-sungguh mulia. Ia bersedia meninggalkan seluruh kemakmurannya demi menolong umat manusia untuk lepas dari penderitaan. Ia tidak mencari kemuliaan diri sendiri, dan ini patut dicontoh. Agama Buddha juga mengajarkan begitu banyak nilai-nilai moral yang baik. Maka dari itu, kita semua tanpa terkecuali haruslah menghormati Agama Buddha maupun pemeluknya. Bagaimanapun, Agama Buddha adalah suatu agama yang baik. Namun demikian, saya tidak mengatakan bahwa ajaran Agama Buddha adalah benar. Saya menghormati Agama Buddha, tidak berarti saya menganggapnya benar. Sama seperti halnya saya menghormati Aristoteles, namun saya tidak menganggap semua ajarannya benar. Beberapa ajaran Aristoteles telah terbukti salah.

Tuhan Dalam Agama Buddha
Mungkin akan mengejutkan banyak orang jika saya mengatakan bahwa Agama Buddha adalah sebuah agama yang tanpa Tuhan, namun memang demikianlah kenyataannya. Dalam film buatan BBC tersebut, disebutkan sampai 2 kali bahwa Buddha adalah agama yang tanpa Tuhan. Ajaran tentang Tuhan tidak ada di seluruh ajaran Gautama tersebut. Gautama tidak pernah mengajarkan untuk menyembah Tuhan; tidak juga mengajarkan tentang sifat-sifat Tuhan. Dan Buddha itu sendiri pun juga bukan Tuhan. Gautama sama sekali tidak pernah mengatakan dirinya adalah Tuhan atau dewa, dan tidak pernah pula menyuruh dirinya dipatungkan atau disembah. Jadi apakah Buddha adalah agama yang ateis? Bisa jadi. Namun ada kemungkinan lain, yaitu: Gautama menganggap keberadaan Tuhan adalah suatu hal yang mutlak pasti ada, sehingga dia tidak usah membahasnya. Memang pada zaman itu ateisme belum menjamur seperti sekarang. Mungkin Gautama berpikir,”Tuhan itu ada atau tidak, itu tidaklah penting; yang penting adalah berbuatlah baik dan capailah Nirwana”.

Namun demikian, ada suatu problem dalam konsep Gautama ini. Gautama mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi baik tanpa Tuhan. Dan lebih dari itu, Gautama bahkan mengajarkan bahwa manusia bisa mencapai keselamatan atau Nirwana tanpa Tuhan! Ini tentu kontras dengan konsep Kristen yang mengatakan bahwa manusia hanya bisa dilepaskan dari kuasa dosa oleh kuasa Tuhan, dan bahwa manusia hanya bisa memperoleh keselamatan karena pertolongan Tuhan.

Satu hal lagi yang mengganggu pikiran saya adalah ini. Gautama mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi Buddha; mencapai kesempurnaan, hakikat tertinggi, kemahatahuan; dengan kata lain, menjadi hampir sama seperti Allah. Anda yang beragama Kristen mungkin ingat, bahwa tipuan iblis yang paling kuno adalah: manusia bisa menjadi sama seperti Allah. Tipuan inilah yang iblis gunakan untuk memperdaya Adam dan Hawa di taman eden. Saya bertanya-tanya apakah Gautama telah termakan oleh tipuan iblis ini dalam pencariannya tersebut. Menurut saya, kerinduan Gautama tersebut memang baik; namun kesalahan terbesar Gautama adalah, dia mencari jawabannya dengan kekuatan sendiri, dia bukan mencari jawabannya pada Sang Khalik. Seandainya dia berserah pada Sang Khalik untuk memperoleh jawabannya, saya yakin Sang Khalik akan memberikan jawaban atas pencariannya tersebut.

Hal ini berkaitan dengan salah 1 isu yang banyak dibicarakan di masa sekarang: apakah orang Buddha menyembah patung? Kenyataannya, Gautama sendiri tidak pernah menyuruh dirinya dipatungkan, apalagi disembah seperti itu. Gautama tidak pernah menyuruh pengikut-pengikutnya untuk berdoa minta pertolongan kepadanya. Gautama sama sekali tidak pernah menyuruh dirinya dituhankan. Gautama bahkan tidak pernah mengajarkan untuk menyembah siapapun, entah itu dewa atau Tuhan atau Buddha. Kenapa orang-orang Buddha membuat patung Buddha (bahkan banyak patung Buddha dibuat berukuran raksasa), berlutut dan berdoa di hadapannya? Saya yakin bahwa Tuhan telah menempatkan di dalam diri manusia naluri untuk menyembah suatu kuasa yang lebih tinggi. Karena naluri inilah semua kebudayaan di sepanjang sejarah selalu mempunyai objek untuk disembah, entah itu benda-benda gaib, patung, roh nenek moyang, dewa-dewi, pohon, dan sebagainya. Gautama tidak akan bisa menyangkali adanya naluri ini.






Doktrin Karma-Reinkarnasi
Karma dan reinkarnasi adalah konsep yang berasal dari Agama Hindu, dan kemudian diadopsi oleh Buddha dengan sedikit saja perbedaan. Doktrin ini menyatakan bahwa manusia mengalami kelahiran kembali yang tidak terbatas. Saat dilahirkan kembali, manusia akan lupa akan kehidupannya yang sebelumnya. Manusia akan terus berputar dalam lingkaran reinkarnasi ini, sampai manusia mencapai kesempurnaan. Setelah manusia mencapai kesempurnaan tersebut, manusia bisa “melompat keluar” dari lingkaran reinkarnasi ini dan masuk ke Nirwana. Sedangkan Karma adalah doktrin bahwa kita akan mendapatkan akibat dari segala hal yang telah kita perbuat, entah itu baik atau jahat. Akibat tersebut bisa saja terjadi di kehidupan kini, namun bisa juga terjadi di kehidupan yang akan datang, setelah reinkarnasi. Dan entah bagaimana, kaum Buddha menyamakan hukum karma ini dengan hukum alam. Mereka menganalogikan seperti hukum aksi-reaksi dalam fisika.

Saya mempunyai beberapa keberatan atas doktrin ini. Pertama: jika memang manusia pasti menerima akibat dari perbuatannya, kenapa banyak orang jahat yang justru hidupnya semakin makmur? Kaum Buddha biasanya menjawab bahwa ia akan menanggung akibat kejahatannya di kehidupannya yang kemudian. Namun jika demikian, ini berarti berkontradiksi dengan konsep mereka bahwa hukum karma=hukum alam. Dalam hukum aksi-reaksi fisika, bola yang didorong ke kanan pasti akan langsung bergerak ke kanan. Kehidupan orang jahat yang justru semakin makmur dan baru menanggung akibatnya kelak itu, bagaikan bola yang didorong ke kanan namun justru bergerak ke kiri; berjam-jam kemudian barulah tiba-tiba bola itu bergerak ke kanan.


Keberatan kedua saya berkaitan dengan reinkarnasi. Kaum Buddha meyakini bahwa orang yang terlahir miskin atau cacat mengalami itu karena menanggung akibat kejahatannya sendiri di kehidupan sebelumnya. Banyak orang yang mengalami berbagai penderitaan dan kemalangan sejak lahir, dan itu akibat kejahatan mereka di kehidupan yang lampau, kata kaum Buddha. Saya mengajak anda sekalian untuk mempertimbangkan: jika memang demikian, kenapa setelah ribuan tahun manusia mengalami reinkarnasi, dunia ini justru semakin penuh dengan kebobrokan moral, bukannya semakin baik? Ditambah lagi, pada kenyataannya, doktrin ini tidak memberikan penjelasan berarti terhadap pertanyaan “mengapa manusia dan keinginan manusia itu selalu cenderung berbuat dosa?”


Keberatan ketiga saya adalah: tidak ada bukti atau alasan kuat yang mendukung konsep adanya reinkarnasi. Selama ini saya sudah pernah mencoba mengecek beberapa "bukti" yang disodorkan pihak buddhism; di antaranya tentang orang yg bisa mengingat kehidupan masa lalunya; namun saya temukan bahwa bukti itu tidak valid semua, kebanyakan sumbernya tidak jelas, tidak ada bukti identitas yang jelas, atau cuma rekayasa.

Keberatan keempat: Pikirkanlah baik-baik; seandainya anda sudah hampir mati nanti, anda sedang terbaring sekarat di rumah sakit dikelilingi orang-orang yang anda cintai; apa yang anda harapkan? Apakah anda mengharapkan reinkarnasi? Reinkarnasi tidak menjawab kerinduan terdalam kita; kita tentunya berharap kita bisa kembali hidup bersama sahabat-sahabat kita, kekasih kita. Mengharapkan persahabatan dan cinta yang abadi dalam damai. Itulah yang juga tersirat dalam banyak lagu-lagu zaman sekarang. Kita sudah menikmati banyak kenangan bersama sahabat, momen-momen romantis bersama kekasih; kita tidak ingin kehilangan semuanya itu begitu saja. Dan sekarang pikirkanlah: apakah reinkarnasi menjawab kerinduan itu. Dalam reinkarnasi, kita kehilangan semua sahabat kita, keluarga kita, kekasih. Kita kehilangan semua kenangan-kenangan indah. Bahkan seandainya kita bertemu mereka lagi setelah reinkarnasi pun, kita dan mereka sudah menjadi orang yang jauh berbeda. Apakah itu yang anda harapkan? Sungguh reinkarnasi adalah suatu konsep yang tragis dalam pandangan saya; saya yakin yang kita butuhkan adalah kehidupan damai bersama di surga kekal, bukan reinkarnasi.

Keberatan kelima: Konsep reinkarnasi saya anggap tidak masuk akal dari segi rasio. Buddhism tidak percaya adanya roh; jika demikian, sebenarnya reinkarnasi (atau lebih tepatnya tumimbal lahir) itu apa? Anggap saja saya bereinkarnasi menjadi seorang bernama andi. Kita bisa gambarkan: Paulus -> Andi. Lantas kesamaan apakah yang menghubungkan saya dengan seorang bernama Andi itu? Apakah Rohnya sama? No, buddhism tidak percaya adanya roh. Apakah tubuhnya sama? No, tubuh Paulus akan tetap membusuk di dalam peti mati, tidak mungkin tiba-tiba bangun dan berubah menjadi Andi. Apakah sifatnya sama? No, seorang bernama Andi akan terlahir sebagai seorang bayi dulu, cengeng dan kekanak-kanakan, kemudian baru perlahan-lahan menjadi dewasa. Apakah pengetahuannya sama? No, semua pengetahuan saya tentang ekonomi, agama, filsafat, sains dan sebagainya akan hilang; Andi harus mempelajarinya ulang mulai dari awal di bangku TK. Bahkan seandainya saya sudah menjadi umat buddhism yang cukup baik dan mempelajari banyak tntang buddhism, saya harus mempelajarinya ulang lagi mulai dari awal setelah reinkarnasi nanti. Di sini saya bisa menyimpulkan bahwa konsep reinkarnasi ini tidak masuk akal sekaligus sangat tragis; petaka yang amat buruk bagi umat manusia.

Keberatan keenam saya masih berkaitan dengan keberatan kelima. Satu-satunya jawaban untuk pertanyaan di atas adalah: yang menghubungkan Paulus dengan Andi adalah karmanya. Akibat karma Paulus akan ditanggung oleh Andi. Aneh bukan? Setelah direinkarnasi, saya akan kehilangan keluarga, kehilangan pengetahuan saya, kehilangan harta saya, kehilangan kepribadian saya, namun secara "aneh bin ajaib" karmanya masih bisa terus melekat.Ini seakan-akan Paulus dan Andi adalah orang yang berbeda, namun akibat perbuatan Paulus justru ditanggung oleh Andi. Seandainya Andi mengerti tentang ini, mungkin dia akan protes sebagai berikut: "Kenapa saya harus menderita gara-gara Paulus? Saya ini bukan paulus! Roh saya beda dengan roh dia, sifat saya beda dengan sifat dia, dsb". Lihatlah betapa banyaknya orang di dunia ini yang menderita penindasan, kelaparan, dan sebagainya, padahal mereka orang baik. Apa salah mereka? Kaum buddhist biasanya menjawab bahwa itu akibat perbuatan jahat mereka di kehidupan lampau. Sungguh ironis; manusia harus menanggung akibat perbuatan mereka di masa lampau yang mereka tidak ingat sama sekali.Sebaliknya, dalam Kristen, kita akan dihakimi oleh Tuhan nantinya; semua perbuatan kita akan dibuka di hadapan Tuhan, tidak ada yang ditutup-tutupi. Ingatan akan semua perbuatan kita akan dibuka, dan kita akan mempertanggungjawabkan semua itu secara adil. Mana yang mau anda pilih? Sekali lagi di sini saya menyimpulkan bahwa konsep reinkarnasi ini tragis dan tidak masuk akal.

Keberatan ketujuh saya berkaitan dengan siapakah yang mengatur hukum karma dan reinkarnasi ini. Bukankah Gautama tidak pernah mengajarkan apapun tentang Tuhan? Jika demikian, siapakah yang menciptakan hukum karma ini? Dan siapa yang mengatur jalannya hukum karma dan reinkarnasi ini? Kaum Buddha seringkali mengatakan bahwa semua sudah ada dengan sendirinya, sama seperti hukum alam, dan tidak diperlukan seorang pengatur atas semua hukum ini. Namun saya berikan analogi: hukum karma ini bagaikan tabel debet-kredit dalam akuntansi. Hutang karma kita akan dihitung, perbuatan baik kita akan dihitung. Lantas siapakah seorang akuntan yang menjalankan ini? Jika suatu hari anda melihat sebuah buku akuntansi yang berisi tabel debet-kredit yang tersusun rapi, bukankah anda pasti akan menyimpulkan bahwa ada seorang akuntan yang telah membuatnya?





Keberatan kedelapan saya adalah mengenai akibat dari kamma baik. Kaum Buddha mengatakan bahwa jika kita berbuat baik di kehidupan sekarang dan sedikit berbuat jahat, kita bisa memperoleh akibat baiknya di kehidupan sekarang ataupun mendatang. Akibat baik tersebut bisa berupa terlahir di keluarga kaya, atau terlahir di keluarga kerajaan, atau terlahir di kota yang makmur dan berkecukupan. Itulah yang juga dialami oleh Gautama; ia terlahir di keluarga kerajaan yang enak karena ia berbuat baik di kehidupan lampaunya. Jika dipikirkan secara mendalam, ada sesuatu yang sangat aneh di sini: Buddhism mengajarkan bahwa kekayaan, kesuksesan, kemakmuran dan sebagainya itu adalah hal yang duniawi dan tidak bisa menghasilkan kebahagiaan; jika demikian, kenapa perbuatan baik kita malah menghasilkan hal-hal yang duniawi seperti itu? Bukankah justru hal-hal duniawi seperti kekayaan dan ketenaran itu malah menyulitkan kita untuk mencapai nibbana (karena untuk mencapai nibbana kita harus melepaskan keduniawian kita)?

 
Keberatan kesembilan adalah tidak diikut-sertakannya tumbuhan dalam “pola” reinkarnasi. Buddhism percaya bahwa manusia bisa bereinkarnasi menjadi binatang, dan sebaliknya. Jika demikian, kenapa tumbuhan tidak diikut-sertakan juga? Bukankah tumbuhan juga merupakan makhluk hidup, sama seperti manusia dan binatang? Orang Kristen dan Islam tahu pasti bahwa tumbuhan berbeda dibanding manusia dan binatang, karena tumbuhan tidak memiliki roh, sedangkan manusia dan binatang punya. Namun Buddhism tidak mempercayai adanya roh; karena itu, jika Buddhism ingin konsisten terhadap pandangan mereka bahwa roh itu tidak ada, maka seharusnya tumbuhan juga diikut-sertakan dalam “pola” reinkarnasi itu.




Banyaknya Peraturan
Ravi Zacharias, salah 1 ahli perbandingan agama terbaik dunia saat ini, mendeskripsikan sebagai berikut tentang banyaknya peraturan dalam agama Buddha:
Mereka yang mengikuti ajaran Buddha diberi 30 aturan tentang cara terbebas dari jerat-jerat. Tapi bahkan sebelum menjalankannya, ada 92 aturan yang berlaku hanya untuk salah 1 dari pelanggaran tersebut. Ada 75 aturan untuk mereka yang ingin menjadi pengikut. Ada aturan-aturan disiplin yang harus dijalankan – 277 aturan untuk pria, 311 aturan untuk wanita. Ditambah adanya sejumlah kemungkinan yang tertulis rapi.

 

Dan Ravi Zacharias juga menulis demikian,
Serangkaian aturan seperti tali gantungan yang berayun-ayun mengejek di atas kepala, siap menjerat sekeliling leher jika ada yang bersalah. Semua hukum tingkah laku tertulis dalam berbagai inti ajaran Buddha...... Aku melihat rahib Buddha yang mengembara dengan membawa mangkuk di tangannya, mengawali setiap hari dengan harapan semoga mereka bisa melakukan aturan-aturan ini, tak seorangpun yang cukup yakin apakah mereka telah melakukannya.... Kenyataannya adalah begitu banyak orang yang mencari jalan penyangkalan ini. Sebagian duduk di gua-gua untuk bermeditasi seumur hidup dalam kesenyapan.

Ya. Gautama mengajarkan bahwa umat manusia yang mengalami penderitaan ini sudah menanggung beban hutang karma sejak lahirnya. Kemudian Gautama menyuruh untuk melakukan serangkaian aturan yang begitu banyak, yang begitu berat untuk bisa dilakukan. Sungguh beban besar yang telah diletakkan Gautama pada umat manusia ini! Gautama bahkan sama sekali tidak mengajarkan adanya Tuhan yang akan menolong manusia menanggung beban ini. Bagaimana mungkin agama seperti ini bisa memberikan kedamaian pada umat manusia?

Menarik untuk dicermati bahwa sejak dulu, orang Yahudi penganut Yudaisme pun juga mengalami problem yang mirip. Mereka harus berlelah menaati aturan-aturan hukum Taurat. Kepada orang-orang inilah, Yesus memberikan panggilan yang sangat indah, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:29-30). Saya meyakini bahwa hanya di dalam Yesuslah kita bisa memperoleh kelegaan atas semua beban tersebut. Yesus tidak menyuruh kita melakukan berbagai peraturan; sebaliknya, Ialah yang menggenapi seluruh peraturan tersebut untuk menyelamatkan umat manusia.

Tentang Nirwana
Penting bagi kita semua untuk mengetahui bahwa konsep nirwana dalam agama Buddha berbeda dengan konsep surga dalam Kristen atau Islam. Nirwana bukanlah suatu lokasi, melainkan suatu kondisi, yaitu keterlepasan dari penderitaan. Nirwana ini bahkan bisa dicapai saat kita masih hidup, dan Gautama sendiri juga mengklaim telah mencapai nirwana saat dirinya masih hidup. Saat kita masih hidup, dan kita sudah terlepas dari segala penderitaan, saat itulah kita berada di nirwana. Seperti apakah nirwana ini? Nirwana ini tidak bisa kita mengerti kecuali saat kita mencapainya. Analogi berikut ini mungkin bisa membantu. Bayangkan saja dunia ini adalah dunia yang tanpa suara. Seperti apakah dunia tanpa suara itu? Tentu kita akan sulit membayangkannya, karena selama ini kita hidup di dunia yang penuh suara. Demikian juga dengan nirwana. Kita selama ini hidup di dunia yang penuh penderitaan, jadi pasti sulit bagi kita untuk membayangkan “keterlepasan dari penderitaan” tersebut.

Yang jadi pertanyaan di sini, apakah benar Gautama telah mencapai nirwana tersebut saat ia masih hidup? Apa benar bahwa ia telah sepenuhnya terlepas dari penderitaan? Film dari BBC tersebut menceritakan bahwa ada bukti-bukti bahwa Gautama mengeluh mengenai kesakitan yang dideritanya di masa tuanya. Ada kaum Buddha yang mencoba menjawab dengan mengatakan bahwa Gautama memang terlepas dari penderitaan mental, tapi belum terlepas dari penderitaan fisik. Menurut saya jawaban ini lemah karena orang yang mentalnya tidak menderita pasti tidak akan mengeluh. Selain itu, jika nirwana hanyalah sekedar keterlepasan dari penderitaan mental saja, maka masih ada banyak cara lain untuk terlepas dari penderitaan mental. Contohnya adalah tidur dan mendengarkan musik, yang membuat kita lupa akan semua penderitaan mental kita. Mengenai pencerahan yang diperoleh Gautama beserta munculnya rangkaian kehidupan-kehidupan reinkarnasinya tersebut, patut dipikirkan bahwa Gautama mengalami fenomena itu ketika tubuhnya sangat lemah dan lelah, baik secara fisik maupun mental, mungkin juga diliputi perasaan frustrasi. Fenomena apa yang mungkin terjadi ketika seseorang dalam kondisi tubuh seperti itu? Para pakar psikologi mungkin bisa memberikan pendapatnya dalam hal ini.


Beberapa Kontradiksi
Selain aspek-aspek yang sudah saya cermati di atas, saya juga mencermati adanya beberapa kontradiksi yang tak terhindarkan dalam pengajaran Buddha. Buddha mengatakan bahwa segala sesuatu bersifat sementara; suatu perkataan yang bersifat self destroyed, berkontradiksi dengan dirinya sendiri, karena: jika memang segala sesuatu bersifat sementara, berarti kata-kata Gautama itu sendiri juga bersifat sementara. Selain itu juga adanya kontradiksi yang tak terhindarkan dalam pengajaran Gautama untuk melenyapkan segala bentuk keinginan. Gautama mengajarkan bahwa keinginan kitalah sumber penderitaan kita, karena itu segala bentuk keinginan kita harus dilenyapkan. Namun hal ini membawa pada sebuah kontradiksi: bagaimana dengan keinginan untuk menjadi Buddha? Apakah kita juga harus melenyapkannya?

Kesimpulan dan Penutup
Selama berabad-abad, Agama Buddha telah menjadi salah satu agama terbesar di dunia, dengan jutaan pengikut di seluruh dunia. Kenapa agama ini bisa mendapatkan pengikut yang sedemikian banyak? Karena alasan yang sama dengan alasan Adam dan Hawa memakan buah terlarang di taman eden: mereka ingin menentukan hidup mereka sendiri terlepas dari Allah. Mereka ingin menjadi sama seperti Allah. Mereka ingin menjadi baik tanpa Allah. Mereka ingin mencapai keselamatan dan terlepas dari penderitaan dengan kemampuan sendiri, tanpa Allah.

Bagi anda yang beragama Buddha, saya menyarankan anda merenungkan kembali iman yang anda pegang. Berdoalah pada Sang Khalik untuk menunjukkan kebenaran kepada anda. Allah yang mahakasih selalu menunggu anda dengan tangan terbuka. Ia terus mengetuk pintu hati anda, menunggu anda untuk menyerahkan diri kepada kuasa dan kasih-Nya. Percayalah, Ia akan membebaskan anda dari semua beban anda, dan memberikan keselamatan yang anda butuhkan.

Dan kepada anda yang Kristen, saya perlu menekankan sekali lagi bahwa betapapun salahnya agama Buddha ini, kita semua tanpa terkecuali haruslah menghargainya. Ada banyak nilai-nilai moral yang baik yang diajarkan oleh Gautama, yang tidak bisa saya sebutkan semuanya di dalam artikel ini. Gautama sendiri patut dikenang sebagai tokoh yang berhati mulia. Bagaimanakah kita orang Kristen harus bersikap pada orang Buddha? Kita harus memandang mereka sebagai domba yang terhilang, yang sangat membutuhkan berita Injil. Kita tidak boleh bertindak sebagai serigala yang menerkam habis agama Buddha; sebaliknya, kita harus membawa kabar Injil; sebuah kabar baik, indah, dan damai, yang dibutuhkan orang-orang Buddha.

Orang Buddha adalah orang-orang yang membutuhkan belas kasih dan pengampunan, serta perdamaian dengan Allah; mereka bukan serigala yang harus dimusuhi. Ingatlah bahwa sepanjang sejarah, orang Buddha tergolong jarang terlibat dalam pertikaian antar agama. Orang Kristen harus belajar dari orang-orang Buddha setidaknya dalam 2 hal: Pertama, mereka bisa menjalin kerukunan antar aliran mereka. Meskipun mereka terpecah menjadi banyak aliran, mereka bisa saling menghargai satu sama lain. Kedua, mereka sangat menghargai agama-agama lain. Mereka bisa menghargai perbedaan pendapat. Orang Kristen perlu belajar dari mereka dalam hal-hal positif yang mereka miliki. Dan di atas semuanya itu, kerukunan antar agama harus tetap selalu dijunjung

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin