Ahad, 28 April 2013

CINTA ISLAM

Lanjutan Sarana Tazkiyatun-Nafs Imam Ghazali oleh Sa'id Hawwa (ringkas)


DZIKIR

Berbagai dzikir yang bisa memperdalam iman dan tauhid di dalam hati, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (ar-Ra'd: 28) Dengan demikian jiwa bisa mencapai derajat tazkiyah yang tertinggi, "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya." (al-Fajr: 27-28) Dzikir dan fikir adalah dua sejoli yang dapat membukakan hati manusia untuk menerima ayat-ayat Allah, oleh karena itu tafakkur termasuk sarana tazkiyah.
Al-Ghazali rahimahullah berkata: Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali dalam pertemuan dengan Allah ta'ala, dan tidak ada jalan untuk bertemu Allah kecuali dengan kematian hamba dalam keadaan mencintai Allah dan mengenal Allah. Sesungguhnya cinta dan keakraban tidak akan tercapai kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai. Sesungguhnya pengenalan kepada-Nya tidak akan tercapai kecuali dengan senantiasa berfikir tentang berbagai penciptaan, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Di alam wujud ini yang ada hanyalah Allah, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Sementara itu, tidak akan bisa senantiasa dzikir dan fikir kecuali dengan berpisah dari dunia berikut syahwat-syahwatnya dan mencukupkan diri dengannya sesuai keperluan. Tetapi itu semua tidak akan tercapai kecuali dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang dalam tugas-tugas dzikir dan fikir.
Karena tabi'at nafsu mudah jemu dan pesimis maka ia tidak bisa bertahan lama dalam satu "seni" aktivitas yang dapat membantu melakukan dzikir dan fikir, sehingga manusia dituntut agar memberikan "kesegaran" dengan berganti-ganti dari satu "seni" ke "seni" yang lain, dari satu bentuk ke bentuk yang lain, sesuai dengan setiap waktu agar dengan pergantian tersebut dapat merasakan kelezatannya dan dengan kelazatan itu bisa mempertahankan semangat dan kelangsungannya. Oleh sebab itu, wirid-wirid dibagi kepada beberapa bagian yang beraneka ragam. Jadi, fikir dan dzikir harus meliputi semua waktu atau sebagaian besarnya, karena tabi'at jiwa cenderung kepada kesenangan dunia. Jika seorang hamba mengalokasikan separuh waktunya jntuk mengatur urusan dunia dan syahwatnya yang dibolehkan misalnya sedangkan separuh lainnya untuk berbagai ibadah, niscaya kecenderungan kepada dunia akan lebih berat karena hal ini sesuai dengan tabi'atnya. Dalam "pertarungan" antar kedua kecenderungan itu, tabi'at berpihak kepada kecenderungan dunia, karena zhahir dan batin manusia saling membantu pada perkara-perkara dunia sehingga hati menjadi terarahkan untuk mencarinya.
Sedangkan kembali kepada ibadah merupakan hal yang berat dan hati tidak dapat berkonsentrasi penuh kepadanya kecuali pada waktu-waktu tertentu. Karena itu, barangsiapa yang ingin masuk sorga tanpa hisab maka hendaklah ia mengoptimalkan waktunya untuk keta'atan, dan barangsiapa ingin daun limbangan kebaikan dan kebajikannya lebih berat maka hendaklah ia menggunakan sebagian besar waktunya untuk keta'atan. Jika ia mencampuraduk amal shalih dengan amal keburukan maka ia berada dalam bahaya, cetapi harapan tak pernah terputus dan ampunan dari kedermawanan Allah senantiasa dinantikan; semoga Allah berkenan mengampuninya dengan kedermawanan-Nya. Itulah yang dapat terungkap oleh orang-orang yang memandang (kehidupan dan permasalahan) dengan cahaya bashirah.
Jika Anda tidak termasuk di antara mereka maka perhatikanlah khithab Allah kepada Rasul-Nya dan seraplah dengan cahaya iman. Allah berfirman kepada hamba-N'ya yang paling dekat dan paling tinggi derajatnya di sisi-Nya: "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (panyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (al-Muzzammil: 7-8) "Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari." (al-Insan: 25-26) "Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam." (Qaaf: 39-40)
Kemudian perhatikanlah bagaimana dan dengan apa Allah menyebutkan sifat-sifat para hamba-Nya yang sukses: "(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (siksa) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orangorang yang tidak mengetahui?." (az-Zumar: 9) "Lambung mereka itu jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo 'a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap." (as-Sajadah: 16) "Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka." (al-Furqan: 64)
Ini semua menjelaskan kepada Anda bahwa jalan kepada Allah ialah dengan memenej waktu dan menyemarakkannya dengan wirid-wirid secara ajeg. Oleh sebab itu Rasulullah saw bersabda: "Hamba yang paling dicintai Allah ialah orang-orang yang menjaga matahari, bulan dan bayang-bayang untuk mengingat Allah" (Diriwayatkan oleh Thabrani dan al-Hakim, ia berkata: Shahih sanadnya) Allah berfirman: "Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan." (ar-Rahman: 5) "Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur." (al-Furqan: 62)
Yakni keduanya saling silih berganti untuk menyusuli ketinggalan yang pada yang lain, dan dijelaskan bahwa hal ini adalah dzikir dan syukur. Allah berfirman: "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan." (al-Isra': 12) Karunia yang diharapkan itu adalah pahala dan ampunan. Semoga Allah memberikan taufiq kepada apa yang diridhai-Nya.
(Sa'id Hawwa) berkata: Orang yang menghendaki akhirat harus membuat program rutin untuk dirinya berupa bacaan istighfar, tahlil, shalawat atas Rasulullah saw dan dzikir-dzikir ma'tsur lainnya, sebagaimana ia harus membiasakan lisannya untuk dzikir terus menerus seperti tasbih, istighfar, tahlil, takbir, atau hauqalah (laa haula walaa auwwata illaa billah), untuk menambah program rutin tersebut dengan berbagai shalat, ibadah dan amalan-amalan yang telah kami paparkan. Kesucian dan ketinggian jiwanya akan sangat ditentukan oleh sejauh mana ia telah melaksanakan sarana-sarana tazkiyah, baik ia merasakannya ataupun tidak

Lanjutan Sarana Tazkiyatun-Nafs Imam Ghazali oleh Sa'id Hawwa (ringkas)


                                                                   HAJI

Haji adalah pembiasaan jiwa untuk melakukan sejumlah nilai, seperti istislam, taslim, mengerahkan jerih payah dan harta dijalan Allah, ta'awun, ta'aruf, dan melaksanakan syi'ar-syi'ar 'ubudiyah kepada Allah. Semua itu memiliki pengaruh dalam tazkiyatun-nafs, sebagaimana merupakan bukti telah merealisasikan kesucian jiwa. 1) Rincian Adab (a) Finansialnya hendaknya halal, dan membebaskan tangan dari perniagaan yang menyibukkan hati dan mengacaukan perhatian sehingga perhatiannya hanyalah Allah semata, sedangkan hatinya merasa tenang dan terarah kepada dzikrullah dan mengagungkan syi'ar-syi'ar-Nya. (b) Memperbanyak bekal dan ridha mengeluarkan (bekal) dan berinfaq tanpa pelit dan pemborosan, tetapi ekonomis. Ibnu Umar ra berkata: Termasuk kedermawanan seseorang ialah kebaikan bekalnya dalam perjalanan. Ia juga pernah berkata: Haji yang paling utama ialah yang paling ikhlas niatnya, paling bersih nafkahnya dan paling baik keyakinannya.
(c) Meninggalkan rafats, fusuq dan jidal, sebagaimana diungkapkan al-Qur'an. Rafats ialah sebutan bagi setiap kesia-siaan dan kemesuman dan perkataan yang jorok. Fusuq ialah sebutan bagi setiap pelanggaran akan ketaatan kepada Allah. Sedangkan jidal ialah berlebih-lebihan dalam bertengkar dan berbantahan sehingga dapat menimbulkan antipati dan mengacaukan perhatian (d) Hendaknya berhaji dengan berjalan kaki, jika mampu, karena hal ini lebih utama, terutama perjalanan dari Mekkah ke Arafah dan Mina. (e) Hendaknya berpenampilan lusuh, berdebu dan dekil; tidak banyak memakai perhiasan dan tidak cenderung kepada berbagai sarana kemewahan dan kemegahan sehingga dicatat dalam catatan orang-orang yang sombong dan bermegah-megahan dan keluar dari partai orang-orang yang lemah, miskin dan khusushush-shalihin.
(f) Hendaknya ber-taqarrub dengan menyembelih binatang qurban sekalipun ia tidak berkewajiban melakukannya dan berusaha agar binatang qurbannya termasuk yang mahal dan berharga, kemudian memakan sebagian dagingnya jika qurban itu sebagai tathawwu'; dan tidak memakan dagingnya jika qurban itu sebagai kewajiban [kecuali dengan fatwa Imam]. (g) Hendaknya merasa senang dan ridha dalam mengeluarkan semua biaya baik nafkah ataupun pembelian binatang qurban, juga terhadap kerugian dan musibah yang mungkin menimpa harta atau badannya, karena yang demikian itu termasuk tanda-tanda diterimanya haji.
2. Amal-amal Batin, Mengikhlaskan Niat, Mengambil Pelajaran dari Berbagai Tempat yang Mulia, dan Cara Merenungkan Berbagai Rahasia dan Nilai-nilai Haji dari Awal Hingga Akhir ketahuilah bahwa permulaan haji adalah kefahaman —yakni tentang kedudukan haji dalam agama— kemudian kerinduan terhadapnya, kemudian terazam untuk melakukannya, kemudian memutuskan berbagai keterkaitan yang menghalanginya, kemudian membeli pakaian ihram, kemudian membeli unta, kemudian mempersiapkan kendaraan, kemudian keluar, kemudian katan, kemudian ihram dari miaat dengan talbivah, kemudian memasuki Mekkah, kemudian menyempurnakan berbagai amalan. Dalam setiap perjalanan tersebut di atas terdapat peringatan bagi orang yang mencari peringatan pelaiaran. Juga terdapat pengenalan dan isyarat bagi orang yang "cerdas."
Adapun kefahaman: Maka ketahuilah bahwa tidak ada wushul keterencapaian) kepada Allah subhanahu wata'ala kecuali dengan membersihkan diri dari berbagai syahwat, menahan berbagai kelezatan, membatasi diri pada hal-hal yang bersifat primer (dharurat), dan tajarrud (hanya memandang) kepada Allah dalam semua gerak dan diam. Allah telah memberikan ni'mat-Nya kepada ummat ini dengan menjadikan haji sebagai "kerahiban" bagi mereka. Allah memuliakan al-Bait al-Atiq dengan menisbatkannya kepada diri-Nya, menetapkannya sebagai tujuan para hamba-Nya, menjadikan apa yang ada di sekitarnya sebagai kesucian bagi rumah-Nya dan pengagungan urusan-Nya, menjadikan Arafah seperti kanal pada halaman telaga-Nya, dan menegaskan kesucian tempat dengan mengharamkan binatang buruan dan pepohonannya, yang dijadikan sebagai tujuan para penziarah dari segenap penjuru nun jauh, dalam keadaan dekil dan berdebu seraya merendahkan diri kepada Pemilik "rumah," berserah diri kepada-Nya, karena tunduk kepada keagungan-Nya dan pasrah kepada keperkasaan-Nya. Disertai pengakuan bahwa Dia terbebaskan dari bertempat di sebuah rumah atau negeri, agar hal tersebut lebih dapat menyempurnakan kehambaan dan ketundukan mereka. Oleh sebab itu. Dia mewajibkan kepada mereka di dalam haji ini berbagai amal perbuatan yang tidak akrab bagi jiwa dan tidak bisa difahami makna-maknanya oleh akal, seperti melontar dengan batu kerikil, dan berjalan pulang balik antara Shafa dan Marwah beberapa kali putaran. Dengan berbagai amal perbuatan seperti ini nampaklah kesempurnaan kehambaan dan 'ubudiyah.
Adapun kerinduan: Ia akan muncul setelah kefahaman dan kesadaran jiwa. Jiwa rumah itu adalah Baitullah, sehingga orang yang berangkat menuju kepadanya sama dengan orang yang berangkat menuju Allah dan berziarah kepada-Nya. Adapun 'azam: Maka hendaknya diketahui bahwa dengan 'azamnya ia bertekad meninggalkan keluarga dan negeri, menjauhi berbagai syahwat dan kelezatan dengan bertujuan menziarahi rumah Allah. Hendaknya ia mengagungkan dalam dirinya keagungan "rumah" dan keagungan Pemilik rumah. Adapun memutuskan berbagai keterkaitan: Maksudnya ialah menyelesaikan berbagai "perkara" atau "sangkutan" yang berkaitan dengan manusia dan bertaubat secara ikhlas kepada Allah dari semua kemaksiatan.
Adapun bekal: Maka carilah dari tempat yang halal. Jika merasakan adanya ketamakan untuk memperbanyak dan tuntutan untuk selalu ada sepanjang perjalanan, tanpa berubah dan rusak sebelum tercapainya tujuan, maka hendaklah ia mengingat bahwa perjalanan akhirat lebih panjang dari perjalanan ini. Bekal yang sesungguhnya adalah taqwa sedangkan bekal selainnya, yang dikira sebagai bekalnya, akan tertinggal saat kematiannya dan tidak menyertainya. Adapun kendaraan: Maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah dengan hatinya atas berbagai kendaraan yang telah ditundukkan Allah untuk manusia, dan hendaklah mengingat pada saat itu akan kendaraan yang akan dinaikinya ke kampung akhirat yaitu jenazah yang diusung di atas kendaraan itu.
Adapun membeli dua pakaian ihram: Maka pada saat itu hendaklah ia mengingat kain kafan yang akan membungkusnya. Adapun keluar dari negeri: Maka pada saat itu hendaklah ia mengetahui bahwa ia pasti berpisah dengan keluarga dan kampung halaman menuju Allah dalam suatu perjalanan yang tidak sama dengan berbagai perjalanan dunia. Adapun memasuki perkampungan menuju miqat dan menyaksikan tanjakan-tanjakan terjal tersebut: Maka pada saat itu hendaklah ia mengingat suasana antara keluar dari dunia dengan kematian menuju miqat hari kiamat dan berbagai peristiwanya yang mengerikan. Adapun ihram dan talbiyah dari miqat: Maka pada saat itu hendaklah ia mengetahui bahwa maknanya ialah menyambut seruan Allah.
Adapun memasuki Mekkah: Maka pada saat itu hendaklah ia mengingat bahwa ia telah sampai ke tanah suci Allah dengan aman, dan hendaklah ia berharap dengan hal tersebut akan aman dari siksa Allah. Adapun pandangan mata pada Baitullah: Maka hendaklah pada saat itu ia menghadirkan keagungan Ka'bah di dalam hati dan merasakan seolah-olah ia menyaksikan Pemilik rumah karena saking besarnya pengagungan terhadapnya. Adapun thawaf di Baitullah: Maka ketahuilah bahwa ia adalah shalat. Karena itu, hadirkanlah ta'zhim, rasa cemas, harap dan cinta (yang telah kami jelaskan dalam bab shalat) di dalam hatimu.
Adapun istilam (mencium atau menyentuh Hajar Aswad): Maka yakinilah rida saat itu bahwa engkau tengah berbai'at kepada Allah untuk menta'ati-Nya. Kuatkanlah tekadmu untuk menepati bai'atmu. Adapun bergelantungan dengan kelambu Ka'bah dan menempel di Multazam: Maka berniatlah dalam menempel tersebut untuk meningkatkan kecintaan dan kerinduan kepada Ka'bah dan Pemilik Ka'bah dan berharap rerlindungan kepada-Nya dari api neraka dalam setiap bagian dari badanmu. Adapun sa'i antara Shafa dan Marwah di pelataran Baitullah: Maka sesungguhnya ia sama dengan mondar-mandirnya hamba di lapangan rumah Raja demi memperlihatkan keikhlasan dalam berkhidmah dan mengharapkan rerhatian dengan mata kasih sayang, seperti orang yang masuk kepada raja kemudian keluar dalam keadaan tidak menyadari apa yang telah diputuskan sang raja berkenaan dengan dirinya
Adapun wuquf di Arafah: Maka ingatlah dari pemandangan tentang berjubelnya manusia, alunan suara, perbedaan bahasa, dan kelompokkelompok yang mengikuti para pemimpinnya dalam berbagai pelaksanaan manasik akan lapangan hari kiamat, pertemuan semua ummat berserta para Nabi dan pemimpin mereka, ambisi mereka untuk mendapatkan syafa'at para pemimpin mereka, kebingungan mereka di sebuah lapangan, antara diterima dan ditolak. Adapun melempar jumrah: Maka niatkanlah untuk mematuhi perintah, demi membuktikan kehambaan dan 'ubudiyah. dan bergegas semata-mata melaksanakan perintah tanpa berfikir panjang, di samping meneladani Nabi Ibrahim ketika dihadang Iblis la'anahullah di tempat tersebut lalu Allah memerintahkannya agar melemparinya dengan batu dalam rangka mengusir dan menggagalkan harapannya.
Adapun menyembelih binatang qurban {hadyu): Maka ketahuilah bahwa ia merupakan taqarrub kepada Allah dengan melaksanakan perintah. Adapun ziarah ke Madinah: Apabila penglihatan Anda telah menyaksikan tembok-tembok Madinah maka ingatlah bahwa ia adalah negeri yang telah dipilih Allah untuk Nabi-Nya saw, tempat hijrahnya, kampung yang menjadi tempat menerima berbagai ajaran Allah, wilayah yang menjadi tempat melakukan jihad melawan musuhnya dan memenangkan agamanya hingga Allah memanggilnya, dan tempat kuburannya bersama dua orang pendukung setianya, Abu Bakar dan Umar ra. Kemudian bayangkanlah jejak-jejak langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di saat menjalani kehidupannya, bayangkanlah langkahnya di lorong-lorongnya, bayangkanlah kekhusyu'an dan ketenangannya dalam berjalan, hatinya yang penuh ma'rifat kepada Allah, selamanya yang telah diagungkan Aliah hingga disebut bersama-Nya dan latarnya amal orang yang melecehkan kehormatannya sekalipun hanya berupa meninggikan suara di atas suaranya. Sedangkan ziarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Maka hendaklah engkau berdiri di hadapannya dan menziarahinya seolah-olah engkau menziarahinya ketika masih hidup

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

KETURUNAN SIAM MALAYSIA.

Walaupun saya sebagai rakyat malaysia yang berketurunan siam malaysia,saya tetap bangga saya adalah thai malaysia.Pada setiap tahun saya akan sambut perayaan di thailand iaitu hari kebesaraan raja thai serta saya memasang bendera kebangsaan gajah putih.

LinkWithin