Khamis, 14 Mac 2013

NASIB SESEORANG YANG SELAMA HIDUP DALAM KESESATAN

Bagaimanakah nasib seseorang yang selama hidupnya berada dalam kesesatan dan dosa, namun melalui perantaan ihsan dan doa orang lain, keadaannya di akhirat berubah meskipun beliau tidak memainkan peranan untuk mengubahnya?
soalan
Bagaimanakah nasib seseorang yang selama hidupnya berada dalam kesesatan dan dosa, namun melalui perantaan ihsan dan doa orang lain, keadaannya di akhirat berubah meskipun beliau tidak memainkan peranan untuk mengubahnya?
Jawaban Global
Permasalahan yang menjadi pertanyaan ini tidak dapat diterima seratus peratus dan tidak juga dapat ditolak seratus peratus, namun tergantung pada jenis dosa yang dilakukannya dan siapakah pelakunya.  Misalannya orang yang melakukan dosa syirik terhadap Allah (s.w.t) mereka ini tidak akan mendapatkan keampunan sedikitpun. Begitu juga dengan dosa yang berkaitan dengan "hak-hak manusia" (haqqun nās)  tidak akan mendapatkan keampunan Ilahi melalui perantara doa dan permohonan orang lain sebelum dosa tersebut ditebus dengan mengembalikan hak-hak orang lain dan meminta keredaan pemilik hak tersebut. Setelah melakukan dua hal tersebut, maka terbuka ruang baginya untuk mendapatkan keampunan dosa,
Kadang-kadang seseorang itu melakukan dosa secara tidak sengaja. Hal ini dapat diketahui ketika pelaku dosa tersebut menyedari kekeliruannya dan setelah itu menyatakan penyesalan dan bertaubat. Pendosa seperti ini memiliki  harapan  untuk mendapatkan keampunan. Atau kadang-kadang seseorang yang berbuat dosa itu sedar dan tahu bahawa hal tersebut dosa, namun kerana sikap keras kepalanya ia terjerumus ke dalam perbuatan dosa yang harus ditebusnya sendiri. Untuk menebus dosa dan pengaruh-pengaruhnya hal itu dapat dilakukan dengan perantara peribadi pendosa itu sendiri dan boleh juga melalui perantara orang lain.
Meskipun tidak menjadi penghalang, manusia tidak memiliki hak melebihi usahanya sendiri. Melalui jalan kemurahan dan keampunan Ilahi, anugerah Ilahi hanya akan diberikan kepada mereka yang layak mendapatkannya. Di sini, kelayakan adalah satu persoalan dan sikap kepemurahan adalah persoalan yang berbeza.
Selain hal tersebut, kebaikan, doa orang lain, syafaat dan sebagainya juga bukanlah tidak termasuk dalam perhitungan. Ini berada pada tingkat tertentu yang bergantung pada orang itu sendiri; misalnya syafaat memerlukan usaha serta jalinan hubungan maknawi dengan orang yang memberikan syafaat (shāfiʻ). Hakikatnya ia harus memiliki kelayakan dan kebolehan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Sebagaimana tumbuhan, tanpa perantara bantuan air, tanah, cahaya dan sebagainya tidak dapat bertumbuh dan mencapai tingkat kesempurnaan. Tumbuhan pada asasnya harus memiliki kemampuan dan potensi untuk memajukan dirinya sendiri supaya bantuan air, tanah dan cahaya memberikan manfaat untuk dirinya sendiri.
 
Jawaban Detil
Untuk menjelaskan jawapan terhadap pertanyaan yang diajukan, beberapa perkara berikut perlu kami terangkan:
  1. Setiap perbuatan dosa memiliki dua sisi, di mana salah satu sisinya adalah maksiat, kedegilan dan pelanggaran terhadap perintah Tuhan (berlaku aniaya terhadap Allah s.w.t) dan sisi lainnya berkaitan dengan peribadi pendosa dan anggota masyarakat (berlaku aniaya terhadap manusia dan diri sendiri).[1]
  2. Setiap perbuatan dosa berbeza antara satu dengan yang lain, dengan memperhatikan perbezaan keadaan waktu dan tempat kejadian dosa, perbezaan dosa-dosa dan pelaku dosa itu sendiri, maka sebagai akibatnya hukuman yang diberikan kepadanya juga akan menjadi berbeza.
Misalnya berkenaan dengan para isteri Nabi (s.a.w), al-Qur'an menyatakan: "Hai isteri-isteri nabi, barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, nescaya akan digandakan seksaan kepadanya dua kali ganda, dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (Surah Al-Ahzab [33]:30) atau dalam sebuah riwayat yang dinukilkan daripada Imam Ridha (a.s) iaitu: "Seseorang yang terang-terangan melakukan dosa atau menyebarkannya adalah orang hina dan orang yang menutupi dosa-dosa yang ia lakukan dan menyembunyikannya maka ia akan mendapatkan keampunan."[2]
  1. Dalam sebuah klasifikasi, dosa-dosa terbahagi menjadi dua, iaitu dosa kepada Allah (haqqullah) dan dosa kepada manusia (haqqunnās). Tersebutlah di dalam riwayat: "Allah (s.w.t) sekali-kali tidak akan memaafkan dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak manusia (haqqunnās) kecuali pemilik hak tersebut memberikan keredaan kepadanya."[3] Kerana itu, sebahagian dosa seperti ini tidak layak mendapatkan keampunan dengan perantara doa, istighfar pendosa atau doa serta istighfar orang lain samada ketika zaman ia masih hidupnya mahupun setelah kematiannya. Ia harus mendapatkan keredaan orang yang diambil haknya terlebih dahulu, atau yang berkaitan (pemilik hak) merelakan haknya diambil oleh orang itu; misalnya apabila seseorang mengambil harta orang lain atau merampasnya, selagi pemilik harta tersebut tidak memberikan keredaan maka Allah (s.w.t) sekali-kali tidak akan diberi keampunannya.
  2. Dosa-dosa terbahagi menjadi dosa kecil dan dosa besar. Dosa besar adalah dosa yang dalam pandangan Islam di samping dilarang dalam al-Qur'an, orang-orang yang melakukan dosa tersebut juga diancam dengan azab neraka; misalnya zina, membunuh manusia yang tidak berdosa, memakan hasil riba dan sebagainya, sebagaimana hal tersebut disentuh dalam riwayat.[4] Dosa kecil adalah dosa yang hanya dilarang pengerjaannya namun tidak diancam azab neraka. Al-Qur'an menjanjikan pengampunan bagi orang yang melakukan dosa kecil dan hal itu disebut dalam surah an-Nisā’ (4), ayat 31, "Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, nescaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu) yang kecil dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (syurga)." Sesuai dengan ayat suci ini, dengan menghindarkan diri dari dosa-dosa besar maka dosa-dosa kecil secara automatik akan diberi keampunan. Namun harus diperhatikan bahawa kadang-kadang dalam suatu keadaan tertentu, dosa-dosa kecil akan berubah menjadi dosa besar dan pelakunya tidak akan selamat atau aman dari ancaman Ilahi.[5] Ertinya kebanyakan dosa-dosa kecil berubah menjadi dosa besar di mana Allah (s.w.t) bukan sahaja tidak mengampuni pelakunya, bahkan menjanjikan mereka azab yang pedih.[6]
  3. Dalam sebuah klasifikasi, pendosa dapat dibahagi menjadi dua bahagian:
  1. Mereka yang melakukan dosa kerana kejahilan kemudian menyesali perbuatan tersebut. Lantas berusaha menebus kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulang lagi perbuatan tersebut (taubat). Allah (s.w.t) menjanjikan keampunan dan kemaafan bagi orang yang melakukan dosa seperti ini. [7]
  2. Mereka yang melakukan dosa-dosa padahal ia berilmu, di mana ia mengetahui bahawa apa yang ia lakukan itu adalah dosa namun tidak ada rasa penyesalan setelahnya. Bagi orang seperti ini sudah tentu tidak akan mendapatkan keampunan Ilahi.[8]

Dari apa yang telah dijelaskan di atas menjadi terang bahawa kata maaf dan keampunan Ilahi dan berubahnya kondisi pendosa hanya berlaku pada dosa-dosa yang Allah janjikan keampunan dan maaf baginya dimana hal ini dapat terwujud dengan mencari sebab-sebab pengampunan.
Adapun orang yang menghabiskan hidupnya dalam perbuatan dosa dan penyimpangan, bagaimana ia akan mendapatkan keampunan dan syafaat, atau nasibnya akan berubah di akhirat melalui perantaraan kebaikan dan doa orang lain? Ini disebabkan seluruh orang-orang yang tenggelam dalam perbuatan dosa dan penyimpangan tidaklah dikatakan demikian. Mustahil nasib mereka akan berubah dengan perantara perbuatan baik dan doa orang lain. Sementara yang berkaitan dengan para pendosa yang mana dosanya dijanjikan keampunan dan kemaafan oleh Allah (s.w.t) maka ia tetap memiliki harapan, bahkan dengan doa dan perbuatan baik orang lain ia akan mendapatkan keampunan; Ini disebabkan al-Qur'an menyatakan, "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk." (Surah Al-Hud [11]:114)
Sebagaimana pendosa, apabila semasa hidupnya melakukan  kebaikan-kebaikan dan melalui perbuatan baiknya itu, Allah (s.w.t) akan menghapus dosa-dosa dan kesan-kesan dosanya. Apabila orang lain melakukan pelbagai kebaikan dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang berbuat dosa, kebaikan-kebaikan ini akan menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa dan kesa-kesan yang ditimbulkan dari dosa yang ia lakukan.
Kita memiliki banyak riwayat yang menegaskan bahawa, "Tatkala seseorang meninggal dunia apabila orang lain (anak-anak atau orang lain) mengerjakan kebaikan seperti menunaikan solat, puasa, haji, bersedekah dan membebaskan hamba dan sebagainya, setelah itu menghadiahkan pahala dan ganjaran amal soleh yang telah mereka kerjakan ini (kepada orang itu) maka pahala dan ganjaran kebaikan tersebut akan sampai kepadanya.’[9]
Sudah tentu apabila ganjaran kebaikan-kebaikan yang dikerjakan orang lain tersebut diperuntukkan kepada seorang pendosa, maka itu akan sampai kepadanya selama ia ingin menebus kesan-kesan buruk dosa-dosa seorang pendosa, maka dosa-dosanya juga akan tertebus.
Pada hakikatnya, hal ini merupakan cermin keadilan Ilahi di mana dengan perbuatan-perbuatan baik orang lain dosa-dosa yang setimpal dengan perbuatan baik tersebut akan diampuni. Allah (s.w.t) membuka jalan ini melalui lisan Nabi-Nya.[10] Sebagaimana di dunia ini apabila seseorang mengerjakan sebuah kesalahan dan meninggalkan kerugian bagi orang lain, apabila orang ketiga menebus kesalahan ini untuknya maka sudah tentu orang yang menderita kerugian tersebut akan meredainya namun sekiranya tidak rela, maka ia akan mendapatkan cemuhan. Kerana itu, tidaklah menghairankan dan menjadi pertanyaan bagaimana dosa seorang pendosa yang telah meninggal dunia dapat ditebus dengan perbuatan-perbuatan baik orang lain.
Lain pula halnya dengan seseorang yang gemar berbuat maksiat dan dosa, meskipun semua orang-orang soleh menghadiahkan segala kebaikan mereka kepadanya itu tetap tidak mampu menebus dosa-dosa besar yang tak-terbilang yang ia lakukan. Dalam hal ini, ia tidak akan dimaafkan dengan perantara kebaikan-kebaikan orang lain, melainkan Allah (s.w.t) akan mengurangkan beban dosa-dosanya dan menurunkan berat azab untuknya.[11]
Perlulah disebutkan di sini bahawa  Allah (s.w.t)  Maha Adil Maha Bijaksana, dan sekali-kali tidak akan melakukan penganiayaan kepada para hamba-Nya.  Setiap perbuatan hamba tidak ada yang sia-sia, setiap amal kebaikan akan mendapat ganjaran. Boleh jadi menurut pandangan kita seseorang itu adalah pendosa dan layak mendapatkan azab kerana kita tidak mengetahui seluruh perbuatan dan amal-amal mereka. Namun Allah (s.w.t) Maha Mengetahui segala sesuatu, maka keampunan-Nya harus kita hitung sebagai ganjaran dari perbuatan-perbuatan baik yang ia lakukan di mana Allah (s.w.t) mengetahuinya dan kita tidak mengetahuinya.
Satu hal yang tidak boleh kita lalai iaitu doa dan keampunan yang dipohon oleh seseorang bagi orang lain lantaran perbuatan baik yang dilakukan semasa hidupnya. Namun apabila seseorang yang tidak pernah melakukan kebaikan dalam kehidupannya, malah seluruh hayatnya bergelumang dengan dosa, maka tidak ada seorang pun yang akan memohonkan keampunan baginya dengan tulus-ikhlas, begitu juga permohonan daripada anak-anak dan kerabatnya.
Mengenai hubungan dengan kerabatnya, apabila kerabat ini bukan termasuk orang baik, sudah tentu do’anya tidak akan dimakbulkan. Namun sekiranya kaum kerabatnya itu termasuk orang baik dan soleh, pasti mereka tidak senang kepadanya kerana ia adalah pendosa, sehingga tidak merasa perlu untuk berdo’a baginya.
Dalam menjawab pertanyaan ini Tafsir Nemune menyatakan bahawa ayat-ayat tentang syafaat atau sepertinya dalam surah Thur, ayat 1 "Dan orang-orang yang beriman, beserta  anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam syurga)" menegaskan bahawa anak-anak para penghuni syurga juga akan digabungkan dengan mereka padahal sedikit pun tidak ada usaha dari mereka. Atau apa yang disebutkan dalam riwayat bahawa seseorang yang melakukan perbuatan baik maka hasilnya akan sampai pada anak-anaknya. Fakta ini selaras dengan ayat al-Qur’an mengenai mereka yang berusaha dan akan memperolehi ganjaran. Al-Qur'an menyatakan, "Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang telah dikerjakannya."  Namun hal ini tidak akan menjadi penghalang bagi Allah yang mana melalui kemurahan-Nya, berbagai nikmat diberikan kepadanya. Di sini kemurahan adalah sebuah persoalan dan kelayakan (istihqaq) adalah persoalan yang lain. Sebagaimana ḥasanah (berbagai kebaikan) akan diberi ganjaran sepuluh kali ganda, dan kadang-kadang sampai seratus atau seribu ganjaran.
Selain itu, syafaat adalah persoalan yang bukan tidak diperhitungkan. Ia memerlukan usaha serta jalinan hubungan maknawi dengan individu yang memberikan syafaat.[12] Demikian juga berkenaan dengan masalah pertemuan anak-anak penghuni syurga dengan mereka yang ada di syurga. Al-Qur'an menyebutkan pada ayat yang sama, "Dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan."  Maka hal ini hanya dapat terjadi ketika anak-anak mereka adalah orang-orang beriman yang mengikuti jejak langkah mereka.[13]
Allamah Thabathabai (r.a) dalam kitab al-Mizān berkenaan dengan pembahasan syafaat berkata, "Apabila seseorang ingin mendapatkan ganjaran yang ia tidak mempersiapkan sebab-sebab ganjaran, dan juga sebab-sebab penghindaran dari hukuman kerana tidak melakukan kewajiban-kewajibannya, maka ia akan mendapatkan ganjaran dengan perantara syafaat. Namun syafaat yang dimaksud di sini bukanlah dalam bentuk mutlak, sebab sebahagian manusia tidak memiliki kelayakan untuk sampai kepada kesempurnaan yang diidam-idamkan sedikitpun. Contohnya orang awam yang menjadi ulama dengan syafaat seseorang. Jika ia tidak memiliki ilmu dan tidak pula berupaya mengembangkan potensinya, serta tidak memiliki hubungan erat dengan seseorang yang dapat memberikannya syafaat, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa.  Ataupun seperti  hamba yang tidak memiliki ketaatan kepada tuannya sedikitpun. Pada saat ia membantah dan menentang tuannya, ia juga ingin memperolehi syafaat dari tuannya, sudah tentu ia tidak akan mendapatkan apa-apa dan syafaat tidak akan memberikan manfaat sedikitpun. Syafaat bukan sebab itu sendiri melainkan medium untuk melengkapkan dan menyempurnakan sebab Seperti mana dalam contoh pertama menyatakan dirinya sebagai ulama dan contoh kedua pada saat ia membantah ketika mendekatkan diri kepada tuannya sehingga tidak akan memberi hasil apa-apa
.[14

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin