Jumaat, 29 Mac 2013

TVRO INDONESIA


Hukum alam menghendaki bahwa sebuah pemancar, betapapun besar daya pancarnya, memiliki jarak jangkau yang terbatas. RCTI misalnya, meskipun daya pancarnya sudah cukup besar (60 ribu watt) tetapi di kota Merak yang jaraknya hanya sekitar seratus kilometer dari Jakarta, siaran RCTI sudah sulit diterima dengan jelas. Kalau begitu bagaimana mungkin seseorang yang berada di Irian yang jaraknya lebih dari seribu kilometer dari Jakarta mampu menangkap siaran RCTI? Kenyataannya, banyak masyarakat di Irian yang bisa menerima siaran RCTI dengan baik. Lalu bagaimana caranya?
Caranya ialah dengan menggunakan Stasiun Relay. Setiap stasiun TV swasta nasional memiliki perangkat Up-Link yang berfungsi untuk memancarkan siarannya ke arah satelit. Kemudian oleh satelit siaran itu dipancarkan balik ke bumi dengan wilayah cakupan (foot print) yang sangat luas. Sinyal yang dipancarkan oleh satelit ini kemudian dengan mudah bisa ditangkap dengan menggunakan peralatan yang disebut TVRO (Television Receive Only).
Satu set TVRO terdiri dari: Antena Parabola, LNB, dan Satellite Receiver. Berhubung bagian yang paling menonjol adalah antena parabolanya, maka orang awam sering menyebut TVRO dengan sebutan Parabola saja. Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa untuk menerima siaran TV itu harus menggunakan Parabola? Ya, karena sinyal dari satelit yang sampai di bumi sangatlah lemah, sehingga perlu antena yang besar untuk menangkapnya. Antena yang besar ini kemudian didesain sedemikian rupa sehingga sinyal yang ditangkap dapat dikumpulkan ke satu titik yang disebut dengan titik api. Di titik api inilah kemudian sinyal yang masih lemah ini diperkuat lagi menggunakan sebuah amplifier.
Amplifier yang digunakan noisenya harus sangat rendah. Amplifier yang seperti ini disebut Low Noise Amplifier (LNA). Tapi mengapa harus low noise? Karena setiap amplifier disusun dari rangkaian penguat yang bertingkat-tingkat. Di setiap tingkat akan selalu muncul noise yang berasal dari dalam penguat itu sendiri. Noise yang muncul di tingkat pertama pasti akan diperkuat oleh penguat tingkat kedua, ketiga dan seterusnya. Jadi makin besar noise yang dihasilkan dari dalam penguat itu sendiri akan menjadi besar pula di tingkat paling akhir. Oleh karena itu noise yang muncul haruslah sangat rendah. Jika tidak, yang diperkuat bukannya sinyal input, tetapi malah noise itu sendiri. Jadi dengan amplifier yang low noise sinyal input bisa diperkuat dengan sedikit sekali tambahan noise. Kini sudah banyak LNA dengan noise yang sangat rendah (20 derajad Kelvin) sementara faktor penguatannya sangat besar (60 dB). Gain yang besar dan noise yang rendah merupakan syarat ideal untuk sebuah LNA.
Setalah sinyal dari satelit yang lemah tadi diperkuat oleh LNA, maka sinyal menjadi cukup kuat untuk di geser frekuensinya. Ssinyal dari satelit yang semula frekuensinya 3,7 - 4,2 GHz (C-band) digesar frekuensinya menjadi 950 - 1.450 kHz (L-band) dengan menggunakan osilator lokal 5.15 GHz. Penggesaran frekuensi dari C-band ke L-band ini dilakukan di dalam blok LNA, sehingga rangkaian LNA berikut rangkaian penggeseran frekuensi ini kemudian disebut dengan Low Noise Blok Amplifier (disingkat menjadi LNB). Pengeseran frekuensi dari C-band ke L-band dimaksudkan agar sinyal tersebut dapat disalurkan melalui kabel coaxial yang lebih panjang. Melalui kabel coaxial inilah sinyal tersebut kemudian dihubungkan ke pesawat penerima satelit atau IRD (Integrated Receiver Decoder). Penerima satelit umumnya diletakkan di dalam ruang (indoor) sedangkan LNB diletakkan di luar ruang (outdoor). Itulah sebabnya diperlukan kabel coaxial yang cukup panjunga untuk menghubungkan keduanya. Di dalam pesawat penerima, sinyal diperkuat lagi, digeser frekuensinya lagi dan di-demodulasi sehingga akhirnya menghasilkan sinyal audio dan video. Sinyal audio-video inilah yang kemudian di masukkan ke input pemancar dan selanjutnya dipancarkan agar bisa diterima oleh pesawat penerima televisi biasa. Itulah secara garis besar cara kerja dari sebuah Stasiun Relay TV.
Gambar (1): Diagram stasiun relay TV melalui satelit
Jangkauan Pemancar TV tidak seluas jangkauan satelit. Pemancar TV rata-rata hanya bisa menjangkau wilayah dalam radius sekitar 100 km, sedangkan satelit bisa menjangkau wilayah ribuan kilometer persegi. Satelit Palapa-D misalnya, bisa menjangkau seluruh Indonesia dan bahkan negara-negara tetangga seperti: Malaysia, Singapura, Brunei, Philipina, Thailand, Papua Nugini dan sebagian wilayah Australia. Itulah sebabnya TV nasional yang siaranya juga di up-link ke satelit bisa diterima di negara-negara tersebut dengan menggunakan TVRO.
Bila materi siaran memiliki hak cipta, misalnya film-film Hollywood, sedangkan hak siar yang dimiliki oleh stasiun TV hanya untuk wilayah Indonesia saja, maka materi siaran itu tidak boleh disiarkan ke negara-negara tetangga. Padahal pancaran sinyal dari satelit sudah pasti akan menjangkau negara-negara tetangga itu. Itulah sebabnya khusus untuk materi siaran yang memiliki hak cipta seperti itu, sinyal up link sengaja diacak (scrambled). Akibatnya siaran tersebut tidak bisa diterima oleh TVRO biasa. Hanya pesawat penerima (IRD) yang dilengkapi dengan fasilitas anti acak (de-scrambling) saja yang bisa menerimanya. Dengan kata lain hanya stasiun relay TV saja yang bisa menerima siaran itu, karena IRD-nya sudah dilengkapi dengan kartu de-scrambling. Stasiun relay kemudian akan memancarkan materi siaran itu ke wilayah jangkauannya. Jadi wilayah-wilayah yang berada di luar jangkauannya tidak akan bisa menerima materi siaran itu meskipun sudah memiliki parabola (TVRO). Demikian juga di negara-negara tetangga. Walaupun sudah memiliki parabola (TVRO) tetapi negara-negara tetangga tetap tidak bisa menerima siaran itu karena sinyalnya di acak.

1 ulasan:

  1. saya rasa lebih baik anda jual parabola secara internet

    BalasPadam

KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin