Rabu, 27 Mac 2013

ISLAM KUAT ATAU LEMAH




Masjid Al Azhar
Perbincangan ringan saya kemarin dengan kawan-kawan berlanjut dengan mengusung tema : Apakah umat Islam pada abad 21 ini dalam posisi kuat atau lemah ?.  Yang hadir dalam perbincangan kami adalah Isa dari Xianjiang China, Harun dari Albania, Talhah dari Istambul Turki, Firdaus dari Tajikistan, Mushtofa dari Swedia, Hamid dari Syishan Rusia serta tentunya saya sendiri. Kami mencoba mengamati keadaan umat Islam dengan sudut pandang negara masing-masing .
Isa sebagai orang China mengawali pembicaraan dengan keadaan muslim China. Kondisi Islam di China belum bisa dikatakan kuat sebagaimana di Indonesia. Jumlah merekapun masih sekitar Nol koma sekian persen dari penduduk China yang hampir mencapai 2,5 miliar. Jumlah muslim di Xianjiang sendiri hanya mencapai 20.000 jiwa. Tentunya populasi ini bisa dibilang sedikit jika perbandingannya adalah rakyat China itu sendiri. Masalah yang lain yang dihadapi muslim China adalah asas negara yang sosialis, sehingga kebebasan bagi mereka masih sangat minim. Seorang muslim yang ingin menjadi wakil dari golongannya dan masuk dalam lembaga pemerintahan harus berani melepaskan statusnya sebagai muslim, status Islam hanya ada ketika di rumah atau di tempat ibadah. Islam tidak bisa dibawa di dalam parlemen. Kondisi inilah yang membuat Isa berkesimpulan kalau muslim belum bisa dikatakan kuat.
Pendapat berbeda dilontarkan oleh sahabat saya dari Albania yang bernama Harun. Dia masuk Islam tahun 2003 berkat perkenalannya dengan orang-orang Islam di Italia, setelah memutuskan untuk masuk Islam, ia memutuskan untuk menuntut ilmu di Mesir. Dia tidak menjawab langsung pertanyaan yang diangkat dari topik ini. Ia menjelaskan keadaan penduduk eropa terutama para pemuda. Sikap individualis dan budaya hedonis telah melalaikan mereka dari tanggung jawab sebagai orang beragama, bahkan hampir sebagian besar orang beragama di Italia  tidak tahu menahu apakah ia beragama atau tidak. Fenomena seperti ini menjadi kesempatan umat Islam di sana untuk menjelaskan agama baru yang bernama Islam. Dengan banyaknya imigran muslim dari timur tengah akibat tidak stabilnya kawasan itu, menjadikan eropa dipenuhi oleh umat Islam. Saat inipun Islam menjadi agama yang perkembangannya paling cepat di dunia.
Harun juga menjelaskan keadaan diri dan keluarganya. Sebelum mereka memeluk Islam, mereka tidak memiliki panduan sebagai pedoman untuk hidup walaupun agama resmi yang dianut adalah kristen, karena memang budaya apatis dan hedonis telah merasuki ranah fikiran orang eropa, walaupun tentunya hal ini tidak bisa digeneralisir. Akhirnya dia berkesimpulan kalau umat Islam tidak bisa dianggap lemah, mereka memiliki jaringan yang kuat di eropa namun juga belum bisa dikatakan kuat jika dibandingkan dengan keunggulan dan keberhasilan mereka sebelum abad 16.
Sahabat saya Tolhah dari Turki dengan tegas menjawab muslim saat ini lemah namun mulai bangun dari tidurnya dan baru memulai, belum benar-benar bangun. Dia mengatakan hal ini berdasarkan persfektif Turki. Setelah kehancuran Ottoman atas Kemal Attatruk pada tahun 1924 lalu, Turki menjadi negara yang benar-benar sekuler. Bahkan Talhah juga menjelaskan bagaimana pada waktu itu sebagaimana yang ketahuinya dari sejarah Turki, adzan yang semua umat Islam sepakat menggunakan bahasa arab, oleh Attatruk diubah menjadi bahasa Turki. Namun, perlahan tapi pasti Islam mulai tampak dengan hadirnya para ulama’ yang menyelesaikan studinya di timur tengah. Said An Nursi sebagai salah satu tokoh besar dalam kebangkitan Turki sangat berperan dalam perkembangan Islam, Beliau menggunakan ajaran tasawwufnya yang tanpa kekerasan sehingga menjadikan rakyat Turki mulai sadar akan keislamannya. Buku Beliau yang paling terkenal dan bisa ditemukan di belahan dunia adalah Risalah Annur yang berisi tentang panduan-panduan dalam mengarungi hidup sebagaimana buku Al Ghozali yang berjudul Ihya’ Ulumiddin. Dengan pelan tapi pasti, Muslim Turki mulai bangkit dari tidurnya yang panjang.
Keadaan ini berbeda dengan yang diceritakan sahabat saya Firdaus dari Tajikistan. Jumlah muslim dari negara bekas jajahan Uni Soviet ini memang mencapai 90 % dari penduduk negara, namun kebebasan sebenarnya belum mereka dapatkan. Bahkan dia menyebutkan, hingga saat ini mengumandangkan adzan di masjid-masjid di Tajikistan dilarang menggunakan pengeras suara karena dikhawatirkan mengganggu kestabilan masyarakat. Banyak tahanan-tahanan negara yang tangkap oleh pemerintah adalah para ulama yang mendengungkan sebuah kebebasan. Kita bisa melihat, dari dulu hingga sekarang, sosialis tidak akan dan tidak mungkin memberikan toleransi terhadap adanya sebuah agama dalam agama dan konsep ini masih sangat terasa di wilayah-wilayah bekas jajahan Soviet. Firdaus berkesimpulan, Muslim masih sangat lemah karena mereka tidak mampu berbuat apa-apa atas penderitaan yang dialami oleh saudaranya di belahan dunia lain.
Mushtofa dari Swedia berpendapat kalau keadaan muslim saat ini sudah mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan di eropa. Keilmuan Islam di eropa sudah menjadi bagian kajian yang menarik di kampus-kampus besar. Kita bisa menemukan jurusan-jurusan keilmuan Islam di Universitas Boston misalkan, terlepas dari tujuan jurusan pendidikan itu didirikan. Perkembangan Islam di Britania juga menggembirakan. Dia juga menyebutkan, banyak sekali imigran muslim timur tengah yang menempati posisi penting di Britania dalam pekerjaannya. Banyak dokter-dokter spesialis Britania yang berdarah keturunan Suriah dan Pakistan dan mereka semua adalah muslim. Hampir kebanyakan muslim di Perancis adalah keturunan Aljazair. Tentunya perkembangan ini menjadi kebanggaan tersendiri untuk kita sebagai umat Islam. Bahkan BBC yang nota bene salah satu stasiun televisi terkenal di eropa memiliki channel BBC Arabic yang sering mengangkat topik-topik keislaman. Kedudukan muslim di eropa sudah bisa diperhitungkan.
Hamid dari Shisyan yang sekarang masih terlibat perang dengan Rusia dengan tegas menjawab muslim sekarang sangat lemah. Dia merasakan sendiri bagaimana rakyat Shisyan harus berjuang untuk mempertahankan keislamannya. Keadaan ini hampir sama seperti yang dirasakan mereka yang berada di Tajikistan. Rusia sampai saat ini masih mempunyai kepentingan atas negara ini.
Saya sendiri memandang hal ini dengan kaca mata Keindonesiaan. Muslim Indonesia secara kuantitas mereka terbanyak se dunia, namun secara kualitas masih sulit untuk dikatakan terbaik. Saya bercerita tentang fenomena yang sedang marak di Indonesia saat ini. Sebenarnya keberadaan Islam di Indonesia sudah menyatu dengan kebudayaan dan negara, namun pembauran yang harmonis ini mulai dikotori oleh golongan yang tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Islam. Jaringan Teroris telah merusak keharmonisan hubungan Indonesia dan Islam yang telah ditanam oleh pendahulu bangsa dengan sangat baik. Tiap hari dalam media Indonesia selalu saja mengangkat topik terorisme. Hal ini menjadi PR penting untuk pemerintah maupun pengajar dan ulama agar Islam kembali kepada habitatnya yang menyegarkan dan menyejukkan.
Keadaan umat Islam secara umum di dunia mempunya peran yang cukup baik. Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar selayaknya lebih mampu berperan aktif dalam hubungan internasional keislaman. Inilah sedikit perbincangan saya dengan kawan-kawan, semoga bisa menjadi bahan renungan dan pencerahan untuk sahabat kompasianer yang membaca.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin